Hari ini adalah hari terakhir Stacy berada di Indonesia. Besok pagi dia harus sudah kembali ke New York. Tak banyak teman yang dia dapat. Hanya Anne dan beberapa lain, Dave tak masuk di dalamnya karena lelaki itu hanya satu kali menemani Stacy jalan-jalan. Itupun, demi menjaga keselamatan Stacy saat datang ke sebuah club.
"Sungguh saudara kolot.", ujar Stacy kala itu.
"Terserah. Selama itu menyangkut wanita dalam hidupku, menjadi kolot tak terlalu buruk.", jawab Dave penuh penekanan.
Kini Stacy sudah mengepak barang yang ingin dia bawa pulang. Beberapa cindera mata diberikan Dave untuk sang paman. Satu barang antik tak terlalu besar, berbentuk garuda, menjadi barang penting yang harus dijaga Stacy selama perjalanan. Dave berharap barang itu bisa terpajang di hotel sang paman.
Memang bukan hotel sebesar milik keluarga Arslan, tapi hotel itu cukup laris digunakan tamu mancanegara yang menghabiskan waktu di New York. Itu berharga karena sabagian hidup Dave bergelut dengan situasi disana.
"Well, Dave... ada satu hal yang menjadi poin kunjunganku kesini."
Suara Stacy lebih lembut dan terlihat serius.
"Tentang kuliahmu?"
Stacy menggeleng.
"Tentu bukan. Aku telah mendapat banyak masukan dari Anne untuk masalah itu."
Dave mengerutkan dahi ingin mendengar lebih lanjut.
"Lalu?"
"Ehmm. Kuharap kau mendengarku dengan baik."
"........"
***
Anne memeriksa beberapa laporan tentang masa training pegawai. Banyak berkas yang dilampirkan selain itu. Hal ini karena rekrutmen skala besar beberapa waktu lalu. Pengembangan hotel diatur oleh Arslan untuk mempertahankan pencapaian dan mendapat nilai plus di waktu mendatang.
Anne melupakan bahwa dirinya terlambat untuk makan siang. Sebelum ini Dave yang selalu mengingatkan. Namun berubah dalam beberapa hari terkahir.
Tidak sesuai bayangan Anne, saat ini Arslan lah yang muncul di hadapannya.
"Hey, pretty woman. Kau tak pergi makan siang?"
Anne justru sedikit terkejut karena tak menyadari itu.
"Ohh... ya ampun. Aku melewatkannya."
Arslan duduk lemas di kursi tamu milik Anne. Dia menyandarkan punggung dengan keras, lalu merenggangkan dasi di lehernya.
"Ada apa lagi? Aku tak suka melihat wajah kusutmu. Pergilah.", keluh Anne.
Arslan menyisir rambutnya dengan jari dan menggelengkan kepalanya.
"Dalam tiga hari ini, keluhan untuk food and baverage meningkat. Aku mengetahuinya lima menit lalu. Brengsek."
"Jangan mengumpat di ruanganku. Lima menit lalu kau sudah menggangguku."
"Ya, maksudku sepuluh. Ya, mungkin sepuluh menit. Dan Ya Tuhan, apa sungguh itu diperhitungkan daripada masalah ini? Ayahku pasti sudah siap melempar ejekan."
Anne tersenyum dan membuka mulutnya untuk sedikit tertawa.
"Haha... kau periksa departemen F&B, kurasa mereka sudah ahli. Kau analisa dan jika belum menemukan jawaban, aku bantu."
"Apa? Bantu seperti apa?"
"Aku kumpulkan daftar pemasok dan mitra bisnis, hanya memastikan apa mereka memiliki hubungan pribadi disini, dengan pegawai kita."
"Maksudmu adalah untuk mencurigai seseorang?"
"Bukan. Ini disebut mengantisipasi tindak nepotisme. Terutama di quality control departemen itu."
"Mmhh bagus, walaupun aku pernah memakai tindakan itu juga."
"Nepotisme tak selalu buruk, jika itu untuk orang yang berkompeten. Tapi untuk pengacau? Tentu tidak. Well, dan ini hanya jika kau buntu untuk menangani keluhan-keluhan itu, Ars. Opsi terakhir."
Arslan mengangguk.
"Opsi terakhir yang sangat menarik. Thanks. Kita makan siang."
"Oh tidak. Aku akan delivery dan hanya menyelesaikan ini. Pergilah."
Arslan mengerucutkan mulutnya.
"Tak bosan kau mengusirku? Mmhh...by the way, sudah kau ucapkan perpisahan untuk Stacy?"
"Tentu, akulah orang terdekatnya di negara ini."
"Bahkan, Dave sampai mengambil cuti hanya untuk mengantar Stacy ke Bandara.", ucap Arslan.
"Dia cuti?", Anne terkejut.
"Ya, bukan seperti Dave, tapi itu terjadi."
"..........."
Anne termenung tiba-tiba. Dia terdiam di posisinya beberapa saat.
"Aku pergi, Ann. Pegawaiku tak boleh banyak melamun. Bye."
Lalu Arslan meninggalkan ruangan Anne dengan cepat. Menyisakan Anne dan segala rasa penasarannya.
Pesawat Stacy pukul delapan. Ada waktu yang bisa Dave gunakan untuk bekerja, tapi dia memilih cuti. Mungkin dia butuh istirahat, batin Anne.
Pekerjaan yang menumpuk telah selesai hingga hari hampir petang. Anne berencana untuk pergi bersama teman-teman wanitanya. Ada pembukaan restoran ternama yang sangat populer di luar negeri.
Anne menghidupkan ponsel. Sejak pagi, dia bahkan tak ingin diganggu menyelesaikan pekerjaannya. Jika ada sesuatu yang mendesak, pasti ada panggilan melalui telepon kantor, Anne tak risau. Hanya untuk hari ini.
Beberapa pesan teks, panggilan tak terjawab, dan pesan suara diterima. Anne dengan santai membuka pesan pertama dari temannya yang mengatakan bahwa mereka berkumpul pukul delapan malam tepat.
Pesan teks kedua datang dari stacy : 'Anne, kau tak terima panggilanku?'
Pesan lainnya, Stacy lagi : 'Anne, hubungi aku jika kau ada waktu.'
Anne lantas melakukan panggilan pada Stacy secara spontan. Tak terjawab, lalu dia ingat jika Stacy pasti sedang di dalam pesawat.
Anne melihat tujuh panggilan tak terjawab. Semua dari Stacy. Kini dia semakin penasaran, juga khawatir.
Anne menekan tombol yang menunjukkan panggilan suara. Dari Stacy juga.
'Anne, apa aku salah jika memberitahu Dave tentang situasi ibunya? Aku bahkan menyimpan itu lebih dari sebulan yang lalu. Jika kau mendengar ini, tolong periksa bagaimana reaksi Dave dan beritahu aku. Thanks.'
Anne terperangah. Dave, ibunya. Kenapa Stacy begitu khawatir jika Dave sendiri yang ingin mengetahui kabar itu? Anne menutup matanya sejenak.
Dia meresapi maksud dari Stacy. Atau mungkin kabar yang diterima sangat jauh dari ekspektasi keluarga Dave? Anne harus mencari tahu. Dia juga ingin menepati permintaan Stacy.
Anne menghubungi Dave. Panggilan keempat tetap tak mendapat jawaban. Ini bukan jam tidur Dave. Jikapun Dave di luar, dia tak akan mengabaikan ponsel karena dia penggila keselamatan.
Rasa khawatir tiba-tiba melingkupi dirinya. Berkali dia menelan saliva demi mendapat ketenangan. Memiringkan kepala, menaruh kepalan tangan kiri di samping dahinya. Dia berpikir.
Setelah itu, Anne melakukan satu panggilan kepada temannya dan membatalkan keikutsertaan dia dalam acara malam ini. Sedikit argumen dan dia mendapat persetujuan.
Anne bangkit dari kursi ternyaman miliknya untuk pergi ke rumah Dave. Mobil Anne tak sulit digapai, kini dia mengemudi seorang diri, kecepatan diatas normal, ekspresi datar dan kosong, perasaan tak tentu, firasat tak baik, dan tekad yang kuat. Jika tadi bukan seperti Dave, maka ini juga bukan seperti Anne.
***
Rumah Dave.
Anne berdiri di depan pintu mematung. Dia ingin mengetuk namun diurungkan. Anne mengambil ponsel dan melakukan panggilan kembali pada Dave, dan tak ada jawaban.
Anne menebak kode rumah Dave. Dia memulai dengan tanggal lahir Dave, bukan. Tanggal dia pindah ke Indonesia, bukan. Anne tak mendapat ide lebih. Akhirnya secara random, Anne menekan tombol nol sebanyak enam kali. Dan pintu terbuka. Gila.
Betapa terkejutnya Anne jika orang sejenis Dave bisa seceroboh ini. Dave yang ketat dalam segala hal sungguh mengejutkan. Anne bahkan bisa menebak kode itu hanya dalam percobaan ketiga.
Dia masuk ke dalam rumah yang tak menyalakan lampu itu. Dia melepas sepatu perlahan, berjalan ke ruang tengah, kosong. Di area dapur juga kosong. Tak ada tanda-tanda sisa kegiatan disana. Jika bukan di rumah, kemana dia pergi ketika mengajukan cuti dan tak bisa dihubungi.
"Dave...."
Anne memutuskan untuk memanggil secara lisan selagi bertahan disana. Tetap tak ada jawaban.
Anne akan berbalik keluar ketika suara benda jatuh datang dari kamar Dave. Anne lupa tak memeriksa kesana. Satu pikiran melintas bahwa Dave ada di dalam. Keadaan tak mungkin mencekam seperti ini seharusnya.
Anne melangkah cepat membuka pintu kamar Dave. Dalam gelap tak terlihat siapapun. Dia mencari saklar dan menemukan tepat di dinding samping pintu. Lampu menyala.
Tampak Dave sedang duduk di lantai, bersandar di ranjang menghadap ke arah jendela besar disana. Anne berjalan memutari ranjang dan mendekat.
Anne mendudukkan dirinya tepat di samping Dave yang belum bergerak sedikitpun. Dengan lembut Anne memegang tangan Dave yang terkulai lemas di pahanya sendiri.
"Dave..."
"..........."
Tak ada jawaban. Dave masih meluruskan pandangan.
Anne menaikkan tangan menyentuh pipi Dave lalu menolehkan kepala lelaki itu padanya.
"Hey...."
Dave terkesiap dan menyadari keberadaan Anne. Membuka mulut untuk bersuara, namun tak berkata apapun. Dia kembali mengatupkan mulutnya.
"Kau oke?", Anne bertanya selagi melirik patung kayu kecil jatuh dari laci di samping tempat tidur Dave.
"Sleepy?", tanya Anne lagi.
Dave mengangguk dengan lesu. Tak ada energi dari tubuh itu.
Anne memposisikan diri untuk meluruskan kedua kakinya kemudian menarik kepala Dave ke pangkuannya.
"Tidurlah."
Dave berbaring di lantai, memejamkan mata lalu mengangkat satu tangan untuk menutupi kedua matanya. Anne merasakan bahwa tubuh Dave masih sedikit tegang. Anne mengelus puncak kepala Dave dengan pelan.
Dalam diam Anne memperhatikan Dave yang mulai menangis. Tak bersuara namun getaran tubuhnya bisa terasa. Anne ikut sedih melihat keadaan lelaki itu.
Anne belum bisa melakukan apapun. Dave berada jauh dari jangkaunnya jika seperti ini.
Tangisan Dave benar-benar tak bersuara. Hanya air mata yang terus mengalir. Satu tangan Anne yang bebas mengusap air mata di pipi Dave. Anne ikut membisu selama itu.
Ketika tubuh Dave tak lagi bergetar, Anne yakin airmata itu segera berhenti. Anne bersihkan sisa airmata yang ada.
Tiba-tiba Dave menarik tangan Anne turun dari pipinya ke d**a. Dave menggenggam tangan itu disana dengan mata masih terpejam. Anne merasakan sedih yang Dave salurkan.
Tak lama, nafas teratur mulai ditunjukkan tubuh Dave. Anne yakin bahwa dia sudah tertidur. Sebelum ini Dave hanya seperti patung yang tak berekspresi apapun. Anne senang melihat Dave bisa menangis. Beban itu sedikit terangkat setidaknya.