G-hotel mendapat sentakan hangat dari masalah yang timbul hari itu. Sebuah video rahasia menyebar di dunia maya dengan membawa lokasi pengambilannya. Hal itu menimbulkan kemarahan pihak terkait yang termasuk dalam tokoh politik karena kegiatan di dalam video tersebut bersifat penting dan rahasia.
Arslan tampak panik karena kabar tersebut masih terus diperbincangkan. Reputasi hotel bintang lima sedang dipertanyakan masyarakat umum. Rapat insidental dipersiapkan sore nanti.
Anne belum bisa menemui Arslan. Dia memilih untuk pergi ke taman hingga tiba jadwalnya rapat. Tanpa sadar, Dave mengikuti dari belakang.
Anne duduk di salah satu kursi, disusul Dave yang ikut mendudukkan diri di samping Anne.
Anne terkejut.
"Kau?"
"Apa begitu khawatir? Pada Arslan?"
Anne memutar wajahnya untuk tidak menghadap Dave.
"Orangtua Arslan sangat keras. Dia tak akan bisa tidur nyenyak setelah ini."
"Ya, ternyata kau benar mengkhawatirkannya."
"Lebih dari itu aku juga memikirkan hotel.", jawab Anne.
"Tidak rugi jika video itu tersebar. Koruptor juga harus diberi pelajaran.", Dave berpendapat.
"Apa kau sadar dengan statementmu? Bukan disitu poinnya. Aku tak peduli dengan konten video sialan itu."
"Kredibilitas hotel bukan? Aku faham, Ann. Bagaimana video itu bisa terekam merupakan noda bagi G-hotel karena privasi tamu bisa bocor. Orang akan takut untuk melakukan kegiatan penting disini. Itu yang kau takutkan? Tenang. Housekeeping departement sedang menyelidiknya."
"Lebih baik kau menenangkan Arslan daripada aku."
"Itu urusanku nanti. Aku hanya tak tahu kenapa aku bisa mengikutimu sampai di taman ini."
"Hal itu tak memiliki jawaban, Dave.", Anne bersikap acuh.
"Ya, benar. Tapi aku bisa melihat jika tubuhmu melemah akhir-akhir ini."
Anne menautkan alis ke arah Dave. Akan menjawab dan tertunda.
"Berapa kali kau melewatkan makan siang?", tanya Dave lagi.
"Aku hanya butuh istirahat. Aku tak butuh kepedulianmu.", jawab Anne.
"Haha.... kau pikir aku peduli? Arslan akan khawatir padamu dan kau akan menambah beban pikirannya."
Anne semakin bingung dengan perkataan Dave.
"Hey, kau mengguruiku. Hubunganku dengan Arslan bukan menjadi urusanmu.", nada bicara Anne meninggi.
"Percayalah bahwa aku lebih peduli pada Arslan daripada kau. Wanita keras kepala matrealistis.", Dave sedikit membentak.
"Kau....", mata Anne memerah. Dia kembali lemah.
"Apa? Aku memang benar. Perhatikan kesehatanmu dan jangan membuat Arslan khawatir."
Dave beranjak dari samping Anne. Lima meter ia melangkah sebuah benda melayang ke punggungnya. Sebuah sepatu.
'Bukk'...
Dave menoleh ke belakang, melihat sepatu Anne tergeletak di bawah tubuhnya.
"Hey, what are you doing?", bentaknya pada Anne.
"Aku muak denganmu."
Dave merubah ekspresinya menjadi datar setelah menatap Anne. Dave mendekat. Dia mencoba meraih Anne namun wanita itu menolak. Anne menampik tangan Dave yang akan menyentuh pundaknya.
"Pergi, bodoh."
"Kau yang bodoh. Lihat, darah keluar dari hidungmu. Apa wanita dewasa harus mimisan seperti ini?"
Dave sudah mengarahkan tangannya untuk mengusap darah itu. Anne spontan mengikuti jejak tangan Dave, dan dia terkejut.
Dave mengelurakan sapu tangan dari sakunya. Dia meminta Anne menempelkan itu tepat di bawah hidungnya. Untuk menampung darah yang keluar.
"Kita ke rumahsakit.", kata Dave.
"Tidak. Sebentar lagi darah berhenti."
"Bodoh, saat itu berhenti kau pasti sudah pingsan. Mukamu sudah memutih, apa kau tak sadar, hah?"
"Cukup, Dave. Pergilah."
"Kau boleh membunuhku setelah ini. Tapi kau harus ikut aku."
Tiba-tiba Dave mengangkat tubuh Anne dengan kedua tangannya dan menengadahkan kepala wanita itu ke atas. Dave menuju jalan untuk mencari taxi karena butuh waktu lebih lama untuk mencapai mobilnya di basement.
"Kau gila, Dave. Kita harus rapat setelah ini. Turunkan aku."
Dave tak menghiraukan kata-kata Anne.
***
UGD rumah sakit.
Anne tengah ditangani petugas medis disana.
"Dok, aku rasa lelaki ini juga perlu diperiksa. Dia gila.", ucap Anne.
"Tak masalah asal dokter pastikan obat tidur masuk dalam tubuhnya. Dia lebih baik tidur daripada terus mengoceh.", balas Dave.
"Haha... saya sedang tidak ingin melihat perdebatan disini.", jawab sang dokter.
Akhirnya mereka diam dan membiarkan dokter itu melakukan pemeriksaan lagi.
"Jadi, ada masalah apa dengan otaknya, dok?", tanya Dave.
"Kau.....", Anne murka karena pertanyaan Dave sungguh tak berkualitas.
"Sepertinya saya akan mengikuti saran Mr. Brent untuk memberi anda obat tidur. Anda kekurangan nutrisi, anda dehidrasi, dan anda kurang istirahat, nona.", ucap sang dokter kepada Anne.
Seketika Anne teringat pada agenda hotel hari ini.
"Tidak, dok. Saya harus rapat setelah ini."
"...........", dokter itu bingung.
Dave menarik perhatian dokter dengan deheman keras.
"Berikan itu dokter."
"Anda walinya?", tanya sang dokter.
Mereka berdua tercekat dengan pertanyaan itu.
"Iya, saya walinya."
Jawaban Dave membuat Anne mematung. Lalu tersadar bahwa itu artinya obat tidur akan segera ia dapatkan.
"Tunggu...tunggu. Dokter, saya menolak itu karena saya memiliki tanggungjawab. Dengan berat hati saya menawarkan opsi lain. Saya akan tidur setelah ini, saya janji. Tapi bukan dengan obat."
Dokter itu menggelengkan kepala dan menambah sedikit senyuman.
"Hmm... baiklah. Anda harus tidur disini sampai satu botol infus ini habis. Saya tidak peduli dengan tanggungjawab anda karena prioritas saya hanyalah kesehatan anda."
"Baik, dok. Setuju.", jawab Anne yakin.
Dokter beserta perawat pergi setelah menyelesaikan tugasnya pada Anne. Dave masih tak mengerti jalan pikiran wanita yang tengah terbaring lemah dihadapannya ini.
"Dave...pergilah. Aku harus tidur.", pinta Anne kesal.
"Oke, aku pergi.", jawab Dave cepat.
Kali ini Dave tak mendebat dan berlalu. Anne menyimpan rasa herannya itu.
Beberapa waktu kemudian, Dave kembali ke tempat Anne istirahat. Dave bertindak tepat kali ini.
"Kurasa kau tak akan bisa tidur tanpa ini."
Dave menyerahkan penutup mata pada Anne yang masih mengerjapkan matanya dan sedikit menggeliat mencari peruntungan untuk tidur namun gagal. Anne tak bisa tidur dalam kondisi terang. Dave masih mengingat itu. Ruang UGD mempunyai penerangan yang cukup baik hingga membuatnya terganggu.
"Ya, aku membutuhkan ini. Terimakasih."
Dave melihat jam di tangannya.
"Sekarang pukul sebelas. Kau punya empat jam untuk tidur."
"Dan kau?", cercah Anne.
"Aku..... entahlah."
Anne terdiam sesaat. Dia menimbang-nimbang sesuatu dalam kepalanya.
"Aku butuh alarm untuk membangunkanku tepat waktu."
"Setting itu di ponselmu.", ucap Dave jelas.
Anne menyesal dengan pernyataannya tadi. Dia menelan ludah dan menetralkan kembali posisinya untuk bersiap tidur.
Anne mengenakan penutup mata tanpa mempedulikan apakah Dave sudah pergi. Beberapa detik kemudian, Anne kembali ke memori lamanya yang menakutkan. Memori tentang rumah sakit dan kematian. Dia mengeraskan kepalan tangannya hingga bergetar.
Satu sentuhan membuatnya terkejut. Dave menggenggam tangan yang bergetar itu. Ternyata Dave belum beranjak.
Dengan satu tangannya lain, Anne menarik penutup kepala naik ke dahi sehingga dia bisa menyaksikan seorang Dave bertahan disana.
"Kenapa kau bergetar? Sesulit itukah hanya untuk tertidur?", Dave memandang Anne yang memunculkan ekspresi ketakutan.
"Aku...."
"Aku mendengarkan, Ann."
"Mmhh... Sepertinya aku masih takut dengan rumah sakit. Aku teringat saat dimana ibuku meninggal di ruangan UGD seperti ini. Aku...aku hanya tak bisa..."
Dave menggenggam tangan Anne lebih erat.
"Aku tahu, Ann.", ucap Dave.
"Aku...aku hanya tidak bisa, Dave. Bawa aku pergi dari sini sekarang. Oh tidak, aku bisa pergi sendiri.", Anne sedikit bergerak untuk mencoba bangun namun ditahan Dave.
"Stop it. Percaya padaku dan kau hanya harus tidur.", Dave mencegah pergerakan Anne yang akan meninggalkan ranjangnya.
Dave menaikkan selimut Anne. Dia masih menggenggam satu tangan Anne, sementara satu tangan lain menurunkan kembali penutup mata itu.
"Tidur, Anne."
"Dave...", suara Anne terdengar lemah dan lirih.
"Tidur."
"Baiklah, tenagaku benar-benar habis. Aku akan tidur dan jangan masukkan peristiwa ini dalam ingatanmu."
Tiba-tiba Anne memiringan tubuhnya menghadap Dave. Posisi tidur yang biasa dilakukan Anne adalah seperti itu, miring ke kiri.
Dave sedikit kesulitan bernafas dengan apa yang ada dihadapannya dan apa yang sedang dilakukannya. Dia akan merutuki sikapnya setelah ini. Ide darimana hingga dia membawa dirinya masuk dalam peristiwa pagi itu. Bersama Anne.
Beberapa saat berlalu hingga tangan kaku Anne melemah lemas, pertanda dia sudah tertidur. Anne masih manis saat tertidur walaupun dengan penutup kepala sialan yang membuat Dave tak bisa melihat kelopak matanya tertutup sempurna.
Pertahanan Dave akhirnya membuahkan hasil. Hampir empat jam dia menemani Anne tidur. Kini, mereka telah bersiap untuk kembali ke hotel.
Masih memakai taxi kembali, mereka saling diam di kursi penumpang. Lalu Anne mencoba membuka keheningan.
"Aku akan mengganti biaya rumah sakit yang sudah kau keluarkan."
"Tidak perlu. Aku tidak semiskin itu hingga tak bisa membantumu dengan uang.", jawab Dave spontan. Harga dirinya sedang terusik.
Dave menutup mata dengan rapat setelah mengucapkan kalimat itu. Mulutnya hilang kontrol kembali. Sesaat dia terlena dengan Anne, tapi sesaat lain dia bisa kembali pada kekecewaan terhadap wanita yang jelas-jelas pernah menolak cintanya.
"...............", Anne tak menanggapi.
Dave salah tingkah lalu menarik wajah menghadap ke arah Anne.
"Maksudku, kau tak perlu khawatir tentang uang itu."
Anne sedikit meringis dengan memegang kepalanya untuk menoleh pada Dave. Dia membuang nafas berat.
"Mari kita luruskan ini. Aku berterimakasih atas bantuanmu, dan aku minta maaf untuk kesekian-kian kalinya atas kecewanya hatimu padaku. Jika kita tidak bisa berteman, setidaknya jangan melontarkan kemarahan lebih lanjut. Kita rekan kerja sekarang. Banyak hal yang harus kita lakukan bersama."
Anne mengeluarkan pikirannya.
"Tidak semudah itu, Anne."
"Tapi kau baru saja melakukannya, David. Demi Tuhan, kau baru saja membantuku tanpa menimbang masa lalu. Tak bisakah itu yang selanjutnya kau lakukan diantara kita? Aku akan senang hati membalasnya dengan baik."
"Kau menyuruhku lupa atas peristiwa hari ini, tapi apa yang baru kau katakan, hah?", Dave tak terima.
"Persetan dengan itu. Aku hanya muak mendengar kau menghujatku tanpa henti sebagai wanita."
"Bukan itu tujuanku. Aku tak merendahkanmu."
"Tapi kau melakukannnya terus menerus, Dave."
Mereka melupakan driver taxi yang sesekali mengintip dari cermin.
"Dengar, aku hanya ingin kau tahu seberapa sakitnya hatiku saat itu, Anne Zhafir."
"..............", Anne tak bisa menjawab dengan sisa kekuatannya. Dia menahan keras airmatanya keluar, namun siapapun bisa melihat dia sudah mulai berkaca-kaca.
"Jangan menangis di hadapanku.", ucap Dave.
"Jawab pertanyaanku dulu, Mr. Brent yang terhormat."
Jeda sejenak.
"Setelah aku sadar atas dalamnya sakit hatimu, apa yang kau harapkan dari itu?"
"..............."
"Jawab.", kejar Anne.
"..............."
"Harusnya kau katakan saja kau ingin membuatku sakit hati sepertimu agar dendam itu lunas. Tapi kenapa alasanmu justru ingin membuatku sadar bahwa kau benar-benar terluka? Aku tak memiliki jawabannya, Dave. Bicaralah."
"..............."
Dave masih terdiam di posisinya. Rahangnya mengeras. Lalu dia mengalihkan pembicaraan.
"Jika bukan balas dendam apa kau ingin menarik kepedulian dariku?"
"Mimpimu."
"Lalu bicaralah."
Dave menegang.
"Oke. Lupakan semua ini. Kita akan menjadi rekan kerja terbaik di G-hotel. Tak ada masalah dengan masa lalu. Cukup. Begitu keinginanmu? Baik, mari kita lakukan."
"Kau sendiri tak memiliki jawabannya. Lucu sekali."
"Jangan habiskan tenagamu untuk mendebatku. Simpan demi argumenmu di rapat nanti. Kita hampir sampai."
"Well. Jika itu keputusannya, aku tak menolak untuk menjadi rekan kerja Mr. David Brent. Mari kita lakukan."
Tak lama, mereka sampai di hotel. Mereka bergegas menuju ruangan masing-masing untuk mepersiapkan diri. Tak lupa, mereka memeriksa sekilas pekerjaan beberapa pegawai di departemennya.
Anne yang kala itu masih lemah tetap mengikuti rapat insidental untuk mendapat solusi terbaik atas masalah hari ini.