Rose Kepanikan masih menguasaiku walau pesawat ini sudah lepas landas dengan mulus dan mengudara sejak 10 menit yang lalu. Ya, akhirnya aku dan Lia kembali ke Indonesia untuk sementara. Jika bukan karena Mama Mertuaku yang memohon melalui telepon kemarin malam, maka pasti aku sudah menolak mentah-mentah permintaan Bee untuk membawa Lia ke Indonesia. Bee memang meminta dengan sungguh-sungguh persetujuanku untuk membolehkan Lia ikut dengannya. Namun aku tidak akan pernah rela jika Lia pergi bersama Bee begitu saja. Aku takut. Takut Lia tidak ingin kembali lagi padaku. Menolak pun aku tidak tega. Mama mertuaku menangis tersedu-sedu di telepon ingin mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan cucunya. Flashback On “Halo Ma...” ucapku sesaat setelah Bee mengoper handphonenya yang tersambun

