Diarra sebelum tidur membuka handphonenya, dan melihat ada notifikasi chat dari Rey, seperti tidak ada semangat, Diarra malah mengabaikannya berharap Rey akan ada di saat dirinya lagi terpuruk dan mengembalikan moodnya, yang ada Rey hanya memberikan sapaan seperti biasa, tanpa spam atau khawatir karena dari siang handphone Diarra tidak aktif.
Tidak sesuai dengan ekspektasi Diarra, gadis itu memijit pelipisnya dia menghela napasnya dan tidur. Berharap besok ada keajaiban yang besar untuk dirinya.
****
Alarm berbunyi, namun hal itu tidak menggubris dirinya untuk bangun, Diarra kembali tertidur selama 1 jam, sekarang sudah jam 7 pagi, Diarra bahkan tidak bangun untuk sholat karena terlalu lelah semalam dan tidur jam 1 malam, kurang tidur karena memikirkan pekerjaan dan masa depannya.
Leon kakaknya mengetok pintu dengan keras membuat Diarra berteriak sambil menutup telinganya dengan bantal. Leon masuk dan menarik kaki adiknya untuk bangun. "Bangun dek! Nggak ada keringanan buat kamu lagi, karena semalam kamu kayak gitu cuman karena nyari kerja! Mama udah cerita semuanya!" ujar Leon marah.
"Daripada kamu kerja di tempat lain mending kamu kerja di tempat kakak!" ujar Leon.
"Nggak mau nanti nggak dibayar!" ujar Diarra sambil merengek kakinya dilepaskan, sungguh dirinya masih sangat mengantuk. Diarra mencoba tetap tidur dengan keadaan senyaman mungkin.
Leon tak habis pikir, adiknya selalu berpikir kalau nanti dirinya tak akan membayar adiknya kalau bekerja di tempatnya, Leon mana mungkin melakukan hal itu kepada karyawannya, rata semua bagi Leon mah. Leon menarik kembali kaki adiknya mencoba membangunkan adiknya yang sangat kebo.
"Cepat Diarra. Jangan kayak gitu katanya ngga mau jadi pengangguran? Nggak tega liat Mama udah relain segalanya buat kita, dan kita belum bisa buat dia bahagia?" tanya Leon. Diarra terdiam, perlahan gadis itu bangkit dari tidurnya, kalau berkaitan dengan ibunya Diarra sudah tidak bisa menolak lagi.
"Lalu apa sekarang?" Diarra menatap kakaknya.
"Jangan pernah mikir kalau abang nggak kasih kamu gaji atas pekerjaan kamu, jika pekerjaan yang kamu lakukan bagus dan sangat bagus bahkan akan ada gajinya," ujar Leon serasa ingin menjewer telinga adiknya. Sikap dan pola pikir yang sangat sempit itu membuat Leon geram sendiri.
Setelah memberikan nasehat, Diarra akhirnya mengiyakan perkataan Leon dan setuju untuk menjadi salah satu pekerja di dalam tim perusahaan milik Leon. Diarra bersiap mandi, sedangkan Leon turun untuk sarapan.
Diarra menatap kepergian kakaknya. Gadis itu menghela napasnya pelan. Bukan sebagai alasan kenapa dirinya tak mau kerja bersama kakaknya, namun saat itu dirinya lebih dulu mendapatkan pekerjaan jauh sebelum kakaknya berniat mendirikan perusahaan komik sendiri. Diarra sebelumnya sudah sangat nyaman di tempat kerjanya dan tak mau pernah untuk meninggalkan perusahaan itu, namun sekarang takdir malah berkata lain untuk dirinya.
"Ayo Diarra bisa! Masa depan ditentukan oleh langkahmu yang sekarang," ujar Diarra.
***
Diarra turun dan sarapan bersama dengan kakaknya. "Aku jarang liat ayah, bahkan rindu banget," ujar Diarra tiba-tiba saat merasakan kesepian di meja makan, hanya ada Ibu, dia dan Leon saja.
Leon memberhentikan makannya, berasa suasana menjadi sedih tiba-tiba jika mengatakan tentang ayahnya yang sekarang berada di Jakarta.
"Ayah di mana?" tanya Diarra.
"Ayah kerja di mana si, Mah?" tanya Diarra lagi. Leon memberikan isyarat untuk berhenti bertanya tentang ayahnya, apalagi melihat raut wajah ibunya yang sangat berubah drastis.
"Ayah kamu lagi kerja sayang, untuk masa depan kita semua. Di sini bukan Diarra aja yang rindu, Mama sama kakak juga rindu banget, nanti kita jalan-jalan ke tempat Papa," ujar Dewinta, sudah lama dirinya menahan rindu terhadap suaminya itu, hanya berkabar lewat sosial media, dan vidcall sekali-kali.
"Ayah di Jakarta bagian mana?" tanya Diarra, dia tak pernah tau keberadaan ayahnya.
"Udah ah, kita jadi berangkat nggak? Jangan lama gitu makannya, banyak yang mau diurus, belum lagi kamunya mau dijelaskan semua tentang sistem dan cara kerja di perusahaan kakak," ujar Leon panjang lebar.
Diarra memoyongkan bibirnya. "Bawel amat jadi kakak," ujar Diarra.
Karena tidak ingin berbasa-basi lagi Diarra bersama dengan kakaknya pergi untuk bekerja berpamitan kepada ibunya, memulai rutinitas seperti biasa yaitu bekerja di tempat baru dengan suasana baru. Diarra dan Leon berangkat menggunakan motor, karena jarak perusahaan dengan rumahnya terbilang cukup dekat, bahkan bisa berjalan kaki. Namun pagi ini Leon terlihat tidak bersemangat untuk diajak jalan.
Akhirnya mereka berdua menaiki motor, berboncengan. 5 menit sampai di perusahaannya, Leon mengajak adiknya masuk. "Kayaknya untuk semua sisi ruangan nggak perlu dijelaskan, kamu udah tau kan? Cuman sistemnya aja," ujar Leon.
"Sebenarnya nggak usah kasih tau sih biasa aku baca-baca juga surat dan pelaporan milik abang," ujar Diarra.
"Kasih tau aja aku kerjanya di bagian mana, dan sama siapa dan di ruangan mana, dan berapa gaji buat adik tersayang ini? Ada bonus keluarga, bonus teman, sahabat?" tanya Diarra. Leon menggeleng.
"Pekerjaan pertama nggak bakal dapat gaji kalau kerjanya nggak memuaskan, kamu coba dulu nyaman kerja di sini apa nggak," ujar Leon.
"Tapi nggak usah pikir itu deh, nyamanin aja. Nggak usah neko-neko soal itu daripada kamu jadi pengangguran seumur hidup," ejek Leon.
"Plis deh kak, kasih tau aja aku di mana." Diarra geram, akhirnya Leon memberitahu di mana ruangannya.
"Tanya salah satu orang di dalam kalau kamu pegawai baru dan ingin gabung dalam tim untuk bekerja sama untuk membangun perusahaan ini."
"Pastinya mereka udah pada kenal kamu sih, nggak usah kenalan atau seperti orang alay ya," ujar Leon mengacak-acak rambut adiknya dan pergi meninggalkannya.
Diarra menghela napasnya pelan, dia merapikan rambutnya dan berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan kakaknya. Dia membukanya dan memberikan salam. "Halo? Ada orang?" tanya Diarra.
"Diarra? Again?" Rehan.
Dia Rehan, kenapa selalu ada di sekitar Diarra? Orang yang mencoba dia jauhi kenapa selalu ada di dekat Diarra.
"Ngapain? Nyari Leon? Kayakn—"
"Eh enggak ...."
Diarra masuk dan berdiri di depan mereka. "Aku ... juga sekarang kerja di sini, semoga bisa jadi tim yang baik," ujar Diarra cepat. Mereka semua bertatapan dan tersenyum menyambut Diarra untuk bergabung.
"Kenapa baru sekarang?" tanya Rehan.
"Baru sekarang bisanya." Diarra menjawab tanpa menatap Rehan.
"Aku bagian desain visual doang kan? Yang lukis itu lo?" tanya Diarra kepada Rehan.
"Apa aja si, soalnya aku selalu kerja semuanya sampai selesai," ujar Rehan.
"Lah? Bayarannya berapa?"
"Kalau itu rahasia, tanyanya ke kakak kamu saja."
"Udahlah plis nggak usah pake aku-kamu di kita," ujar Diarra.
"Sudah terbiasa berbicara menggunakan bahasa lebih baku di perusahaan ini," ujar Rehan.
Diarra menghela napasnya, memang semua perusahaan begitu si, hanya saja dirinya aneh mendengar aku-kamu dari Rehan sekarang, gedek lama-lama telinga milik Diarra.