Aruna bergidik ketika merasakan bulu kuduknya meremang. Hari ini benar-benar berat baginya, setelah kelakuan Gending di kantor tadi siang giliran Gyan yang tampak bersiap-siap akan menghajarnya sekarang. Pria itu menatapnya dengan sorot yang aneh, membuat Aruna tidak nyaman. “Jadi … kamu punya saudara laki-laki?” Aruna menoleh sebentar dan mendapati Gyan hanya memutar garpu yang ia pegang di atas fetucini carbonara miliknya. “Ya, aku punya satu.” Gyan mengangkat wajahnya dari gulungan pasta pipih itu. “Kamu punya adik?” “Tidak ada.” “Apa kakakmu sudah menikah?” “Ya.” “Siapa istrinya?” “Istrinya direktur utama di tempat aku bekerja.” “Seberapa banyak uang yang dimiliki keluargamu?” Aruna mengernyitkan alisnya tidak paham. Kenapa juga Gyan tiba-tiba menanyakan hal seperti itu kepa

