Sepulang kerja Alin berencana untuk menjenguk Dafi lagi, sudah dua hari Dafi dirawat dan kemungkinan baru bisa pulang besok, saat ini Alin sedang membuatkan bubur untuk makan malam Dafi nanti. Dafi sudah tidak menolak lagi ketika disuruh makan bubur, namun tetap saja jika ke tiga teman nya mengejek karena buburnya di makan habis, Dafi terus ber alibi kalau dia terpaksa memakan bubur tersebut, padahal teman-teman nya tau seorang Dafi paling anti menyentuh jika sudah tidak suka.
Di luar rumah Aryana baru saja turun dari mobil, penampilannya sedikit berbeda. Dia biasanya hanya memakai jeans dan kaos oblong kusut tapi sekarang dia memakai dress ,tas ber merk, kacamata ber merk dan heels yang berkilau karena taburan berlian.
Tujuan pertama ketika dia masuk kerumah kecil itu adalah kamar Raisa, terlihat adik nya sedang tertidur dengan posisi memunggungi Yana, sekilas senyum sinis terbit di wajah jahat nya. Yana kemudian memutuskan mencari Alin, kamar gadis itu kosong dan sekilas Yana mendengar suara bising di dapur maka dia memutuskan untuk ke dapur karena feeling nya mengatakan jika itu pasti Alin dan benar saja gadis kecil itu terlihat sibuk berkutat dengan peralatan masak.
Alin yang menyadari ada orang dibelakangnya langsung berbalik, dia sempat terkejut melihat Yana sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat ke d**a dan fashion berbeda dari biasanya, lebih mewah.
"Tante" sapa Alin tersenyum manis
Aryana berjalan semakin mendekat membuat Alin spondan mundur dan menabrak meja kompor, entahlah Alin menjadi parno sendiri kepada wanita paruh baya ini.
"Kenapa ? takut ?" tanya Yana mengejek ketika melihat raut ketakutan di wajah Alin.
"Tante mau kemana ?" tanya Alin mencoba tenang, padahal hati nya sangat cemas.
"Memangnya kenapa, tante cantik ya dengan penampilan baru tante ini ?" balas Yana memperlihatkan semua barang mewah yang menempel di badan nya itu dengan sombong nya. Alin mengangguk menyetujui karena memang Yana terlihat berbeda
"tapi tante kesini bukan mau memuji diri tante sendiri,," Aryana menjeda ucapannya sembari lebih mendekat ke Alin, jarak mereka hanya beberapa centi saja, Yana bisa mendengar deru nafas Alin yang sudah tidak karuan
"mau memberi hadiah !" imbuh Yana langsung mencengkram dagu Alin sangat kuat
"awwhh !!" pekik Alin mencoba mendorong tangan Yana dari dagu nya yang terasa sangat sakit
"sa-kit tan,," ringis Alin meringis menahan sakit "ke-kenapa tante lakuin ini,,tolong lepasin tan"
"karena saya suka, saya suka menyiksa kamu ALIN !!!" bentak Aryana tepat di depan wajah Alin
mata Alin memanas seketika, suka menyiksa ?? apa itu artinya Yana memang tidak pernah menyanyangi nya selama ini.
"hiks,, Alin salah apa sama tante" air mata Alin jatuh, sakit cengkraman Yana tidak lebih sakit dari d**a Alin kini. Dia benar-benar menyayangi Yana tapi kenapa tantenya itu sangat suka menyiksanya tanpa alasan.
"kamu salah ! ,,kamu hidup aja sudah salah !!" geram Yana semakin mencengkram kuat dagu Alin
"akkhh !! sakit tann" pekik Alin merasa dagunya semakin perih "hentikann,,"
"kamu tau Lin, aku sangat ingin membunuh mu !" kata Yana menggeram tertahan
mata Alin membelalak terkejut mendengar kata-kata Yana, dia sama sekali tidak berfikir jika Yana sampai ingin membunuh nya seperti ini.
"hikss, hiks kenapa tan, kenapa tante mau bunuh aku, salah ku apa tan, a-aku sayang sama tante" ucap Alin lemah di sela isakan nya
Yana mendecih "tapi aku sama sekali tidak menyayangi mu gadis tengik !!" bentak Yana sambari menghentak kan wajah Alin kasar membuat gadis itu menoleh
kemudian pandangan Yana tertuju pada teremos panas di belakang Alin yang terisi air mendidih. Dia mendorong Alin agar memberi nya jalan untuk mengambil teremos itu, setelah dia dapatkan Yana memaksan telapak tangan Alin agar terbuka lebar, sekuat tenaga gadis itu menahan telapak tangan yang akan Yana sirami air panas.
"tante aku mohon jangan !!" pekik Alin ketakutan, lubang air teremos itu sudah Yana arahkan ke telapak tangan nya yang di buka paksa oleh Yana
"Aaakkkhh panas !!,, tantee udahh tann !! hiks,, hiks,, tante pa-panas !!" Alin meraung kesakitan saat Aryana menyiramkan air mendidih itu ke telapak tangan Alin tanpa rasa kasihan sama sekali. Dia tertawa bahagia melihat Alin menangis kesakitan
"tante udah !! ini sakit taan !! hiks hikss"
"aawwhh,,, hikss,,"
setelah dirasa puas Yana menghentikan aksi bejatnya itu, dia melempar teremos yang sudah kosong ke sembarang arah kemudian berlalu pergi begitu saja meninggalkan gadis kecil yang kini menangisi telapak tangan melepuh nya
"hiks, hiks," Alin terus terisak perih, telapak tangan Alin memerah bahkan melepuh di beberapa titik.
Kata-kata Aryana yang ingin membunuhnya membuat Alin termenung beberapa saat, apakah sebenci itu Aryana padanya, tapi kenapa ? kalau memang sudah tidak mau merawat sebaiknya antar saja Alin ke panti asuhan atau yang lainnya, kenapa harus dibunuh dan kenapa harus disiksa seperti ini.
"Hiks,,mama,,A-alin nggak kuat,, hiks" isak Alin sembari memberi salep ke luka merah nya itu. d**a Alin terasa sangat sesak karena kenyataan yang pahit itu, kenyataan dimana tante nya sendiri ingin membunuh Alin. Kalau saja disini tidak ada Raisa pasti dia sudah pergi jauh tapi sayang nya disini dia masih seseorang yang membutuh kan kasih sayang Alin.
"Ma, pa, Alin ikut kalian aja, disini nggak ada yang sayang Alin, ,hiks hiks" lirih Alin menatap kosong ke depan.
*******
Hospital
Dafi sedang berbicara dengan ayah dan ketiga temannya atas kasus pengeroyokan kemaren, kata polisi yang sudah berhasil menangkap mereka, mereka disuruh oleh kolega bisnis Dafi yang sakit hati karena di tolak pengajuan kerja sama nya oleh Dafi. Dari sana dendam itu muncul, CEO dari perusahaan kecil itu geram karena Dafi menolak nya dengan kata-kata pedas padahal apa yang Dafi katakan itu sesuai fakta, perusahaan mereka curang dan banyak kasus terjadi disana maka dari itu Dafi dengan tegas menolak berkas tersebut.
"Mangka nya kalau punya mulut jangan pedes pedes " sindir Putra tanpa melihat kearah mata Dafi yang kini sudah meliriknya tajam
Saga tergelak kencang
"bener tuh Put, kalau dia bukan sahabat kita, gue juga bakalan merencanakan pembunuhan, karena tiap hari dia selalu pedes ngomongnya" imbuh Saga langsung melengos saat Dafi juga meliriknya tajam
"kalian pulang sana !" usir Dafi kesal
"tuh, belum apa-apa udah ngusir" tuduh Putra mencibir
"lo itu belum pulih nggak usah ngajak berantem deh !" sahut Saga santai, namun Dafi kelewat kesal dia mengambil bantal dan hendak melemparnya ke Saga namun niat itu dia urungkan ketika pintu terbuka
"Alin " sapa Gavin sumringah melihat Alin datang
"Hai semua, hai om" sapa Alin ramah kepada mereka semua
"hai,, ini siapa ?" tanya Jems, ayah Dafi.
"Dia Alin om, temen kita" balas Gavin semangat, Jems pun mengangguk kecil kemudian tersenyum ke Alin.
"Hai cantik,," balas Putra tersenyum lebar membuat Alin terkekeh geli melihat nya, pandangan Alin beralih ke Dafi, dia berjalan mendekat kemudian menaruh rantang makanan yang dia bawa dari rumah tadi.
"Ini kenapa?" tanya Dafi menatap tajam perban yang membungkus tangan Alin, Alin langsung menyembunyikan tanganya kebelakang punggung namun sial disana ada Saga, Putra dan Jems karena tiga orang itu duduk di sofa belakang Alin.
Gavin berdiri menghampiri Alin, Jems juga memicingkan matanya melihat jari jari Alin sedikit memerah
"e,eh anu" Alin gugup, dia tidak tahu harus jawab apa
"coba lihat" Gavin menarik tangan Alin dari belakang punggungnya untuk dia perhatikan dengan jelas apa yang di bungkus itu namun gerakan Gavin membuat Alin memekik sakit
"sshhhh,,kak !" Alin meringis kesakitan
"Gav !!" bentak Dafi reflek saat melihat reaksi Alin yang menahan sakit. Setelah membentak tidak jelas yang mana dia mendapat tatapan aneh dari mereka semua Dafi langsung membuang muka, merutuki dirinya sendiri yany entah kenapa bisa reflek seperti itu.
"Kenapa dia ?" bisik Putra menyenggol lengan Saga, Saga menggeleng tidak tahu.
"Sini" ajak Gavin menuntun Alin sepelan mungkin duduk di sofa bekas nya tadi sedangkan Gavin berlutut di depan Alin
"kak,," tegur Alin saat Gavin mencoba membuka perban tersebu
"ssstt,,," Gavin mengintrupsikan untuk diam, kemudian lelaki itu perlahan membuka perban nya.
Saga dan Putra yang penasaran pun berdiri di belakang Gavin, sedangkan Dafi harus memendam rasa penasaranya karena saat dia melirik Alin dia malah mendapat tatapan mengejek dari Jems, Dafi mendengus kesal lalu membalikkan badan memunggungi semua orang, dia menatap jendela besar di depan dengan otak yang melayang kemana-mana memikirkan jemari Alin yang dia lihat sedikit merah tadi.
Aaaakhh,,,sudah lah lagi pula gadis itu bukan siapa-siapa nya, untuk apa Dafi repot memikirkan Alin.
"kak ini gak pa--"
"astaga ini kenapa !!" pekik Gavin terkejut
Saga dan Putra pun tak kalah terkejut, mereka melihat telapak tangan Alin, merah dan melepuh. Jems perlahan mendekat, dia juga melihat tangan gadis itu, seketika Jems meringis kecil seakan ikut merasa sakit hanya karena melihat nya saja.
"Kok bisa kayak gini, lo nyiram air panas di tangan lo " tanya Saga nge gas
"e,enggak kak" balas Alin gugup
"trus kenapa ? lo ketumpahan air pan--"
"minggir !" tiba-tiba Dafi mendorong Gavin sampai jatuh terduduk ke lantai, dia menggantikan posisi Gavin di depan Alin tanpa rasa bersalah karena sudah membuat teman nya jatuh
"lah,,udah turun aja dia dari ranjang" kata Saga kebingungan
Gavin menatap Dafi datar, namun yang di tatap tidak perduli sama sekali.
ditiup nya pelan telapak tangan Alin oleh Dafi
"panggil dokter !" perintah Dafi tanpa mengalihkan matanya dari luka Alin
Gavin menepuk jidatnya merasa bodoh tidak sedari tadi memanggil dokter, dia langsung berlari keluar mencari dokter untuk Alin.
Alin terdiam, menikmati detakan jantung nya yang tiba-tiba menggila karena perlakuan manis Dafi. Tiupan Dafi terasa dingin meringankan perih di telapak tangan Alin kini
"sakit banget ya ?" tanya Dafi lembut sembari mendongak menatap Alin
"sudah mendingan kak" balas Alin setenang mungkin, dia harap Dafi tidak mendengar detakan jantung nya.
"nggak mungkin" sela Saga tidak terima ucapan Alin "merah kayak tomat gitu pasti sakit banget !" protes Saga yang seakan bisa merasakan apa yang Alin rasakan, dia yakin kalau luka di tangan Alin pasti sangat sakit karena dia sendiri sudah pernah terkena air panas di punggung tangannya dan itu membuat Saga tidak bisa tidur dua hari
"tunggu sebentar ya, Gavin masih manggil dokter" lanjut Dafi berbicara layaknya bukan Dafi sehari harinya
"nih anak kesambet tiang infus deh kayaknya" celetuk Putra terheran heran melihat perubahan sikap Dafi, berubah sangat drastis
"lo ngomong apa sih" kata Saga mendengar gumaman Putra
"emang lo nggak aneh ngelihat Dafi tiba-tiba kayak gini saka cewek ?" lanjut Putra sedikit berbisik agar tidak terdengar Dafi, karena bisa-bisa tiang infus malang melintang di tenggorokannya
"aneh sih" jawab Saga memyetujui ucapan sahabatnya itu, dia juga baru kali ini melihat Dafi menyentuh perempuan yaitu Alin, sebelum itu dia hanya melihat Dafi enggan berdekatan dengan perempuan dan mengeluarkan kata-kata pedasnya agar mereka pergi
"tapi syukur deh kalau dia bisa berubah gini, berarti gue nggak harus khawatir temenan sama dia" kata Putra membuat Saga menoleh
"maksud lo ?" tanya Saga
"ya karena gue pernah ngira kalau Dafi suka sama gue" balas Putra se enak jidat yang langsung membuat Dafi menoleh ke arahnya dan menatapnya tajam.
Putra menelan salivanya susah payah, dia lupa kalau orang yang dia ghibahi sedari tadi punya pendengaran tajam sepeti ayam, Saga segera pindah kesamping Jems karena takut tatapan laser Dafi beralih padanya kemudian menembus kepalanya.
"dia gadis baik" batin Jems memperhatikan Alin dan putranya bergantian
terdengar suara pintu terbuka lalu masuk lah dokter spesialis kulit bersama dua perawat dan Gavin di belakang mereka.
"Tolong periksa dia dok" perintah Gavin, Dafi berdiri memberi tempat agar dokter itu bisa memeriksa Alin
"infus lo di cabut !" tegur Gavin kaget ketika dia menyadari jika Dafi sudah tidak di atas ranjang dengan infus di tangannya
semua mata beralih menatap Dafi
"gue udah nggak papa" jawab Dafi gugup , dia sendiri reflek mencabut infusnya dan mendorong Gavin tadi, itu bukan Dafi biasanya.
Jems menggeleng pelan dinsertai senyum jahil kepada putra nya itu dan Dafi langsung mendengus kesal padanya.
"Akkh !" pekik Alin saat dokter itu menyentuh lukanya
"bisa pelan nggak sih !!" bentak Dafi membuat semua orang menatapnya aneh
"eh, maaf tuan" ujar dokter itu kaget saat Dafi membentaknya
"kak,,aku nggak papa kok" kata Alin memegang tangan Dafi agar lelaki itu tidak membentak lagi
"lo kok jadi cerewet banget sih" cibir Putra memicingkan matanya heran ke arah Dafi
Dafi menggeram kecil, lalu tindakan dia selanjutnya mampu membuat semua orang di ruangan itu melotot tidak percaya karena Dafi menggenggam tangan Alin.
"tahan bentar ya" ucap Dafi lembut tanpa mengindahkan cibiran Putra, Alin tersenyum lalu mengangguk kaku, dia menahan bibirnya agar tidak tersenyum semakin lebar.
Sadarkan dirimu Alin mereka hanya kasihan padamu, jangan terlalu percaya diri.
"Wah nih anak bukan kesambet tiang infus Sag" celetuk Putra tiba tiba melanjutkan imajinasinya
"apa lagi sih" sahut Saga malas meladeni, Gavin yang mendengar ghibahan dari kedua temannya hanya menggeleng pelan
"kayaknya dia kesambet salah satu setan yang ada disini" jawab Putra bergidik takut melihat kesekeliling ruangan Dafi
"emang ada hantu di kamar sebagus ini?" tanya Saga tanpa sadar mengikuti ke anehan Putra
"ada lah, hantu VIP !" jawab Putra yang langsung dapat pukulan di leher belakangnya
"aduh !" Putra mengaduh kesakitan dia melihat kebelakang, disana ada Gavin yang menatapnya tajam
"lo diem, atau gue buat hantu disini masuk ke tubuh lo" ancam Gavin menahan kuat kuat dirinya agar tidak tertawa melihat wajah cengo teman nya itu
"iya iya" balas Putra cepat mengatupkan bibirnya rapat rapat di tambah gaya menutup resleting di mulutnya.