“ Galan, sakit…” rintih Zara ketika Galan menariknya dengan keras untuk keluar dari ruangan tersebut setelah memakaikan mantel miliknya dengan kasar. “ Galan, pelan- pelan…” ucap Zara lagi yang membuat Galan sedikit merenggangkan pegangannya namun langkahnya tetap saja terasa sangat cepat. Zara bisa melihat dengan jelas kemarahan yang kekasihnya tampakkan saat ini melalui keningnya yang berkerut dan juga rahangnya tegasnya yang menegang. Sungguh ia tidak pernah melihat Galan seperti saat ini dan seperti siap membunuh siapa saja yang ada di hadapannya. Mereka berdua lalu masuk ke dalam lift dan Galan menempatkan Zara ke salah satu sudutnya dan menutupi tubuh yang hanya mengenakan mantel tersebut. Ingin sekali rasanya Zara memeluk dan menenangkan kekasihnya saat ini, ingin sekali ia berte

