PART 4

1278 Kata
Dave akan menyerahkan laporan pada Arslan. Dia berhenti di depan pintu karena melihat Arslan dan Anne sedang tertawa disana. Entah apa yang mereka bicarakan. Dave hanya merasa konyol jika dengan tiba-tiba menyela. Dia menunggu hingga Anne keluar diikuti Arslan di belakangnya. "Dave... kau disini?", tanya Arslan. "Ini laporan yang kau inginkan.", jawab Dave cepat sambil menyerahkan apa yang ada di tangannya. "Hmm... aku permisi karena aku sudah selesai.", pamit Anne menjauh dari mereka. "Oke, Anne.", lalu Arslan menoleh pada Dave. "Dan apa kita akan membahas ini Dave?" "Tidak. Laporanku tersusun dengan sangat jelas. Kau tak perlu mendengar tambahan penjelasan dariku." "Bagus." "Aku permisi.", Dave pamit. "Secepat itu?", Arslan heran. "Kau tak ingin angka pembatalan reservasi meningkat, bukan? Biarkan aku bekerja." "Haha tentu. Silahkan, Mr. Brent. Take your time." "Oke. Permisi." Dave pergi dari hadapan Arslan. Dia mendekat ke arah lift yang menyisakan satu orang di depan pintunya. 'ting', lift terbuka. Dave dan Anne masuk ke dalam lift itu. "Apa layanan lift kita juga kurang? Tamu bisa kecewa saat menunggu.", Dave membuka percakapan. "Tidak. Ini sudah baik. Belum ada keluhan tentang lift." "Hmmm...oke." Tak ada kata-kata lebih lanjut. Ini sudah sebulan sejak kedatangan Dave di G-Hotel. Dave sudah bisa menyatu dengan sistem kerja disana, namun hubungannya dengan Anne tak pernah lebih jauh daripada di taman dua minggu lalu. Mereka terlalu fokus bekerja. "Apa Arslan menarik?", Dave bertanya apa yang tiba-tiba terlintas di pikiran. Dia meringis setelah mengucapkannya. Apa-apaan itu tadi? Pertanyaan konyol. "Kau mencoba membahas masalah pribadi?", balas Anne. "Ehem... tak masalah jika tak ada jawaban." "Kau hampir lucu, Dave.", Anne tersenyum sinis. "Aku bukan sedang melucu." Lalu Anne memotong dengan telak. "Ya, Arslan menarik. Sangat menarik." Dave mengatupkan bibir dan menjawab. "Terlihat di matamu, Ann." "Aku tak tahu bahwa kau sempat menikmati mataku." "Kau tertawa bersamanya.", jawab Dave. "Aku selalu suka orang kaya. Mereka selalu menarik di mataku." "Oh, kau masih sama." Dave menghembuskan nafas dan melonggarkan dasi di lehernya. "Dimana batasanmu saat kau sendiri yang mencoba membuka masa lalu, Dave?" "Oh... itu tadi hanya bisa disebut keceplosan. Jangan hiraukan." "Aku sedikit sedih saat mulutmu menilaku matrealistis. Walaupun kenyataannya begitu.", keluh Anne. "Kau menyadarinya. Aku tahu saat kau lebih memilih Joe. Dan sepertinya aku baru saja melewati batasan kita lagi. Oouwh..." "Bodoh." Hanya kata itu yang diucapkan Anne kepada Dave sebelum pintu lift terbuka untuk menurunkan satu diantara mereka. *** Hari ini Anne dan Arslan memiliki waktu luang bersama untuk mengunjungi pusat perbelanjaan yang ada di Bali. Mereka memasuki beberapa toko terkenal dengan menenteng beberapa tas belanjaan. Bukan hanya Anne, Arslan sepertinya juga menikmati. Sudah tiga barang ada ditangannya. "Ada yang lain, Ann?" "Tidak, Ars. Aku hanya butuh dua barang ini saja." "Ayolah, terlalu sedikit untuk wanita elegan sepertimu." "Aku hanya membeli kebutuhanku, bukan lapar mata seperti mereka." Anne menunjuk segerombolan wanita yang tengah tertawa renyah setengah berlari mengitari tatanan pakaian. Arslan tersenyum lalu menarik tangan Anne keluar toko. "Baiklah, sekarang kita makan." "Ars...." "Yes, Anne." "Lepaskan.", Anne menunjuk pergelangan tangannya yang digenggam Arslan. Belum ada kenyamanan yang bisa ditimbulkan Arslan untuk Anne walaupun mereka semakin dekat akhir-akhir ini. "Ouwh, sorrry." Mereka berjalan selagi memperhatikan keramaian yang ada. Arslan dan Anne berbincang dengan santai. Kali ini Arslan kembali menarik tangan Anne tapi untuk menghentikan langkah kakinya. "Aku rasa itu Dave." Arslan menunjuk seorang lelaki dengan keseriusannya di antara pameran mobil. "Ya, benar. Dan dia sendirian, lagi.", Anne juga melihatnya. "Dia belum memiliki kawan disini, Ann." "Sumpah demi apapun, sudah tiga bulan dan dia punya banyak penggemar di hotel. Ada beberapa koneksi kita juga yang tertarik padanya. Impossible." "Mungkin dia nyaman saat bisa melakukannya seorang diri. Lihat, akhirnya dia memikirkan untuk membeli mobil." "Sedekat apa kalian?", tanya Anne secara random. Mereka berdua berdiri memperhatikan Dave dari jauh. "Sebenarnya keluargaku mengenal keluarga Dave. Aku beberapa kali berkunjung ke New York dan mendapat sambutan hangat. Dia beberapa kali ke Indonesia menemui keluarga ibunya dan kami sempatkan bertemu. Hanya sebatas itu." "Bagaimana akhirnya kau memikirkan dia sebagai pegawaimu?" "Dia bilang ingin hidup di Indonesia. Dia bahkan ingin bertemu ibunya. Keluarga ibu Dave tak memberi informasi banyak. Mereka juga kehilangan jejak." "............", Anne tak menjawab. "Haruskah kita kesana? Mungkin dia butuh bantuan untuk memilih mobil." "Tidak, sudah jelas dia akan memilih itu.", jawab Anne dengan menunjuk satu Range rover berwarna hitam. "Ayolah, kita kesana untuk memastikan." "Oke." Mereka mendekat dan sedikit membelah keramaian. Seharusnya fisik Dave mampu membuat banyak wanita rela menghabiskan waktu luang dengannya. Dave terlihat tegap dengan perawakan bersih wangi, d**a bidang, rambut rapi, dan postur badan cukup tinggi. Pakaian casual itu melekat sempurna di otot yang coba ia sembunyikan dalam setelan kerja. "Hey, bro.", sapa Arslan. Dave terkejut dengan sentakan di bahu kanannya saat menunduk melihat mesin mobil. "Kalian?" Anne hanya mengacuhkan balasan Dave dengan mengedarkan pandangannya ke berbagai arah. "Having time together, right?", tanya Dave lagi, dengan senyum dingin miliknya. "Hanya mencari beberapa barang. Bagaimana denganmu? Sudah mendapat pilihan?" "Mobil?" "Tentu. Kau kesini bukan untuk membeli sebuah balon, kan?" "Wow... Aku hampir tertawa tapi kau sungguh tak bisa melucu, Ars." "It's me, Dave." Pandangan Dave kembali pada deretan mobil terparkir random disana. "Ya, I'll take the great one." "Yang mana?", kejar Arslan. "Itu." Dave menunjuk Range rover hitam tak jauh dari tempat mereka berdiri. Arslan terkejut karena perkiraan Anne tidak meleset. "Good. Kau bisa memamerkannya pada wanita-wanita di luar sana.", Arslan menanggapi. Anne sedikit terkejut dengan perkataan Arslan dan dia juga kembali terkejut dengan keterkejutannya sendiri. Dia tak harus terganggu dengan wanita-wanita di luar sana. Dave pantas mendapat itu. "Oke, tapi kau akan segera mendapat itu nanti. Now, let's have lunch together." *** Mereka sudah duduk di sebuah restoran steak yang tampak lengang. "Aku permisi ke toilet dulu. Pesankan apa saja karena aku sudah sangat lapar.", Anne memecah keheningan. "Oke, Ann.", jawab Arslan. Anne meninggalkan meja itu. Membuka menu dan Arslan tampak bingung saat memilihkan makanan untuk Anne. "Oh, s**t. Ini pertama kali kami makan steak bersama. Sebelum ini bahkan aku tak sering mengajaknya makan." "Kau menggerutu, Ars. Boleh aku membantu?", tawar Dave. "Tentu." Arslan menyerahkan buku menu pada Dave. "Simpan itu. Dia bilang hanya pesankan apa saja. Jadi kau tak perlu pusing. Simple." "Begitukah?" Dave mengangguk kemudian menatap pelayan. "Single sirloin steak, medium rare, mushroom sauce. Hilangkan wortel dari daftar sayurnya. Satu tambahan kentang goreng, dan satu air mineral dingin. Itu saja." "Mungkin dia akan lebih suka jus atau milkshake saat weekend.", tambah Arslan. "Tidak, air mineral cukup.", ucap Dave yakin. Anne kembali dari toilet. Tak lama pesanan datang. Mereka menyantap makanan dengan lahap. "Terimakasih atas pilihanmu, Ars. Aku menyukainya.", kata Anne. "Tentu. Kau bilang akan memakan apa saja. Itu tak terlalu sulit.", jawab Arslan. "Ya, bahkan menghilangkan wortel adalah pilihan terbaik yang kau buat." Anne menjawab dengan melirik ke arah Dave yang tengah menghabiskan makanannya. Dave tak bergeming karena dia sangat mengacuhkan interaksi dua orang didepannya sejak tadi. Dave tak mau ikut campur dengan perkembangan hubungan Anne dan Arslan. "By the way, Dave. Aku punya teman. Mungkin kau butuh seseorang untuk menghabiskan akhir pekan bersama." Ucapan Arslan berhasil menarik perhatian Dave dan mengangkat wajahnya. "Oh... aku sedang tidak berminat untuk itu, Ars. Aku harus fokus pada pekerjaanku." "Kenapa sikap dinginmu tak pernah berubah? Hampir empat tahun aku tak mendengarmu berkencan dengan seseorang. Demi Tuhan, kau bahkan lebih tampan daripada aku, Dave." Dave sempat terkejut namun dengan segera menetralkan diri. "Kau tahu, kuliah dan hotel sangat menyita waktu. Beberapa teman wanita sudah cukup menghiburku, tidak harus sampai berkencan." Sekarang giliran Anne yang tercekat dengan pembicaraan mereka. Anne tak terganggu dengan tawaran Arslan untuk Dave. Tapi dia sangat terkejut mendengar pengakuan Dave barusan. "Sudahlah, dia cantik, Dave. Kalian bisa berteman. Aku sudah memberikan kontak kalian masing-masing. Periksa ponselmu.", Arslan memaksa. "Tekadmu, Ars." "Jika saja kau beruntung, dia anak pengusaha golf. Kelly, teman sekolahku dulu. Dia juga tinggal di Bali." "Bukan disitu poinnya." "Aku tak bisa menebak pikiranmu.", Arslan mengeluh. "Karena aku sulit percaya pada wanita. Mereka menyebalkan.", pungkas Dave sedikit melirik pada Anne. Anne semakin terganggu disana. Mendengar celotehan Dave dan Arslan membulatkan tekadnya untuk pergi. "Well, karena kita sudah selesai, aku akan pamit." Dave memandang Anne dengan tajam. "Anne, mau kemana kau?" "Aku memiliki acara dengan teman-temanku. Woman's time. Kau tak akan bisa mengatasi itu." "Aku bahkan belum mencoba. Aku mengantarmu", Arslan memaksa. "Tidak, Ars. Nikmati waktu kalian. Aku pergi." Anne berlalu membawa barang yang sudah ia beli tanpa menghiraukan dua lelaki itu. Entah dorongan darimana, bahwa dia merasa Dave masih menyimpan dendam padanya. Daripada memperburuk suasana, dia tak ingin mendengar kata-kata tajam tentang wanita yang pasti Dave tujukan untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN