Bab 4

1023 Kata
Diarra menghela napasnya pelan, dia lalu menatap ibunya dan memegang tangannya. "Pesanan aku mana? Aku laper," ujar Diarra. "Kebiasaan kalau ditanya, pasti ngalihin pembicaraan. Kamu tadi ngomong sama siapa? Jangan bohong ya sama Mama," ujar Dewina. Diarra menggeleng. "Tadi aku telfonan sama Bang Leon, tanya aja ke dia kalau enggak percaya. Udah ah, Mama mah sering introgasi Diarra kayak gini," ujarnya kesal. Dewina menggeleng, lalu memberikan pesanan yang diminta oleh Diarra tadi. Dia lalu pergi meninggalkan putrinya itu di dalam kamar. Diarra iseng-iseng mengintip hingga ibunya benar-benar pergi dari kamarnya. "Huh! Hampir aja." Diarra memegang dadanya yang berpacu dengan cepat, dia mengusap wajahnya. Bukan niatnya mau berbohong, namun Diarra tak ingin apabila hal ini sampai diketahui Ibunya, apalagi tahu kalau sebenarnya Diarra pacaran hanya perantara dari handphone, pasti tidak ada restu untuk dirinya bersama dengan Rey. Diarra memegang kepalanya yang sedikit nyeri, dia melihat handphonenya tadi ada pesan masuk dari Rey namun Diarra keburu menghapusnya sebelum dirinya membaca. Ah sial sekali. Diarra lalu mengambil handphonenya dan kembali menghubungi Rey, lama setelah itu ada balasan dari Rey. Diarra menghabiskan waktunya dengan berbincang dan chatingan dengan Rey, sambil melupakan kejadian tadi yang membuat luka lamanya kembali terbuka karena Rehan. Diarra melahap habis ayamnya, dia sesekali tertawa melihat lelucon dari Rey, memang kadang bosan jika hanya chatingan, namun selalu ada bahan topik baik dari Diarra ataupun Rey. *** Leon membersihkan halaman taman rumahnya, dia melihat adiknya yang baru saja keluar. Manik matanya menatap wajah adiknya, apakah adiknya sekarang baik-baik saja? Jangan sampai hal dulu terulang kembali saat dia galau merana bahkan tidak ingin makan dan bahkan sampai masuk rumah sakit hanya karena Rehan saja. Memang cinta sangat membutakan seseorang, bahkan Leon tidak pernah tau kalau ternyata Rehan yang menyakiti adiknya adalah Rehan yang bekerja di perusahaan miliknya. Leon juga tidak boleh mengambil keputusan untuk memberhentikan Rehan secara sepihak apalagi dengan alasan karena Rehan sudah menyakiti adiknya, Rehan termasuk salah satu pegawai yang memiliki kinerja terbaik di antara yang terbaik. Jadi sangat terpaksa kalau Leon harus bisa mengambil bekal makanannya sendiri tanpa menyuruh adiknya lagi, takut benar-benar terjadi perang yang tak diinginkan. "Woi dek!" Diarra yang merasa dipanggil menoleh dengan raut wajah malas, dirinya tau biasa kalau Leon memanggil dirinya seperti itu pasti ada sebuah hal berupa 'perintah' yang diberikan. "Apa? Mau nyuruh apa? Sumpah bang aku lagi enggak mood sekarang, jangan bikin down deh," ujar Diarra. Leon menggeleng. "Eits! Jangan berburuk sangka dengan kakakmu yang baik hati ini, justru kakak ingin menghibur adik kakak tersayang," ujarnya dengan nada sebaik mungkin. Diarra mendengkus geli mendengarkan penuturan kakaknya yang terdengar sangat alay itu. "Alay tau enggak, mau apa? Emang aku kenapa pengen dihibur? Orang cuman enggak mood biasa, paling cuman pengen coklat, eh bukan deh, paling mau handphone baru, tas dan sepatu baru," ujar Diarra mulai mengkode kakaknya. Leon menghela napasnya, permintaan adiknya? Sekali meminta akan mengeluarkan uang yang cukup banyak, namun permintaannya itu hanya kadang-kadang saja dan itu jarang sekali kecuali Leon sendiri yang menawarkan. "Lalu?" Diarra tak mau buang waktu hanya duduk bersama dengan kakaknya. "Temenin aku main lah, udah lama kita enggak main bareng." Diarra menggeleng. "Main apa? Jangan aneh-aneh deh," ujar Diarra. "Ya kamu maunya main apa? Kita main basket aja gimana? Setiap kamu masukin poin, bisa minta 1 permainan, tapi syaratnya ...." Diarra mengangkat alisnya. Seolah bertanya "apa" "Ya syaratnya kamu harus masukin aja, cuman saya doang yang jadi penghalang. Sumpah ini kayak bocil sih, tapi saya juga gabut," ujar Leon mengambil bola. "Tumben gabutnya ngajak-ngajak. Eh btw kan Abang emang sering main sama bocil, buktinya kalau malam minggu nongki bareng anak-anak SMA sama anak-anak kuliah, dasar enggak tau umur," ujar Diarra. "Saya masih 25 tahun, itu masih muda. Muka saya juga masih baby face? Masih awet banget kan? Bahkan banyak yang ngira saya ini masih kelas 12 SMA," ujar Leon dengan segala tingkat kepedeanya. Diarra memainkan bibirnya seperti sedang mengejek kakaknya, dengan bacotan sepanjang rel kereta. "Kapan mulainya? Kalau aku masukin satu ke ring dapat satu permintaan?" tanya Diarra. Leon mengangguk. "Permainannya jangan aneh-aneh," ujar Leon. Diarra berpikir, sebenarnya dia tidak ibu ingin meminta apa-apa sekarang. Semuanya sudah lengkap. Namun Diarra akan tetap bermain, untuk memasukkan bola ke dalam ring juga bukan hal mudah bagi Diarra apalagi ada Leon yang menghalanginya. "Waktunya 10 menit, dalam 10 menit itu, kita liat kamu bisa masukin berapa bola dalam ring," ujar Leon mulai memasang stop watch dan alarm saat tepat 10 menit. Leon mengambil bola, dan berdiri di tengah sambil melihat adiknya yang sedang mengambil posisi yang baik untuk memulai. Leon melempar bolanya dan Diarra mengambilnya, gadis itu dengan segala kelincahan yang dia punya mulai bergerak ke sana kemari untuk mencoba mencapai ring. Percobaan pertama, dia gagal, bolanya tidak masuk ke dalam ring. Dan ini sudah membutuhkan waktu sekitar 4 menit, Diarra tidak menyerah dia kemudian mengambil lagi bola dan mulai melakukan tekniknya dan berhasil! Diarra tersenyum bangga dengan dirinya. "Oke satu ya, lagi lanjut! Permintaannya entaran aja," ujar Leon. Diarra mengangguk dia kemudian langsung melakukan teknik yang sama dan berhasil. Dua kali memasukkan bola, dan mencoba lagi namun gagal dan waktu sudah habis. Diarra mengusap keringatnya, dia mengambil air milik kakaknya dan menyuguhkan habis. "Jago juga kamu, abang kira engga," ujar Leon. Diarra mengejek Leon. "Yaiyalah, walaupun semuanya itu abang yang ajarin, tapi setidaknya ada progres yang Diarra dapat kan?" tanyanya. Leon mengacuhkan jempolnya, melihat adiknya yang sedang menatap ke depan. Leon kemudian membuyarkan lamunan itu. "Oi!" Diarra memutar bola matanya malas, setiap dirinya mencoba merenungkan sesuatu hal, kakaknya selalu mengganggunya dengan mengagetkan dirinya. "Apa permintaanmu?" tanya Leon tidak sabar, paling adiknya akan meminta dibelikan sesuatu yang sudah sering terdengar di telinganya. "Kali ini bukan barang yang pengen gue minta," ujarnya. Leon menatap adiknya, lalu apa? Raut wajah Leon sudah menjadi perwakilan dari pertanyaan di hatinya. "Yang pertama, kakak harus restuin Diarra berhubungan dengan orang yang sudah Diarra pilih. Kakak enggak boleh kayak Mama," ujar Diarra. Leon mengernyitkan dahinya, lalu menggeleng. "Enggak! Enggak! Tergantung juga kamunya sama siapa, nanti kamu mau nikah sama preman masa kakak restuin? Gila banget yang ada abang yang dikeluarin dari kartu keluarga sama Mama sama Papa, yang lain deh yang lain jangan yang merugikan harga diri saya," ujar Leon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN