Bab 10

1035 Kata
Malam telah tiba, sebelum Diarra memberanikan dirinya mengatakan bahwa dirinya sudah tak bekerja lagi kepada ibunya, Diarra mengecek handphonenya namun tidak ada pesan dari Rey sama sekali hanya chatan kemarin malam terakhir, dan itupun Rey tak kembali memulai percakapan, hanya diakhiri dengan selamat tidur, dan paginya mereka sama sekali tidak saling bertegur sapa.  "Dub, Rey sibuk kali ya? Padahal mau main, bosan banget," ujar Diarra.  Diarra menyimpan handphone lalu keluar menuju kamar ibunya. Dia melihat ibunya yang sedang membaca koran di dalam kamar dengan posisi yang sangat santai, Diarra perlahan masuk dan mengucapkan salam. Dibalas oleh ibunya, terlihat senyum yang merekah di wajah ibunya membuat perasaan Diarra menjadi cukup tenang. "Kenapa nak? Belum tidur?" tanya Dewinta. "Nggak mah, belum ngantuk aku. Aku mau ngomong sesuatu sama Mama," ujar Diarra sambil bersandar di pundak Mamanya.  "Hem? Tumben, mau ngomong apa? Udah lama Mama sama kamu nggak ngobrol kayak gini, anak Mama kenapa?" tanya Dewinta sambil mengelus kepala Diarra. "Hmm, tapi Mama jangan marah sama Diarra ya?" tanya Diarra.  Dewinta menyatukan alisnya. "Kenapa? Apa Diarra melakukan kesalahan sampai Mama dipikir akan marah? Padahal Diarra biasa nakal Mama nggak marah tuh," ujarnya. Diarra terkekeh. Dia memeluk ibunya dari samping.  "Diarra udah keluar dari perusahaan di mana Diarra kerja," ujarnya langsung. Dewinta terdiam sejenak, lalu menatap putrinya yang masih dalam posisi yang sama. "Kenapa? Diarra capek kerja ya?" tanya Dewinta. Mengingat di mana Leon memang menyuruh adiknya untuk bekerja agar tidak menjadi beban suaminya nanti, setidaknya adiknya harus punya pegangan dan bukan mengandalkan harta orang tua. Diarra menggeleng. "Ada salah satu karyawan yang bikin Diarra kesal, Mah." Diarra kembali menjelaskan di mana titik permasalahan yang sebenarnya bisa-bisa saja diselesaikan kembali. Ini hanya perdebatan kecil, namun sedikit menyayat perasaan.  "Jadi maunya Diarra gimana? Kalau emang udah nggak nyaman, nggak apa-apa keluar," ujar Dewinta.  Diarra memilin tangannya. "Diarra berusaha cari kerja lagi kok, Diarra bakal cari lowongan pekerjaan, dan menawarkan diri sebagai jasa desain," ujar Diarra. "Iya nak, sekarang udah besar kan? Selagi jalannya baik Mama dukung saja, udah nggak bisa maksa kehendak lagi, udah saatnya kamu memilih jalanmu, tapi ingat. Mama tetap waspadai kamu," ujarnya. Diarra tersenyum, dia tertawa dan mengangguk. "Makasih Ma." Serasa moodnya naik seketika, setidaknya tidak ada beban di pikirannya mengenai dirinya yang sekarang berstatus pengangguran. Diarra tak boleh mengecewakan dirinya, kakaknya dan ibunya! Diarra harus bisa dapat pekerjaan yang sama seperti dahulu, dan jauh lebih baik pastinya, semoga bisa.  Diarra kembali ke kamarnya. Gadis itu membuka handphonenya dan mengecek pesan pesan yang masuk namun tidak ada pesan dari Rey. Sedikit aneh dan membuat perasaan Diarra menjadi tidak tenang, bukan masalah apanya. Ini sudah sangat malam dan Rey sama sekali tak mengabari, dia melihat last seen w******p milik Rey, sekarang berstatus online. Diarra jadi penasaran kenapa Rey sekarang jarang mengechat dirinya terlebih dahulu. Biasa Rey yang memulai semua percakapan.  Diarra mencoba membuka topik dengan mengirimkan pesan kepada Rey. Dan setelah menunggu hampir 10 menit, Rey baru membalas pesan dari Diarra. Dia mengusap wajahnya menunggu 10 menit itu seperti menunggu satu jam saja, apalagi untuk notif dari pacarnya itu. 'Lagi sibuk banget ya? Udah makan?' itulah pesan kedua yang dikirimkan oleh Diarra kepada Rey. Tak lama setelah itu kembali ada balasan. 'iya sayang, lagi sibuk ngurus kuliah.'  Jawaban yang membuat Diarra cukup lega, mungkin memang benar Rey sangat sibuk dengan kuliahnya bukan hal mengherankan menurut Diarra, karena dirinya juga pernah berada dalam fase tersebut.  **** Diarra mencoba mencari lowongan pekerjaan, setelah mencari selama hampir 2 jam, sama saja dirinya tak mendapatkan hasil apa pun. Yang sekarang dia lakukan hanya terbaring di atas tempat tidur menikmati dinginnya AC dengan sariroti yang disediakan oleh ibunya untuk dirinya.  Diarra mendapatkan chat dari Rehan, Diarra awalnya tersenyum karena nama mereka rada mirip, Diarra ingin melempar handphone, dia kira itu pesan dari Rey ternyata Rehan. Laki-laki yang tak bermoral dan tak mempunyai hati. "Gimana adek udah dapat?" tanya Dewinta. Diarra menoleh lalu menggeleng. "Ngga ma, belum ada. Aku usahain buat dapat ya," ujar Diarra.  "Kamu udah makan?" tanya ibunya. Diarra menggeleng. Padahal dirinya sudah makan, namun menikmati makanan dari ibunya adalah hal yang paling nikmat yang ada di dunia ini. "Yaudah mama buatin makanan dulu ya, kalau capek istirahat aja," ujar Dewinta. Diarra merasa tidak enak jikalau dirinya hanya seperti ini, dirinya tak boleh mengecewakan ibunya, dirinya harus bisa mendapatkan pekerjaan cepat.  Diarra membuka handphonenya. “HALO KAK!” Diarra berteriak saat Leon mengangkat teleponnya. “gausah teriak juga dodol. Sakit telingaku.” Dari balik telepon Leon mengusap-usap telinganya. “Ya maap, bantuin nyari lowongan pekerjaan jasa desain, sekalian promo ke ig perusahaanmu kali aja ada yang minat akan hasil desainku.” Leon dari balik sana hanya mengusap wajah dan menghela napasnya, menghadap adiknya adalah sebuah perkara buruk baginya. Diarra menghela napasnya pelan. Terdengar helaan napa dari Leon juga. “Maaf jadi beban lagi, susah nyarinya.” Diarra memperbaiki nada bicaranya. “Nanti ku bantu.” “Saya lapar, bawain nasi bisa?” “Malas masakan kantor, nggak seenak makanan ibu.” Diarra harus bersabar karena Leon adalah orang yang paling Diarra harapkan sekarang untuk membantu dirinya. Karena berbaik hati, Diarra akan datang ke kantor Leon untuk membawakan makanan untuk kakaknya.  **** "Diarra?" Suara itu sangat dia kenali. Diarra menunduk, mencoba menetralisir wajahnya untuk terlihat biasa saja di depan Rehan.  "Mau ngomong boleh?" tanya Rehan. "Nggak, saya nggak ada waktu buat kamu. Saya mau ke ruangan Kaka saya, tolong jangan halangi jalan saya," ujar Diarra.  Rehan menatap Diarra, dia menggeser sedikit tubuhnya agar Diarra bisa lewat. "Kalau mau, ketemuan di taman biasa jam 4 sore ya. Ku tunggu semoga mau," ujar Rehan sedikit berteriak.  Diarra menggeleng. Dirinya mana mau, mending menyibukkan diri dengan hal-hal penting daripada harus bertemu dengan orang seperti Rehan.  "Nih makanan anda tuan apa lagi?" tanya Diarra terasa pegal badannnya, dirinya kelamaan di tempat tidur bahkan olahraga pagi saja tidak.  "Bagus, nice, nice." Leon mengambilnya. Masakan ibunya adalah masakan terenak sedunia.  "Sebenarnya itu buat aku, cuman ku kasih ke kakak. Kasian anak monyet lagi laper, ga tega aku," ujar Diarra. "Siapa anak monyet?" "Ya anaknya monyet lah, siapa lagi. Emang abang?" tanya Diarra. "Kalau aku ejek abang sebagai monyet, ya sama aja kalau aku ngejek ayah ibu. Aku tuh berpikir jauh daripada kakak yang asal-asalan ngejek kalau beginian," ujar Diarra. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN