5

1107 Kata
Dengan blouse putih favoritnya dan celana panjang hitam ketat, Samantha melangkah masuk ke dalam sebuah kafe yang menjadi tempat janji temunya dengan pria yang paling dibencinya saat ini, Alexander Brian Anggara. Suasana dingin yang bersumber dari air conditioner menyambutnya. Dari sudut matanya, Samantha bisa melihat jika Alex lebih dulu tiba darinya. "Kau semakin cantik, Sam. Aku menyesal telah melepaskanmu." Adalah dua kalimat yang diucapkan oleh Alex ketika ia melihat sosok Samantha yang saat ini telah duduk di seberangnya. Perempuan yang dulu begitu mencintainya sekarang begitu semakin menggoda. Rasanya Alex ingin segera memilikinya lagi. "Aku tidak punya banyak waktu. Sebaiknya katakan tujuanmu mengajakku bertemu atau aku yang akan mengatakannya lebih dulu," ancam Samantha. "Slow down, Sam. Sudah lama kita tidak bertemu, empat tahun lamanya! Apakah kau tidak merasa kangen padaku?" sahut Alex. "Kenapa aku harus kangen? Bukankah kamu yang lebih dulu meninggalkanku?" balas Samantha sinis. Bagaimana bisa dia menyetujui untuk bertemu dengan Alex? Sepertinya nyawanya belum berkumpul ketika ia menerima telepon dari laki-laki itu saat tadi bangun tidur! "Kau tahu dengan baik, Sam, aku terpaksa meninggalkanmu," belanya. Mendengar ucapan Alex membuay Samantha mendengus dan tertawa meremehkan. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Alexander?" Sengaja Sam memanggil laki-laki di hadapannya dengan nama panjangnya. Yang artinya ia sedang serius dan tidak ingin bercanda. Alex menyandarkan punggungnya pada kursi kayu cokelat miliknya. "Aku menginginkanmu kembali," katanya dengan santai. Tatapan mata milik Samantha memandang lurus ke dalam manik cokelat milik Alex. Sedangkan kedua tangannya yang berada di atas pahanya terkepal erat. Emosi mulai memenuhi isi hatinya. Jika bukan di tempat umum, Samantha ingin mengamuk dan mencakar wajah Alexander. Tapi sepertinya kali ini ia harus menahan diri. "Aku bukan salah satu propertimu." "Memang bukan tapi kamu itu seperti milikku yang sedang melarikan diri." Lagi, Samantha mendengus. "Dengarkan aku, aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun padamu. Di lain sisi aku bukan lagi Samantha yang dulu." "Maksudmu seorang gadis lugu yang sangat mencintai aku?" katanya dengan sebelah alis terangkat. Rahang Samantha mengeras. Ucapan Alex membuka kembali luka yang telah disembunyikannya di dasar hatinya. "Benar. Dan ingat aku tidak mencintaimu lagi." Tanpa menunggu lebih lama Samantha bangkit berdiri namun ucapan Alex menahannya. "Tidak mencintaiku atau tidak ingin mengakui kenyataan bahwa di dalam lubuk hatimu kamu masih mencintaiku?" Dipandangnya Alex dengan tajam. Sebuah kesalahan besar jika dulu ia pernah memiliki sebuah perasaan kepada laki-laki b******k ini. Baiklah, dulu memang Samantha hanya salah satu perempuan lugu yang jatuh cinta pada serigala ini. Tapi perlu ia ketahui, Samantha yang sekarang bukanlah perempuan yang sama dengan yang dulu! "Terserah apa katamu, Lex. Kamu boleh bilang kalau aku masih mencintaimu atau apa saja. Yang terpenting, saat ini kamu bukanlah lagi laki-laki yang aku inginkan," kata Samantha penuh penekanan dan tanpa menunggu lebih lama lagi ia berlalu dari situ. Meninggalkan Alex yang terus memandang kepergiannya dengan senyum di bibirnya. *** Sesampainya di parkiran, Samantha memijat pelipisnya. Alexander, laki-laki itu selalu bisa merusak suasana hatinya. Pandangan mata Samantha menerawang, kembali pada masa di mana mereka pertama kali bertemu. Malam ini entah kenapa rasanya Samantha ingin memakan masakannya sendiri. Mungkin sepiring spaghetti terdengar menggoda selera. Dengan semangat Samantha mampir ke salah satu supermarket di GI untuk membeli bahan-bahannya. Untungnya tersisa sekotak spaghetti yang ada di rak tersebut. Namun ketika Samantha hendak mengambilnya, sebuah tangan lain juga meraihnya. Dengan cepat Samantha melemparkan pandangannya ke arah pemilik tangan tersebut. Wajah tampan dengan garis tegas yang terukir di setiap wajahnya berhasil membuat Samantha tidak berkedip. Begitu juga dengan laki-laki itu. Sayangnya laki-laki itu tahu jika saat inilah Samantha sedang lengah maka dengan cepat ia menarik kotak spaghetti tersebut. "Hey!" seru Samantha yang tersadar dengan kenyataan jika kotak spaghetti yang diinginkannya telah rain dari tangannya. "Itu milikku. Aku yang lebih dulu mengambilnya." Kedua alis tebal itu terangkat. "Enak saja mengaku, ini masih milik supermarket ini. Jadi siapa saja boleh menjadi miliknya," ucapnya sambil menggoyangkan kotak itu di udara. Tidak ingin selera makan malamnya rusak, Samantha melotot dan memandang laki-laki itu dengan kesal. "Berikan padaku sekarang juga. Kau bisa membeli merek yang lain!" "Sorry. Aku hanya menyukai merek ini. Lagian juga kenapa nggak kamu aja yang beli merek lain," balasnya acuh lalu memasukkan kotak spaghetti tersebut ke dalam keranjangnya dan mulai berjalan meninggalkan Samantha. Dengan geram Samantha menghentakkan langkahnya dan menyusul. "Enak saja! Aku lebih dulu menyentuhnya. Jadi spaghetti itu milikku. Kembalikan!" katanya galak. "Maaf nona. Tolong jangan buat keributan di sini. Memangnya kau tidak malu teriak-teriak begitu?" Alhasil ucapan laki-laki itu berhasil membuat Samantha mengunci bibirnya rapat-rapat ketika ia menyadari beberapa pasang mata sedang memandang ke arah mereka. Sontak kedua pipi Samantha merona. Sungguh memalukan! Mungkin sebaiknya untuk malam ini ia mengalah. Lalu ketika ia berniat ingin berjalan menjauhi laki-laki itu, tiba-tiba sebuah tangan terulur ke arahnya. "I am Alex by the way. And you?" katanya dengan senyum menawan yang berhasil membuat hati Samantha menghangat. Tok! Tok! Tok! Ketukan pada kaca mobilnya berhasil membuat Samantha tersadar dari lamunannya. Astaga! Apa yang baru saja dilakukannya? Mengingat hal yang berhubungan tentang Alex adalah hal terlarang! Lagi-lagi suara ketukan menyadarkan Samantha dan ketika ia menoleh, wajah yang baru saja ditemuinya semalam terukir jelas dari balik kaca jendela mobilnya. Sebelum Samantha beranjak keluar, ia lebih dulu mendesah sebelum akhirnya menghadapi Adam. Oh..God! Bagaimana bisa ia menemui dua laki-laki yang sama-sama menyebalkan dalam dua hari berturut-turut!? "Ada apa?" tanya Samantha setelah berhasil keluar dari mobilnya dan berdiri di depan Adam Verdian. "Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang sedang kamu lakukan di dalam mobil selama..." Adam melirik jam tangan berkukut hitam miliknya. "Lima belas menit," lanjutnya. Kening Samantha bertautan. "Are spying on me? Kenapa kamu bisa ada di kantorku?" "Apa? Kamu terlalu kegeeran, Sam," sahut Adam sambil bersedekap. "Kamu tahu dengan baik kalau aku punya pekerjaan menumpuk di kantorku daripada memataimu. Jadi biar aku jelaskan. Aku tidak ingin kamu pingsan di dalam mobil ini bilamana bensin mobilmu habis akibat kamu melamun terlalu lama dengan mesin menyala. Dan aku memiliki sedikit urusan dengan ibumu. Jadi aku bertandang ke sini." Bibir Samantha sedikit terbuka. Tidak percaya dengan pendengarannya. "Well, aku tidak mengerti kenapa kamu jadi sinis begini. Padahal we used to be a good partner pada saat Erwin dan Kayla belum menikah," ucapnya sambil menggerakkan jari telunjuk dan tengahnya yang tertekuk sebagai ganti tanda kutip. "Kamu yang memulai." "Aku?" "Yup." "Kapan?" "Semalam." "Which part?" "First love." "Di mana kesalahannya. Tell me about it?" "Kesalahannya adalah aku tidak pernah merasakan first love itu sendiri." Jawaban Adam berhasil membuat Samantha mengerjapkan matanya beberapa kali disusul tawa kecil dibibirnya. "Seriously?" "Yup. Jadi kamu harus bertanggung jawab, Sam." "Aku? Why?" "Karena kamu berhasil buat aku ingin merasakan cinta pertama," jawab Adam dengan wajah datarnya. "Lalu apa hubungannya sama aku?" "I want you to be my first love, Sam." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN