Bab 8

1066 Kata
Forever One BAB 8 Rehan akhirnya memberanikan diri untuk memencet tombol send di layar ponselnya. Dia melihat Diarra sudah membaca pesannya. Untuk pertama kali dala hidup Rehan, akhirnya Diarra mau membaca pesan Rehan lagi. 'Mau ngapain lo?' Begitulah jawaban Diarra. Padahal Rehan hanya menyapanya dengan 'Hai'. Jujur saja, Diarra tidak mau lagi berurusan dengan Rehan karena satu hal, dia mempermasalahkan hatinya. Luka yang telah sembuh jangan sampai kembali lagi. Malam itu, kejadian yang memilukan dan membuat Diarra memutuskan Rehan langsung besok paginya. Dia melihat Rehan jelas dan membuatnya sakit hati. Rehan ciuman dengan Ralinsyah, gadis yang sejak dulu mengejar Rehan di masa SMA. Semenjak itu Diarra memutuskan Rehan tanpa memberi tau alasannya dan diam-diam menjauh. Berat bagi Diarra, dia sangat mencintai Rehan. Tetapi tiap kali dia mengingat bagaimana Rehan mengkhianatinya, luka itu kembali. Rehan menjawab pesan itu 'Aku mau bicara serius sama kamu.' Diarra tak menanggapinya, hanya membaca pesan Rehan dan beralih kepada pesan Rey. Entah kenapa tanpa sadar Diarra membanding-bandingkan Rey dengan Rehan. Kalau dipikir-pikir dua-duanya sama-sama tampan, hanya saja Rey dua tahun lebih muda. Rehan jelas lebih mapan. Namun sayangnya Rehan telah membuat Diarra sakit hati, down dan tak lagi bisa menerima Rehan apa adanya. Diarra harus melupakan Rehan. Salah satu obat untuk menyembuhkan luka adalah tidak sama sekali berbicara dengan orang yang melukai perasaannya. Begitulah Diarra, dia enggan berbicara dengan Rehan sedikitpun, dia harus menjauhi Rehan. Memang berat, tetapi itulah salah satu cara melupakan masa lalunya yang berat. Diarra menatap layar ponselnya, menunggu Rey membalas pesannya, sudah hampir tiga puluh menit belum ada jawaban. “Neng, ngelamun aja, itu gimana desainnya? Udah belum?”” tanya Rasya, salah satu rekan kerjanya. Diarra mengerjapkan matanya, menutup ponsel yang dia genggam lalu kembali lagi fokus dengan layar ponselnya. Dia sungguh lelah menunggu Rey membalas pesannya. Rey sepertinya masih sibuk, kuliah di STAN memang sepertinya berat bagi Rey. Diarra sangat memahami itu. “Dir, ini mbak Ninda dari staff marketing ngasih riset pasar, katanya lebih cocok kalau warna desain lip balm itu lebih nyentrik, trus dia mau ada kaya motif doodle gitu buat ciri khas.” Diarra mengambil kertas yang diberi oleh Rasya, motif doodle? Oh God, ya memang pangsa pasar lip balm ini untuk remaja, tetapi kenapa harus doodle? Kenapa tidak batik sekalian. Terkadang Diarra gemas dengan mbak Ninda, seenaknya sendiri memutuskan sesuatu, nanti kalau sudah dibuatkan susah payah, pasti ujung-ujungnya bilang. “Aduh Dir, ga cocok. Ganti aja deh kayanya.” Diarra seperti kerja rodi, ratusan kali dimintai revisi. Kali ini Diarra tidak mau lagi bekerja seperti itu. Harusnya rancangan desain semua dari Diarra, diterima atau tidak itu keputusan Rasya selaku kepala design. Pihak marketing harusnya hanya setuju dan mempersiapkan promosi. Hal yang paling Diarra benci adalah ketika mbak Ninda itu banyak protes masalah desain dan mengatakan penjualan enggak laku gara-gara desain yang Diarra buat. Entah apa yang ada di pikiran mbak Ninda sampai mengatakan hal itu, padahal desain Diarra selalu disetujui oleh semua orang di kantor. Bagus, kekinian dan warnanya cerah tidak mencolok. Diarra bingung sendiri kenapa mbak Ninda selalu ingin bermasalah dengannya. “Dir, kerjain.” Rasya kembali mengucapkan hal itu, sedangkan Diarra masih saja menghela napasnya. Sungguh ini bukan hal yang menyenangkan. Diarra lelah, dia benar-benar pusing. Kemarin baru saja desain lip ice diganti, sekarang lip balm. “Enggak, gabisa. Udah desain terakhir paling cocok.” Diarra lalu bangkit, berjalan menuju staff marketing, departemen marketing letaknya ada di lantai atas, paling dekat dengan CEO. Diarra naik ke atas lalu menemui mbak Ninda dengan wajah berapi-api. Rasya sudah mencegahnya, tetapi Diarra tidak bisa hanya diam begini saja. “Mbak,” panggil Diarra. “HM?” jawab Ninda sembari membetulkan alis dan bulu matanya. Ninda selalu memperhatikan make upnya, tetapi ya seharusnya Ninda menghargai Diarra dengan meletakkan peralatan make upnya dan menghadap ke Diarra. Entah kenapa Diarra merasa tak dihargai. Dia kesal sekaligus marah. Memang Ninda senior marketing di sini, tapi bukan berarti semena-mena dalam memberikan pekerjaan kan? “Mbak, ini desain lip balm kenapa diganti lagi?” ucap Diarra. Diarra kalau bekerja selalu rapi dan memberikan hasil maksimal, setiap kali ada revisi, dia selalu memberikan 10 desain dengan warna yang berbeda untuk masing-masing jenis produk. Tapi kenapa baru kemarin dia lembur, sekarang diberi lembur lagi, sepertinya Diarra dengan Ninda akan perang besar. “Ya karena desain kemarin enggak cocok, nih kamu baca sendiri, berdasar riset, mereka itu lebih suka warna-warna yang lebih eye catching, terus sekarang nih ya kan lagi jaman booming doodle, kamu bisa kasih motif doodle di bagian tutupnya.” Diarra melongo mendengar ucapan Ninda, tau apa dia soal desain? Doodle? Yah memang bagus tapi desainnya tidak sesuai dengan lip balm yang diluncurkan dengan tema summer. Diarra pusing menghadapi Ninda. “Oke jadi maksudnya aku disuruh bikin gambar doodle tema summer gitu?” tanya Diarra. “Eh ya itu tugas kamu, kok jadi tanya-tanya sih ke aku, udah sana cepet kerjain, nanti samplenya langsung bawa sini,” ucap Ninda. Diarra gemas, serasa ingin membanting Ninda saat ini juga, dia kesal kerja di sini, gaji tak seberapa, tetapi kerjanya kerja rodi. “Gabisa gitu dong mbak, kalau bolak balik revisi, ya tangan aku yang capek gambar ini itu terus,” ucap Diarra. Tanpa disangka Ninda bangkit berdiri lalu menuding kepala Diarra dengan telunjuknya sembari berkata, “Eh, kamu itu ya staaf Desain, kamu digaji buat bikin desain, jadi apapun yang saya minta, seharusnya kamu turuti, kalau kamu bilang tangan kamu capek, kamu gak lihat tangan, kaki, sama mulut saya capek karena masarin produk? Helo? Kamu harusnya sadar diri! Kerjaan cuma duduk aja ngeluh!” bentak Ninda. Beberapa karyawan lainnya sudah antisipasi akan melerai mereka. Diarra benar-benar sudah tidak tahan bekerja di sini. Dia lalu menampik tangan Ninda dan menatapnya tajam. “Asal mbak tau ya, semua staff desain banyak yang keluar gara-gara sikap mbak yang plin plan soal desain, terus ya kalau gabisa jualin produk jangan salahin desain dong, jelas-jelas desain udah bagus masih aja disalahin, Helo! Plis deh, mata situ masih normal kan? Oh iya sih, mbak Ninda kan selalu menang, dibela sama CEO karena simpanannya, ups.” Diarra mengucapkan dengan senyuman miringnya mengejek. “Kamu ya enggak sopan!” bentak Ninda. “Aku laporin kamu ke HRD biar dipecat sekalian!” bentak Ninda. “Oh enggak perlu kok mbak, lima menit lagi aku udah bakal keluar dari kantor ini. Anda sebagai senior seharusnya bekerja dengan otak, bukan emosi.” Diarra lalu berbalik begitu saja, meninggalkan Ninda yang masih terpatung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN