PART 6

1881 Kata
Seminggu setelah masalah kebocoran video itu berlalu, hotel kembali tenang. Tak ada pengaruh untuk pemasukan. Semua masih dalam taraf aman, begitu pula hidup Arslan beserta jabatannya. Arslan ikut bahagia melihat sedikit perubahan Anne dan Dave. Mereka mulai bisa saling merendahkan emosi masing-masing. Tak jarang, mereka melakukan koordinasi hanya berdua. Hal itu menunjukkan bahwa hubungan keduanya sebagai rekan kerja semakin baik. Sesuai kesepakatan mereka untuk menjadi rekan kerja. "Berapa lama perbaikan wifi dilakukan?", tanya Dave. "Kurang dari satu menit. Bergiliran.", jawab Anne. "Kenapa Arslan menggunakan orang-orang itu? Payah." "Itu kondisi tercepat yang bisa dilakukan." "Lebih baik aku pulang, setelah ini akan banyak protes yang masuk. Aku harus siap energi." Anne memperhatikan Dave berdiri menyudahi makan malamnya. "Pergilah. Aku harus kembali ke hotel." "Ann? Istirahat lebih baik kurasa.", saran Dave. "Arslan bilang ada yang harus dibahas." "Pekerjaan?" "Entahlah. Aku bisa menjawab setelah aku sampai hotel." Dave berpikir sejenak, mencerna ekspresi Anne. "Aku akan mengantarmu kesana. Lalu aku tak ada urusan lagi dengan urusan kalian." "Rumahmu bisa kulihat dari sini. Tidak perlu membuang tenaga. Pulanglah." "Hey, ini penghormatan karena kau sudah menemaniku makan malam." "Mmhh... Baiklah." *** Hari ini ada event besar di G-hotel. Pernikahan mantan Front Office Manager dilangsungkan di hallroom G-Hotel. Banyak pegawai yang mendapat undangan malam nanti. Dave terlihat menggerutu saat undangan datang di mejanya, beberapa waktu lalu. Walau begitu, dia akan menghargai itikad baik sang senior yang tak terlalu dekat dengan dirinya itu. Anne memasuki ruangan Dave. "Kau jadi datang?", tanya Anne. "Demi menjaga citra baik. Banyak fans yang akan kecewa jika aku tak disana.", jawab Dave. "Mimpimu. Tapi baguslah, kau butuh kegiatan baru selain bekerja dan tidur di rumah." "Kau pergi bersama Arslan?" "Tentu, hanya dia yang siap menjadi pasanganku malam ini." "Sejauh apa hubungan kalian?", Dave coba menelisik. "Kau tak tahu? apa diantara lelaki tak pernah terselip pembicaraan tentang wanita?" "Aku jarang bertemu dengan Arslan. Kami sama-sama sibuk." Anne menggelengkan kepala mendengar jawaban Dave. "Kau akan tahu setelah datang ke acara. Jadi, pastikan membawa pasanganmu." Dave terpaku dan meletakkan pulpen yang sedari tadi ia pegang. "Aku datang sendiri. Itu cukup." "How's about...... " "Stop, jangan bahas Kelly. Bujang lapuk lebih terhormat daripada memiliki pasangan agresif seperti dia." "Oke... fine. See you there. Pakailah pakaian yang bisa menunjukkan posisimu. Kau hebat tentang itu." Dave hanya tersenyum kecil mendengar kata terakhir Anne sebelum dia pergi meninggalkan ruangan Dave. Malam hari pun tiba. Dave berangkat ke pesta sendirian. Tak ada rasa malu saat para wanita menggunjing di samping telinganya. Mereka mulai curiga apakah Dave tak tertarik pada wanita hingga untuk datang ke acara seperti wedding hanya sendirian. Dia melangkah dengan setelan kombinasi black navy tanpa dasi namun diperindah dengan satu hiasan kecil di saku d**a kiri. Rambutnya ditata rapi dan terlihat mengkilap. Walaupun wanita disana menghina kesendirian Dave, tapi mereka tak bisa menampik jika rahang keras milik lelaki itu menegaskan bahwa ia masih patut dikagumi. Setelah meneguk minuman dari tangannya, Dave mulai mencium kedatangan Anne. Dia yakin Anne akan terlihat serasi saat berjalan bersama Arslan, dan tak ayal membuat gosip tentang mereka makin merebak. Dilihatnya Anne memasuki hallroom dengan manis. Rambutnya diikal ke atas, menyisakan sedikit anak rambut di dekat pipi mulusnya. Bahu Anne dibiarkan terbuka namun gaun itu melilit tubuh seksi miliknya dengan tepat. Gaun selutut berwarna dark blue. Ya, dark blue tapi Arslan berjalan gagah dengan setelan black red. Dave terpaku melihat dua sejoli itu. Dengan sangat lirih Dave berkata. "Posisiku sepertinya masih terlihat, Anne." Dave tersenyum kecut dari kejauhan. Semua orang disana akan setuju jika Anne lebih cocok bersanding dengan Dave. Anne dan Arslan mulai mendekat ke arah Dave namun mereka hanya menyunggingkan senyum dan berlalu untuk menemui pengantin. "Tunggu disitu, kita akan makan bersama-sama.", pinta Anne dengan sedikit isyarat mulut kepada Dave. Dave hanya membalas dengan anggukan dan senyuman kemudian beralih pada Arslan yang tampak begitu bangga saat menggandeng tangan Anne. "Kuharap kalian bisa lebih bahagia daripada ini. Jangan biarkan aku berulah.", ucap Dave dalam hati. Beberapa kali Dave mencicipi makanan sembari menolak wanita-wanita yang datang padanya selama pesta itu. Dave sama sekali tak tertarik pada mereka walaupun tak sedikit yang cantik dan mempesona. Anne dan Arslan datang. "Hey bro. Where's Kelly by the way?" "Stop bahas dia lagi, Ars. Aku tak suka." "Kau gila? Dia....." Anne memotong Arslan. "Dia terlalu agresif untuk Dave. Kurasa selera Dave tak bisa dianggap remeh. Kelly perlu belajar nilai kesopanan lebih banyak. Dan aku tak yakin jika Kelly mampu berhadapan dengan manusia dingin seperti Dave." Arslan mengerutkan kening. "Fine. Aku lelah berusaha untuk itu.", keluh Arslan. "Dan kau sungguh tak perlu.", jawab Dave. Arslan jengah menghadapi teman macam Dave. Dia lebih memilih mengajak Anne untuk memilih makanan, namun tetap kembali di dekat Dave saat akan menyantapnya. "Anne, aku harus menemui Mr. Darwin. Kau tunggu disini bersama Dave." Lalu tatapannya beralih pada Dave. "Hey, jaga dia sebentar. Aku tak akan lama." Dave hanya mengangguk. Setelah berlalunya Arslan, ada seorang wanita seksi menghampiri Dave. "Dave, kau boleh melupakan banyak wanita tapi kau harus ingat bahwa kita pernah bersama di pesta pantai.", ucapnya. Dave bingung, mengernyit, lalu menggeleng pelan. "Sorry, aku tak memiliki memori seperti itu." "Dasar player, apa ini caramu untuk jual mahal?" Anne terperangah dan menatap dua manusia di depannya. "Apa kau benar-benar tak pernah mengingat wanita yang pernah bersamamu?", tanya wanita itu lagi. "Ya." Jawaban Dave mengejutkan. "Dave, sekali saja bisa kau ingat aku? Jika tidak, maka aku akan terpaksa membuatmu ingat.", dia maju memutus jarak antara dia dan Dave. "Jangan bertindak bodoh dan mempermalukan dirimu sendiri, Nona.", Dave menahan pundak wanita itu. "Tidak. Aku ingin kau mengingat dan melihatku, Dave." Dave akan pergi meninggalkan tempatnya berdiri namun wanita itu menarik lengan Dave untuk mendekat kepadanya. Dave menepis namun tetap wanita itu tak bergeming. Dave kemudian memberi tatapan mematikan pada wajah wanita itu dan membuat genggamannya luruh turun secara perlahan. Anne sudah tidak bisa menahan untuk tak ikut campur. Anne menarik pipi Dave untuk menghadap padanya. Meredakan emosi lelaki itu. "Dave, aku ingin minum.", ucap Anne sepelan mungkin. Dave hanya diam dan belum merespon. Beda dengan lawan di depannya. Wanita seksi itu merasa terganggu. "Hey, kau menyela dengan tidak sopan. Dave sedang bersamaku.", ucapnya. "Ouh sorry. Apa sebaiknya aku pergi? Dave? Bagaimana?", tanya Anne memperlihatkan wajah tulusnya saat bertanya. Dave melihat itu. "Tidak. Aku ambilkan minumanmu." Anne menatap penuh kemenangan kepada si wanita pemaksa. Dia tersenyum dan mengalungkan lengannya pada Dave yang belum beranjak. "Pergilah, Nona. Malam ini kau kehilangan dia.", kata Anne yakin. "Awas kau w*************a. Kau akan dibuang oleh Dave sesegera mungkin.", ucapnya. Dan dia pergi. Wanita itu pergi. Dave kembali melemaskan tubuhnya yang sempat menegang beberapa waktu lalu. Saat sadar bahwa Anne masih bergelayut di lengan, dia kembali menegang seketika. "Dia cantik, tapi harus diusir karena kau tak menyukainya.", Anne mengingatkan. "Ya, sayang sekali dia tak menarik. Aku kehilangan kesempatan." "Untuk?" "Mendapat pasangan tentu saja." "Kau benar, kau memang bodoh." Dave sedikit menyembunyikan senyumnya mendengar perkataan Anne. Dave melepaskan tangan Anne dari lengannya secara perlahan. "Aku harus pulang.", kata Dave. "Hey, ini bahkan belum genap pukul sembilan. Dan kau pulang? Ke rumah?" "Ya. Aku tak ingin membuat keributan." "Untuk?" "Kurang dari lima belas menit, aku akan terkapar karena alergi kambuh." Anne melotot terkejut. Ingin tak percaya namun ekspresi Dave mulai melemah. Anne yakin Dave telah ceroboh. "Kau melanggarnya? Kau gila atau bodoh?" "Keduanya mungkin." "Dimana obatmu?", tanya Anne cepat. "Tak kubawa hingga ke pesta tentunya." "Lalu?" "Sudahlah, lanjutkan pestamu. Lihat, itu pangeranmu datang. Aku pergi." Dengan cepat Dave pergi meninggalkan Anne yang masih bertahan di kebingungannya. Arslan mendekat dan penasaran dengan sikap Dave yang tiba-tiba pergi. Mengabaikan, Arslan menarik Anne untuk menemui beberapa tamu penting lainnya. Anne mengikuti, namun sudut matanya mencuri pandang pada menghilangnya punggung Dave di ujung pintu keluar. *** Dave dan rumah yang ia sewa. Pasangan paling romantis saat ini. Dave terlentang di sofa. Satu tangannya diletakkan di atas kelopak mata yang tertutup. Setelah kembali dari pesta, meneguk obat, dan tak ada hal lain yang ingin dia lakukan kecuali memejamkan mata. Meresapi kesalahan demi kesalahan yang ia lakukan hari ini, bahkan setiap hari. Rasa sakitnya malam ini bahkan belum reda, namun dia sudah tak ingin merasakannya. Satu obat sudah bisa meredekan itu semua. Tapi jika hatinya yang bergejolak? Sama sekali tak ada obat yang ampuh untuk itu. Dave mengernyit. "Well, aku bisa bertahan sejauh ini. David Andika Brent bisa diandalkan. Ya, David hebat.", ucapnya lebih kepada diri sendiri. Dia merasa bersalah atas pikiran yang memadu keserasian dirinya dengan Anne di pesta itu. Sungguh halusinasi yang harus segera ia hapus. Anne bersama Arslan, Dave terlalu nyaman dengan kesendirian. Cukup. Merutuki kesalahan dalam berpikir sungguh sulit dihentikan, pikiran Dave tetap bergejolak antara iya dan tidak. Anne tak tergapai, dia faham, tapi sesuatu dalam dirinya kadang masih ingin memberontak atas kenyataan itu. Dave tak berani menyebut bahwa dia memiliki perasaan pada Anne. Sebelum ini dia benar-benar membenci wanita itu. Sangat membenci dan berujung pada kekecewaan. Dia menekan dirinya untuk kembali pada kenyataan. Malam ini ia ingin berendam di air hangat. Dia bangun dari posisinya. Belum sampai di kamar mandi, Dave dikejutkan pada suara bel rumah yang berbunyi. Sepertinya Dave memiliki tamu malam ini. Dave membuka pintu. "Anne?", sebuah kejutan. Anne memandang Dave dengan seksama. Dave bertahan pada keterkejutannya. "Kau menemukan obatmu?", tanya Anne. "Mmhh...tentu." "Badanmu baik?" "Aku bisa membuka pintu ini sendiri.", jawaban Dave mengisyaratkan bahwa dia jauh lebih baik. "Dan kau sendiri? Maksudku benar-benar sendirian? Saat sakit?" Dave hampir menyatukan kedua alisnya mendengar pertanyaan Anne. "As always.", hanya itu yang terlontar. "...............". Anne diam. Anne tak menjawab dengan kata-kata. Ia menerobos tubuh Dave untuk bisa memasuki rumah itu. Anne melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah milik Dave. Tatapannya beralih, Anne memperhatikan lelaki di depannya, kemudian ia menampilkan wajah protes yang melemah. "Oh, God. You....", ucap Anne menggantung, yang tak dimengerti oleh Dave. Anne berjalan ke arah ruang tengah dan meletakkan dirinya disana. "Kemarilah, kau perlu diperiksa." Dave mengikuti arah tunjuk Anne dan mendekat duduk di samping wanita itu. "Anne, kau jang...." "Ssssttt... Diam." Anne menggerakkan talapak tangannya untuk menyentuh dahi milik Dave. Kemudian tangannya turun menyentuh leher Dave. Setelah itu, kedua tangan Anne memeriksa lengan Dave hingga menyikap baju di lengan hingga ke siku. Dia melihat-lihat disana. Aman. "Kau meminum obat tepat waktu.", ucap Anne. "Sudah dalam perhitunganku." "Dan kurasa semua baik." "Ya, Aku benar-benar baik dan tak perlu mendapati kau menjengukku malam ini." Anne menghembuskan nafas berat dan menempelkan punggungnya di sofa. "Boring.", Anne mengeluh. "Wait, bagaimana Arslan? Kau meninggalkan dia di pesta?" Anne menggelengkan kepala. "Dia meninggalkanku dan pergi bersama koleganya. Menyedihkan.", jawab Anne. "Boleh aku tertawa?" "Urusanmu." Anne mengacuhkan Dave yang menertawainya walau tanpa tawa yang menggema. Dave tak mungkin melakukan itu. Anne berjalan menuju dapur. Dia sungguh ingin meneguk minuman dingin namun apa yang didapat Anne? Sebuah protes akan segera ia layangkan untuk Dave. "Hey, manusia gua. Apa kau benar-benar hidup di gua sendirian?" Dave berjalan mendekat. "Apa?" "Bagaimana mungkin aku hanya menemukan satu gelas dan exactly satu sandal rumah saat kau bertelanjang kaki seperti itu?" Anne kembali memeriksa isi dapur. "Look. Satu piring. Dan aku yakin di kamarmu cuma ada satu bantal." Dave bersikap datar, hanya mengangkat alis dan bahu sekilas. "Kau bisa memakai gelas itu atau mengambil minuman kaleng di kulkas." Anne berdecak kesal mendapati sikap Dave. Dia memilih menggunakan gelas karena tujuannya hanyalah minuman mineral. "Gila.", gerutu Anne saat Dave mengacuhkan protesnya dan kembali ke sofa. Anne kembali duduk di sofa, menghadap tubuh Dave yang mulai menyalakan laptop. "Bermain-main dengan software?", tanya Anne. "Ini belum membosankan." "Dan belum menghasilkan? Atau aku melewatkan sesuatu?" "Aku akan mencobanya di G-hotel." "Woow... Good news, Dave. Mmhh... Apa nyaman saat kau sendiri? Melakukan sesuatu sendirian?" "Aku tak butuh siapapun lagi.", jawab Dave meyakinkan dirinya sendiri.. "Meragukan. Aku pikir kau sering membawa wanitamu ke rumah." "Aku tak melakukannya di rumah, aku menemui mereka di luar. Rumahku tak biasa dijamah orang asing." "Dan aku salah satunya? Apa aku harus pergi?" Pertanyaan Anne menusuk. "Tergantung.", jawab Dave. Anne bingung dan mengerutkan dahinya. Pertanyaan timbul di mimik manis itu. "Aku bisa mentolerir jika kau tak mengganggu ketenanganku.", jawab Dave akhirnya. Anne tertawa. Mereka mulai membahas beberapa hal malam itu. Pekerjaan, kehidupan sosial, kemajuan teknologi, dan apapun namun belum pada privasi masing-masing. Beberapa jam sudah Anne habiskan di rumah Dave. "Aku mengantarmu pulang.", kata Dave jelas. "Oke, aku mengantuk. Aku butuh driver." Dave tersenyum. Dia mengambil kunci mobil dan membawa Anne kembali ke rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN