Leon sedang sibuk melakukan coloring, dia sangat fokus sampai tidak menyadari Diarra dari tadi sudah duduk di sofa di depan mejanya. Adiknya sedang memperhatikan sketsa yang berserakan di meja. Dia memiringkan kepalanya, terpaku pada satu sketsa, seorang gadis yang memegang bola basket sembari tertawa, gambar itu, dia tau pasti Rehan yang menggambarnya. Gambar itu adalah potret Diarra di masa SMA.
“Ini gambaran Rehan?” tanya Diarra kepada Leon. Kakaknya terlalu fokus sampai tidak menjawab pertanyaan Diarra.
Gadis itu mendengkus, dia lalu berjalan menuju Leon sembari membawa sketsa yang mengusiknya.
“Kak ini gambaran Rehan?” tanya Diarra sekali lagi. Leon seketika kaget dan mendongak, menatap adiknya dan gambaran yang dia pegang.
“Iya, loh ketemu Rehan?” tanya Leon. Diarra mengangguk, dia meletakkan bekal dan sketsa itu diatas meja lalu pamit pulang, namun pertanyaan Leon menghentikan langkahnya.
“Kenal sama Rehan?” tanya Leon. Diarra hanya mengangguk kecil lalu keluar ruangan. Samar-samar dia bisa mendengar kakaknya berteriak berterima kasih karena bekal Diarra.
Adiknya mengerucut sebal, kalau tahu Rehan bekerja di sini, dia tidak akan mau menginjakkan kaki di kantor ini. Seumur hidupnya dia telah bersumpah tidak akan melihat lagi wajah Rehan, sayangnya semesta mengatakan sebaliknya, baru saja Diarra menuruni tangga, melihat lagi Rehan.
“Diarra!” panggil Rehan, Diarra melangkah cepat, mengambil langkah besar bahkan kini berlari kecil menuju parkiran motor mencari scoopynya.
“Diarra!” panggil Rehan. Diarra akhirnya berhenti melangkah, bodohnya dia lupa kunci motor tertinggal di ruangan kakaknya, padahal sudah naik ke atas motor.
“Apasih? Aku enggak mau bicara lagi sama kamu, pergi!” teriak Diarra. Sungguh dia masih ingat bagaimana jahatnya Rehan yang meninggalkannya di saat Diarra mulai mencintainya. Rehan tidak membalas pesan Diarra, hanya membacanya waktu itu. Diarra sangat kesal bukan main, belum lagi Rehan menghilang tanpa jejak.
“Kamu kenapa kok gini?”
Rehan memanggilnya, menarik tangan Diarra untuk turun dari motor. Diarra menepis tangannya, menampar Rehan.
“Denger kan aku bilang apa? Jangan ajak aku bicara.”
Diarra keluar dari gang kantor, ke jalanan ramai dan naik taksi. Dia berhasil kabur dari Reha, matanya sembab, hidungnya memerah, menahan air mata yang meluncur. Alunan musik dari radio taksi membuat dia meneteskan air mata, sungguh menyakitkan bagi Diarra. Rehan masa lalunya, cinta pertamanya, perasaannya yang tak terjawab, dia tidak mau bertemu lagi dengannya.
Rehan sangat bingung dengan sikap Diarra, dia tidak tau apa salah dia. Rehan naik ke atas, kembali ke dalam kantor dan menemui Leon.
“Bang, itu tadi cewek yang ke sini siapa?” tanya Rehan.
“Adik aku,” jawab Leon sembari memakan bekal yang dibawakan Diarra. Sederhana, tetapi cukup membuat perut Leon kenyang.
“Oh, dia temen SMA aku dulu.”
Seketika Leon menyemburkan minuman ke wajah Rehan tanpa sengaja.
“Hah? Kamu temen SMA dia? Rehan? Rehando Adiyatna?” tanya Leon membulatkan matanya, Leon tidak sempat mengecek CV Rehan lebih lengkap, dia hanya menilai gambaran Rehan yang bagus dan menerima dia bekerja di studionya. Leon tau dulu adiknya pernah depresi selama dua bulan, tidak mau makan dan hanya diam, keceriaannya hilang karena seorang lelaki bernama Rehando Adiyatna yang menghancurkan hatinya. Sebagai kakak Leon tau betul bagaimana masa lalu Diarra yang terluka sampai membuat Diarra trauma membuka hati kepada lelaki. Iya, semua karena Rehan.
Leon mengambil tissue dan memberikan kepada Rehan, dia tidak menyangka dunia akan sesempit ini, Rehan yang menjadi pegawainya adalah Rehan cinta pertama adiknya.
“Kayanya lebih baik kamu jangan temui Diarra dulu Han.”
Rehan terdiam, sungguh dia tidak tau apa salahnya. Dia masih bingung, kenapa sikap Diarra sangat aneh, kenapa gadis yang dia cintai dulu malah menjauh dan marah-marah kepadanya.
“Emangnya kenapa Bang?” tanya Rehan dengan polosnya.
“Ya pokoknya jangan deh.”
Leon membereskan kotak bekalnya yang telah kosong habis dia lahap, sedangkan Rehan kembali bekerja setelah membasuh mukanya yang telah disembur Leon.
Diarra mengirimkan pesan kepada Leon untuk membawa motornya pulang, setelah itu dia masuk ke dalam kamar, menangis, mencoba melupakan semua masa lalunya. Rehan sangat berarti bagi Diarra empat tahun lalu, teman sekaligus sahabatnya. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, hingga saat kelulusan, Diarra menanyakan perasaan Rehan sekaligus menyatakan cintanya melalui pesan, namun Rehan hanya membacanya. Setelah itu Rehan menghilang, rumahnya pindah, bahkan tidak ada yang tau dia kemana. Semua sosial medianya tidak aktif, Diarra mencari ke seluruh tempat yang mereka berdua sering tempati, namun dia tak kunjung terlihat. Hingga akhirnya Diarra menyerah, hanya bisa meratapi nasib jika Rehan tidak ada dalam kehidupannya lagi. Dia marah, jengkel dan kesal. Seolah dia bukan apa-apa dalam kehidupan Rehan.
Handphone Diarra berdering, nama Rey di sana. Diarra cepat-cepat mengusap air matanya dan mengangkat telepon Rey. Sejenak dia teringat sudah memiliki kekasih walau masih virtual, dia mendengarkan suara Rey yang menyapanya dan membalas dengan seceria mungkin, tak mau Rey tau kalau dia baru saja menangis.
“Sayang, kamu masih kerja?” tanya Rey.
“Iya, masih ... kenapa sayang?” tanya Diarra
“Aku cuma kangen, share foto kamu dong,” ucap Rey.
Diarra tersenyum lalu mengubah panggilan menjadi video call, mereka saling berbincang, Diarra lupa mengunci pintu kamar. Ibunya telah kembali dari butik dan mengintip putrinya yang sedang video call dengan seorang lelaki.
“Diarra, siapa itu?”
Mendengar suara ibunya, Diarra langsung mematikan video call tanpa pamit dengan Rey, dia menyembunyikan handphonenya dan panik.
“Kenapa? Siapa dia?” tanya ibunya.
“Bukan Ma, bukan siapa-siapa kok, cuma teman kuliah,” jawab Diarra berbohong.
Ibunya menyipitkan mata, mengadahkan tangan, pertanda meminta handphone Diarra. Cepat-cepat Diarra menghapus semua call log dan riwayat pesan lalu memberikan kepada ibunya.
“Kamu bohong sama Mama? Kenapa pakai dihapus?” tanya ibunya. Dewina mulai curiga dengan putrinya.
“Ma, kasih aku kebebasan dong,” pinta Diarra.
Dia merasa bukan lagi anak kecil yang harus diawasi, dia tau apa yang dia lakukan, dia tau apa yang dia mau. Berteman dengan siapa saja apa salahnya?
“Mama enggak suka kamu berbohong. Mama mau kamu jujur, berpacaran dengan siapa. Diarra, kamu tau kan Mama paling enggak suka dibohongi?” ucap ibunya. Diarra menunduk lemas dan mengangguk, hanya bisa diam tanpa mengucap sepatah kata apapun, dia sudah merasa kalah telak dengan ibunya.