Bab 5

1021 Kata
Diarra memasang wajah kesal. "Apaan sih, mana mungkin juga aku pacaran atau berhubungan sama preman, aku juga bisa milih yang baik dan benar. Lagian merugikan harga diri kakak dari mana coba? Kalau yang buruk-buruk gitu pasti aku taulah," ujar Diarra. Leon menghela nafasnya, bagaimana bisa permintaan itu terlintas dalam pikiran adiknya? Apakah adiknya sekarang punya pacar? Cukup meragukan, karena melihat reaksi Diarra yang emosian saat bersama dengan Rehan terlihat adiknya yang belum move on? Ah Leon kenapa jadi memikirkan hal terlalu jauh. "Hmm." "Setuju enggak?! Ya haruslah! Masa enggak!" ujar Diarra. Leon menggeleng. "Permintaanmu aneh banget, sekarang lagi suka sama seseorang ya?" tanya Leon. Diarra menghela napasnya pelan, hubungan yang terjalin dengan amat singkat itu membuat dirinya menjadi ragu untuk memberitahukan kepada Abangnya perihal ini, bukan apa-apa tapi Diarra benar-benar takut mereka tidak akan ada yang setuju tentang dirinya dan Rey yang berpacaran hanya melalui akun game. Dengan amat singkat waktunya mereka berdua berpacaran, Diarra bahkan bingung kenapa dirinya bisa menjadi senyaman itu dengan Rey? Bahkan Diarra belum tau bagaimana sikap Rey yang asli, apakah dia akan sama seperti Rehan? Atau tidak, ini pertanyaan yang ada di benaknya sekarang. Oke karena kakaknya, dirinya terlalu memikirkan hal jauh dari apa yang dipikirkan sebelumnya. "Kenapa jadi kakak yang nanya mulu? Seharusnya aku nanya, setuju enggak? Untuk saat ini aku belum punya pacar, cuman aku wanti-wanti aja, nanti aku punya keputusan sendiri kalian malah menolak semuanya dengan mentah-mentah dan menjodohkan aku dengan lelaki lain yang tidak aku cintai," ujar Diarra. "Abang enggak tau bisa dukung kamu apa enggak dengan permintaan ini, permintaan ini sangat sulit dek," ujar Leon sambil menghela napas gusar. Diarra menggeleng. "Abang hanya perlu jawab ya! Karena ini udah keputusan awal," ujar Diarra. "Kakak yang tadi bikin challenge kan? Kalau misalnya aku berhasil memasukkan bola ke dalam ring, berarti aku bebas meminta apa saja. Tidak ada persyaratan khusus untuk itu, sebagai lelaki itu kakak harus konsisten dengan ucapan awal," ujar Diarra malah menyalahkan kakaknya. Bagiamana tidak? Orang sudah jelas-jelas bahwa permintaan ini memang harus dipenuhi sesuai janji awal, Leon terlalu banyak neko-neko membuat Diarra kesal saja. Gadis itu menarik tangan Leon. "Oke itu permintaan pertama, aku juga janji kok bakal nyari yang pas buat aku, yang baik, dan enggak seperti yang ada di benak kakak tuh!" Diarra menyenggol dahi kakaknya. "Bukan apa adik, cuman cari pasangan itu enggak asal pilih. Jangan sampai kamu jatuh pada orang yang salah," ujar Leon. Mendengar perkataan yang bijak itu membuat Diarra tertawa, sejak kapan kakaknya jadi memperhatikan dirinya seperti itu? Eh tidak, kakaknya memang sering perhatian dengan dirinya, apalagi setelah kejadian yang di mana hampir meregang nyawa Diarra, alasan kenapa ibunya melarang Diarra untuk dekat dengan siapa pun, karena takut salah langkah lagi. "Oke deh, cuman abang lakuin semampu abang aja. Permintaan kedua apa? Jangan aneh-aneh!" ujar Leon. Diarra memegang dagunya seperti sedang berpikir, gadis itu menarik sudut bibirnya dengan mengacuhkan jempolnya tanda dirinya sudah mendapatkan ide yang amat cemerlang untuk membebani kakaknya itu. Leon merasakan ada aura negatif lalu mencoba mengekspresikan dirinya sebaik mungkin. "Apa? Plis jangan aneh-aneh, kayak bocah kalau aneh," ujar Leon. Diarra tertawa melihat wajah kakaknya yang terlihat panik, padahal dirinya belum mengucapkan permintaan itu, bagiamana jika dirinya mengucapkannya sekarang? Kakaknya mungkin akan pingsan. "Permintaan kedua adalah ...." "Abang harus dapat pasangan sebelum umur 27! Bentar lagi kan 26 tahun, jadi pas 26 tahun itu kakak harus udah punya pasnagan buat dinikahin! Titik!" ujar Diarra. Leon menghempaskan dirinya di lapangan rumput taman milik rumah mereka. Diarra tertawa. Kakaknya benar-benar pingsan? "Bagaimana bisa Diarra? Mencari pasangan enggak semudah yang kamu bilang itu," ujar Leon. Walau sebenarnya Leon sering mendapatkan cewek-cewek yang mendekati dirinya namun percayalah, Leon tidak ada niatan untuk membalasnya selagi belum ada iming yang pas untuk keduanya, takut semuanya hanya menjadi sementara dan menyakiti hati saja. Dunia terlalu melelahkan untuk menghabiskan hari-hari karena kegalauan. Diarra mengusap pundak kakaknya. "Yang kuat! Cari yang baik ya, jangan sampai ada kisah dengan judul kakak iparku jahat kepada diriku," ujar Diarra. Setelah mengucapkan itu gadis itu berlari meninggalkan kakaknya yang mungkin masih lemas. Leon menatap adiknya, tidak apa-apa baginya. Melihat adiknya kembali tersenyum sudah membuat dirinya lega, setidaknya amanat dari ibunya untuk bisa menjaga perasaan adiknya tetap bahagia terlaksana walau belum sepenuhnya, Leon akhir-akhir ini juga sering melihat ibunya yang terus memanjakan Diarra, melarangnya ini itu dan segala hal, antara bagus dan tidaknya. Diarra bisa mendapatkan kasih sayang full time, tapi di sisi lain dia tidak bisa terlepas alias dirinya selalu dalam larangan dan pengawasan dari ibundanya. **** Setelah mandi, Diarra bersiap untuk jalan-jalan melihat sunset, sekedar jalan-jalan sore saja. Menghirup udara, kadang dirinya menghabiskan waktu dengan membaca webton dirinya sebenarnya tidak terlalu suka membaca buku, dia hanya suka melihat sesuatu berbau digital, dirinya sekarang lebih banyak bermain handphone dan laptop, apalagi semenjak dirinya sekarang berpacaran dengan Rey. Lama-lama duduk di salah satu kursi taman, Diarra menghela napasnya pelan, LDR kadang membuat dirinya menjadi galau merana, di sana semua pasangan sedang bergandengan tangan mengelilingi gunung melihat matahari akan terbenam, dirinya hanya duduk ditemani dengan angin sejuk. Diarra melihat handphonenya, hingga saat ini Rey belum menghubungi dirinya sama sekali, kadang hal ini yang membuat dirinya jadi over thingking. Hubungan jarak jauh memang meresahkan hati dan pikiran. Sebaik-baiknya, Diarra harus bisa menjaga pikirannya agar tetap positif, lama menunggu kabar, Diarra tidak sebegitu egois hingga membiarkan Rey mengabari duluan. Diarra juga bisa mengabari Rey duluan. [Lagi apa?] - Pesan singkat itu Diarra kirim, 5 menit menunggu tidak ada balasan, Diarra menjadi jengah di sini. "Nih." Seseorang mengulurkan air botol kepada dirinya. Diarra menatapnya. "Ngapain sih? Saya bilang jauh-jauh!" ujar Diarra saat melihat Rehan. Rehan dengan wajah seperti itu membuat dirinya semakin kesal saja, bagaimana tidak? Lihat dia seperti tidak memiliki kesalahan kepada dirinya. "Kenapa si?" tanya Rehan mencoba menahan Diarra untuk tetap duduk. Diarra menghempaskan tangan Rehan. "Jangan pegang-pegang, aku nggak suka. Mending kau jauh-jauh deh," ujar Diarra. Rehan terdiam, Diarra yang merasa sudah tak ada keperluan lagi dia langsung pergi meninggalkan Rehan yang terdiam. Diarra berharap lelaki itu sedang merenungi kesalahannya, semoga saja seperti itu, agar dia tidak mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, walau bukan kepada Diarra, untuk siapa pun itu, jangan sampai terulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN