“Kenapa pedih ya? “Farel memeriksa jari telunjuknya. “Ya Allah, ternyata kesubena kena serpiahan gelas tadi.” Farel beralih ke nakasnya, mencari obat merah. Dan ternyata miliknya habis. “Khiya kayaknya ada deh.” Farel beranjak keluar dari kamarnya, di lihatnya pintu kamar Khiya yang setengah terbuka. Meskipun setengah terbuka, Farel hendak mengetuk pintu, agar Khiya tidak terkejut akan kedatangannya, tapi tangan Farel terhenti sebelum sampai mengetuk pintu. Farel tertegun melihat apa yang ada. Khiya membuka perbannya dan tidak terlihat luka atau apa-apa di tangan Khiya. Dia tidak terluka. Tangannya baik-baik saja. Farel spontan mundur menjauh dari pintu Khiya, kembali ke kamarnya. ‘Dia baik-baik saja' seharusnya Farel bersyukur bukannya merasa kecewa seperti ini. Farel merasa bo

