Zara menyeka air matanya sambil memoles pemerah bibirnya dengan lembut. Seperti biasa ia terlihat cantik, elegan dan tidak berlebihan. Gaun panjang indah menjuntai di tubuh langsingnya membuat ia terlihat mempesona. “ Mbak kenapa sedih?” tanya Nadia. “ Nggak apa- apa… Hanya sedikit nggak enak badan.” jawab Zara seadanya. Sesungguhnya ia merasa sedang dipermainkan oleh Galan. Pria yang terakhir kali ditemuinya beberapa bulan lalu dan masih menawarkan untuk pergi bersamanya, lalu menghilang tanpa kabar. Namun beberapa saat tadi, pria tersebut nampak sedang membantu seorang wanita cantik untuk memasang gelang di pergelangan tangannya. (“Apa kamu sudah bahagia, Galan?”) batin Zara yang mencoba berkonsentrasi. “Mbak, sepertinya di depan sudah banyak penonton. Semua kursi hampir penuh dan pa

