Balas budi

2290 Kata
Dokter yang memeriksa Alin sudah keluar lima belas menit lalu, dia memberi Alin salep, obat dan mengganti perban Alin, dia juga menyuruh Alin menjaga kebersihan perban nya agar tidak terjadi infeksi sekarang Alin sedang duduk di sofa panjang, di kelilingi empat remaja dan satu orang ayah yang seakan meminta penjelasan tentang apa yang menimpa Alin "lo bisa cerita sama kita" bujuk Gavin "ini beneran cuman kecelakaan murni dari kecerobohan aku sendiri kak" jawab Alin berbohong, dia tidak mau menceritakan yang sebenarnya agar mereka tidak terlalu jauh ikut campur dalam hidupnya yang rumit ini "gue bakal nyuruh dua perawat buat ngegantiin lo ngerawat ibu lo selama lo sakit" ucap Gavin mutlak karena saat Alin akan membuka mulutnya Gavin menyela "gak ada penolakan Lin"  Alin menghela nafas pasrah, dia senang mereka care padanya tapi dia takut kalau tantenya menyeret mereka juga dalam kejahatannya karena dia tau betul Aryana "anggep aja kita ini kakak lo" ucap Saga tiba tiba, karena merasa prihatin dengan kondisi Alin yang menurutnya menyembunyikan sesuatu "waaahh gue punya dua adik nih !" seru Putra heboh membuat Alin terkikik geli melihat reaksi berlebihan Putra "hehe, iya deh kak Putra kakak aku yang paling tampan" jawab Alin membuat Putra teriak kegirangan karena ada yang menyebutnya tampan "waaahh gue traktir ice cream besok Lin" ucap Putra dengan hebohnya Alin, Saga Gavin dan Jems tertawa melihat kehebohan Putra, lalu pandangan Saga berhenti ke Dafi yang hanya terdiam di atas ranjangnya sambil mamainkan benda pipihnya "emmm, lo juga mau kan Daf nganggep Alin adek ?? " tanya Saga, Dafi menghentikan aktifitasnya lalu menatap orang orang yang menunggu jawabannya "gue gak butuh adek !" jawab Dafi dingin lalu melanjutkan aktififas dengan benda pipihnya jawaban Dafi membuat sesak di d**a Alin, dia seharusnya tau diri kalau Dafi tetap lah Dafi yang sangat dingin dan cuek, mungkin dia selalu perhatian karena memang kasihan terhadanya, Alin menunduk lalu tersenyum masam "Lin" tegur Gavin saat melihat Alin menunduk setelah Dafi menjawab nya dengan ketus tidak ada jawaban dari Alin, Dafi melirik sekilas ke Alin lalu kembali tidak peduli "gak usah di masukin hati nak, lagian punya kakak seperti Dafi gak ada untungnya" ucap Jems tiba tiba, membuat Alin menatapnya dengan kening berkerut Saga Putra dan Gavin langsung menyemburkan tawanya mendengar ayah dari Dafi mencela anaknya sendiri, sedangkan Dafi tetap dalam mode masa bodoh nya "tuh dengerin, dady nya aja ngomong kayak gitu jadi gak usah peduli lah si dingin itu mau di anggep kakak atau enggak, yang penting kita bertiga siap jadi kakak lo dan siap menjaga serta ngedengerin masalah apapun dari lo" ucap Gavin yang di angguk i Saga dan Putra Gavin berharap setelah ini Alin bisa lebih terbuka tentang masalahnya agar gadis kecil ini tidak selalu sendiri menanggung beban pahit dihidupnya Alin tersenyum dan mengucap syukur sebanyak banyaknya di dalam hati karena diberi teman sebaik mereka dan se care mereka padahal mereka tau Alin hanya anak orang biasa, bisa masuk ke sekolah elit saja karena beasiswa pengambilan murid yang di adakan sekolahan itu setiap tahunnya dia berharap akan selalu di pertemukan orang orang baik di kehidupan yang akan datang dan dia sangat berharap kalau Aryana bisa sayang kepadanya sama seperti dia menyayangi tantenya itu **** Gdr HighSchool 06:30 Kondisi sekolah kembali heboh karena anggota most wanted sudah lengkap, Dafi sudah membaik dan bisa sekolah lagi setelah dia mencabut selang infusnya dengan paksa dia benar benar membuktikan kalau dia sudah membaik, ke esokan nya dia ngotot meminta pulang dan Jems dengan terpaksa membawa anak keras kepala itu pulang  saat mereka berjalan di koridor sekolah tiba tiba ada seorang siswi berlari dan berhenti di depan mereka ber empat sontak Saga, Gavin, Putra dan Dafi menghentikan langkahnya dan memandang siswi itu dengan pandangan penasaran apa yang akan dia lakukan "kak Dafi selamat ya keadaannya sudah membaik" ucap siswi itu lalu memberikan coklat ke Dafi "ini buat kakak sebagai ucapan selamat karena kita ikut bahagia kak Dafi bisa sembuh" lanjut gadis itu dengan terus tersenyum saat berbicara di depan Dafi Putra menahan senyuman gelinya melihat siswi itu yang berani menghampiri Dafi, dia menunggu apa yang akan dilakukan Dafi, berhubung saat dirumah sakit Dafi sempat lembut dengan seorang perempuan "ntar garing tuh gigi" gumam Gavin menatap jijik perempuan yang menurutnya terlali tebar pesona Dafi mengeluarkan tangan kanan nya dari saku celana, lalu menepis cokelat itu dengan kasar sampai terlempar jauh dan hancur, siswi itu kaget dan menatap tidak percaya ke arah Dafi sedangkan yang di tatap wajahnya datar datar saja seperti tidak pernah melakukan hal apapun Saga tersenyum seakan menebak sesuatu melihat kelakuan Dafi "minggir !" perintah Dafi dengan nada dingin nya, siswi yang masih syok itu hanya diam di tempat seakan tidak mendengar ucapan Dafi "GUE BILANG MINGGIR !!" bentak Dafi yang langsung membuat gadis itu menjatuhkan air matanya karena malu, seluruh siswa siswi yang ada di koridor menyaksikan adegan itu karena gadis itu malah terdiam dan menangis membuat Dafi geram dia lalu berjalan dan menyenggol lengan kanannya sampai gadis itu tersingkir beberapa langkah kesamping Gavin dan Saga mengikuti Dafi tanpa mempedulikan siswi yang menangis itu, sedangkan Putra masih berhenti di samping siswi itu lalu bicara "lain kali coba tangannya di siram air panas ya" celetuk Putra yang langsung membuat siswi itu menatapnya dengan bingung, tanpa menjelaskan apapun Putra berlari menyusul ketiga temannya. **** "ya ampun Alin, tangan lo kenapa ?" tanya Renata memegang tangan Alin sepelan mungkin "ini gapapa Ren, cuman kena air panas" jawab Alin "ya ampun, kok bisa sih ! jangan ceroboh lah Lin, ini pasti sakit banget" balas Renata menatap khawatir sahabatnya itu "udah mendingan kok, udah di kasih salep dan obat"  "udah dibawa ke dokter ?"  "udah" jawab Alin tersenyum membayangkan Dafi yang meniup telapak tangannya di rumah sakit waktu itu "syukurlah, jangan lupa di obatin ya biar cepet sembuh"  "iya Ren, makasih yaa"  **** Saat jam istirahat tiba tiba Dafi menarik tangan Alin yang tidak ada lukanya saat baru saja keluar dari kelasnya "e,eh kak mau kemana ?" tanya Alin sambil mengikuti langkah Dafi yang sedikit berlari "kak jangan cepet cepet" protes Alin, setelah itu Dafi memelankan jalannya dia berjalan sejajar dengan Alin masih dengan ekspresi wajah yang datar tanpa mau menjelaskan kemana dia membawa gadis itu Alin berjalan sambil sesekali melirik tangannya yang di pegang Dafi dan mendongak melihat wajah Dafi dari samping, hidung mancung rahang tegas bulu mata lentik dan alis tebal sungguh mampu membersihkan mata Alin, namun dia segera menepis segala kekagumannya lalu menunduk melanjutkan perjalanan yang entah kemana ini akhirnya mereka berdua duduk di bangku taman belakang, yang jarang di kunjungi siswa siswi sekolah  Alin hanya memperhatikan Dafi yang mengeluarkan perban, salep dan tisu dari saku celananya "kakak ngapain bawa gituan ?" tanya Alin penasaran Dafi diam saja lalu menarik telapak tangan Alin yang di perban dengan pelan, dia membuka perban itu dengan sangat perlahan agar tidak menyakiti Alin, sedangkan Alin harus menahan desiran aneh itu lagi saat melihat wajah Dafi begitu dekat dengannya, dia membiarkan apa yang dilakukan Dafi karena dia menyukai setiap Dafi berlaku manis seperti ini, yaa walau Alin harus segera sadar kalau semua ini hanya atas dasar kasihan tiba tiba Dafi meniup pelan telapak tangan Alin yang masih memerah namun gelembung yang melepuh sudah agak kering "sakit ?" tanya Dafi yang akhirnya membuka suara, dia menatap Alin untuk melihat ekspresi Alin karena tidak mau gadis itu menahan sakit saat dirinya tidak sengaja menyentuh lukanya "e-enggak kak" jawab Alin gugup ditatap seperti itu oleh Dafi Dafi mulai membersihkan sisa sisa benang perban di telapak tangan Alin, memberikan salep dengan mentotolnya pelan bahkan sangat pelan dan meniup lagi agar salep itu kering lalu membungkus telapak tangan Alin dengan perban baru "makasih kak" ucap Alin tulus melihat perban di tangannya sangat rapih "iya" jawab Dafi singkat namun tidak sedingin biasanya setelah itu tidak ada pembicaraan dari mereka berdua, masing masing berada dalam fikirannya sendiri, suasana menjadi sangat canggung karena bosan akhirnya Alin bertanya "kakak kenapa lakuin ini ?" "lakuin apa?" tanya Dafi tidak mengerti lalu menoleh ke arah Alin "ya gantiin perban aku dan ngobatin aku" jawab Alin dengan malu malu dengan sedikit menunduk agar Dafi tidak melihat semburat merah dipipinya Dafi menghela nafas pelan dan menatap lurus kedepan lagi "cuman buat balas budi karena lo udah pernah nolongin gue" jawab Dafi tanpa melihat reaksi Alin yang langsung tersenyum kecut  "oh" jawab Alin lirih, lalu berdiri dari duduknya "aku ke kelas dulu ya kak, makasih" sebelum Dafi menjawab, Alin segera pergi dengan perasaan anehnya, dia merasa sesak dibagian dadanya entah karena jawaban Dafi atau karena ekspestasi nya terlalu tinggi sedangkan Dafi hanya menatap sendu kepergian Alin, lalu kembali menatap lurus kedepan dengan segala pemikirannya. **** Kantin Gdr HighSchool Gavin ,Putra dan Saga makan dikantin tanpa adanya Dafi, mereka sudah mencari kesana kemari mencari teman es nya yang tiba tiba menghilang itu "kemana sih tuh anak" ucap Saga sambil memperhatikan sekitar  "udah lah, udah gede juga" kesal Gavin melihat Saga dari tadi mencari Dafi, padahal kan Dafi sudah besar buat apa di cari terus "naaah tuh dia" tunjuk Putra ke arah pintu kantin dengan sendoknya, Saga dan Gavin menoleh ke arah pintu, disana Dafi sedang berjalan kearah mejanya masih dengan wajah datarnya "lo dari mana ?" tanya Saga sambil menyeruput lemon tea nya saat Dafi sudah duduk di depan nya "perpus" jawab Dafi singkat lalu memainkan hp nya "lo gak makan ?" tanya Gavin karena Dafi duduk hanya memainkan hp nya "kenyang" jawabnya tanpa melihat lawan bicaranya terdengar helaan nafas panjang dari ketiga teman Dafi, mereka harus ekstra sabar menghadapi Dafi yang selalu begini, serasa berteman dengan batu tapi sisi baik nya dari Dafi adalah dia pria yang konsisten dan tidak plin plan, dia cerdas, pintar dan sangat care dengan semua temannya meskipun tidak banyak bicara, bahkam Dafi pernah jam 2 pagi kerumah Saga hanya untuk mengantarkan pesanan martabak Saga sewaktu Saga sakit padahal posisi dirinya sendiri sedang tidak enak badan, Dafi juga pernah menyuruh Putra membawa mobilnya saat pulang sekolah karena motor Putra ban nya kempes sedangkan dirinya harus menunggu jemputan nya dua jam di sekolah. "Lin !!" teriak Gavin tiba tiba saat melihat Alin memegang nampan berisikan bakso dan sedang celingukan mencari tempat duduk Saga, Putra dan Dafi juga mengedarkan pandangannya saat Gavin berteriak mencari seseorang yang bernama Alin semua mata beralih menatap Alin yang hanya terdiam di tempatnya, Alin tidak suka suasana seperti ini, suasa yang seakan akan dirinya menjadi tontonan karena Alin diam saja Gavin berdiri lalu menghampirinya "makan di meja gue yuk, masih sisa satu" ajak Gavin saat sudah berhadapan dengan Alin Alin melirik kesekitar tatapan para siswi sangat menakutkan menurutnya, seakan tatapan itu berbicara kalau Alin mau di ajak Gavin berarti membunyikan genderang perang, Alin bergidik ngeri membayangkan kejadian Clara waktu itu akan terulang lagi  "hey !" tegur Gavin saat Alin hanya diam saja "eh, enggk dek kak aku cari tempat lain aja" ucap Alin cepat lalu segera pergi dengan langkah tergesa gesa dan karena itulah Alin tersandung kakinya sendiri dan "PRANGG !!" "DUGH !!'" suara nampan jatuh dan tubuh tersungkur menggema beriringan di area kantin, semua perhatian beralih ke Alin yang terduduk di lantai dengan menunduk menahan malu dan sakit di lututnya "ALIN !!" teriak Gavin panik dan berlari ke Alin Saga, Putra dan Dafi pun berdiri dan mendekat kelokasi dimana Alin di kerubungi para siswa siswi yang hanya melihat Alin tersungkur tanpa ada niatan membantu "Alin" ucap Gavin sambil merapikan rambut Alin yang berantakan ke depan mukanya, dia berjongkok di depan Alin yang tetap menunduk sambil meremas ujung rok nya Alin malu sekali saat ini, dia mendengar jelas gunjingan dan cemo'ohan disekitarnya bahkan ada yang tertawa dengan kencangnya "mangkanya jalan pakek mata" "hahaha ganjen sih !" "rasain tuh ! makan aja di lantai !" "nyari perhatian terus deh perasaan sama most wanted sekolah kita" "iya ! dasar gak tau malu ! " DIAM !!!!" bentak Gavin melotot tajam ke arah siswi yang menghina Alin Saga menatap sinis satu siswi yang mengatakan Alin gak tau malu karena menurut Saga gadis yang menghina Alin itu lebih dari tidak tahu malu karena seragam nya ketat, rok hanya sejengkal di bawah b****g, lipstik merah dan rampung pirang, kadang Saga berfikir ini sekolahan apa club ? seketika mulut mereka kaku untuk bicara lagi, mereka tentunya kaget melihat si anak pemilik sekolah marah hanya karena gadis pindahan beasiswa "KALAU KALIAN MASIH NGEBACOT ! GUE TANDAIN SATU PERSATU DAN GUE LEMPAR KALIAN DARI SEKOLAH GUE !" teriak Gavin murka Alin mengangkat wajahnya dia syok dengan ucapan Gavin jangan sampai gara gara Alin ada siswi atau siswa yang keluar dari skolahan ini, Alin memegang lengan Gavin dan saat Gavin menoleh ke Alin gadis itu menggelengkan kepalanya pelan agar tidak melakukan hal itu "dimana yang sakit ? kita ke Uks sekarang !" ucap Gavin panik, "kak aku gapapa" ucap Alin lirih Gavin membantu Alin untuk berdiri, untung nya tidak ada luka atau cidera serius pada Alin hanya lutunya sedikit merah karena terbentur lantai  "lutut lo merah Lin !" ucap Putra mendekat ke arah lutut Alin berniat memperjelas apa yang dia lihat namun saat sudah dekat Saga dengan cepat menarik kerah belakang seragam Putra seperti mententeng kucing "Sag ! apa an sih !!!" protes Putra "lo mau ngapain !" tanya Saga sinis "mau cek lututnya Alin !" jawab Putra kesal karena posisinya tetap seperti kucing di tenteng leher belakangnya "gak usah biar anak UKS aja yang ngecek !" cegah Gavin, mana bisa dia membiarkan Putra melihat lutut Alin dalam keadaan memakai rok pendek SMA nya ini setelah itu Gavin merangkul Alin dan membawanya ke UKS, di buntut i oleh Saga dan Putra, sedangkan Dafi menatap tajam gadis yang di tatap sinis Saga tadi, Dafi berjalan mendekat ke gadis itu yang sudah bergidik ngeri saat Dafi mendekatinya "aakkh !! sakit Daf !" teriak siswi bernama Lidia saat Dafi menggenggam erat pergelangan tanganya sampai sedikit membiru, gadis itu satu kelas dengan Dafi dan dia tentu tau semua ke jahatan yang dilakukan gadis itu selama sekolah disini "sekali lagi gue denger lo ngehina Alin! gue patahin tangan lo !!" ucap Dafi dengan nada rendah dan dinginnya, semua yang melihat kejadian itu hanya bisa meringis ketakutan melihat reaksi Lidia yang menahan sakit, mereka bergidik ngeri membayangkan Dafi yang tidak pernah main main dengan apa yang dia bicarakan "Daf lepas !" Lidia memberontak karena tangannya seperti mati rasa dan sudah terlihat membiru  Dafi melepas dengan kasar tangan Lidia dan melenggang pergi begitu saja tanpa ada rasa kasihan sama sekali kepada Lidia yang hampir menangis olehnya Lidia mengusap dengan kasar pergelangan tangannya yang memerah dengan mata yang menatap nyalang punggung Dafi yang menjauh dan hilang dibalik tembok
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN