“Sania....” Khiya menoleh pelan, sangat pelan, nyaris seperti tubuh tanpa raga. Khiya tidak tidur semalam, matanya jika diteliti maka orang akan menyadari bahwa terlihat sembab di bagian sisi matanya. Beruntung sekarang sudah ada kacamata hitam yang bisa menutupi matanya. “Mutia... ada apa? “ suara Khiya juga sedikit serak, tapi Khiya mengusahakan agar suaranya terdengar normal. Mutia spontan meraih kedua tangan Khiya, gadis itu terlihat nampak sedih. “Tolong katakan pada pak Farel, semua ini bukan kesalahan Fatha. Fatha tidak bersalah, semua ini kesalahanku.” “Memang apa yang terjadi? “ Mutia menunduk sedih, “Aku yang terus mengganggunya mengenai persiapan pernikahan kami dan memintanya membalas pesan yang aku berikan, bahkan memaksa Fatha mengangkat teleponnya, padahal Fatha sud

