DUA PULUH SEMBILAN

1920 Kata

Aruna meringis ngilu sesaat setelah Gyan mendapatkan pelepasan atas dirinya. Perempuan itu berdiri kepayahan untuk membersihkan diri di kamar mandi. Perutnya sakit sekali, ini terjadi setiap Gyan o*****e dan katanya tidak apa-apa. Rahimnya berkontraksi ringan karena ada cairan kehidupan berkunjung ke dalamnya, menyapa saudara mereka yang sedang bertumbuh dalam rahim Aruna. “Kamu baik-baik saja?” tanya Gyan peka. Ia melihat Aruna menahan sakit sambil memegangi perutnya. “Hanya kontraksi biasa, perutku keras sekali. Tidak apa-apa.” Gyan memandanginya khawatir, sampai detik ini dia belum boleh menyentuh perut istrinya itu kecuali saat yoga. Jadi ia benar-benar bingung harus berbuat apa melihat Aruna kesakitan. “Aku merasa bersalah,” kata Gyan murung. “Aku akan keluarkan di luar lain kali.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN