PART 10

1243 Kata
Esok hari, pukul delapan malam. Anne selesai memeriksa beberapa laporan. Dia akan pulang namun berhenti di lobby. Ingin mengamati suasana disana beberapa saat. Hari ini Stacy pergi ke club seorang diri dan berjanji akan mendapat teman baru. Anne bisa beristirahat untuk tidak menemaninya di malam hari. Anne duduk di sebuah kursi. Dari pintu masuk, dia melihat Dave berjalan ke arah resepsionis. Dia tak sendiri. Dia bersama seorang wanita. Anne terperangah, sedangkan Dave tak mengetahui bahwa Anne ada disana. Anne hanya mengamati dari jauh. Anne tak begitu tahu apa yang mereka bicarakan di depan resepsionis. Dave berjalan bersama wanita itu menuju lift dan naik ke atas. Anne membuka mulutnya sedikit. Penasaran dengan apa yang dilihatnya. Tak terasa, hampir lima belas menit Anne bertahan di lobby. Hanya duduk dan menerka apa yang baru saja dia lihat. Lima majalah sudah berhasil dia bolak-balik selama itu. Setelah memutuskan untuk pulang, dia dikejutkan dengan satu panggilan dari Dave. Anne mengangkat ponsel dengan lemah. 'Apa?', tanya Anne. 'Kau dimana?', suara Dave. 'Kenapa?' 'Posisi, Ann?', Dave menekan kalimatnya. 'Lobby.' 'Oke, aku kesana.' Panggilan terputus. Anne kembali mendudukkan diri. Menaruh dua tangannya ke samping dengan lemas, ponselnya menggantung di tepi kursi. Entah apa yang dia rasakan, sangat tak tentu dan tak jelas. Dave keluar dari lift dan mencari posisi Anne. Dia menemukan dengan cepat. Bergerak mendekat. "Ini." Anne mendongak menatap Dave berdiri. "Apa ini?" Dave menyodorkan satu bingkisan kepada Anne. "Hadiah untuk Ruby." "Darimana kau tahu?" "Nora. Media sosial Nora mengatakan bahwa hari ini Ruby berulang tahun." Anne terkejut kesekian kalinya dengan sikap Dave. "Kau tak perlu melakukan ini." "Berikan saja." "Baiklah, terimakasih." Anne diam sesaat dan mengamati bingkisan itu. Tatapannya masih menunduk, belum beralih kemanapun. Dave memperhatikan itu. Anne dalam posisi mematung. "Kau oke?" Anne menggeleng masih dalam kepala menunduk. "Tiba-tiba kepalaku berputar.", jawab Anne pelan. Dave menunduk untuk melihat Anne lebih dekat. Ada sedikit cemas di wajah Dave. "Aku antar pulang.", ucap Dave pada Anne. Anne sekali lagi menggeleng. "Aku akan mencari taxi." Dave tak mau mendengarkan alasan itu. Dave menarik tangan Anne untuk berdiri. Dengan tatapan lembut, dia berkata pada Anne. "Ada aku. Kita pulang." Kalimat itu meruntuhkan kekuatan Anne. Tiba-tiba kakinya melemas. Dave menahan tubuh Anne dengan menangkap pinggangnya tepat saat tubuh itu ingin luruh. Tanpa kata-kata lagi, Dave membawa Anne ke dalam mobilnya. Hening suasana di dalam mobil. Sepanjang perjalanan, mereka tak berbincang. Anne melihat ke arah jendela, tak menghiraukan Dave yang daritadi sesekali menoleh padanya. Baru setelah sampai di depan rumah Anne dan mobil berhenti, mereka mengeluarkan suara. "Sudah sampai, kau bisa turun sendiri?", tanya Dave lembut. Anne menoleh pada Dave dengan mata sedikit memerah. Ternyata sejak tadi dia menahan itu. "Tadi, kau bersama wanita. Siapa dia?" Pertanyaan emas seribu karat yang akhirnya lolos dari mulut Anne. Dave terkejut mendengar itu. "Apa?" "Siapa?", cercah Anne. Dave tampak berpikir dan mengingat. Menyiapkan sebuah jawaban setelah menelaah setiap kegiatannya. "Aku tak tahu maksudmu, tapi sebelum ini aku hanya membantu seorang wanita, anak dari tamu VVIP hingga bertemu ayahnya. Itu saja." Anne mengatupkan mulutnya. "Baiklah. Cukup. Aku turun." "Tunggu.", cegah Dave cepat. Anne melepaskan tangannya tak jadi membuka pintu mobil. "Kau kenapa?" ".............", tak ada jawaban. "Baiklah. Tapi, jangan sakit." Anne kini menumpahkan air matanya perlahan. "Aku tak sakit, Dave." Dave menelisik wajah Anne. "Jangan menangis." ".............." "Ku mohon, jangan menangis. Kita ke dokter sekarang." "Tidak." "Anne..." "Dave, aku sedang tidak baik atas diriku sendiri." "Kau sakit, Anne." "Tidak. Aku berbohong." "Apa?" "Ya, kepalaku berputar bukan karena sakit, tapi aku bingung. Aku tak suka kau mengacuhkanku." Dave mengernyitkan dahi. "Maksudmu?" Anne menggeleng di sela tangisnya. "Apa aku berbuat salah hingga kau mengacuhkanku?" "Tidak, Anne." "Lalu kenapa kau berubah? Kita bisa lebih hangat daripada ini." "Justru itu. Tahukah kau, kondisi itu membahayakanku?" "...........", Anne berderai air mata menghadap lemah ke wajah Dave. "Tolong bantu aku, Anne.", dia memohon sambil menutup mata. "Dave kita sama-sama aman. Kita tak bermasalah dengan kedekatan ini." "Tidak, aku berbohong waktu itu.", jawaban telak dari Dave. Anne terkejut luar biasa. Ekspresi di wajah Anne menajam walapun berderai airmata. "Apa?" "Stop. Hanya bantu aku dengan tidak mempedulikanku lagi, Anne. Berbahagialah dengan Arslan. Aku usahakan untuk ikut berbahagia juga atas kalian." "Dave....." "Tolong, Anne. Tolong." "............" Anne tak menjawab dan berlalu keluar dari mobil. Dave memukul setir kemudi dengan cukup keras. Dia merutuki dirinya sendiri yang telah mengatakan hal itu pada Anne. *** Hari ini Dave dengan terpaksa menuruti keinginan Arslan untuk makan malam bersama. Arslan ingin bertemu Stacy. Di meja itu telah duduk Arslan, Dave, Stacy, dan Anne. Mereka berempat makan di restoran hotel untuk menghemat waktu. "Stacy? kau semakin dewasa.", sapa Arslan. "Aku hampir lupa kepadamu jika Dave tak memberitahu bahwa kaulah pewaris hotel ternama yang dulu pernah berkunjung." "Stacy, jaga sikapmu.", pinta Dave. Anne masih diam dan hanya memberi senyum kecil ke arah orang-orang di depannya. "Tak apa, Dave. Anak muda bisa leluasa dengan orang yang ia anggap dekat." "Thanks, Ars." Mereka menikmati makan malam dengan tenang. Tak banyak yang mereka bicarakan kecuali pertemuan di masa lalu. "Wait, apa dulu kau tak pernah bertemu Anne di New York?", tanya Stacy pada Arslan. "Ehmmm tidak." "Padahal Anne sering ke rumah." Arslan mengangkat alisnya, "Aku kurang beruntung saat itu." Lalu Arslan tertawa sendiri. Anne dan Dave hanya bereaksi saling memandang dalam diam. "Jika aku sempat bertemu Anne, mungkin aku akan tinggal di New York juga. Hahaa....", tambah Arslan. "Akan lebih menyenangkan jika waktu itu kita bertemu, Ars. Aku selalu tertarik pada orang kaya. Benar, kan?", akhirnya Anne menanggapi dengan lirikan pada Dave. Dave membulatkan mulutnya yang sedang mengunyah. Kata-kata Anne dia terima dengan baik. "Tak ada wanita yang tak suka uang. Bahkan, mati pun masih butuh uang.", sambung Stacy, lebih pada menetralkan opini. Disela makan, seorang wanita menghampiri meja mereka. "Selamat malam. Wow... sebuah makan malam orang tampan dan cantik. Bisa saya bergabung?", tanyanya. Mereka berempat memandang sumber suara. Wanita itu memberikan senyum merekah ke arah semua orang di meja. Dia tampak seksi dengan gaun merah terbalut lekat di tubuhnya. "Owh, Kelly. Silahkan duduk.", jawab Arslan. Anne dan Stacy memunculkan wajah tak suka secara bersamaan. Walau demikian, Anne lebih pandai menyembunyikan itu daripada Stacy. "Sorry, kau bisa ambil kursi sendiri jika ingin duduk.", ucap Stacy. Meja itu cukup untuk empat kursi yang saling berhadapan. "Hay gadis manis. Kurasa salah satu lelaki disini akan mengambilkannya." Dave dan Arslan saling memandang. Dengan cepat Dave menggelengkan kepala tanda menyerah. Dave tidak ingin berurusan lagi dengan Kelly. Pertemuan pertamanya sudah sangat mengecewakan. Sikap manja, agresif di depan umum, dan sifat bossy milik Kelly tidak sesuai dengan harapan Dave. "Ehmm... Dave, boleh kau membantuku? Hanya satu kursi atau aku bisa duduk bersama denganmu?", pinta Kelly tak tahu malu. Dave memandang dengan tajam ke arah Kelly. "Tidak. Aku tak mau mengotori tanganku. Panggil saja pelayan." Suara deheman keras membuyarkan pesona Kelly. "Ehem... kau wanita super seksi, silahkan tempati kursiku dan jangan merepotkan orang lain. Aku selesai. Permisi.", Anne bersuara setelah membersihkan mulutnya dengan tisu. Anne langsung berdiri dan pergi. "Anne, tunggu aku. Hey....... tunggu, aku ikut.", ucap Stacy dengan buru-buru membereskan tasnya dan berlari mengejar Anne. Dave geram melihat kejadian itu. "Selamat, makan malam ini berakhir karenamu.", ungkap Dave. Arslan tak bereaksi apapun. Dia hanya menautkan alis sambil menerka keadaan. Sedangkan Kelly, tak pernah terpikir merasa bersalah. Dia justru menduduki kursi kosong disana, tempat Anne sebelumnya. Dave sedikit menggebrak meja dengan gelas yang dia pegang. "Pergi dari sini.", kata-kata Dave tegas. "Marah hanya membuatmu semakin b*******h, dan membuatku bersemangat. Kau ingin kutemani malam ini? I am free." Dave molotot ke wajah Kelly. "Kau.... pergi. Harus kuulangi? Per...." Suara tunggi Dave dipotong oleh Arslan yang tenang. "Kelly, aku sependapat dengan Dave. Makan malam berakhir. Aku dan Dave akan membahas pekerjaan setelah ini. Bukan dalam ranahmu tentunya. Bisa kau beri waktu untuk kami berdua?" Kelly menggerutu. "Ini menyinggungku. Tapi kau lebih bisa bersikap sebagai laki-laki, Ars. Terimakasih. Aku pergi.", pamit Kelly akhirnya. Dave menurunkan emosi setelah Kelly tak terlihat lagi di restoran itu. Kelly si pengganggu bagi Dave. Kini, Dave dan Arslan duduk berhadapan. Meja telah dibersihkan. Mereka memesan minuman penutup untuk perbincangan selanjutnya. Masih terngiang di benak Dave atas kelakuan Anne yang tiba-tiba pergi. Anne terganggu karena Kelly? Atau Anne sakit? Yang pasti, moodnya berubah seketika. Dave tak tahu jawabannya. Arslan lebih banyak tersenyum sepanjang makan malam tadi. Kedatangan Kelly tak mempengaruhinya. Keadaan dingin antara Dave dan Anne tak mencuri perhatiannya. Mungkin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN