Keenan Kamandayu melempar beberapa kertas yang ia pegang ke wajah istrinya dengan sangat murka. Perempuan itu duduk dengan dingin tanpa menatapnya, seolah sudah bisa menebak apa yang terjadi jauh-jauh hari. “Membuat kunci untuk setiap toilet,” kata Keenan dengan suara gemetar menahan marah. “Memintanya memakai pakaian yang menutupi kehamilan…” suara Keenan menggantung di udara. Dadanya sesak dan pengap bersamaan. “Semua orang mengerti kenapa aku melakukannya.” Gending berkata dingin, tanpa melirik suaminya sedikitpun juga. “Persetan dengan semua orang!” Keenan berteriak memaki. “Aruna itu adikku, sialan! Dia saudaraku satu-satunya. Dia adikku satu-satunya!” Lagi, pria itu melempar dasinya ke wajah Gending dengan kasar. Wanita itu pun mulai gemetar dan tidak sedingin tadi. Suaminya bena

