Kamu Usir Aku, Ai?

1447 Kata

Pengobatan yang dijalani Bu Tania hampir selesai. Setiap minggu kondisinya mengalami peningkatan yang signifikan. Beliau tidak lagi takut mendengar suara keras, setiap malam bisa tidur nyenyak tanpa bermimpi buruk, dan jarang melamun saat ditinggal pergi suaminya bekerja. Apalagi putra kesayangannya telah kembali. Hari-harinya tak lagi suram. Ada Dimas yang akan meramaikan kediamannya. Dan lagi, Angga, sebagai sumber masalah sudah dikembalikan pada orang tua kandungnya. Kelakuannya semakin hari semakin mengerikan. Bahkan berani bicara kasar dan memukul Pak Restu saat keinginannya tak dituruti. “Matanya tolong dikondisikan—” sindir Dimas. Naura terkekeh pelan, malu saat ketahuan mencuri pandang ke arah psikolog yang baru saja lewat. “Maaf, Ai. Tadi aku kayak kenal sama Psikolog Bunda,”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN