Entah dapat keberanian dari mana tapi Gyan memberanikan diri menelepon mertuanya. Ia takut tidak bisa menjaga Aruna dengan maksimal, mereka harus tahu soal ini. Walau bagaimanapun Aruna tetaplah anak bungsu keluarga itu. Tidak mungkin orang tuanya tega membiarkan dia di rumah sakit sendirian kan? Gyan sendiri tidak yakin harus menitipkan Aruna ke siapa sementara dirinya bekerja. “Aku rasa semuanya sudah jelas di awal, Gyan.” Gyan mendengar suara yang dingin di seberang sana. Dadanya nyeri mendengar itu. Tapi entah kenapa nada bicaranya sangat…sangat mirip dengan Aruna. “Menikahinya berarti bertanggung jawab penuh atasnya. Kalian memilih situasi yang harus sepaket dengan konsekuensinya, seperti saat ini. Aku menitipkannya padamu. Jadi jaga dia baik-baik. Aku tidak akan datang kesana, Aru

