Bab 6

1024 Kata
Sepulang Diarra dari jalan-jalan sore, Rey mengabari dirinya hal itu justru tidak digubris oleh Diarra. Perasaannya kini makin kian hancur, apalagi fakta jikalau mereka hanya sebatas virtual saja, dan tambah parahnya Rehan hadir dengan tampang tanpa dosa. "Aaa! Aku nggak mau stress lagi!!" Diarra berteriak. "Kamu stress karena apa nak?" tanya Dewina tiba-tiba, saat dia memperhatikan perilaku anaknya yang kian berubah akhir-akhir ini. Diarra mendongak lalu menggeleng dengan cepat. "Engga apa-apa, Diarra cuman stress karena pekerjaan Diarra," ujarnya mengambil alasan kerja. Dewina duduk di samping putrinya dan mengelus pelan kepala Diarra. "Kenapa dengan pekerjaanmu? Apa semuanya baik-baik saja?" Diarra menatap ibunya yang masih dalam posisi yang sama. Dia menghela napasnya pelan, padahal ini bukan soal urusan kerjaan, Diarra tidak pernah stress dengan tugas-tugas kantornya alasannya karena dia menikmati setiap pekerjaan yang diberikan jadi tidak ada rasa lelah atau tertekan berada di sana. "Nggak apa-apa, Mah. Aku baik-baik aja cuman pengen istirahat aja dulu," ujar Diarra. Bahaya jika dirinya terus berbohong apalagi masalah pekerjaan, bisa-bisa dirinya benar-benar dilarang untuk bekerja dan berakhir dirinya akan dibiarkan menganggur di rumah seharian, bukan seharian lagi setahun bahkan sampai dirinya menikah. Ah tak terbayangkan bagaimana hal itu akan terjadi. Diarra menggeleng lalu menarik ibunya seolah meminta ibunya untuk pergi kamarnya, bukan niat Diarra mengusir tapi dirinya benar-benar lebih enak sendiri dan melupakan masalahnya dengan caranya sendiri. "Oke deh kalau gitu, Mama keluar dulu." Dewina pamit dan pergi meninggalkan Diarra. Sebenarnya Mamanya peka dengan segala situasi yang ada makanya dia memilih untuk pergi. Karena merasa bosan, Diarra mengambil handphonenya dan membalas chat milik Rey seadanya, kenapa dirinya sekarang cepat sekali bosan? Tolonglah, jangan sampai rasa bosan yang dia rasakan menjadi hal yang sangat buruk untuk ke depannya. Diarra lama menunggu, tidak ada balasan. Diarra mencoba login akun game miliknya, setelah dia login dia melihat akun milik Rey sedang bermain, Diarra menghela napasnya pelan pantas saja dia tidak menjawab chat milik Diarra. "Nungguin dia selesaii apa aku langsung main sendiri aja ya? Lama nggak ya? Udah 17 menit sih dia mainnya," ujar Diarra. Diarra memasuki lobby, dia menekan tombol berwarna ungu yang ada di bagian akun Rey, tanda pre-invite. Semenit itu Rey menerimanya, yang harus Diarra lakukan adalah menunggu sampai Rey selesaii bermain gamenya. **** "Kok lama? Mainnya hampir 30 menit," ujar Diarra dengan mic yang sengaja dia nyalakan. "Maaf sayang, itu musuhnya susah full squad." "Kamu main sama siapa?" tanya Diarra. "Dana squadku juga," ujar Rey menjawab seadanya, Diarra tak mau bertanya lagi dia hanya menjawab oh saja. "Kamu nunggu lama ya? Maaf ya," ujar Rey. Diarra tersenyum sekilas lalu dia membalas, "Nggak sih. Biasa aja. Aku udah sering nunggu lama-lama, bahkan berjam-jam eh bahkan bertahun-tahun," ujar Diarra. "Diara?" Rey memastikan apakah Diarra baik-baik saja atau tidak, mendengar perkataan yang cukup aneh di telinganya. "Ku mulai ya." Diarra menekan tombol mulai, dan matching sedang berlangsung. "Mau hero apa? Support aja ya, aku mau jadi hyper," ujar Rey. "Pake apa?" "Yang kamu bisa aja. Atau terserah kamu mau pake apa aja." Mereka saling bertukar percakapan melalui perantara akun game. "Yaudah aku pake hero yang baru ini ya, sekalian mau nyobain," ujar Diarra. Setelah melakukan pick hero, mereka berdua sudah memulai game, seperti biasa hanya sibuk dengan kegiatan masing-masing, terkadang Diarra meminta bantuan kepada Rey saat dirinya sedang digank. Diarra juga tidak bisa dikatakan beban, karena Diarra juga jago dalam memainkan game ini, dia juga sudah bisa memakai all role yang menurutnya bisa dia kondisikan jika dia sedang solo ranked atau solo main. 16 menit bermain, mereka memenangkan match tersebut. Rey kembali menginvit Diarra. "Udahan? Atau mau lagi?" tanya Rey dari balik micnya. "Capek sih, kamu udah main dari tadi. Udahan dulu deh," ujar Diarra. "Kamu baik-baik aja?" tanya Rey. "Iya baik-baik aja. Kenapa? Tumben nanya gitu," ujar Diarra lagi. "Soalnya kalau main biasanya 2-3 match sekarang tumben satu doang." Diarra tertawa. "Cuman lagi malas aja sana enggak mood," ujarnya. "Serius? Nggak ada masalah apa-apa kan di sana? Kamunya baik-baik aja? Atau ada yang gangguin?" tanya Rey. Diarra tersenyum atas perhatian yang diberikan oleh Rey. Plis lah? Kenapa dirinya jadi bisa baper dengan hal-hal seperti itu? Padahal dulu dirinya bertekad untuk tidak membuka hati kepada siapa pun dengan sembarangan, saking tebalnya niat dirinya itu, sudah banyak lelaki yang dia tolak. Namun kenapa dengan Rey begitu berbeda? "Nggak kok, cuman emang lagi malas aja mainnya. Paling besok kembali lagi tuh," ujar Diarra. "Yaudah kita lanjut call wa aja ya." **** Rehan menata beberapa barang-barang lukisnya dia menatap beberapa hasil karyanya dengan gambaran wajah Diarra, dirinya begitu bingung kenapa wanita yang dia cintai menjauh darinya? Rehan masih sangat bingung perihal ini, Diarra? Bukannya dia yang pergi meninggalkan dirinya? Kenapa seolah-olah dia yang tersakiti. "Bro? Lukisan pesanan kantor sebelah udah jadi belum? Mau ku kirim," ujar Leon. Rehan hanya terdiam. Leon memperhatikannya lalu mengagetkannya dengan cara menepuk pundak Rehan cukup keras. "Anj—" "Heh!" Leon seolah-olah ingin menonjok mulut Rehan jikalau dia mengeluarkan kata-kata tidak pantas. Rehan tertawa. "Ngagetin sih, kenapa bang?" tanya Rehan. "Hadeh, lagi ngelamunin apa sih? Lukisan udah jadi belum? Udah mau dianterin nih, tuh udah siap drivernya," ujar Leon. "Nggak ada cuman memikirkan masa lalu. Udah jadi kok, tuh udah ku bungkus serapi mungkin tinggal diangkut," ujarnya. Leon menepuk-nepuk pundak Rehan, seolah tau. Masa lalu? Pasti dia sedang memikirkan adiknya, namun bukannya? Aduh dirinya tidak boleh sampai tidak netral di sini. Bagaimana pun Rehan sudah sangat membantu, untuk masa lalu dia dan Diarra itu biarkan saja berlalu, toh Diarra juga sudah menjaga jaraknya. "Kenapa Diarra nggak dateng? Biasanya jam segini dateng nganterin makanan," ujar Rehan nampak basa basi. "Dia lagi ke kantornya, dia lagi kerja juga." Leon mengambil kardus berisi lukisan-lukisan buatan Rehan. "Hem gitu, dia kerja di mana?" "Perusahaan kosmetik, dia bagian design. Mau ketemu dia? Kan sudah ku—" "Iya nggak kok, cuman nanya aja. Dia nggak lanjut kuliah?" tanya Rehan. "Mau kerja dulu dia katanya. Yaudah ku pamit dulu mau nganter ini ke depan." Leon selain daripada pemilik, dia juga tetap bekerja di kantornya ini alasannya biar dirinya juga tak terlalu banyak membayar orang. Sebentar lagi kantornya ini akan menjadi perusahaan besar, dan itu tujuan Leon yang sebenarnya. Dan menepati janjinya kepada adiknya itu. "Iya bang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN