Sepupu Dave, Stacy, datang hari ini. Anne berjanji untuk menemaninya hingga dia mendapat teman baru di Bali. Satu minggu dia berencana untuk tinggal.
Rumah Dave sudah dirapikan oleh Anne malam ini. Satu jam lagi kedatangan Stacy. Dave masih di dalam kamar. Tak banyak bicara bahkan ketika pulang tadi mereka saling membuang muka. Anne mencoba mendekat tapi Dave menghindar.
Sebuah suara pintu terbuka menandakan Dave keluar dari kamar. Dia memperhatikan Anne yang sibuk di dapur.
"Kita ke bandara?", ucap Dave.
Anne menoleh ke sumber suara.
"Kau saja. Ajak Stacy makan di rumah. Aku siapkan."
Anne kembali pada aktivitasnya tanpa mempedulikan Dave.
Akhirnya, Dave keluar rumah. Dia menuju bandara.
Dave ragu terhadap dirinya. Dia tak ingin Anne menjauh, tapi dia juga tak ingin terlalu jatuh pada hubungan dekat dengannya. Dave sadar bahwa Anne memiliki Arslan. Sudah pernah dirasakan kondisi seperti ini.
Mungkin menurunkan intensitas kedekatan hubungan mereka adalah cara yang tepat. Setidaknya Dave tidak akan sakit untuk kedua kalinya jika nanti Anne meresmikan hubungannya dengan Arslan.
***
"Kau payah. Apa tidak ada tempat menarik di malam hari? Come on, ini Bali.", gerutu Stacy dalam logat Amerika saat melepas sepatunya.
Dave di belakang tubuh itu sedang menarik koper masuk ke rumah.
"Pergi setelah makan. Aku harus kembali ke kantor."
"Gila."
Stacy melihat seorang wanita keluar dari kamar di rumah itu. Anne mengenakan pakaian casual terkejut melihat Stacy dengan rambut pirangnya berdiri mematung menatap Anne.
"You?"
Anne tersenyum dan mendekat.
"Hi..Stacy. Long time no see. Kau ingat aku?"
Anne memeluk tubuh Stacy.
"Hey, you here? Di Bali? Maksudku di rumah Dave?"
Anne lalu menarik Stacy ke meja makan.
"Kita bicara sambil makan. Atau kau mau membersihkan diri dulu?"
Stacy dengan wajah melongo tak percaya hanya mengangguk mendengar pertanyaan Anne.
Dave memasukkan koper Stacy ke kamar tamu lalu dia bersiap untuk pergi.
"Ada display bersama Arslan. Terserah apa rencana kalian setelah ini. Aku pergi."
Stacy menyahut dengan keras.
"Dave, saudara gila. Kau mengabaikanku tepat setelah aku tiba disini. Bagus. Menualah dengan pekerjaanmu."
Dave tak menjawab dan hanya memalingkan wajah lalu melangkah keluar rumah menuju hotel. Arslan menunggu untuk melihat karya Dave.
Tinggallah Anne dan Stacy di rumah itu.
"Kau Anne, apa aku bermimpi?", Stacy penuh semangat saat bertanya. Heran.
"Untuk apa kau memimpikanku?"
"Ini hanya....tidak....tidak, ini keajaiban kurasa."
Anne menyiapkan peralatan makan di dekat Stacy. Dia menyuruh Stacy bersiap makan selagi berbicara.
"Dan kau sungguh memasak ini? Di rumah Dave?"
"Ya, aku disini.", jawab Anne tenang.
"Kau tinggal disini? Really?"
Anne terkejut dan setengah tertawa.
"Hahaa... kalian berdua saudara gila. Tentu tidak. Aku tinggal bersama kakakku."
"Wait. Aku tidak bodoh tapi aku belum faham."
"Habiskan makananmu, kita akan bersantai di cafe setelah ini."
Stacy tampak berbinar.
"Woow, great idea. Aku menyukaimu lebih dari David."
***
Potato Head Beach Club.
Suara ombak meriuhkan malam dimana Anne dan Stacy duduk berdua menikmati minuman masing-masing.
Suara musik tak terlalu mereka hiraukan. Mereka lebih asik berbincang.
"Well, Anne bisa kau ceritakan bagaimana justru kau yang sekarang duduk bersamaku?"
"Harusnya aku lebih mendengarkan ceritamu sebagai tamu."
"Oh..come on. Jangan terlalu formal padaku, Ann. Kau tahu tentangku. Bahkan hanya kau yang tahu bahwa aku sempat merokok."
"Sekarang?"
"Aku berhenti, karena Ayah memintanya. Aku anak yang baik, bukan?"
"Bagus. Bagaimana kabar ayahmu?"
"Dia baik dan sangat bahagia mengelola hotelnya."
"Kenapa tak ikut kesini? Atau teman-temanmu mungkin?"
Stacy mengembalikan gelasnya ke meja.
"Dia tak bisa, Ann. Dan aku kesini untuk menenangkan diri."
"Ada masalah?", Anne cemas.
"Not really. Ayah memintaku untuk melanjutkan kuliah, tapi aku sudah tak ingin. Aku lebih suka bekerja di hotel."
"Jawaban apa yang ingin kau cari hingga kesini?"
"Entahlah. Aku memang aneh. Aku hanya butuh suasana baru sementara ini."
"Oke... dan kita akan menikmatinya di Bali."
Stacy mengernyitkan dahi.
"Well, Anne. Kita sudah melenceng. Jadi, apa jawaban untukku? Bagaimana kau dan Dave kembali berhubungan? Dia tak memberitahu bahwa dia bersamamu di Bali."
"Apa yang dikatakannya? Kalian sedekat itu berbagi kisah?", tanya Anne.
"Mmhh kedekatan apa yang kau maksud? Aku satu-satunya saudara muda Dave. Tak mungkin aku tak memperhatikan dia. Si kacau itu."
"Kacau?"
"Anne, jadi?", Stacy menjetikkan dua jari di depan wajah Anne.
Stacy meminta Anne untuk tidak mengalihkan pembicaraan lagi.
"Oke oke... Aku bertemu Dave beberapa bulan lalu. Kami bekerja di hotel yang sama. Hotel milik Arslan, jika kau pernah mendengar nama itu."
Stacy berpikir dan mengingat. Bola matanya berputar dua kali.
"Arslan? Ya, aku sempat bertemu dengannya."
".... singkat cerita, di awal dia masih menganggapku musuh. Tapi sekarang kami sudah kembali berteman.", tambah Anne.
Stacy menggelengkan kepala berkali-kali.
"Berteman? Hahaa... Dave bodoh."
"Apa kau meragukan sesuatu?"
"Anne, kumohon kau jangan bersikap polos seperti itu."
"Aku polos? Aku bahkan lebih tegas daripada Dave di tempat kerja."
"Fine. Tapi kalian tak cocok untuk berteman. Dave hanya menyiksa dirinya."
"Aku.. aku tak faham, Stacy. Jelaskan maksudmu."
Stacy meminum minumanya sebelum melanjutkan kata-kata. Dia sebagai saksi hidup Dave sejak lahir hingga dewasa, tak bisa menerima jika Dave akan jatuh di lubang yang sama sekali lagi.
"Oke, gini. Aku coba menerka kembali. Kau salah satu kelemahan Dave. Dave sulit melupakanmu. Dan saat sekarang dia disini bersamamu, jawabannya antara dia tak lagi memiliki perasaan apapun padamu, atau dia masih sangat mengharapkanmu."
"...........", Anne kesulitan menanggapi.
"Menurutmu?", cecar Stacy.
"Aku... aku tak tahu. Kami baik-baik saja sebelum ini.", jawab Anne.
"Sebelum? Lalu saat ini?"
"Dia sedang menghindariku."
"Haah... Dasar payah. Dia memang aneh."
"Aku harap kita tak membahas hati sekarang."
"Baiklah. Tapi aku akan memberi saran. Jika Dave menunjukkan tanda-tanda bahwa dia masih menyukaimu, dan kau tak bermaksud menyukainya sedikitpun, tolong segera abaikan dia. Dave sudah kesulitan di masa lalu."
"Aku tak memeriksanya di masa lalu, Stacy. Apa yang terjadi?"
"Kau tahu apa artinya, jika lelaki menangis demi seorang wanita? Dia bahkan menangis karenamu. Si keras kepala itu. Dia tak menjadi dirinya lebih dari setahun. Itu sejak dia memutuskan tak mengenalmu di tahun terakhir kuliah. Kemudian dia kembali melanjutkan hidup hanya karena harapannya padamu. Aku tak menyangka David yang kuat bisa selemah itu."
"Maksudmu, dia masih berharap?"
"Seharusnya begitu. Fotomu bahkan masih ada di rumahku, di kamar Dave. Dan melihat kalian seperti ini, aku berpikir demikian. Tapi, entahlah, dia bisa berganti hati tanpa aku ketahui."
"Tidak... kami membicarakan ini sebelumnya, dan kami tidak dalam perasaan apapun."
Anne mencoba menegaskan sesuatu dalam pembicaraan ini.
"Harapanmu. Dan hanya kau yang tahu bagaimana dia disini. Bukan aku. Jadi, aku hanya bisa bercerita dan menanti kabar gembira."
Anne menyandarkan kepalanya ke belakang, di sandaran kursi.
"Aku sungguh tak memahami semua ini. Aku hanya ingin hubungan baikku bersama Dave kembali."
Anne menyesap minumannya dan mencoba sesantai mungkin menghadapi pertanyaan dan pernyataan Stacy.
***
Dua hari sudah Stacy menikmati Bali. Anne menjadi teman terbaik yang menyempatkan waktu menemani Stacy disela pekerjaannya.
Hari ini Stacy ingin mengistirahatkan tubuh sebelum melakukan perjalanan lain di hari selanjutnya. Dia hanya ingin menghabiskan waktu di rumah kali ini. Rumah Dave.
Di malam hari, Dave yang telah menyelesaikan pekerjaan, pulang dengan dasi yang sudah longgar.
Stacy duduk di meja makan, menikmati makanannya. Memandang aneh pada sosok Dave.
"Bagaimana?"
"Apa?, jawab Dave sambil membuka sepatu.
Stacy mengunyah potongan pizza di depannya sambil terus berbicara.
"Anne. Apa lagi?"
Dave tiba-tiba mendongakkan wajah selagi memakai sandal.
"Kukira kau bertanya tentang pekerjaan.", jawab Dave akhirnya.
Stacy terhenyak.
"Sialan, itu jelas bukan urusanku."
Dave meletakkan tas dan mendekat ikut duduk di dekat Stacy. dia meminum air mineral yang ada di meja.
"Baru kemarin kau menemuinya. Kau lebih banyak berbicara dengannya. Jadi, aku tak harus menjawab.", sambung Dave.
"Bodoh, kau masih mendiamkannya, bukan?", Stacy tak sabar untuk memojokkan saudaranya itu.
"Kami memang begitu.", jawab Dave santai.
"Benarkah? Kau pandai berbohong sejak di Indonesia."
Dave meletakkan gelasnya kembali.
"Paman tak akan suka jika kau berubah jadi peramal seperti ini."
"Gila. Memang kau gila. Buat apa mendekatinya jika kau tak kuat?", Stacy benar-benar melontarkan peluru dari pertanyaannya.
Dave terperangah dan membuka mulutnya.
"Itu berjalan begitu saja. Aku bahkan kembali nyaman bersama dia. Sebatas itu dan aku segera sadar untuk mundur. Aku tak ingin penolakan lagi."
"Bagus. Tapi dengan dia masih di sekitarmu, apa kau sanggup? akan sulit pastinya. Dia bahkan ingin berteman denganmu seperti dulu."
"Hah? Itu jelas tak mungkin, dan sepertinya aku sudah salah langkah sejak awal."
Dave menyadari kebodohannya.
"That's the point. Dasar bodoh."
"Berhenti mengumpatiku dan belajarlah. Lanjutkan kuliah. Kau turuti Ayahmu."
"Masih kupertimbangkan lagi."
"Jangan kecewakan dia.", pungkas Dave.