***
Setelah Diarra mengantarkan makanan untuk kakaknya, gadis itu tidak tahan bila harus terus berada di rumah menunggu ada penawaran lowongan kerja untuk dirinya. Bagaimana bisa nyaman sedangkan yang dia lakukan di rumah hanyalah menunggu, makan, tidur dan hal-hal yang sebenarnya tidak menguntungkan dirinya. Yang ada berat badan Diarra semakin naik, dan dirinya akan stress berkepanjangan jika dirinya tak mulai dari sekarang, kapan bisanya?
Diarra melepas jam tangannya dan menyimpannya di dalam tasnya, mencoba mencari kantor-kantor yang membutuhkan tenaga kerja desain komunikasi visual, Diarra sudah menawarkan diri ke salah satu kantor namun dirinya ditolak. Sulit sekali apalagi perusahaan yang berhubungan dengan jurusannya lumayan susah ditemukan.
Sampai sore harinya. Diarra sekarang tiba di salah satu perusahaan yang mungkin akan menerimanya kerja, mungkin.
"Halo pak selamat malam," ujar Diarra dengan sopannya terhadap satpam yang menjaga.
"Malam dek, kenapa? Ada keperluan apa di sjni?" tanyanya.
Diarra tersenyum. "Apakah perusahaan ini butuh tenaga kerja?"
Satpam itu terdiam sejenak. "Kemarin sih ada, cuman sekarang kayaknya sudah tutup karena kemarin lumayan banyak yang datang melamar."
"Apa saya boleh masuk bertanya pak?"
Satpam itu mengangguk dan mempersilahkan Diarra masuk. Seperti yang seringkali dialami, ada rasa gugup dalam dirinya. Diarra melihat orang yang sama, Ninda. Orang yang menjadi alasan kenapa dirinya sekarang berada di posisi ini. Tanpa basa basi Diarra langsung pergi meninggalkan perusahaan ini. "Kenapa harus ada dia sih?" tanya Diarra kesal. Dirinya sangat lelah, dirinya hanya makan roti dan minum jus saja.
Dia belum makan makanan berat sedikit pun. Bayangkan saja dari jam 11 pagi hingga jam 10 malam Diarra masih di luar dengan tujuan mencari pekerjaan. Diarra seperti luntang lanting mencari nafkah, moodnya semakin buruk saat melihat Ninda, kenapa dia ada di sana? Apakah perusahaan itu sedang bekerjasama dengan perusahaan yang sudah ditinggalkan Diarra? Ah Diarra tak mau memikirkan hal itu. "Hufft." Diarra duduk di salah satu tempat duduk di pojokan jalanan dengan satu lampu jalan di samping tempat duduk itu menunggu bus akan datang, mungkin 15 sampai 20 menit, ini akan sangat lama. Apakah Diarra harus menelfon kakaknya?
Hari semakin malam, Diarra merasakan angin semakin kencang menuju selatan, tiba-tiba ada gemuruh petir terdengar, Diarra semakin takut saja. Dan ini sangat jauh dari rumahnya, bagaimana ini? Diarra mengecek handphonenya, selalu saja sial. Handphonenya mati lagi, terlalu lama tidak dicharger. Mati total.
Tak lama setelah itu hujan turun dengan derasnya, Diarra berlari mencari tempat berteduh, pasti sekarang ibunya semakin khawatir tentang keadaan dirinya. Apa lagi Diarra tidak sempat mengabari ibunya, terakhir dia mengatakan bahwa ingin mengantarkan makanan kepada Leon. Hingga berakhir dirinya memutuskan untuk mencari pekerjaan secara manual di kantor-kantor sekitar sini.
Malah Diarra terjebak hujan. "Bagaimana sekarang?" Bibir Diarra bergetar karena gemuruh petir seperti ingin menyambar, derasnya hujan dapat dia lihat dari ujung sana, Diarra terjebak sekarang. Rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya.
"Ibu, kak Leon ...." Diarra memeluk dirinya sendiri mencoba memenangkan dirinya di saat seperti ini, dirinya kuat dia bisa menjalani ini.
"Diarra ndak boleh nangis!" ujar Diarra. Masa hanya karena hujan dirinya menangis? Seperti bocah saja, Diarra duduk di pojokan, dia entah sedang menunggu apa, menunggu keajaiban datang membawa dirinya pulang.
7 menit berdiam diri bersama dengan derasnya hujan, ada sebuah payung yang mengada di atas kepalanya, Diarra mendongak melihat seseorang itu. "Diarra?" Wajah terkejut Rehan dapat dilihat Diarra.
****
Rehan berjalan menuju mobilnya mendengar seperti ada seseorang menangis, dirinya merasa merinding sendirii. Apalagi ini sudah malam, apakah itu hantu yang menunggu di sini? Rehan menghela napasnya berpikir positif, bagaimana juga dirinya bisa berpikir positif sedangkan lingkungan sekarang sangat sepi dan siapa juga ada di sini saat hujan deras jam 11 malam lagi.
Semakin Rehan berjalan, dia semakin mendengar sayup-sayup orang sedang menangis. Rehan bukan anak penakut, Rehan sudah terbiasa bermain bersama dengan hantu. Dia berjalan mendekat ke sumber suara, melihat seorang gadis yang seperti sangat familiar dari postur tubuhnya. Jika Rehan amati gadis itu sedang duduk menekuk seperti menunggu hujan redah, lama mengamati suara tangis gadis itu terhenti. Karena sangat kepo, Rehan mendekat dan mengadakan payungnya, gadis itu mendongak menatap dirinya. "Diarra?" Rehan bahkan tak pernah berpikir kalau ini Diarra.
"Ngapain di sini?" Rehan membantu Diarra untuk berdiri.
"Nangis? Tenang ada aku." Rehan menarik Diarra untuk mendekat.
Diarra terlihat sangat lelah dan pasrah, tubuhnya sudah basah kuyup. "Ngapain di sini malam-malam?" Tidak ada jawaban dari pertanyaan yang Rehan ulang. Akhirnya tanpa memikirkan hal panjang, Rehan mengajak Diarra untuk pulang, untung saja dirinya membawa mobil.
Rehan memberikan jaketnya kepada Diarra, sekarang perjalanan sunyi, Rehan juga tak mengucapkan banyak hal karena pasti tidak akan direspon oleh Diarra. "Ini jauh banget loh dari rumahmu," ujar Rehan masih fokus menyetir jalanan juga sangat licin.
"Belum bisa jawab kamunya dari mana?" tanya Rehan mencoba memancing lagi.
Diarra menghela napasnya, terlihat lelah juga mendiami Rehan. "Aku dari mencari kerja tapi nggak nemu," ujarnya.
Rehan terdiam sesaat. "Kerja? Bukannya kamu udah punya tempat kerja?" tanya Rehan.
"Udah keluar, makanya nyari lagi." Diarra melihat ke arah jendela, tak mau menatap Rehan terlalu sakit melihat tatapan Rehan yang begitu hangat buat dirinya, tapi hatinya sudah terlalu beku untuk membuka kehangatan itu.
"Sampai larut gini? Kenapa—"
"Ini udah mau sampai," ujar Diarra memotong. Rehan terdiam dan mengangguk.
Rehan memberhentikan mobilnya di pekarangan rumah Diarra. "Makasih, maaf ngerepotin lain kali nggak lagi." Diarra keluar dari mobil Rehan.
Rehan menghela napasnya pelan, kenapa Diarra berubah seperti itu, dulunya yang sangat akrab menjadi sangat jauh seperti ini. Rehan ada salah apa? Rehan sudah mencoba intropeksi diri sebaik mungkin, memang dirinya dulu kenapa? Dan ada apa?
Sampai saat ini tidak ada jawaban atas dirinya.
****
Diarra mengetuk pintu dan disambut dengan wajah khawatir dari ibunya. "Darimana kamu? Ibu khawatir!" ujar Dewinta dengan sangat kesal melihat putrinya baru pulang selarut ini.
Diarra menunduk dengan bibir bergetar. "Diarra abis nyari kerja, tapi nggak dapat," ujarnya lalu memeluk ibunya. Dewinta mengusap tubuh anaknya dan membawanya masuk.
Leon menatap adiknya, dengan tatapan kasian memberikan handuk dan juga membawakan s**u untuk adiknya. "Kamu minum, makan terus istirahat," ujar Dewinta.
"Kamu juga tidur Leon." Leon tak mengucapkan apa-apa kepada adiknya lalu pergi meninggalkan keduanya.
Diarra menatap Dewinta. "Maafin Diarra mah," ujarnya.
"Kamu kenapa baru pulang?"
"Panjang ceritanya mah, aku boleh makan dulu? Aku lapar banget," ujar Diarra.
Dewinta mengangguk dan menyiapkan makanan untuk anaknya.