4

1296 Kata
Mendadak suasana keramaian kafe yang tadi berdengung seperti lebah menjadi hening sesaat. Seakan hanya mereka berdua yang ada di dalam kafe ini. Senyum yang tadi sempat dilihat oleh Samantha hilang tak tersisa, yang ada hanyalah wajah datar Adam Verdian. "Cinta pertama? Bukankah semua orang mempercayainya?" jawab Adam dengan pandangan matanya tertuju kepada manik hijau milik Samantha. "Ya, tapi sayangnya aku tidak percaya akan itu," kata Samantha. "Neither do i." Jawaban Adam membuat Samantha yakin jika laki-laki ini tidak pernah merasakan yang namanya cinta. "Tapi aku yakin, cinta itu ada. Bisa saja cinta itu ada diantara kita saat ini. Hanya saja cupid belum melepaskan anak panahnya," lanjutnya setelah raut wajah datarnya telah tergantikan dengan wajah Adam yang dikenalnya. Mendengar ucapan Adam, tentu saja berhasil membuat Samantha mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Dia tidak salah dengar bukan? "Apa maksudmu? Aku dan kamu?" Samantha mendengus kencang. "Sepertinya hari ini semua laki-laki yang aku temui sedang kerasukan!" "Semua? Jadi ternyata benar ada laki-laki lain yang membuatmu melamun di kafe ini malam-malam begini." Bibir Samantha terbuka. Sepertinya tanpa ia sadari ia baru saja membuka sesuatu yang tidak harus ia ucapkan. Cepat-cepat ia meraih tasnya dan berdiri. "Sudah malam, aku akan pulang lebih dulu. Permisi." Tanpa menunggu balasan dari Adam, dengan langkah lebar-lebar Samantha berjalan dengan harapan pergi sejauh mungkin dari laki-laki itu. Tapi sayangnya Samantha salah besar karena Adam menyusulnya. "Jangan marah. Aku hanya menebak. Tidak ada yang salah bukan?" Langkah Samantha berhenti. Lalu memiringkan tubuhnya menghadap Adam yang telah berhasil menyusul dan mengiringi langkahnya. "Tidak ada. Hanya saja aku merasa terganggu." "Kenapa?" "Kenapa?" ulang Samantha. "Kamu baru saja mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal mengenai kita." Melihat reaksi Samantha, sontak Adam tertawa. "Jadi semua ini gara-gara ucapanku itu. Aku hanya bercanda, Sam! Bagaimana bisa kamu menganggap semuanya serius seperti ini? Atau kamu berpikir serius?" Tebakan Adam kali ini hanya dijawab dengan bibir Samantha yang terkatup rapat dengan pandangan mata lurus terarahnya. "Sepertinya tebakanku benar. Jika iya kenapa kita tidak mencobanya? Toh kamu dan aku sama-sama single," lanjut Adam yang hasilnya mendapatkan pelototan tajam dari peremuan dihadapannya. Jika bukan sakit, sepertinya Adam mengalami benturan keras di kepalanya. "Are you okay?" "Yup. As you can see, kenapa kamu menanyakannya?" "Hanya bertanya. Dan aku berharap kamu tidak serius dengan ucapanmu, Adam Verdian." "Why not?" Samantha menarik nafas panjang. Sebaiknya ia segera pulang dan tidur. Kejadian hari ini dan sosok laki-laki di depannya ini membuat dirinya merasa sangat lelah. "I am tired, so i am going home. See you later, Adam." Tanpa memedulikan Adam, dilangkahkannya kakinya cepat-cepat dan berjalan menjauhi laki-laki itu dan kata cinta yang keluar dari bibirnya. Syukurlah Adam sepertinya tidak berniat bermain kucing-kucingan dengannya dilihat dari laki-laki itu yang tidak menyusulnya. Cinta, satu kata yang berhasil membuat Samantha bergidik ngeri. Cinta, hanya dimiliki oleh mereka yang bodoh dan tidak memiliki otak. Cukup sekali Samantha merasakannya dan tidak akan mengulangnya untuk yang kedua kalinya. Enough with love! *** Pertemuan dan pembicaraannya dengan Samantha membuat Adam memikirkan perempuan itu. Perempuan berambut sebahu dengan wajah yang cantik namun tidak mempercayai cinta. Sejujurnya, Adam sendiri belum pernah jatuh cinta, pertanyaan yang dilemparkan Samantha padanya menohok tepat di hatinya. Bayangkan saja, laki-laki tiga puluh dua tahun tidak pernah merasakan yang namanya first love. Kesetiaan dan rasa terima kasihnya pada  Max Ivander membuat Adam melupakan cinta. Yang ada di dalam pikirannya adalah balas budi kepada Max Ivander setelah kepergian ayahnya. Hingga akhirnya Adam yang hidup sebatang kara di dunia ini menjadi anak asuh Max Ivander. Sehingga yang ada di dalam kepalanya saat itu adalah membalas perbuatan baik Max Ivander. Membuat dirinya melupakan yang namanya cinta pada lawan jenis. Dengan sebelah tangan sebagai bantal dan pandangan mata lurus ke atas langit-langit kamarnya, pikiran Adam kembali pada pertemuannya dengan Samantha. Kenapa perempuan itu sepertinya bermusuhan dengan cinta? Hal ini benar-benar mengusik hatinya. Membuat Adam ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Samantha. Dan ia tahu siapa yang dapat dimintainya jawaban. Keesokkan harinya pagi-pagi sekali Adam sudah duduk manis di salah satu kursi meja makan di kediaman Erwin. Tak jauh darinya Erwin Ivander duduk sambil memandangnya dengan kening bertautan. "Apa yang sebenarnya terjadi sampai kau datang ke rumahku pagi-pagi begini?" tanya Erwin penuh selidik. "Aku lapar, Win. Dan aku rindu makanan rumahan." Erwin berdecak kesal. "Tapi kenapa harus ke rumahku? Merusak suasana romantis saja." "Sudah, sudah. Lagian juga sudah lama Adam tidak mampir. Memangnya kamu nggak rindu sama dia?" sela Kayla berusaha menengahi dua laki-laki yang siap melayangkan garpu kepada lawan mereka masing-masing. "Aku rindu sama dia? Apa kamu nggak punya kosakata lain, hon?" bantah Erwin. Sedangkan di tempatnya Adam tampak tidak peduli dan memilih menikmati sarapannya, nasi goreng buatan Kayla. Padahal perempuan ini sedang mengandung, tapi tetap saja mampu memasak meski dengan bantuan asisten rumah tangga. "Bagaimana nasi gorengnya?" tanya Kayla tanpa memedulikan pertanyaan suaminya. "Enak. Kamu memang chef handal!" puji Adam tanpa malu. Sedangkan Erwin dalam diam memandang keduanya dengan helaan nafas. "Selamat! Kalian berhasil membuat aku kesal dan menyerah." Langsung saja keduanya melirik Erwin dan tertawa bersamaan. Sejak dulu Adam dan Kayla memang selalu bekerja sama dalam menghadapi laki-laki yang sempat dingin itu. "Jadi apa yang membuatmu meninggalkan berkas-berkasmu dan menemuiku?" tanya Kayla ke pokok pembicaraan. Ia bisa menebak dari wajah Adam jika ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh laki-laki ini. "Insting calon seorang ibu memang tajam ya," sahut Adam sambil mengusap tengkuknya. "Sebenarnya aku ingin menanyakan perihal Samantha." "Samantha?" ulang Kayla. "Apa yang terjadi dengannya?" tanyanya khawatir. "Bukan, bukan! Dia baik-baik saja. Hanya saja tanpa sengaja kami bertemu semalam dan terlibat sebuah pembicaraan." Kening Kayla bertautan. "Mengenai? Jangan katakan tentang cinta," tebaknya. "Sayangnya kau benar." Adam memiringkan bibirnya membentuk sebuah senyum tipis. "Memangnya ada apa dengan cinta dan Samantha?" sela Erwin yang ikut mendengarkan. "Samantha selalu tampak baik-baik saja dari luar. Bahkan dia selalu menasihatku mengenai cinta seakan dia adalah penasihat yang baik. Penasihat yang merasakan indahnya cinta. Tapi, kenyataannya Samantha tak pernah merasakan yang namanya cinta," jelas Kayla yang berhasil menarik perhatian Adam. "Apa maksudmu?" "Maafkan aku Adam. Sepertinya aku tidak bisa memberitahukanmu. Biar Samantha sendiri yang menceritakannya. Tunggu, kenapa kalian membicarakan soal cinta? Apakah ada cinta diantara kalian?" tuduh Kayla bersemangat. "Tidak. Bukan seperti itu. Samantha sedikit marah saat aku mengatakan jika kami mungkin bisa menjalin sebuah hubungan, toh kami sama-sama berstatus single. Tapi aku hanya bercanda. Bercanda K, hanya saja sepertinya semalam, Samantha berpikir aku serius." "Ya Tuhan," ucap Kayla diselingi hela nafasnya. "Memangnya kenapa? Apa aku mengatakan hal yang salah?" "Tentu saja. Jika perempuan marah, itu artinya kau membuat sebuah kesalahan," imbuh Erwin yang hasilnya mendapatkan tatapan sinis dari Adam. Jika benar ucapan Erwin, tapi di mana letak kesalahannya? Ia tidak pernah bermaksud untuk mengejek. Adam hanya mencoba mencairkan suasana. Lagipula seandainya Samantha menganggap serius. Kenapa tidak mencobanya? Siapa tahu mereka memang jodoh? Sejujurnya Adam memang hendak mencari seorang istri. Melihat kemesraan Erwin dan Kayla, sukses membuat dirinya selalu merasa iri. "Adam," panggil Kayla, menarik Adam dari pikirannya sendiri. "Bagaimana jika kamu ralat ucapanmu dan mencobanya?" "Maksudmu?" tanya Adam yang tidak mengerti ke arah mana pembicaraan Kayla. "Kamu benar! Kalian sama-sama belum punya pasangan. Kenapa tidak mencoba menjalin hubungan? Lagipula Samantha tidak percaya dengan cinta. Bukankah ini akan menjadi sebuah tantangan untukmu?" usul Kayla dengan mata berbinarnya. "K, kamu tidak berpikir secara rasional," tegur Erwin. Di sisinya Erwin sedang berusaha membuat istrinya tidak mengusulkan hal aneh atau ide gila yang suka berkeliaran di dalam kepalanya. Adam terdiam. Mencoba mencari jawaban akan semua ini. Di sisi lain, ia menjadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi sehingga Samantha tidak percaya cinta. Sedangkan alasan lain yang membuatnya harus berpikir ulang adalah dikarenakan tidak ada cinta diantara mereka. Apakah Adam bisa melakukannya? Dan bila berhasil bukankah keinginannya tercapai. Mendapatkan seorang istri? Aghh...kenapa dia bisa berada di dalam posisi seperti ini? Kenapa hidupnya tidak dibuat mudah saja seperti Kayla yang lebih dulu mencintai Erwin? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN