SEMBILAN

1104 Kata
Gyan yakin tadi ia melihat Saka, di antara banyaknya orang asing ini dia sangat hafal bentuk wajah dan postur tubuh rekannya itu. Setelah berpamitan pada Aruna, ia segera mengambil langkah besar untuk mencari kemana Saka pergi. Setidaknya Gyan punya teman bicara yang sepadan disini dengannya, bukan dengan para manusia paruh baya. Saka mungkin bukan teman yang sangat dekat dengannya, mereka hanya tergabung dalam klub sosial yang sama, dan tidak pernah saling banyak bicara satu sama lain. Tapi melihat pria itu ada di perkumpulan orang aneh ini, mungkin bisa membuat perasaan Gyan jauh lebih baik dan bisa membantunya membaur. Pria jangkung berjalan tidak tentu arah dan hanya mengamati orang-orang di sana satu persatu, mencari keberadaan Saka. Namun langkahnya terhenti, ketika ia berada di balik sekat rotan dekat meja bundar yang dikerubungi para wanita paruh baya, mereka sibuk dengan kegiatan kelompoknya dan terlibat perbincangan seru. Tapi bukan itu yang penting, Gyan mendengar namanya beberapa kali disebut dalam percakapan itu. Dan itu agak mengusik batinnya, jadi ia berhenti sejenak, katakan lah ini tidak sopan, tapi ia sangat penasaran dengan gunjingan itu. Meski tahu ini tidak baik untuk kesehatan mentalnya sendiri. “Ah, bukan lah ... mereka cuma keluarga baru, ndak ada garis keturunan khusus. Tahir hanya menghasilkan sedikit uang, usahanya baru sampai penerus generasi kedua.” “Yang benar? Pantas saja Kirana buang anak sendiri karena dia pilih orang yang tidak cukup kaya untuk jadi menantunya.” “Mereka itu keluarga kaya baru, baru kaya beberapa tahun saja. Seperti orang Cina daratan itu, yang namanya setiap tahun terpampang di majalah-majalah kampungan.” Gyan tercenung mendengar nama Aruna disebut-sebut seperangkat dengan kalimat lainnya. Mereka sedang bicara tentang siapa? Mereka serius bicara tentang dirinya? Siapa yang mereka katakan tidak cukup kaya di sini? Ia bahkan masuk majalah Forbes bersama ayahnya sebagai orang paling berpengaruh di Asia. Orang paling kaya nomor lima di Indonesia. “Yang aku dengar juga, anak ini lahir dari gundik, bukan dari permaisurinya.” “Aduh, nggilani. Kasihan sekali Aruna.” “Ndak usah, ndak usah kasihan. Anak t***l itu ndak mau disuruh aborsi lah, dia malah cari itu laki-laki sambil ngorekin tempat sampah.” Gyan mendengar suara tawa, hatinya bedenyut-denyut memilukan. Apa yang salah sebenarnya? Kenapa bahkan orang seperti dirinya kurang mapan bagi keluarga mereka? “Nah, samimawon! Seratus persen, aku juga ngorekin tempat sampah pas kepingin ngeliat calon suaminya Aruna, hahaha.” “Maksudne apa, sih?” “Kamu ndak tahu, ya? Suaminya Aruna ada di sampul majalah kampungan dan mereka bilang jadi deretan orang paling kaya di Indonesia. Sinta iki langganan majalahne,ndak tahu buat apa. Tapi yo habis itu dibuang ke tempat sampah. Pas saya mau lihat suami Aruna di sana, saya juga harus ngorekin tempat sampah di rumah.” Mereka tertawa lagi. “Jadi kayak gimana?” “Cukup sepadan dengan keputusan Kirana membuang jauh anak bungsunya. Lanang ini ndak mumpuni masuk ke klan keluarga kita.” Gyan buru-buru pergi dari sana dan berhenti menguping pembicaraan tentang dirinya. Seumur hidup baru kali ini ia merasa miskin, kotor dan tidak layak. Ia tidak tahu dan buta tentang sesuatu dalam keluarga Aruna maupun tentang gadis itu, dan sekarang mengetahui kebenarannya membuat Gyan nyaris gila. Aruna dibuang keluarganya karena menikahi pria seperti dia? Memangnya Gyan kenapa? Gyan kurang apa? Tidak cukup kaya bagaimana maksudnya? Ia bahkan lupa tujuan awalnya mencari Saka dan kembali ke tempat di mana Aruna menunggunya sambil tetap melamun karena terhalang sesuatu tak kasat mata untuk menemui orang tuanya sendiri. “Runa!” Gyan kalah cepat, seorang pria berhasil menyambar istrinya lebih dulu dan membawa wanita itu menjauh. Gyan mengikutinya di belakang. “Eh, Mas Keenan, kenalin ini suamiku Gyan.” Aruna lebih dulu menyadari keberadannya dan memperkenalkan Gyan pada sosok pria jangkung di hadapan mereka. Lucunya pria itu adalah Aruna versi laki-laki dengan perawakan lebih gagah dan maskulin. “Keenan.” Mereka berjabat tangan. “Kamu mungkin belum dengar tapi aku adalah Kangmas-nya Aruna, saya kakak kandungnya.” Gyan membeliak dan buru-buru membuat gesture sopan. “Nggih, Mas.” Ia membungkuk spontan disusul tawa kecil dari laki-laki itu. Pria yang ternyata adalah kakak iparnya. “Tapi Gyan, aku mohon maaf. Sebentar saja saya pinjam Aruna. Ada yang kami perlu bicarakan.” Gyan tampak mengangguk setuju dan setelahnya Aruna berada dalam dekapan Keenan, pria itu membawa adiknya agak ke sisi halaman dan tidak banyak orang berlalu lalang di sana. “Mas tidak percaya ini, Dek. Kenapa kamu datang? Kamu tahu kan kalau—” “Dalem, aku tahu, Mas.” Wanita muda itu menunduk merasakan tatapan tajam dari kakak kandungnya. “Aku cuma ingin pulang dan kangen sama kalian semua. Tidak ada–” “Wes, wes, coba dengarkan maas.” Keenan memberi jeda sebentar. Ia memegangi bahu adiknya dan menatap wanita muda itu. Menatap adiknya yang malang itu. “Ibu butuh waktu, kamu tahu bagaimana watak ibu, kan? Mas mohon, demi kebaikan kamu. Pulang nggih? Ndak usah ke sini dulu untuk sementara waktu. Mas cemas, Dek.” Aruna luluh pada akhirnya. Keenan benar, masih jelas dalam kepalanya bagaimana kemarahan sang ibu meledak hari itu. Ia bahkan bersumpah membuang Aruna jika tidak mau menuruti perkataannya, ibu Aruna merelakan putri satu-satunya keluar dari rumah dan mencari pria yang bertanggung jawab untuk kehamilannya. “Nggih, aku pulang sekarang.” Aruna menuruti perkataan sang kakak pada akhirnya sebelum ia dan Gyan lebih dipermalukan lagi oleh keluarga besar mereka. *** “Apa yang kamu lakukan?!” Gending berteriak kencang, mendapati gambar sketsa yang harusnya ada di meja kerjanya satu jam lagi mendapat tumpahan kopi dari seseorang. Ia mengangkat sketsa dalam kertas mustard itu dan tidak ada yang bisa diselamatkan sekarang. “Kamu ceroboh!” umpatnya sambil berteriak pada adik iparnya sendiri. Aruna menunduk kaget, tidak pernah ada yang bicara begini kasar padanya seumur hidup. Ia benar-benar terkejut. “Aku minta maaf, ini gak senga–” “Diam!” Gending menyela. Semua pegawai di sana menoleh pada mereka. “Kamu mau bilang apa lagi? Kamu mau beralasan apa lagi? Kamu mual? Kamu ingin muntah mencium bau kopi? Kamu muntah mencium bau pakaian? Kamu mau muntah melihat wajahku?!” “Mbak … maaf, saya buk–” “Siapa Mbakyu-mu? Apa kamu bilang tadi, hah? Kamu lupa kalau sudah dibuang keluarga kami? Kamu lupa kalau kamu dalam masa pengasingan? Dalam masa hukuman? Jangan pernah kamu beraninya memanggil saya seperti itu lagi!” “Maaf, Ibu Direktur.” “Buat sketsa yang sama dan antarkan ke ruangan saya satu jam lagi! Semua sketsanya harus selesai dan saya tidak menoleransi apapun kali ini.” “Nggih …” “Kamu ….” Gending menatap Aruna lekat. “Urus diri kamu sendiri. Berhenti pakai alasan kamu sedang hamil untuk dapat perlakuan istimewa. Kamu tidak pantas mendapatkannya. Kamu bahkan mengandung bayi dari entah itu siapa dan bersikeras mempertahankannya tanpa alasan. Urus sendiri keperluan kamu, pergi ke lantai satu kalau kamu butuh toilet! Jangan mengharap belas kasihan orang! Kamu harusnya malu! Nggak ada yang menginginkan anak haram dalam perutmu itu. Kamu gak tahu berapa banyak orang yang menginginkan dia mati. Cuma kamu yang menginginkannya jadi urus sendiri tanpa menyusahkan siapa-siapa.” Semua orang di sana terperangah atas kalimat-kalimat jahat yang terlontar dari mulut Gending untuk adik iparnya. Mereka tahu Gending brutal, iri dan benci pada Aruna. Namun tidak ada yang menyangka bahwa Gending akan merisak iparnya sampai sejauh ini. “Kalian semua mulai detik ini tidak ada yang boleh membantunya, dalam hal apa pun! Perhatikan baik-baik peringatan ini.” …  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN