“Malam ini aku ingin menjelaskan semuanya padamu, Ra—” “Hanya aku yang belum tahu tentang rencanamu pindah ke Singapura. Bahkan Najih dan Najla saja sudah tahu lebih dulu. Tega sekali kamu, Ai!” “Ra—” Naura mengangkat tangannya, secara tak langsung menghentikan kalimat yang akan dikatakan oleh Dimas. Tanpa mengatakan apapun dia meninggalkan ruang kerja Papanya. Tangis yang ditahan sejak tadi pecah. Dan, Naura memilih menyendiri dulu untuk menenangkan hati dan pikirannya. Pak Gio sudah menduga hal ini akan terjadi. Sebenarnya bukan Dimas yang menyebarkan tentang tawaran pekerjaan itu. Melainkan pihak Fakultas yang mengumumkan lewat medsos kampus. Wajar jika para mahasiswa tahu terutama si kembar sahabat Naura. Sepertinya hanya gadis itu yang tidak tahu karena tak memiliki media sos

