Wanita sialan.
"Itu tak seperti yang kau lihat, Diarra."
"Kau pikir aku bisa memercayai mu dan berkata 'Oh ternyata seperti itu, maafkan aku yang telah salah paham'. Kenapa kau baru menjelaskan sekarang, bahkan kau tak berniat menjelaskannya."
"Wanita itu yang datang tiba-tiba padaku dan langsung mencium ku. Aku bahkan tak tahu apa-apa. Aku ingin menjelaskannya padamu, tapi kau tak pernah mau mendengarkan ku." jelas Rehan.
"Hah, kau pikir aku bisa percaya begitu saja dengan penjelasan mu yang tak bermutu itu?"
Oke, saat ini Diarra benar-benar kesal. Tak tahu kah Rehan bagaimana susahnya Diarra melupakan pria satu ini?
Ia mengingat dengan jelas bagaimana sulitnya ia melupakan pria yang kini terkunci satu ruangan dengannya. Dunia seakan berputar sangat lambat. Detik, menit, dan jam yang terasa sangat lama.
"Lalu aku harus menjelaskan dengan cara apa agar kau dapat percaya?" tanya Rehan
"Tak perlu menjelaskan apa pun, aku sudah terlanjur sangat benci padamu."
"Tapi, aku tidak."
Semesta benar-benar bercanda pada Diarra saat ini. Bagaimana bisa perasaannya dipermainkan seperti ini, mulai saat mengingat dirinya sangat sulit untuk melupakan Rehan. Hingga kembali bertemu dengan penjelasan yang sangat sulit dirinya percaya, fakta yang cukup memberatkan, Diarra juga sudah tidak bisa membuka hatinya lagi, rasa sakit yang dia alami membuat hatinya menjadi beku.
"Diarra. Aku benar-benar minta maaf." Rehan mencoba meluruskan semuanya walau dirinya tau akan sulit sekali.
"Sekarang itu sudah tidak penting lagi, itu sudah berlalu. Jangan membahasnya lagi. Anggap saja seperti angin lewat."
"Diarra, dengar penjelasan ku kali ini. Kumohon."
Diarra bangkit dari kasur, mengubah posisi yang tadinya berbaring kini duduk. Wanita itu menatap Rehan yang masih berharap bahwa Diarra bersedia mendengarkan penjelasannya.
Rambut Diarra yang tadinya tertata rapi, kini sudah tergerai bebas.
"Kau tau? Aku sangat menyayangi dirimu. Tapi itu di masa lalu, sekarang semuanya sudah berbeda."
"Setidaknya biarkan aku jelaskan padamu apa yang sebenarnya terjadi."
Diarra diam.
"Wanita itu mengajakku berbicara, aku bahkan tak mengerti kemana arah pembicaraannya. Tapi dia terus mengajakku berbicara tanpa henti."
"Dan sangat kau datang, ia tiba tiba menarikku dan hal tersebut terjadi."
"Lalu kenapa kau hanya diam saja?"
"Aku masih mencerna kejadian itu, aku begitu shock, Diarra."
"Hah, sudahlah. Lagipula itu tak penting lagi sekarang." Diarra kembali berbaring.
Rehan yang tadinya bersandar pada meja, kini membaringkan tubuhnya di lantai. Membiarkan kulitnya menyentuh dinginnya lantai.
Jujur saja, Diarra kasihan. Tapi Diarra merasa bahwa ia perlu menjaga jarak dengan Rehan. Terlebih sekarang ia sudah memiliki kekasih.
"Kau percaya pada ku kan?"
"Untuk apa aku percaya padamu?" tanya Diarra.
"Setidaknya penjelasan ku tadi."
"Penjelasanmu sekarang itu sudah tak penting. Terlepas dari apakah aku percaya atau tidak padamu."
Diarra berhenti sejenak.
"Kau terlambat, Rehan."
"Lagipula tak semudah itu memercayai orang lagi sekarang setelah apa yang kau lakukan padaku," ujar Diarra.
"Aku benar-benar minta maaf, Diarra." Kalau benar adanya, Rehan berada di posisi yang sulit.
"Mungkin orang lain akan menganggap aku jahat karena tak memaafkan kesalahan seseorang. Tapi aku punya alasan ku sendiri."
"Jangan berkata seperti itu, itu membuatku merasa semakin bersalah terhadapmu."
"Kau memang jahat. Kau menghancurkan semua mimpi ku tentang cinta. Apakah kau tau? Saat berpacaran denganmu, itu benar-benar perasaan yang sangat menyenangkan. Aku bahkan berpikir bahwa kau adalah salah satu alasan kenapa aku terus hidup dan bernafas. Sampai aku lupa bahwa, kau bukanlah pria yang tepat untuk semua yang aku pikirkan tentang cinta."
"Kau benar-benar jahat. Menghancurkan mimpi indah seorang gadis SMA yang masih tak tahu betapa kejamnya dunia ini."
"Tunggu, kenapa aku malah bercerita padamu. Itu kan tidak penting sama sekali untukmu. Bahkan jika aku patah hati, mungkin kau hanya akan menganggapnya sebagai angin lalu." Diarra masih setia menatap langit-langit ruangan tanpa berniat menoleh kearah Rehan yang entah Diarra sadari atau tidak terus menerus menatap dirinya.
"Aku tak peduli apa yang akan kau pikirkan. Tapi kejadian itu benar-benar murni kesalahpahaman."
"Iya, berharap saja semoga aku dapat percaya dengan 'kesalahpahaman' itu. Rasa patah hati itu seperti lubang hitam yang dalam. Sulit tuk keluar dari sana."
Hening.
"Sudahlah. Lagipula aku kini memiliki seseorang yang sudah membantu ku keluar dari lubang hitam itu."
Rehan mematung.
"Ya, aku mengakui bahwa ini adalah sebuah kesalahpahaman yang sudah kau jelaskan. Tapi satu hal, kita bukan lagi kita yang dulu. Aku dan kamu bukan sepasang kekasih, kita sekarang 2 raga yang sudah tak ada perasaan."
Entah mengapa hati Rehan terasa sedikit nyeri secara tiba-tiba. Berusaha mengusir semua kemungkinan, Rehan menganggap itu terjadi karena dirinya yang terlalu lelah karena bekerja seharian ini.
Tak ingin bertanya lebih lanjut tentang hubungan Diarra dengan sang kekasih, Rehan memilih untuk memejamkan matanya. Mengistirahatkan otaknya.
Memikirkan masa lalu tersebut membuat kepala Rehan rasanya berdenyut.
"Rey. Dia lebih muda dua tahun daripada kau."
"Hm, iya."
"Dia benar-benar membantu ku untuk keluar dari awan hitam yang terasa mengurungku."
"Bagus untukmu."
"Terima kasih. Dia memang baik."
"Dia masih kuliah?"
"Iya, dia sedang menempuh pendidikan di Politeknik."
"Semoga hubungan kalian tetap langgeng bahkan saat ke jenjang lebih serius," balas Rehan.
"Ya."
Pria jangkung itu memilih menutup obrolan dan berhenti membahas pria dengan nama 'Rey' itu. Ia bahkan tak ingin membahasnya lagi.
"Apakah kau memiliki kekasih sekarang?"
"Entahlah." Rehan hanya membalas dengan anggukan tanpa kejelasan, bagaimana bisa dia memiliki kekasih sedangkan hatinya masih sangat berharap kepada Diarra
"Pria aneh." Diarra mencoba untuk membuka lembaran baru sebagai teman Rehan, bukan orang yang dulunya dekat. Mereka hanya sebatas teman, oke? Lebih tepatnya rekan kerja.
****
Semalaman terkunci, subuh saat itu pintu terbuka saat Leon menyadari bahwa Diarra belum pulang dia bergegas ke perusahaannya dan menemukan adiknya dan Rehan berada di ruangan kerja terkunci. Rehan yang duduk, dan Diarra yang sedang berbaring bermain handphone.
"Kakak bego." Diarra bangun dan merapikan rambutnya.
"Ninggalin orang nggak neko-neko, aku sama Rehan kekunci!" kesal Diarra.
"Dah engga usah marah-marah kamu pulang sama Rehan jam 11 datang lagi ke sini," ujar Leon.
Diarra menghela napasnya pelan. "Kayak kerja rodi aja. Rehan tuh ngga tidur semalaman kasih cuti aja daripada entar kantor kakak ini meledak karena perdebatanku dengan dia," ujar Diarra menyinggung soal kakaknya yang pergi karena pertengkaran dirinya dan Rehan. Bukannya melerai malah ngambek.
"Dah aku pulang nanti balik lagi," ujar Diarra.
Saat Diarra keluar, Rehan bahkan tak berkutik sama sekali. "Rehan? Kau baik-baik saja?"
Rehan mendongak dan mengangguk. "Ya hanya sedikit lelah saja, aku datang jam 11 mungkin agak telat ya bang," ujar Rehan.
Leon merasa tidak enak, apalagi wajah Rehan yang terlihat sangat pucat. "Kalau ngga bisa datang, ngga usah dipaksain ya istirahat aja."
****