The Pain Inside

1261 Kata
Galan terkejut ketika ia merasakan langkah seseorang yang tengah berlari ke arahnya saat ia tengah duduk di kursi taman yang tak jauh dari guest house yang ia tempati. " Astaga... Kamu bikin saya kaget!." ujar Zara dengan terkejut karena Galan langsung berdiri dari duduknya dengan tiba- tiba. " Maaf. Saya tidak bermaksud begitu." jawab Galan dengan sopan tepat disaat Zara melepaskan airpods yang dipakainya. " Sedang olahraga?" sambung Galan lagi karena Zara nampak akan berlutut untuk mengikat tali sepatunya. " Saya nggak mungkin mau ke pesta dengan pakaian seperti ini kan?" ucap Zara yang kini memang mengenakan celana legging dan baju lengan pendek ketat berwarna abu- abu. " Oh ya... Jangan begadang. Besok saya harus ke bandara pagi sekali." " Baik." jawab Galan yang terus memperhatikan gerak gerik sang majikan yang kini terlihat lebih santai dengan tanpa adanya polesan riasan wajahnya. " Apa... Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Galan akhirnya dan membuat Zara menghentikan kegiatannya selama beberapa detik lalu memasang wajah acuhnya. " Saya rasa tidak pernah." jawab Zara dengan yakin setelah berdiri dengan tegap. " Oh... Maaf." " Teman kamu?" tanya Zara yang entah mengapa ingin tahu apa jawaban Galan. " Bukan. Dia bukan teman saya. Hanya orang yang pernah saya temui." jawab Galan yang tentu saja tahu jika Zara sedang berbohong. Yang tidak ia ketahui adalah ada rasa kecewa di dalam hati kecil Zara ketika mendengar jawaban tersebut dan hendak kembali memasang airpods miliknya ke telinga. " Tapi dia orang yang istimewa untuk saya. Dan saya berharap bisa bertemu dia lagi." sambung Galan dan membuat Zara tiba- tiba berdebar. Sejak kedatangan pria tersebut, irama jantungnya memang sangat tidak bisa ia kendalikan sama sekali. " Semoga beruntung." ucap Zara dengan datar karena ia tidak mungkin dan tidak akan pernah mengaku siapa dirinya pada Galan. " Hati- hati..." ujar Galan ketika Zara berbalik dan kembali melanjutkan larinya tanpa menoleh lagi. *** " Zara... Zara... Sayang..." panggil Frans sambil menepuk pipinya dengan lembut. " Zara, bangun... Buka mata kamu." Frans lalu mengguncang tubuh Zara dengan keras dan memegangi kedua pundaknya dengan kuat. " Zara!" Seketika Zara membuka kedua matanya yang sejak tadi menangis dalam tidurnya tersebut. " Frans..." ucapnya dengan nafas terengah dan wajah yang penuh peluh. " Kamu mimpi buruk lagi?" tanya Frans yang terlihat cemas dan mengambilkan segelas air minum untuk istrinya tersebut. " Frans... Aku... Aku jatuh ke laut. Aku... Aku nggak sengaja. Aku... Aku hanya mau menyelamatkan diri dan---" " Ssshhh... Udah. Kamu tidur aja. Nggak usah kamu pikirkan. Itu sudah berlalu dan semua baik- baik saja. Sekarang kamu lebih baik bersiap atau mengerjakan hal lain. Aku mengantuk dan besok aku sangat sibuk dengan banyak pertemuan. Ini baru jam 4 pagi dan aku baru tidur 2 jam dan kamu malah mengigau." tutur Frans. " Maaf..." jawab Zara yang masih merasa begitu sedih dan sesak. Ia kemudian mengenakan jubah tidurnya lalu turun dari tempat tidur agar tidak mengganggu Frans yang mencoba memejamkan kembali kedua matanya. Meski dalam hati ia masih begitu ketakutan, tapi hal seperti ini sudah sering terjadi dan ia tidak bisa mengharapkan agar Frans sedikit memiliki empati kepadanya. Zara kemudian berjalan menuju dapur besar yang terletak di lantai bawah kediaman mewah Frans untuk membuat segelas kopi untuknya. Ia sama sekali tidak tertarik untuk kembali tertidur dan memikirkan mimpi buruknya meskipun perasaan itu akan terus menghantuinya. " Ibu Zara... Ibu ngapain? Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan yang memang selalu bangun paling awal di rumah tersebut untuk menyiapkan makanan bagi semua orang. " Ibu butuh sesuatu?" tanya wanita paruh baya tersebut dan hanya di jawab gelengan oleh Zara. " Ibu sakit?" " Nggak. Saya baik- baik aja. Memangnya kenapa?" tanya Zara. " Syukurlah... Soalnya ibu kelihatan pucat. Kenapa minum kopi sepagi ini? Nanti ibu nggak bisa tidur lagi loh..." " Nggak apa- apa. Saya memang udah nggak mengantuk." " Ibu kan orang sibuk. Banyak kegiatan. Jadi harus banyak istirahat." " Kalau saya banyak istirahat, saya nggak bisa ngapa- ngapain dong, bu." canda Zara. " Iya juga ya..." ucap ibu Nia sambil mengambil segelas air putih untuk sang majikan. " Bu, boleh saya bicara sesuatu?" tanya ibu Nia dengan hati- hati. " Boleh. Apa itu bu?" " Ng... Tapi jangan kasih tahu bapak ya, bu." " Tapi soal apa dulu... Ibu tahu kalau saya nggak berani bohong sama bapak." jawab Zara yang memang selalu menjaga nama baik Frans dihadapan para karyawannya. " Soal... Soal non Fiona." ucap Ibu Nia sedikit mengecilkan suaranya dan mendekati Zara. " Fiona? Ada apa dengan Fiona?" tanya Zara dengan heran. " Ng... Non Fiona belum pulang, bu." " Apa? Belum pulang? Jam segini?" tanya Zara terkejut. " Iya, bu. Dan udah beberapa hari seperti ini." " Ibu Nia yakin? Sudah cek ke kamarnya?" " Sudah, bu. Dan non---" " Waahh... Kalian pagi sekali gosipin orang." potong Fiona yang tiba- tiba muncul dan membuat ibu Nia menghentikan ucapannya dan pamit. " Kamu tahu ini sudah hampir pagi tapi kamu baru pulang?" tanya Zara dengan marah. " Kamu siapa mau ngatur aku? Nggak usah ajarin aku soal benar dan salah kalau kamu sendiri menikahi duda kaya yang lebih cocok jadi ayah kamu!" jawab Fiona dengan ketus dan sinis. " Aku nggak perduli kamu mau bilang apa. Aku hanya nggak mau kamu membuat papa kamu marah dan kecewa apalagi kalau kamu sampai merusak diri kamu---" Ucapan Zara terhenti karena Fiona tertawa terbahak- bahak seketika dan berdiri di hadapan Zara dengan sedikit sempoyongan. " Tenang saja mama mudaku sayang, paling tidak aku tidak menjual diri seperti yang kamu lakukan ke papa. Kamu lucu sekali, Zara. Kamu menasehati aku seolah kamu sangat bersih dan berhati malaikat." " Fiona, aku peringatkan supaya jangan melampaui batas kamu." ucap Zara dengan tegas karena ia tidak akan membiarkan gadis remaja tersebut menghinanya lebih jauh. " Kenapa? Kamu mau mengadu sama papa? Atau mau apa? Memukul aku? Kamu tahu, Zara? Kamu adalah orang yang paling aku benci di rumah ini. Kamu menjijikkan dengan selalu bersikap sebagai nyonya besar yang terhormat padahal kamu hanya seorang penyanyi kafe yang menjual diri sama papa dan memaksanya untuk menikahi kamu supaya bisa hidup enak." Zara menghela nafasnya untuk berusaha agar tidak terpancing mendengar ocehan Fiona yang sudah biasa didengarnya. " Kamu mabuk dan saya nggak punya waktu mendengarkan kamu. Sebaiknya kamu jangan berkeliaran di dalam rumah seperti ini dan dilihat sama papa kamu." ucap Zara yang mencoba agar tidak menangis mendengarkan Fiona. " Tenang aja, aku tahu jam segini papa selalu masih terlalu asik dengan istri mudanya." seru Fiona meski Zara sudah beranjak meninggalkannya. " Bu Niaaaa! Saya haus. Ambilin saya minum!" seru Fiona. *** Zara lalu duduk di tepi kolam renang sambil merendamkan kakinya ke dalam dinginnya air kolam dan menunduk menahan tangisnya. " Kamu harus kuat, Tiana. Kamu harus kuat. Ini tidak akan lama lagi. Sebentar saja lagi, Tiana. Aku mohon bertahanlah..." isaknya dengan suara yang sebisa mungkin hanya bisa ia dengarkan sendiri. " Mama... Aku rindu... Aku rindu... Kenapa mama menyelamatkan aku? Kenapa? Kenapa aku tidak mati saja?" isaknya lagi sambil menggenggam erat jubah tidur di bagian perutnya. " Apa semua baik- baik saja?" tanya Galan yang tiba- tiba berdiri di balik punggung Zara dan ternyata tadi mendengarkan semua ucapan Fiona saat ingin mengambil air minum di dapur. Zara lalu mengusap wajahnya dengan cepat dan langsung berdiri meninggalkan Galan sendirian. Ada rasa pilu dan sedih ketika tadi ia melihat tubuh bergetar Zara saat menahan isak tangisnya. " Tenanglah, Galan... Dia tidak butuh apapun selain perlindungan kamu diluar rumahnya. Ingatlah kalau dia adalah atasan kamu dan istri orang lain. Jangan ikut campur apapun." ucapnya sambil menatap punggung Zara yang berjalan dengan cepat meninggalkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN