Rehan membaca ide-ide milik Diarra, setelah kejadian semalam mengenai Diarra sudah memiliki kekasih membuat dirinya sedikit down dan juga berusaha untuk tegar dan memilih untuk mundur. Rehan melanjutkan pekerjaannya dan sesekali memperhatikan Diarra dari jauh, yang kadang sibuk dengan handphonenya dan kadang sibuk dengan pekerjaannya, namun kadang Rehan liat raut wajah sedih dari gadis itu. Tak mau kepo, hanya memperhatikan saja. Urusan antara keduanya jika sedang bertengkar.
Kesalahan Rehan waktu itu membawa dampak yang besar untuk sekarang, padahal dirinya masih sangat mencintai Diarra. Berusaha ikhlas adalah jalan yang harus Rehan tempuh sekarang.
***
Diarra menghela napasnya, melihat respon singkat dari Rey. Diarra kembali fokus dengan makan siang di depannya. "Kenapa si malah cuek kayak gini," ujar Diarra kesal. Rasanya pengen dia banting jika ada Rey di sampingnya. Apakah sekarang ada yang baru? Sampai-sampai Rey melupakan dirinya.
"Boleh gabung nggak?" tanya Rehan.
Diarra mengangguk kecil, tidak ada lagi kata jauh menjauh untuk dirinya, dia berusaha berteman dengan masa lalu dan melupakan sakit itu dan tak akan mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya lagi. Daripada dirinya sibuk menjauhi Rehan? Rehan nyatanya memang baik, namun luka di hatinya selama ini belum bisa dia tabahkan.
Rehan hanya fokus dengan makanannya sedangkan Diarra fokus dengan handphonenya, Rehan membuka laptopnya dan melihat-lihat hasil desain milik Diarra.
"Eh kalian, mau minta maaf nih soal peristiwa mengenaskan yang kalian alami pas kekunci," ujar Leon tertawa. Membayangkan bagaimana mereka ribut sepanjang malam.
"Bacot kau bang," ujar Diarra menyimpan handphonenya dan kembali makan.
"Masa marah si? Kan itu bukan kesalahan abang," ujar Leon. Rehan hanya tertawa kecil sambil menggeleng.
"Kalian enggak gelut semalaman kan?" tanya Leon penasaran.
Rehan menggeleng. "Malahan diem-dieman kayak punya masalah," ujar Rehan. Diarra tak menggubris, moodnya sekarang lagi hancur karena Rey tak membalas chatnya sedari malam. Setiap membalas pun selalu singkat, heran dan bingung, mungkin sibuk boleh tapi bukannya ada ikatan antara dia dan Rey? Kenapa dirinya berasa diacuhkan seperti dirinya sedang mengemis cinta saja.
"Nggak usah sibuk handphone kalau lagi makan, fokus sama satu kerjaan aja. Kau juga Rehan, kalau makan itu ngga usah buka laptop dulu," ujar Leon tak habis pikir.
Kalau dilihat-lihat jika mereka kembali bersama jauh lebih baik, Leon juga seperti yakin kalau dulu apa masalah mereka itu hanya sebuah kesalahpahaman yang tidak disengaja. Leon melihat sikap Rehan yang sangat baik kepadanya, bahkan untuk semua orang bagaimana bisa melakukan hal yang sangat fatal kepada Diarra adiknya?
Ah bukan waktunya memikirkan itu, Leon juga punya misi untuk mencari pasangan sebagai janjinya untuk adiknya.
*****
JAKARTA.
Politeknik STAN.
Rey memasang tali sepatunya, dia melihat ke sana kemari tidak ada yang dia kenal, sibuk dari kemarin-kemarin mengurusi perpindahan kuliahnya bahkan tidak ada waktu untuk bermain handphone, sekalinya main handphone pun dirinya hanya bisa melihat pesan-pesan penting dan tak membalasnya sama sekali, bahkan pesan dari Diarra, pacarnya sendiri.
Rey merasakan ada beban di pundaknya memperlakukan Diarra seperti itu, berasa bukan lelaki yang pantas. Dirinya tidak mungkin mempermainkan hati gadis seperti itu, apalagi menggantungnya tanpa sebuah kepastian. Rey melihat beberapa orang dengan penampilan yang sama. Sekarang Rey berada di jurusan D3 Akuntasi.
Rey berjalan sambil membawa bukunya tak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis dengan rambut panjang berwarna hitam pekat. "Eh sory," ujarnya.
"Nggak apa-apa." Rey mengambil bukunya.
"Anak baru ya?" tanya gadis itu.
"Hem, iya kok tau?"
"Soalnya jarang liat, aku mah sering lewat-lewat atau jalan-jalan sekitar bagian jurusan politeknik, tapi kamu jarang aku liat. Supaya kenal, mari kita kenalan," ujarnya sambil mengulurkan tangan.
"Aku Bella D3 Perpajakan," ujarnya sambil tersenyum. Rey menatap tangan itu selama 3 detik dan menjabatnya.
"Panggil Rey, jurusan Akuntasi diploma 3." Setelah lanjut berkenalan, Bella mengajak Rey untuk makan siang bersama.
Rey mengiyakan saja, lagian di sini dia tak kenal dengan siapa-siapa. Mereka berbincang asik dan menghabiskan waktu makan siang dengan berbagai perbicangan yang asik, bahkan saking asyiknya Rey tidak mendengar dering telepon dari handphonenya.
"Asik kenalan sana kamu," ujar Bella.
Kosa kata tanpa nada Jakarta, membuat Bella jadi lebih nyaman berkomunikasi karena terbilang sopan.
"Besok ketemu di sini lagi, aku ada kelas abis ini. Aku duluan ya!" ujar Bella sambil melambaikan tangannya, Rey hanya membalas lambaian tangan itu dan sedikit tersenyum. Dia membuka handphonenya dan melihat banyak sekali pesan dan juga telepon dari Diarra.
Rey kembali menelfon Diarra.
"Halo?"
'Kamu kenapa baru nelfon?'
"Maaf sayang, baru bisa."
'Sibuk banget? Greget deh kalau kayak gini, rasanya pengen ketemu dan cerita banyak hal. Kamu diajak telfonan susah, mabar susah, chatan susah.'
Rey menghela napasnya pelan, bagaimana kalau sudah seperti ini apa yang harus dia lakukan jika seperti ini?
"Maaf, Diarra."
'Gapapa, cuman pengen cerita aja. Aku rindu, pengen curhat sama kamu pengen cerita banyak, cuman kamu sibuk ya? Wajar sih karena kuliah juga.'
"Iya ... gimana ya, cuman ada waktu kalau istirahat doang, itupun dikit banget."
'Gapapa, nanti juga ada kok.'
'Ada kesadaran dari kamunya. Kalo aku emang penting, selalu ada waktu walau sesibuk apa pun kamu. Akunya nggak nuntut, cuman namanya juga sepasang kekasih kan, kadang ada juga giniannya. Aku harap ini adalah hubungan aku dengan lelaki untuk terakhir kalinya, sama kamu untuk menuju ke tempat yang lebih serius.'
Mendengar itu, Rey menjadi sangat tidak enak, bagaimana dirinya merespon dengan baik sedangkan dirinya saja tak tau arah masa depannya ke depannya akan seperti apa. Sulit sekali rasanya, seperti beban. Rey harus bagaimana?
"Maaf, aku usahain ada waktu buat kamu."
'Heum. Udh dulu, kamu pasti capek, aku juga mau istirahat dulu mau lanjut kerja. Semangat kuliahnya.'
"Semangat kerjanya by."
****
Diarra mengusap wajahnya, jika seperti ini dirinya malah greget untuk ke Jakarta dan menemui Rey, merasakan bagaimana mereka bersama, berbincang tanpa melakukan telepon seluler, ingin bercerita banyak hal tanpa tanpa perantara komunikasi online, ingin nyata.
"Apa aku harus nabung buat ke sana?" tanya Diarra.
"Mungkin kalau aku kerja baik-baik ini, aku dapat bonus bisa ke Jakarta, sekalian mau nemuin ayah," ujar Diarra.
Diarra kembali kerja bersama dengan Rehan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tanpa perdebatan yang biasa mereka lakukan, Leon yang melihatnya justru malah senang, jika akur seperti ini pekerjaan yang sulit akan jadi mudah? Dan lihatlah hasil kerja mereka berdua sangat memuaskan dan sangat bagus, pemasaran juga pasti akan berjalan dengan baik, animasi yang dibuat juga sangat unik dan keren, ide yang mereka satukan membuat jalan cerita komik yang sempurna, itu penilaian Leon.