Dan di sinilah mereka berada sekarang, Rehan dan juga Diarra sedang sibuk melihat tugas masing-masing, ditemani dengan Leon yang mengawasi adiknya. Sekarang sudah pukul 20:00 sudah lumayan malam, namun kerjaan belum selesai karena selama proses pengerjaan mereka hanya sibuk berdebat. Leon sampai pusing sendiri dengan tingkah Rehan dan Diarra seperti anak kecil.
"Yang benar kerjanya Rehan," kesal Diarra saat dirinya meminta model yang pas dengan visual dalam komik, malah berbeda dengan yang digambarkan oleh Rehan.
"Itu udah pas Diarra, coba lihat lagi deh. Itu enggak ada yang salah perasaan."
"Ya ampun ini juga salah deh menurutku yang pas sama karakter di sini itu rambutnya kayak gini," ujar Diarra naik darah.
"Tapi menurut saya begini. Saya udah lama kerja di sini loh, baru kamu yang protes." Rehan memijit pelipisnya.
"Ya karena mereka pada takut sama kamu. Beda sama saya. Nggak takut," ujar Diarra.
"Pantes kamu keluar dari perusahaan, orang cara negurnya begini."
"Eh saya begini cuman di kamu, nggak tau kenapa ada dendam pribadi saya sama kamu," ujar Diarra.
"Kalau punya dendam mah jangan campur dengan urusan kerja. Nggak profesional itu namanya kalau seperti itu," ujar Rehan.
"Ya terserah saya dong, hak saya."
"Iya saya tau itu hak kamu. Setidaknya jangan bikin repot orang dengan tingkah kamu yang kayak gitu dong."
"Emang saya ngapain? Orang cuman benerin yang salah kok, cuman negur dan ngasih saran yang menurut saya pas. Saya kan berasumsi kalau saya sebagai penikmat," ujar Diarra.
"A—"
Leon menghentak meja dan langsung berdiri meninggalkan Diarra dan Rehan yang sedang bertengkar. Dirinya pusing mendengarkan perdebatan panjang itu yang tidak punya ujung, susah memang kalau Diarra yang diajak berdebat seperti itu.
"Leon! Mau kemana kau?"
"Aku pulang lebih dulu, Diarra. Kepala ku rasanya sudah hampir pecah mendengar kalian bertengkar seharian ini."
"Nanti saja, apa nggak bisa?"
"Tidak, kepala ku sepertinya benar-benar akan pecah jika terus di sini. Aku sudah pusing mengatur perusahaan, aku tak ingin menambah beban pikiran lagi. Sampai jumpa."
Leon membanting pintu dengan kasar.
"Ini semua karena kau."
"Apa perlu ku berikan kaca kepada mu agar kau bisa mengaca lebih dulu sebelum berbicara itu pada ku?"
"Aku tak peduli, sekarang aku harus menyelesaikan semua pekerjaan ku!" Diarra menatap sinis Rehan.
"Ya kerjakan saja, kenapa kau harus memberitahu ku?"
"Kalau saja kau tak mengajak ku bertengkar, pekerjaan ku pasti sudah selesai sedari tadi!"
"Hah! Pekerjaan mu akan lebih cepat selesai kalau kau tak mengomel terus menerus."
Sedangkan tanpa mereka sadari, satpam gedung tersebut yang melihat Leon sudah pulang langsung bergegas mengunci seluruh ruangan.
Karena biasanya, diantara semua orang di gedung ini, Leon adalah orang yang pulang paling terakhir. Oleh sebab itu, Satpam itupun mengunci semua pintu dan kembali ke pos penjagaan setelah mematikan semua lampu yang berada di koridor serta beberapa ruangan.
Suara pintu yang terkunci, otomatis membuat Diarra dan Rehan menoleh secara bersamaan kearah pintu.
Mereka berdua langsung berlari menuju pintu dan menggedor-gedor pintu.
"Hei! Siapa yang menguncinya? Ada orang di dalam sini!" teriak Diarra.
"Hei!"
Begitu pula dengan Rehan, tapi tak ada balasan dari luar. Hanya suara hening yang mereka dapatkan.
Rehan melirik kearah jam tangan miliknya, waktu memang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Apakah memang kantor tutup di jam 9 malam?" tanya Diarra
"Ya, ini hari sabtu. Kantor tutup lebih cepat." jawab Rehan yang membuat Diarra kesal sekaligus menjatuhkan harapan Diarra agar bisa keluar dari ruangan ini.
"Hei! Kenapa kau sangat tenang, cepat telfon seseorang atau siapa saja yang mungkin bisa membantu kita sekarang!"
"Kenapa bukan kau saja? Jaman sekarang siapa manusia di bumi ini yang tak punya ponsel?"
"Kau lupa? Aku tadinya kesini hanya untuk bertanya pada Leon. Tentu saja aku tak membawa ponsel ku kesini." Lagi-lagi Diarra menatap sinis ke arah Rehan.
"Ponsel ku kehabisan daya baterai," ujar Rehan sembari menunjukkan ponselnya yang mati karena kehabisan daya.
"Ah sudahlah! Terus sekarang kita harus bagaimana?"
"Menurut mu, apakah masalah ini akan selesai kalau kau terus berteriak seperti itu?" kesal Rehan karena Diarra terus menerus berteriak.
"Aku sedang berusaha memberi tahu orang, siapa tahu ada yang lewat dan dia mendengar suara ku?"
Rehan menghela nafas.
"Perlu ku beritahu kau, bahwa ruangan Leon kedap suara saat pintunya terkunci," ujar Rehan yang langsung membuat mental Diarra semakin jatuh saja.
Hari pertama kerja yang sangat sial.
"Hah, sudahlah. Otakku rasanya tak bisa berpikir."
"Memangnya kapan otak mu bisa berpikir?" ejek Rehan.
"Jika kau ingin berkelahi ayo lakukan itu! Sedari tadi sepertinya kau terus mengajak ku bertengkar."
"Ssst, tak bisakah kau diam saja? Aku lelah seharian ini dan harus mendengar kau mengoceh hal yang tak penting seperti ini."
"Kau yang lebih dulu mengajak ku untuk bertengkar!"
"Ya sudah, diam saja sekarang. Aku ingin beristirahat."
Rehan berjalan menuju sebuah lemari yang posisinya hampir tak terlihat dari pintu masuk, dan mengeluarkan sebuah kasur lipat dan bantal lalu menggelarnya di lantai.
"Tak maukah kau berusaha untuk keluar dari sini? Aku tak ingin menghabiskan malam disini terlebih lagi bersama orang seperti kau," tanya Diarra.
"Tidak. Aku lelah seharian ini, tenaga ku rasanya sudah terkuras habis untuk berpikir."
"Beristirahatlah," ujar Rehan setelah selesai menggelar kasur lipat dan meletakkan bantal.
"Hah?"
"Tidur di sana."
"Lalu, kau?"
"Istirahat saja apa susahnya?"
"Hah ...."
Tanpa berbicara sepatah katapun, Diarra langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur lipat tersebut. Wanita itu menatap langit-langit ruangan yang bewarna abu-abu dan putih. Ia juga merasa sangat lelah hari ini. Ini hari pertamanya bekerja dan ia sudah se-sial ini. Entah akan seperti apa kesialannya di hari berikutnya.
Hening mengisi ruangan.
Diarra sebenarnya tak masalah jika ia terkunci di ruangan ini sepanjang malam, hanya saja situasi ini berbeda. Ia bersama dengan mantan pacarnya saat SMA yang putus secara tak baik.
Kurang sial apalagi hari pertama kerja Diarra ini?
Ia pun pasrah pada situasi saat ini, ia sudah terlalu penat dan pusing memikirkan apa yang terjadi seharian ini.
"Rehan."
"Ya."
Rehan kini bersandar pada meja dengan tangannya yang membuka dua kancing kemejanya yang terasa mencekik lehernya.
"Aku kesal sekali padamu."
"Aku lebih kesal padamu," balas Rehan.
"Aku tak bercanda. Aku benar-benar kesal padamu. Bohong kalau aku lupa apa yang terjadi pada kita saat SMA."
"Kau masih mengingat hal tersebut rupanya." Rehan menatap lamat-lamat wajah Diarra yang nampak lelah.
"Kau benar-benar mengesalkan. Dulu aku mencintaimu, sangat. Tapi kenapa kau malah mengkhianati ku dan menganggap bahwa perasaan ku bukanlah hal yang penting?" Diarra mengalihkan wajahnya agar Rehan tak melihat matanya.
'Analogi yang tak masuk akal,' batin Rehan
"Kenapa kau bisa menyimpulkan hal itu?"
"Jangan berpura-pura bodoh. Aku masih mengingat dengan jelas saat kau berciuman dengan wanita itu. Hah! Bodohnya aku percaya padamu." Diarra semakin kesal saja saat mengingat kejadian dimana dia melihat Rehan berciuman dengan seorang wanita yang bahkan tak Diarra kenali.