"Jadi, pekerjaan apa yang ingin kau bahas?", tanya Dave.
Malam itu Dave dan Arslan bertahan di restoran hotel. Hanya berdua karena para wanita telah pergi.
Dave masih menyimpan sedikit kekesalan atas Kelly. Suasana hatinya sudah buruk karena Anne, tapi Kelly justru lebih memperburuk.
Kelly tak mengejar Dave namun dia juga tak mengacuhkan Dave begitu saja. Sikap agresif itu masih ingin mendapat suatu balasan. Apalagi Dave jelas memiliki kriteria fisik idaman Kelly.
Arslan memperhatikan kejadian malam itu, bahkan beberapa waktu lalu. Dia bukan orang bodoh yang tak bisa membaca situasi. Hanya saja dia diam untuk membuatnya pasti.
"Sayang sekali makan malam berakhir seperti ini.", ungkap Arslan.
Dave menatap Arslan lalu bertindak jengah dan mengedarkan pandangan ke tempat lain.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Ars? Just do it."
"Oke... oke. Aku melihat sesuatu padamu dan Anne."
Dave membulatkan mata mengarah pada Arslan. Dia terkejut dengan penuturan itu.
"Kau menyukainya? Oh, maksudku kau masih menyukainya?", tambah Arslan.
"............", Dave belum menjawab, dia justru mengeratkan gigi-giginya.
"Sejauh apa hubungan kalian saat ini?", cecar Arslan.
"Apa yang kau bicarakan?", tanya Dave.
"Jawab saja."
Dave tak tahu arah pembicaraan Arslan. Dia menyebut Anne dalam percakapan pribadi. Jelas ini bukan dalam ranah pekerjaan seperti yang tadi ia katakan.
"Kami rekan kerja.", jawab Dave.
Arslan terhenyak.
"Tidak. Kalian jelas bukan hanya sebatas itu. Aku bisa melihatnya."
Dave menegakkan tubuh siap mendengar kata-kata Arslan selanjutnya.
"Kemana arah pembicaraan ini, Ars? Aku tak akan menganggu hubunganmu dengannya. I am done."
"Kau baru mengatakannya. You've done? Really?"
Pertanyaan Arslan sejak tadi menjurus pada masa lalu Anne dan Dave. Dia ingin memunculkan suatu pengakuan dari Dave. Pengakuan jujur tentunya, tapi sulit.
"Apa yang kau tahu tentangku dan Anne?", tanya Dave.
Arslan tersenyum sinis.
"Well, aku dekat dengan Anne, dia bercerita setelah kukatakan apa yang menjadi pertanyaanku. Aku perhatikan, kau tahu tentangnya lebih daripada aku, dan dia mengetahui tentangmu bahkan lebih cepat daripada aku. Itu bukan hal yang disebut biasa saja."
Dave menarik alis dan mempertajam pandangannya. Arslan sepertinya sudah tahu masa lalu itu. Bukan maksud Dave untuk menutupi. Tapi dia hanya takut membukanya, kecuali saat bersama Anne.
Bagi Dave, pengalaman itu begitu menyakitkan. Sakit yang pertama kali dirasakannya hanya karena seorang wanita.
"Menurutmu aku diam saja? Tidak, Dave. Dari situ baru kutahu jika kau sempat menyukainya. Walaupun itu di masa lalu, aku lihat kalian masih sangat mengingatnya."
Dave membela diri.
"Hanya menjadi masa lalu dan lupakan. Kau bisa maju tanpa melihatku. Tak ada yang terjadi setelah ini antara aku dan dia.", jelas Dave.
"Kau yakin? Kau masih menyukainya, Dave."
Dave terkejut karena dia sendiri belum mengetahui pasti bagaimana perasaannya. Arslan dan pernyataannya begitu mengusik.
"Jangan bercanda, Ars."
"Tidak. Matamu berbicara begitu. Kau menghindarinya beberapa hari ini. Kenapa? Secara tak langsung kau mulai menyadari kehadirannya kembali. Apa aku salah?"
Dave terdiam. Kata-kata Arslan seperti menghujam jantungnya. Dan kenapa pula jantung milik Dave berdetak tak karuan saat membahas hal itu.
"Jangan hiraukan aku, Ars. Bahagiakan dia dengan baik."
"Hey, stop membicarakan tentangku. Aku sedang ingin tahu perasaanmu, bodoh."
"Kau mengumpatku di restoranmu, Ars? Sial."
"Haha... karena sangat sulit berbicara denganmu. Sejak dulu."
"Maka kita akhiri pembicaraan kosong ini."
"Tidak. Tidak semudah itu. Aku menunggu untuk bisa bertanya langsung padamu. Siapa sangka malam ini waktunya."
Dave menghembuskan nafas berat karena tak berhasil menghindar. Arslan terus memojokkan dirinya.
"So, what?", tanya Dave kemudian.
"Kau tadi bilang tak akan mengganggu hubunganku dengannya? Haha... hubungan apa yang kau maksud?", Arslan bertanya.
"Apapun. Aku tak akan mengganggu kebahagiaan itu."
"Look. Jika kau pikir aku dan dia menjalin hubungan pribadi sebagai pasangan kekasih, jawabannya adalah tidak."
"............", Dave belum menyahut. Dia memperhatikan Arslan yang sedang berbicara dan menunggu maksud dari kata-katanya yang panjang itu.
Dave mengira Arslan tak mempedulikan hal ini, tapi nyatanya dia mengusik lebih dalam.
"Kami berteman. Dia menggunakan kedekatanku dengannya sebagai perisai untuk menghindari godaan lelaki di luar sana. Seperti yang kita tahu, dia belum bisa menyerahkan diri pada lelaki manapun."
"Tidak sepenuhnya, karena dia sempat menjalin hubungan dengan Joe. Kau pasti juga mendengar nama itu dari dia."
Arslan menarik senyumnya ke samping.
"Tentu, Dave. Joe sama sepertiku. Tameng. Hanya saja, dia lebih dulu digunakan Anne daripada aku."
"Apa-apaan itu? Apa dia mempermainkan lelaki? Brengsek."
"Kau bisa menurunkan emosimu? Dia melakukan itu karena melindungi dirinya sendiri. Jelas bukan wanita b******k jika dia meminta itu dengan sopan."
"Kau tak keberatan?"
Arslan menggeleng.
"Itu tak merugikanku.", jawab Arslan.
"Kau akan rugi jika kau sempat main hati. Apa kau menyukainya?", Dave memunculkan pertanyaan pamungkas tentang perasaan Arslan pada Anne.
Arslan terdiam sesaat. Dia mengatupkan mulut dan menggaruk dahinya yang tak gatal. Pertanyaan Dave menusuk, tapi dia akan menjawab dengan jujur. Seperti bagaimana dia bersikap.
"Di awal. Ya, di awal saja. Siapa yang tak tertarik pada Anne? dia memiliki penampilan dan pemikiran terbaik. Lelaki manapun bisa melihat itu. Wanita penuh pesona. Kau tahu, wajah itu sangat memabukkan. Apalagi perhatiannya, uhm siapapun bisa terperdaya. Tapi itu tak sepenuhnya milikku."
"Wait. Kita garis bawahi, kau tertarik padanya.", Dave menegaskan.
"Hahaa......tentu. Tapi aku tidak bodoh dan lemah dengan hanya mengejar wanita yang jelas-jelas tak menyukaiku. Aku bisa mengendalikan perasaanku dengan baik, Dave."
Dave bertanya dengan cepat setelah itu.
"Kau sudah bertanya?"
Arslan mengangguk.
"Ya, dan aku hanya teman baginya."
Hal yang mengganjal di pikiran Dave akan dia keluarkan. Pertanyaan runcing.
"Tapi, aku pernah melihat orangtuamu menemuinya. Kalian semua. Bukankah sejauh itu kedekatan kalian?"
Arslan berpikir keras dan mencoba membuka ingatannya. Dia pernah mempertemukan Anne dan orangtuanya secara santai hanya sekali. Makan malam itu.
"Ouwh... maksudmu dinner yang membahas pencapaian dan perjodohanku?"
Dave terbelalak. Dia tercekat dengan kata terakhir yang diucapkan Arslan.
"Kau dijodohkan?"
"Hey, poin yang harus kau ingat, itu bukan pertemuan keluarga karena aku tak mengharapkan Anne menjadi pasanganku lagi. Perjodohan menjadi urusanku karena hal itu tak selalu buruk. Akupun tak memikirkannya karena aku baru akan menikah dalam tiga tahun, paling cepat."
Dave menggosok wajahnya. Menghembuskan nafas berat kesekian kalinya. Lalu tangan itu mengusap rambut di kepalanya sendiri.
"Kau kanapa, bro?", tanya Arslan.
"Entahlah....."
"Haha... kau hanya harus berusaha mendapatkannya kali ini."
Dave terhenyak.
"Tidak. Dia hanya... sangat sulit."
"Pengecut."
"Hey, jaga ucapanmu.", Dave tak terima.
"Aku benar, maka aku berani mengataimu."
"Sudahlah. Aku semakin pusing berbicara denganmu, Ars."
"Karena aku memberi kabar bahagia yang tak ada dalam perkiraanmu? Bagus, bukan?"
"Simpan untukmu sendiri. Aku pergi."
Dave melangkah pergi begitu saja. Arslan berteriak.
"Hey, tunggu... kau tak membayar bill?"
Dave hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Hanya telapak tangan dan punggung itu yang menandakan bahwa Arslan lah yang harus membayar semuanya.
"Dasar... kenapa aku berteman dengan mereka semua? Manusia aneh."
Gerutu Arslan seorang sendiri.
***
Dave merenung sambil mengemudi. Dia berputar tak tentu arah malam itu. Hanya lampu jalanan dan penerangan dari cafe-cafe di malam hari yang menjadi teman sepinya.
Mobil itu berhenti begitu saja di sebuah. Rumah yang sering dia datangi. Tapi malam ini dia tak tahu untuk apa dirinya disana. Rsumah Anne.
Dia meletakkan kepala di atas setir. Kepala itu kembali pusing menyimpan segala penuturan Arslan. Dave tak menyangka hal-hal itu disimpan Arslan selama ini.
Dia tahu bahwa tekadnya masih mengarah pada Anne. Kenyamanan Dave ada saat Anne berada disekitarnya.
Namun, Dave takut jika Anne tetap menutup diri terhadap laki-laki dan Dave termasuk didalamnya. Itu berarti, akan ada penolakan jika Dave melanjutkan. Tapi, apa benar dia pengecut jika tak mencoba? Sakit yang dulu sangat dikenalnya masih mendominasi.
Dave adalah sosok yang tak suka mengulangi sesuatu. Tapi pesona Anne bisa meruntuhkan itu semua. Kenangan dengan Anne membuat dia kembali memiliki energi. Apa itu buruk? Tentu tidak.
Dave belum tahu harus bagaimana bersikap. Setelah hampir satu jam bertahan disana, dia akhirnya pulang. Dia sempatkan menghubungi Stacy untuk memastikan saudaranya itu menikmati malam dengan selamat.