Diarra menghela napasnya, dia memijit pelipisnya yang terasa sangat pegal serta kakinya yang terasa sangat nyeri karena berjalan dari kantor menuju rumahnya, sangat sial karena sedari tadi menunggu taksi tidak ada yang lewat, handphone Diarra juga mati karena kehabisan baterai, terpaksa dengan sangat terpaksa dirinya harus berjalan kaki. "Huh, aku harus gimana? Cara ngomong di Mama kayak gimana?" tanyanya kepada dirinya sendiri. Pasalnya, dirinya tiba-tiba mengambil keputusan untuk keluar dari kantor tersebut.
Pasti akan ada sesi wawancara yabg akan dia hadapi terutama untuk ibu, dan kakaknya. Berbeda dengan ayahnya yang membebaskan dirinya mau kerja atau tidak, atau ingin menikah sekalipun juga boleh. Karena dengan alasan Diarra sudah ada pegangan ilmu, berbeda dengan Leon, abangnya yang senantiasa mengajak dirinya untuk mandiri, sedangkan ibunya sendiri selalu melarang Diarra untuk melakukan hal-hal yang menurut ibunya itu negatif atau tidak berguna bagi diri Diarra.
Diarra mengambil boneka bantalnya lalu memeluknya, seperti sedang melepas rasa lelahnya. Gadis itu terbaring di atas ranjang kamarnya sambil melihat langit-langit kamar, Diarra merasakan dirinya menyesal untuk keluar dari kantornya itu, karena sangat sulit untuk mencari pekerjaan. Satu-satunya yang bisa membantu dirinya sebelum Diarra diomeli oleh ibunya adalah, Leon. Dengan modal nekat gadis itu kandungan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kantor milik kakaknya, siapa tau kakaknya punya kenalan untuk dirinya bisa bekerja, asal bukan di tempat yang sama saja.
Dirinya muak dengan Ninda. Orang yang paling sok berkuasa, Diarra memang bisa sabar, namun dalam keadaan tertentu. Jika dirinya kembali diperlakukan seperti itu sama saja harga dirinya tidak ada di mata Ninda. Seolah tidak dihargai atas desain yang Diarra lukis sebagaimana mestinya.
"Bang!" teriak Diarra pelan dari balik jendela ruangan milik kakaknya. Diarra sering mengganggu kakaknya di sini jika dirinya bosan di rumah, kakaknya juga terlalu bodoh untuk membiarkan jendela besar berada di sini. Diarra membukanya dan langsung masuk melalui jendela. Kebiasaannya, bukan melalui pintu depan. "Ini anak nggak sopan banget," kesal Leon melihat aksi adiknya yang tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.
"Kayak ngga biasa aja," ujar Diarra lalu duduk.
"Ngapain ke sini? Bawa makanan? Aku lapar sumpah," ujar Leon. Diarra memutar bola matanya malas.
"Kali-kali kak, kalau aku datang itu harusnya ditanya mau dibantu atau ada keperluan apa? Bukan cuman ngisi kebutuhan kakak," ujar Diarra.
"Ngelantur, biasanya emang datang ke sini buat ngantarin makanan, atau nggak kamu bosan di rumah. Paling itu doang," ujar Leon. Diarra mengangguk setuju sekaligus mengalah akan kakaknya, jika dia melanjutkan perdebatan, maka yang memang tetaplah Leon. Kalau berada di lingkungan Leon seperti ini, pasti Diarra kadang tiba-tiba bego.
"Ngapain?" tanya Leon melihat adiknya terdiam saja.
Diarra menghela napasnya lalu memasang wajah sedih, Leon hanya duduk dengan santainya. Sudah biasa melihat wajah malang adiknya itu. "Jelek kalau gitu mukamu," ujar Leon.
"Aku kan pada dasarnya emang jelek! Ngejek lagi," ujar Diarra.
"Nggak ngejek, mengatakan fakta." Leon memperbaiki posisinya.
"Jadi gini kak ...."
"Oh gitu, terus?" tanya Leon. Diarra melempar tasnya ke arah kakaknya. "Belum selesai ngomong! Jangan ngeselin deh," ujar Diarra.
"Makanya kalau ngomong jangan sepotong-sepotong lama amat jedanya," ujar Leon.
"Ngambil keberanian dulu," ujar Diarra.
"Keberanian segala, paling curhatnya curhat biasa kayak cinta anak monyet." Diarra mengusap wajahnya, memang sulit untuk membangun sebuah percakapan serius antara dirinya dan juga Leon. Kalau sudah seperti ini rasanya Diarra hanya ingin memotong leher kakaknya tanpa ampun.
"Izinkan saya untuk membuka suara. Diam atau kapak di belakang melayang," ujar Diarra.
"Galak amat." Leon menjadikan tangannya sandaran kepala.
"Jadi gini, tadi aku kan ngegambar desain buat produk pasar lip bam, nah kebetulan yang bagian pemasaran itu namanya Ninda. Dia itu banyak banget maunya," ujar Diarra.
"Stop." Leon memperbaiki posisinya. "Ada masalah di kantor? Tumben ceritanya ke saya? Bukan Mama?" tanya Leon.
"Karena permasalahannya beda lagi! Makanya denger dulu," ujar Diarra serasa ingin mengerek kepala kakaknya.
Leon mengangguk-angguk mempersilahkan adiknya melanjutkan ceritanya.
"Dia nyuruh sampai berulang kali, dan bikin aku muak. Sampai ada sedikit perdebatan dan dia bilang mau lapor aku supaya dipecat, karena aku masih punya harga diri akhirnya aku unjuk bicara dan ngomong kalau aku bisa keluar sendiri dan nggak akan pernah balik buat kerja di sana lagi," ujar Diarra.
"Kalau aku keluar dari sana aku harus kerja di mana? Nggak mungkin aku pengangguran," ujar Diarra.
Leon menatap adiknya. "Kecerobohan, kamu ngambil keputusan secara cepat, padahal kamu sudah kerja di sana cukup lama dan sudah mengenal bukan hanya oleh Ninda. Tapi hampir semua karyawan di sana kan?" tanya Leon.
"Plis deh kak, kalau kakak minta aku tetap balik ke sana aku nggak mau!" ujar Diarra.
"Itu pilihanmu, emang mau jadi penganggur? Capek aku liat siklus hidupmu, pernah aku berpikir kalau jalan kehidupan bisa jauh lebih mulus, ternyata aku lebih mulus ya," ujar Leon sambil cengengesan.
"Jangan gitu bang, aku sedih nih dengarnya," ujar Diarra.
"Haduh, saran abang sih ya cari lowongan pekerjaan di perusahaan, kali aja dapat," ujar Leon.
"Satu-satunya sih berjuang lagi. Kalau menurut aku mending tanyain dulu sama Mama, kenapa si takut sama Mama?" tanya Leon.
Diarra menekuk wajahnya. "Mama banyak ceramahnya, walau aku dengerin tapi gimana ya ...."
"Bandel, harus denger. Kalau mau sukses, doa ibu adalah yang utama, cerita masalahnya ke Mama siapa tau ada solusi yang baik," ujar Leon.
Diarra melihat kakaknya dengan sosok yang berbeda, dari segi percakapan yang tadi sedikit membuat dirinya terpukau, kakaknya seperti sudah lumayan berubah, sudah sangat dewasa mengambil keputusan. Diarra jadi tidak sabar untuk hari besar buat Leon, yaitu hari pernikahan kakaknya.
Ah kenapa jadi berpikir ke sana.
"Yaudah deh. Diarra pamit, kalau pulang beliin Diarra coklat," ujarnya.
Gadis itu mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan kakaknya, keluar melalui jendela. Leon melihat adiknya hanya menggeleng.
"Misi bang?" Leon menoleh.
"Ya masuk."
Rehan masuk ke dalam ruangan, memberikan hasil gambarnya dan beberapa ide untuk alur cerita komik yang akan mereka rilis lagi. "Tadi aku dengar suara Diarra, dia ada? Atau cuman perasaan aku aja?" tanya Rehan memberanikan diri bertanya.
"Heum, dia ada tadi. Cuman udah pulang," ujar Leon lalu mengambil kertas di tangan Rehan.
"Lah? Tapi saya tidak liat siapa pun keluar dari ruangan ini tadi," ujarnya.
"Dia lewat jendela besar itu," ujar Leon sambil menunjuk memakai dagunya.
Rehan mengangguk, rasanya ingin tertawa jikalau dirinya melihat sikap konyol itu, jadi teringat saat mereka berdua bolos lewat jendela. Karena Rehan yang mengajak, Diarra juga kena imbasnya waktu itu.
ReplyForward