PART 8

1681 Kata
Pagi hari. Anne bangun dan keluar kamar karena mancium sesuatu yang menarik. Dia sadar bahwa dirinya ada di rumah Dave setelah melihat lelaki itu tampak sibuk di dapur. Anne merapikan rambutnya lalu menuju ke arah Dave. "Apa ini benar-benar David?" Anne tampak menarik saat pagi hari. Kulit bersih yang dimiliknya begitu bercahaya di mata Dave. Anne tetap cantik. Lesung pipit itu terlihat saat Anne merapatkan bibirnya. Dia heran melihat Dave pagi itu. "................", Dave hanya tersenyum kecil sebentar. "Ini bukan daerah kekuasaanmu. Kau tak bisa menyentuh dapur. Hey?", Anne mencoba berbicara pada lelaki yang mengabaikannya. "Diamlah. Siapkan dirimu dan Ruby. Setelah sarapan kita akan pergi mencari udara segar." Anne mengerutkan dahi. "Apa?" "Lakukan saja." Anne lalu kembali ke kamar dengan memainkan mulutnya. Hari ini mereka bertiga pergi ke tempat dimana orang-orang biasa menenangkan diri. Pantai yang tak terlalu ramai dipilih Dave. Lokasinya ada di Bali utara. Butuh beberapa waktu hingga Dave menghentikan segala pertanyaan panjang dari Anne. Akhirnya, mereka bisa beristirahat di tempat itu. Di bawah pohon, Dave duduk berdampingan dengan Anne. Ruby bermain pasir tak jauh dari tempat mereka. Ruby tampak sangat bahagia dengan beberapa tawa riang yang sangat disukai Dave. "Aku suka melihat Ruby tertawa.", ucap Dave. "Kau juga boleh melakukannya. Tertawalah." Dave menggeleng pelan. "Sepertinya saat aku kecil aku tak menggemaskan seperti Ruby. Ibuku tak ragu untuk pergi." Anne melihat ekspresi Dave. Datar. Namun Anne yakin ada kesedihan di dalamnya. "Dave...sudahlah." "Sebelum ayahku meninggal, baru kutahu jika mereka menikah karena sebuah kesalahan. Akulah kesalahan itu. Mereka memilikiku sebelum menikah. Enam tahun bertahan, mereka tak ragu untuk berpisah. Tapi, kenapa ibuku tak menginginkanku? Sial." Anne mengalungkan tagannya pada lengan Dave. Dia mengelus sedikit lengan itu. "Kau bukan kesalahan. Kau bahkan tumbuh baik tanpa ibumu. Kau hebat." Dave menggenggam tangan Anne di lengannya. Merasakan kekuatan dari sentuhan itu. Hal yang dulu pernah dia rasakan untuknya. Kini ia mendapatkannya lagi. "Apa aku terlalu picik jika ingin mencarinya?" Anne menimbang-nimbang. "Itu bagus untukmu. Tak peduli apa yang dipikirkannya, tapi kau bertekad. Aku setuju. Apa yang ingin kau katakan?" "Tak ada. Sekali saja cukup untuk bertemu dan melampiaskan rasa penasaranku padanya." "Aku mendukungmu." "Thanks again." Anne tersenyum hangat dan sangat manis kepada Dave. Tak terasa, bibir Dave ikut tertarik untuk menarik garis senyum di wajahnya. Mereka beralih kembali pada Ruby yang sibuk dengan kerajaan pasirnya. *** Dua hari sudah Anne dan Ruby berada di rumah Dave. Akhir pekan berakhir. Nora dan Galang kembali dari Lampung. Mereka bersiap untuk rutinitas pekerjaan kembali. Beberapa bulan telah dilewati Dave untuk bekerja di Bali. Pengalaman yang begitu indah walaupun dia belum berhasil menemukan sang ibu. Pesona Dave di G-hotel semakin merebak. Paras tampan dan tubuh proposional miliknya mampu menghipnotis setiap pasang mata dalam sekali lihat. Pegawai disana juga ikut meramaikan diri menjadi fans seorang David Brent. Beberapa justru sempat mendekati Dave secara terang-terangan, namun berakhir kegagalan. David dan pendiriannya masih menjadi satu padu. "Hey, siapa namamu?" Wanita itu terbelalak kaget mendengar suara Anne dari belakang tubuhnya. "Ohh... saya... saya Dira, Miss. Zhafir." "Apa pekerjaanmu adalah melamun saat kau memegang alat kebersihan?" Dia tertunduk takut. "Maaf... maafkan saya." "Bisakah kau kembali bekerja dan tak hanya fokus pada Mr. Brent?" "Apa? Maaf?" "Apa aku salah? Aku sudah memperhatikanmu sejak kemarin. Kau selalu mengambil kesempatan untuk mendekati dia." Anne mengeraskan nada bicara tanpa berteriak. "Maaf, Miss. Tapi bukan hanya saya yang melakukan itu." Anne memutar bola mata dan tersenyum sinis mendengarnya. "Aku tahu. Tapi hanya kau yang berani masuk ruangannya di luar jadwalmu, lalu hanya kau yang dengan sengaja memangkas dua centimeter seragam bawahmu." Anne menempelkan berkas yang telah ia gulung membentuk tabung ke arah lipatan bawah rok Dira yang tidak sesuai aturan. Menyadari hal itu, Dira makin menunduk dan tak berani menatap Anne. "..... Bersikaplah terhormat. Perbaiki bajumu dan jangan pernah melakukan hal itu lagi. Aku yakin keluargamu akan bangga jika kau bisa menjaga posisimu di hotel ini." "Ampun..iya Miss. Saya akan perbaiki. Saya mohon jangan pecat saya." "Satu peringatan untukmu, dan pengurangan satu poin dalam evalusai kinerjamu. Catat itu." "Maaf." "Kembalilah bekerja. Kita sudah selesai." Anne pergi meninggalkan Dira yang merasa sedih atas apa yang dia dapat. Hal tu memang karena ulahnya sendiri. Anne ingin Dira merasa jera dan tidak menganggu Dave lagi. Saat Anne berjalan menuju lobby, tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang, dan ditarik masuk ke lorong tangga darurat. "Dave? Ada apa ini?" Anne terkejut. "Anne, aku butuh bantuanmu." "Apa?" "Sepupuku dari Amerika akan datang. Aku tak memiliki banyak waktu untuk menemaninya. Kau tahu, event besar tinggal beberapa hari lagi. Venue belum siap sepenuhnya, pengaturan kamar, dan ..." "Oke..oke.. kapan dia datang?" "Lusa dia sampai Bali. Kau ingat Stacy? Itu dia." Anne tak ragu untuk mengangguk. Anne mengingat gadis bernama Stacy yang dulu menjadi teman bicara saat Anne mengunjungi Dave. "Tentu aku ingat." "Good. Dan satu lagi." "Apa?", kata Anne. "Aku harap hanya satu orang yang mendapat hukumanmu seperti tadi. Maksudku Dira. Aku tak sengaja mendengar." Anne terkejut mendengar Dave menyebut peristiwa tadi. Tapi Anne bertahan pada sikapnya. Tenang. "Aku bersikap profesional dengan menyebutkan kesalahannya, jika kau lupa." "Tidak. Itu bagus. Aku hanya takut fansku berkurang." "Bukan urusanku, sialan. " Anne segera pergi meninggalkan Dave disana. Dave tersenyum di posisinya melihat Anne meninggalkan pintu berat itu. Jika dia keberatan memberi Dira peringatan, kenapa wanita itu dia abaikan? Dasar David aneh. Batin Anne. *** Dave menyelesaikan pekerjaan pukul sembilan malam. Dia ingin membawa Anne pulang ke rumahnya untuk memasak beberapa menu. Tak ada kabar apapun dari wanita itu sepanjang sore. Terakhir pertemuan mereka adalah di tangga darurat. Ruangan Anne sudah kosong. Dia pasti sudah pulang. Ponselnya tak bisa dihubungi sejak sore. Beberapa panggilan dan pesan sudah dikirim Dave pada Anne. Masih tanpa balasan. Dave memutuskan untuk segera pulang. Saat sudah duduk di belakang kemudi, ponselnya berbunyi. Satu pesan masuk. Anne : 'Sorry. Malam ini kau bisa memasak seorang diri, aku tak akan mengganggu. Sedang dalam acara penting di Ku de ta.' Dave membaca pesan itu dengan penuh rasa ingin tahu. Tiba-tiba saja dia penasaran. Kenapa Anne tak menyebut jenis acara yang sedang dia lakukan. Tanpa pikir panjang, Dave menyalakan mobil menuju tempat yang disebutkan Anne. Sekedar untuk tahu. Sesampainya disana, Dave masuk dengan memperhatikan sekitar. Dia memilih meja di pojok. Tak lama, dia menemukan sosok Anne di kejauhan. Dia sedang tersenyum kepada lawan bicaranya. Ada beberapa orang disitu. Semakin menajamkan penglihatan, Dave terkejut karena disana Anne bersama Arslan dan kedua orangtuanya. Dave mematung seketika. Dia katakan pada pelayan jika dia batal untuk memesan karena ada urusan mendesak. Sebelum keluar restoran, Dave sekali lagi melihat keceriaan di meja Anne. Entah kenapa, dia tak menyukai hal itu. Dia memilih pergi. *** Hari ini begitu cerah. G-hotel tampak bersemangat menyambut tamu yang silih berganti melakukan reservasi. Posisi Arslan semakin diakui. Belum ada masalah besar yang mempengaruhi kestabilan posisinya. Hal itu tak lepas dari peran berbagai lapis pegawai G-hotel juga. Keceriaan itu sepertinya tidak menular pada Dave pagi ini. Dia begitu murung karena terpengaruh kejadian semalam. Tak ada yang salah dari itu semua. Hanya Dave dan kegundahannya saja yang mendominasi suasana. Arslan memanggil Dave untuk ke ruangannya. Dengan lesu Dave masuk. Diapun terkejut karena disana juga telah duduk manis seorang Anne. Sumber masalah di hati dan pikiran Dave selama ini. "Duduk, bro. Ada kabar bahagia yang secara pribadi ingin aku sampaikan." Dave benar-benar kehilangan letak udara di sekitarnya. Nafas itu terasa berat. Dia belum siap jika Arslan mengumumkan kelanjutan hubungannya dengan Anne. Hal itu pasti berkaitan dengan kejadian semalam. Dave bergemuruh dalam pikirannya sendiri. "Jadi... " Arslan menghentikan kata-katanya sejenak. "Hey, Dave. Kau baik? Wajahmu pucat kukira.", tanya Arslan. Anne menoleh ke arah Dave. "Dave?", tanya Anne lebih pada menyadarkan. Dave menegakkan wajah dan tubuhnya seketika. "Oh astaga. Aku lebih daripada sekedar baik, Ars. Apa yang ingin kau bicarakan? Aku harus segera menemui kepala ruang kontrol setelah ini." "Wait...wait. Wahai pekerja keras, tunggu. Aku hanya ingin sampaikan bahwa...... aku mendapat pujian dari orangtuaku karena telah meloloskan 90% target pendapatan. Beri aku selamat. Aku khusus mengumumkan pada kalian berdua terlebih dulu. Dan aku ingin kita merayakannya bersama." Anne tersenyum bahagia dan menoleh pada Dave yang justru tersenyum terpaksa. Bagi Anne, Dave sedang mengeluarkan ekspresi kecut atas berita ini. "Hey, kau tak suka?", tanya Anne terus terang. Dave tergagap. "Oh.. tentu aku sangat bahagia. Ada peranku di dalamnya. Bagaimana mungkin aku lupa jika pujian dari orangtua Arslan adalah tanda bahwa Arslan bisa naik satu level. Apa kau berpikir tentang menjadi CEO?" Arslan tertawa dengan wajah cerianya. "Hahaa... sayang sekali Ayahku tak membicarakan itu. Dia masih kuat untuk menduduki posisinya." Hanya itu yang mereka bahas. Anne dan Dave lebih pada mendengar cerita Arslan tentang orangtuanya. Disana juga, Dave mulai mengurangi intensitas pembicaraan dengan Anne. Dia ingin sedikit menghindar untuk mengatur detak jantungnya sendiri. Mulai kelewat batas lagi. "Dave, kau bisa ke ruanganku? Ada berkas yang perlu kau periksa.", ucap Anne. Dave hanya menggelengkan kepala. "Asistenku akan mengurus itu." Lalu Dave pergi. Anne heran dan berpikir bahwa Dave sedang ada masalah dan sedang tidak mood untuk banyak bicara. Anne mengabaikan. Hingga sore hari, tak ada komunikasi diantara Dave dan Anne. Bahkan hingga Dave pulang, dia hanya lewat di depan Anne yang tengah berbicara pada pegawai. Tanpa memandang dan menyapa. Anne mulai merasa bahwa Dave semakin aneh. Dia memutuskan untuk berkunjung ke rumah Dave malam ini. *** "Huuufh..." Dave membaringkan tubuhnya di sofa. Tanpa melepas sepatu dan setelan kerja. Hanya menaruh tas di sembarang. Tak lama, pintu diketuk memaksa Dave untuk berdiri membukanya. Anne di depan pintu dengan wajah datar. Persis seperti yang Dave perlihatkan. Dave membiarkan pintu terbuka dan dia kembali pada posisi semula. Terlentang di sofa. Anne masuk lalu melepas sepatunya dengan perlahan. Memperhatikan bagaimana Dave bertingkah disana. Seperti mayat. Tak bergerak dan tak berbicara. Sepatu heels Anne terlepas satu. "Kau sudah makan?" "............", tak ada jawaban dari Dave. Kini Anne telah mengganti sepatu dengan sandal rumah. Dia berjalan menuju dapur. Meminum segelas air dingin. Dia melirik tajam pada Dave yang belum bergerak. "Kau sakit?" Anne mendekat ke sofa untuk melihat Dave dari dekat. Dave menutup matanya. Anne hanya merebahkan punggung ke sofa di lain sisi. Dia bingung dengan sikap Dave yang diam seperti ini. Tak lebih mudah diterka daripada Dave yang sering marah-marah. "Kau tidur? Atau mungkin kau bisu? Dave?", Anne meninggikan suaranya. Dave tak menjawab walaupun dia memang terkejut mendengar suara tinggi Anne. Dave membuka matanya lalu berdiri ke arah dapur. Mengambil minuman kaleng dan meneguknya sedikit. "Masak apapun yang kau ingin. Aku sudah makan. Kunci pintu setelah selesai. Aku harus tidur." Dave beranjak menuju kamarnya. Satu pertanyaan lolos dari mulut Anne dan berhasil menghentikan langkah lelaki itu. "Kau marah karena aku tak menemanimu memasak? Benarkah?" Dave membalik badannya ke arah Anne. Wajah datar itu mengeras. Anne sempat takut seketika. "Aku bukan anak kecil yang marah pada hal receh seperti itu." Hanya itu jawaban Dave, lalu dia masuk kamar dan mengunci pintu dengan sedikit keras. Anne bukan wanita polos dan bodoh. Sikap Dave tersebut sangat menunjukkan bahwa kehadiran Anne sungguh tak tepat waktu. Daripada memasak, dia lebih memilih untuk pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN