Bab 7

1040 Kata
Rehan menghela napasnya pelan, masa dirinya harus menjauhi Diarra? Yang ada di benaknya sekarang apa salah dirinya? Perasaan dahulu tidak ada apa-apa melainkan Diarra yang pindah dan tak ada kabar. Rehan kembali melakukan pekerjaannya, prioritas utama dia berada di sini adalah kerja dan menjadi anak yang mandiri tanpa kedua orang tuanya, memang orang tuanya sudah mewarisi dirinya sebuah perusahaan, namun Rehan rasa fashionnya bukan di sana, melainkan di kesenian dan lukisan. Dan dia sudah berjanji untuk bisa mandiri setelah selesai kuliah sarjana. "Udahlah nggak usah terlalu dipikirin, sebenarnya saya bingung kenapa kalian bisa bermasalah," celetuk Leon saat melihat Rehan hanya sibuk melamun dan sesekali menengok pekerjaannya. Takut semuanya jadi terbengkalai hanya karena Diarra yang selalu ada di otaknya Rehan. "Enggak kok bang," ujar Rehan sambil terkekeh. Serasa dirinya jadi sadboy saja jika seperti itu, dia mengusap wajahnya dan tersenyum. Leon merasa iba, lebih tepatnya dia juga bingung, kenapa bisa Rehan melakukan hal setega itu kepada adiknya? Leon juga sudah lumayan mengenal Rehan semenjak jadi karyawan di sini, mereka bertemu di sebuah ajang pertunjukan seni lukisan, di sana Leon memang sedang mencari seseorang yang bisa diajak kerja sama membangun sebuah bisnis kantor komik, semacam itu dan Rehan saat itu sangat b*******h untuk menerimanya. Mulai saat itu Leon sudah bisa menyimpulkan bahwa Rehan adalah anak yang baik, dia bisa saja membantu Rehan dekat dengan adiknya lagi, namun Leon harus benar-benar memastikan bahwasanya Rehan tidak akan menyakiti adiknya lagi, dan Leon juga masih butuh jawaban kenapa Rehan melakukan hal jahat itu kepada adiknya, meninggalkan adiknya saat adiknya sudah sangat sayang dengan Rehan. Aduh? Kenapa Leon jadi memikirkan kisah asmara dari adiknya? Sedangkan dia saja tidak berpengalaman soal ini, dari SMA Leon memang berbeda sekolah dengan Diarra, Leon mengambil SMK, dia mengambil keputusan kesenian semacamnya. Dari dulu dirinya memang suka menggambar, di SMK nya dulu dia pernah dekat dengan seorang gadis, namun entah sekarang gadis itu di mana. Gadis itu sangat asik, dan dia juga sangat suka bermain game persis seperti dirinya. Jadi Leon jadi ada bahan pembicaraan saat bersama dengan gadis itu. "Bang?" Rehan sedari tadi memanggil Leon namun tak digubris. Leon yang baru sadar langsung menoleh ke sumber suara. "Kenapa?" tanya Leon dengan cepat." "Lagi mikirin apa sih? Kayaknya sibuk bener. Sampai ku panggil 4 kali baru nyahut," ujar Rehan diiringi dengan tawa khasnya. "Sorry, enggak ada sih cuman ngelamun yang enggak jelas aja." Leon bersandar di kursi dengan gaya khas santainya. Dia menatap Rehan yang sibuk melukis, dia menoleh ke beberapa lukisan wajah milik Diarra. "Dulu kalian itu sedekat apa?" tanya Leon mulai basa basi. "Siapa bang?" Rehan masih fokus dengan gambarannya. "Kamu sama Diarra lah, siapa lagi." Rehan yang mendengar nama Diarra langsung memberhentikan aksinya. "Oh, sedekat nadi." Rehan menjawab seadanya, memang benar? Dulu mereka pernah sejauh matahari hingga mereka akhirnya sedekat nadi, saat di mana Rehan memperjuangkan gadis cantik yang memikat hatinya, dia menyatakan perasaannya melalui sebuah gambaran wajah Diarra yang imut itu. "Alay banget." Untung saja mereka sekarang berjarak kalau tidak pasti Leon akan sering mendapatkan sebuah gambaran kemesraan adiknya dan Rehan di depan matanya, Leon itu tidak pernah tertarik dengan yang namanya cinta dan cewek, dia hanya fokus sama keinginan dan bakat serta hobinya saja. Jadi urusan cinta memang dia tidak berpengalaman, jadi rasanya aneh saja melihat keuwuan orang-orang. Apalagi panggil dengan nama alay? Seperti ayang, bebep, Leon tertawa saja mendengarnya. Saking jarangnya dia membahas soal cinta, bahkan ibunda tersayangnya menganggap dirinya adalah guy, amit-amit jabang bayi. Leon masih tertarik apalagi yang bodynya girl. Eh no no! Leon lebih mengutamakan akhlak dan kepribadian dari cewek tersebut. "Serius bang, saya dan Diarra dulu sangat dekat enggak tau kenapa bisa jauh," ujar Rehan kembali fokus dengan kerjaannya. Leon menaikkan alisnya, apa serius Rehan tidak tau menahu dengan apa yang terjadi? Sungguh tidak bisa dipercaya. Ingin rasanya Leon langsung mengatakan bahwa 'kau sudah menyakiti adikku' dirinya masih punya hati untuk melakukan hal itu. Leon hanya ingin tau kejujuran saja, jika memang ini kejujuran dari mulut Rehan tidak apa-apa. Leon terima. "Oh gitu." "Iya bang, tanyain Diarra kenapa dia ngejauh dari saya bang. Heran juga saya itu," ujar Rehan. "Susah bro, ini menyangkut harga diri saya sebagai seorang kakak yang tampan. Kenapa? Karena nanti saya akan diejek oleh Diarra karena kepo dengan urusannya, kau tidak tau saja soal diriku dan Diarra," ujar Leon. Rehan tertawa. Leon asik, sama seperti Diarra, keduanya memang memiliki sikap yang friendly dan juga bisa berbincang dengan orang baru, namun saat Rehan mengenal Diarra, gadis itu cuek dan jarang ngomong kecuali dengan teman dekatnya saja. Hingga akhirnya saat itu, Rehan bertekad untuk memperjuangkan Diarra. Perjuangan yang cukup susah menaklukkan hati seorang cewek dingin, mungkin karena Diarra risih dengannya makanya dia menjauh? Apakah saatnya Rehan untuk sadar diri dan sadar posisinya sekarang? Apalagi dirinya sekarang ... tinggal sendiri, makan pun seadanya padahal orang tuanya kaya meriah. "Sabar aja, ada nanti jawabannya lambat laun, cuman perlu kesabaran aja kok," ujar Leon sok menasehati, dalam hatinya berkata dirinya terlalu sok, sok pintar dalam urusan ini. Tapi memang benar kan? "Iya bang, cuman butuh waktu atau karena saya jelek ya bang?" Leon menatap Rehan yang sok polos itu, bagaimana bisa dia mengatakan dirinya jelek? Leon serasa ingin membanting saja. Padahal ada kaca di sana, bisa dia lihat sendiri betapa gantengnya Rehan, cowo tinggi, alis tebal, hidung mancung dan bibir kecil. Serasa sempurna menurut Leon, apalagi menurut kaum hawa? Wah pilihan adiknya memang luar biasa, sayangnya mereka harus berpisah? Sayang banget bukan? "Lanjut kerja aja deh, fokus kerja! Jangan mikirin adek saya terus. Berjuang, saya dukung tapi sekalinya kamu nyakitin dia, ini yang kamu dapat." Leon mengepal tangannya di hadapan Rehan. Rehan tertawa lalu mengangguk. "Siap bang!" Rehan hanya menatap Leon hingga akhirnya dia sudah tak nampak di ruangannya, Rehan kembali fokus dengan lukisannya. Melihat kontak w******p milik Diarra, gadis itu sekarang sedang online. Apa bagus jika dirinya sekarang mengchat? Nomor baru Diarra juga dia dapat dari teman ke teman SMA nya dahulu, susah untuk mendapatkannya, dan akhirnya Rehan dapat dari Tania, teman Diarra yang sepertinya sampai sekarang masih dekat? Untung saja Tania berbaik hati memberikannya, Rehan tak berani memintanya langsung atau memintanya kepada Leon. "Chat apa nggak ya?" Rehan berpikir sambil melihat layarnya terus menerus. "Duh bahaya nanti sekali saya chat dia blokir gimana? Saya bingung," ujar Rehan mengacak-acak rambutnya frustasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN