PART 7

1493 Kata
Hari ini Dave ingin bertemu Arslan dan menyampaikan suatu hal mengenai pekerjaan. Dave belum mendapat waktu dari Arslan karena kesibukannya, kecuali hanya jam makan siang. Cafe tak jauh dari hotel berkonsep mexico mereka datangi. Menu makan siang ringan sudah di depan mata. "General Manager sepertinya tak menarik.", ucap Dave. "Ya, kau tak punya banyak waktu bahkan untuk berkencan sekalipun." "Kuharap Anne tak keberatan dengan itu.", ucap Dave lagi. Lebih pada pancingan untuk membuka sejauh mana hubungan keduanya. Dave tak bisa mengulik informasi itu dari Anne. Usaha selanjutnya adalah dengan mendekati Arslan. Walaupun bukan ini tujuan utama dia mengajak Arslan bertemu. "Anne? Ya, dia layak untuk mendapat lebih daripada 'waktu'." "You've to, Ars. Jangan mengabaikannya." Arslan menelisik wajah Dave yang terlihat sangat serius. "Hey, bukan ini yang ingin kau bicarakan. Anne menjadi urusanku nanti." "Nanti?" "Ya, but well, what's going on?" Dave kembali pada kesadarannya akan ide yang ia punya. "Oke, aku rasa ada cara untuk sistem reservasi internal yang bisa terintegrasi lebih cepat." "Bagaimana kau mendapatkannya?" "Aku membuatnya." "You?" Dave mengangguk pasti. Dia selalu memiliki waktu untuk melakukan itu. Bermain dengan komputernya dan menemukan beberapa ide menarik disana. "Percaya padaku.", pinta Dave. "Kau bercanda?", Arslan tak percaya. Namun Dave tak mungkin bersikap kekanakan untuk masalah seperti ini. Dia yakin. "Sialan. Apa hotelmu tempat bermain?" "Hahaaa...oke. Kita buktikan. Itu harus menarik dan kita bisa menggunakannya segera. Aku bertanggungjawab atas idemu." "Thank you, Ars." Arslan tersenyum melihat binar semangat dari wajah Dave. Terkejut pasti didapatkannya karena Dave bukan tipe orang yang akan berbuat seperti ini, pikir Arslan. Tepat setelah pembicaraan mereka berakhir, Arslan berkutat pada ponselnya. Tak terkecuali Dave yang harus memeriksa ponsel karena ada satu pesan yang tadi belum sempat ia baca. Anne : 'Malam ini aku menginap di rumahmu bersama Ruby. Tolong jangan ditolak. Ini mendesak.' Dave memperhatikan pesan itu sekali lagi. Apa Anne sedang melantur? Apa Anne tak tahu jika dia memasuki privasi Dave lagi? Dave belum mendapat jawaban hingga suara Arslan mengejutkannya. "Hey, bro... Are you ok?" "Hah? Ya." "Malam ini bisa kau lakukan display atas idemu? Aku ada waktu setelah jam tujuh.", ucap Arslan. Dave menimbang sebentar lalu tak ragu menjawab. "Bukan jam tujuh, bahkan sore ini aku sudah harus pergi. Ada hal penting. Sorry, Ars." "Masih pekerjaan?" "Ya, dan tidak. Bisa aku kembali ke hotel sekarang?" "Mmhh... sure. Aku akan ke Kintamani setelah ini." *** Setelah makan siang, pekerjaan Dave dilakukan dengan lebih cepat. Dia berkoordinasi dengan asisten untuk sisanya, lalu dia pergi menuju suatu tempat. Dia melakukan aktivitasnya beberapa saat. Setelah itu, dia menjemput Anne di rumahnya. "Dave, aku memiliki beberapa pilihan tapi Anne hanya menyebutkan rumahmu dikeputusannya.", ucap Nora, kakak Anne. Mereka merapikan baby bag beserta barang-barang di dalamnya. "It's ok, Nora. Apa ada masalah?" "Orangtua Galang masuk rumah sakit. Kami harus ke Lampung malam ini juga." "Oh, aku ikut prihatin. Take care and be better for all." "Thank you. Tapi aku harus merepotkanmu." "Anytime, Nora." Dari belakang Nora nampak Anne membawa satu tas tenteng dan Galang yang menggendong Ruby. "Dave, jangan harap harimu menyenangkan setelah ini.", ucap Anne. "Seingatku, tak ada kesalahan yang mengharuskan aku dihukum.", jawab Dave. Galang menyela. "Aku titip mereka, Dave." Dave mengangguk dan tersenyum pada Galang, lalu ke arah Ruby yang menatap Dave dengan tenang. Mereka sudah dalam perjalanan ke rumah Dave. Ruby diam di pangkuan Anne. "Jangan bertanya kenapa aku tak menghubungi Arslan dan tidak juga memilih hotel." "Apa kau mendengar aku bertanya?" Anne memutar bola matanya. "Pertama, aku tak mengenal keluarga Arslan. Kedua, Ruby tak suka tinggal di hotel. Bonus, aku tak ada kerabat di Bali.", ucap Anne. "Bisakah alasanmu fokus padaku dan bukan yang lain? Aku belum mendengarnya." Dave menuntut. Anne hanya harus jujur dalam kalimat setelah ini. "Mmmhh itu... karena... aku pikir Ruby bisa sedikit menghiburmu. Hanya itu." "Baiklah. Alasan diterima." Anne terperangah lalu menoleh ke arah Dave dengan teliti. "Apa kau berpikir untuk menolak dan keberatan?" "Tidak saat kau menyebut nama Ruby di dalamnya." "..........." Perjalanan mereka masih berlanjut. Anne hampir tak menyisakan urat malu atas permintaannya kali ini. Bukan karena tak ada orang lain, tapi lebih pada Dave lah yang pertama kali dipikirannya. Anne yakin Dave bisa membantu. Teman harus saling membantu, ini akan membuat hubungannya dengan Dave menjadi lebih baik. Harapan Anne. Sesampainya di rumah Dave, Anne terkejut karena ada dua sandal rumah baru disana. Dia tak berbicara apapun dan berjalan lebih lanjut menuju kamar tamu untuk meletakkan Ruby yang sudah tertidur. Anne kembali ke ruang tengah dan memperhatikan Dave yang tengah mengutak-atik tas kerjanya. Anne tak ingin tahu, dia berjalan ke dapur dan siap untuk kejutan selanjutnya. Beberapa gelas tertata rapi di rak, ditemani beberapa piring beserta sendok garpu, dan juga dia teringat bahwa kamar yang ditempati Ruby penuh dengan empat bantal. Anne menyembunyikan rasa terkejut itu dengan mengatupkan mulut erat-erat. Sesekali dia menoleh ke arah Dave sambil menuangkan minuman ke gelasnya. Anne berjalan mendekat dan membawa satu gelas lagi untuk lelaki yang masih membuka berkas kerja di malam hari. Anne meletakkan gelas minuman itu di meja tepat di depan Dave duduk. "Ada apa? Minum dulu.", Anne berucap. Dave menoleh sejenak lalu kembali menatap berkas di tangannya. "Pembagian kamar untuk para tamu di event besar bulan depan." "Lalu?" "Permintaan subjektif melonjak. Kita harus mengatur agar ada balance yang bisa diterima oleh mereka. Kamar di G-hotel tak mungkin mengecewakan, kecuali mereka bertahan dengan desain yang ada di kepala mereka masing-masing. Sial." Dave menggerutu. "Haha.... wajar. Aku kira kau bisa mengatasi masalah kecil itu dengan sekali jentikan." "Aku bukan penyihir, dan aku tidak sedang bercanda." "Ups. Sorry." "..............." "Mmhh, Dave. Sepertinya aku belum meminta ijin dengan benar. Aku menginap disini dengan sangat percaya diri. Bahkan tak terbesit pikiran jika aku akan menganggumu." Dave menoleh untuk melihat ekspresi Anne, plus lesung pipit yang sejak tadi maish bersembunyi. Sesuatu yang Dave rindukan. "Aku sudah menerima, walaupun diawal aku ragu kenapa justru kau yang bersikap bossy. Padahal ini rumahku.", Dave mencoba menjawab dengan santai. "Aku hanya.... merasa bisa melakukan itu, kepadamu, karena itu kau." Dave menoleh ke wajah Anne. "Ya, terserahmu. Kau bisa melakukan apapun padaku. Selama aku mengijinkan." Jawaban Dave menenangkan. "Apa wanitamu tak marah saat ada aku dan Ruby disini?", Anne bertanya lagi. Dave terkejut lalu menoleh pada Anne. "Mari bertaruh. Jika ada wanita yang melabrak kau disini, aku berhenti dari G-hotel." "Taruhan macam apa itu? Bodoh." Dave sepertinya sudah jengah dan meletakkan berkas itu begitu saja. Dia mengambil air minum yang disiapkan Anne lalu meneguknya. Anne menoleh pada ponselnya yang berdering. Arslan di seberang sana. 'Halo?', sapa Anne. 'Anne, besok ada waktu? Bisa kita berlibur?' 'Aku tidak dalam mood untuk itu. Sorry.' 'Seriously? Aku kecewa. Lalu apa rencanamu?' 'Nothing.' 'Apa aku bisa ke rumahmu?' 'Absolutely, No.' 'Well, sepertinya akhir pekan ini aku akan kembali pada pekerjaan saja.' 'You've not to, Ars.' 'Seharusnya, but it's ok. Bye, Ann. Good night.' 'Ya, night, too.' Dave memperhatikan Anne yang meletakkan kembali ponsel itu di samping duduknya dengan menghembuskan nafas berat. Anne terpaksa menolak ajakan Arslan secara halus karena dia harus fokus pada Ruby. "Arslan?", tanya Dave. Anne hanya mengangguk. "Kalian, oke?" "Seperti seharusnya." "Jawaban apa itu?" "Kenapa kau ingin tahu?", balas Anne tegas. Dave diam dengan tatapan tajam ke mata Anne. Lama dia bertahan untuk menghadapi Anne setenang mungkin. Gejolak di hatinya masih belum sembuh dan seperti sekarang ini, duduk berdua, hanya berdua, berhasil membuat bulu kuduknya berdiri. "Apa kau sadar jika kita sudah terlalu melewati batas? Keadaan ini bisa sangat mirip seperti sebelumnya.", ucap Dave. "Maksudmu, kita? juga Arslan?" "Dan kedekatan ini.", tambah Dave. Anne ikut menegang dan menelan saliva segera setelah dia menyadari kondisinya. "Aku harap kau tak berpikir lebih jauh karena aku nyaman bersamamu seperti ini, seperti sebelumnya, sebagai teman. Aku peduli terhadapmu, terutama saat kesendirianmu itu." "Ya, memang harus begitu karena aku tak ingin melukai Arslan.", ucap Dave. Anne menimbang kembali ekspresi Dave. Tajam kemudian berubah lembut. Dan Anne yakin, dia bisa menajam kembali dalam sesaat. "Kau tidak melakukannya, Dave." Mereka tertegun. Saling menatap. Tak ada pergerakan selain nafas mereka yang semakin tercekat tanpa mereka sadari. "Kita harus memeriksanya, Ann." Anne mengangkat alis tanda belum faham. Dave mendekatkan diri pada tubuh Anne. Dari jarak ini Dave bisa mencium aroma Anne yang tak pernah berubah. Kulit mulus Anne pun tak lepas dari sentuhan Dave selanjutnya. Dave memegang pundak Anne, menariknya untuk lebih dekat lagi. Dan selanjutnya? Dave menunduk untuk mengecup bibir Anne. Anne terkejut dan melebarkan matanya ketika bibir Dave menyentuh bibirnya. Rambut halus Anne jatuh menyentuh pipi Dave. Kedua bibir itu bertemu. Dave belum bergerak begitu juga Anne. Mereka masih diam di posisi masing-masing. Dave menarik sedikit bibirnya, tak lebih dari satu centi wajah mereka kini. "Jika setelah ini tak ada efek berarti, kita aman." Dave menyudahi ucapannya dengan kembali menempelkan bibir mereka lagi. Dave kini bergerak mengulum bibir Anne perlahan. Anne memejamkan mata dan menikmati apa yang didapatnya. Anne tak menolak namun juga tak membalas lebih lanjut selain sedikit membuka mulutnya untuk memberi ruang Dave melancarkan niatnya. Beberapa saat kemudian, mereka terengah dan mundur menarik diri masing-masing. Mereka mengambil nafas dengan menyandarkan tubuh ke sofa. "Bagaimana?", tanya Anne dengan terbata-bata dan suara berat. Dave menoleh ke arah Anne lalu kembali meluruskan pandangan ke depan. "Aku aman.", hanya itu jawaban Dave. Anne menggigit bibir bawahnya dan menarik garis tipis disana. "Good. Me, too." Dave menyunggingkan senyum setengah terpaksa mendengar itu. Dia bertindak bodoh lagi. Bodoh karena pembuktian ini justru memperkuat keraguannya. Tentang perasaannya. Tapi dia selalu berusaha untuk menutupi itu. "Ehem... tak ada masalah. Kita bisa beristirahat dengan tenang setelah ini. Tidurlah.", ucap Dave. Anne kemudian berdiri pelan, menoleh pada Dave. "Hentikan pekerjaanmu, dan kau juga harus istirahat." Lalu Anne berjalan memasuki kamar dimana Ruby terlelap. Beristirahat dengan tenang? Dave bahkan mematung di sofa. Tanpa ekspresi apapun dan hanya memperhatikan meja di depannya. Sedangkan Anne, tak jauh berbeda, hanya saja langit-langit kamar berwarna biru muda itu menjadi pemandangan sepanjang malam. Tak banyak waktu untuk tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN