22:30
Aryana berjalan sempoyongan di trotoar jalan, malam sudah sangat larut dan dia baru saja keluar dari club dengan kondisi mabuk berat. Dia terus berjalan tidak tentu arah sambil mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang sesekali sempoyongan kesana kemari, kepala nya pening dan dia merasa sedikit mual. Setelah berjalan cukup jauh samar-samar dia melihat halte bus dan Yana memutuskan beristirahat disana
baru beberapa menit dia duduk, mata nya menyipit silau karena sorotan sinar lampu mobil yang semakin mendekat dan berhenti tepat di depannya, tidak lama kemudian seseorang keluar dari mobil itu dan menghampirinya.
"Ikut saya !" perintah orang itu menarik Aryana masuk mobil, kesadaran yang sisa 20persen membuat Yana pasrah ikut tanpa tahu siapa orang tersebut.
*****
Dua orang menyeret Aryana yang sudah tidak sadarkan diri masuk keruangan bernuansa hitam putih, mereka menidurkan Aryana di atas ranjang lalu meninggalkannya begitu saja bersama seseorang yang sudah menunggu kedatangan nya.
"Menyusahkan, kalau saja gue gak butuh nih emak emak, nggak bakalan sudi gue bawa dia kerumah !" gerutu orang itu menatap jengkel Aryana yang tertidur pulas
******
Alin Home
Minggu jam 10:30
sudah dua hari Alin merasa aman karena Yana tidak datang menagih uang itu namun dia harus tetap berusaha mendapatkan uang tersebut karena Yana bisa kapan saja datang dan menyiksanya lagi.
Tapi dimana ?? dimana dia harus mendapatkan uang sebanyak itu, apa dia harus menjual kalung masa kecilnya ?
Alin menimang benda itu, benda satu satunya peninggalan orang tua Alin kata Raisa, didalam benda tersebut terukir nama Alin lengkap dengan marga nya, hanya saja dia tidak memakai marga keluarga nya karena Aryana melarang dengan keras. Kata Yana penculik yang membunuh orang tua Alin masih mengincar Alin sampai sekarang
cerita yang dia tahu tentang masa kecil nya ber awal ketika Yana dan Raisa menemukan Alin selamat di peristiwa kecelakaan na'as keluarganya, Yana bilang investigasi polisi mengatakan jika peristiwa itu di sengaja oleh seseorang dan sebelum ibunda Alin meninggal dia berpesan agar merawat bayi Alin kepada Yana dan Raisa lalu menyembunyikan marga mereka agar Alin tidak di incar maka dari itu hingga kini Alin menyembunyikan marga aslinya.
"Apa aku harus jual kalung ini?" gumam Alin menimang kalung yang berada di genggamannya, kalung itu berwarna perak dengan liontin hati yang bisa dibuka dan didalamnya ada nama Alin serta marga orangtuanya
Alin menggeleng kecil
"enggak, ini adalah peninggalan satu satunya dari almarhum papa sama mama" ucap Alin mengusap liontin kalung itu lembut
"aku harus cari cara lain biar bisa dapet uang itu" imbuh Alin memasukkan kembali kalung itu kedalam kotak kecil.
Setelah nya Alin mengambil tas slempang kecil kemudian beranjak keluar, sebelum itu dia menengok Raisa yang masih tertidur lelap karena efek obat. Alin memutuskan untuk mencari pekerjaan hari ini, pekerjaan yang bisa di bagi dengan waktu sekolah dan pekerjaan di cafe.
Namun hingga jam empat sore Alin belum mendapatkan pekerjaan tambahan, sudah beberapa tempat usaha dia datangi dan jawaban mereka sama saja mengatakan jika tidak ada lowongan. Alin melirik jam di pergelangan tangan nya helaan nafas ringan lolos begitu saja ketika menyadari jika hari sudah hampir malam dan dia harus segera pulang untuk menyiapkan makan malam Raisa.
Di tengah perjalanan pulang mata Alin memicing ketika di ujung jalan sana dia melihat tawuran dua lawan satu, Alin tidak ingin ikut campur dan memilih jalan lain namun belum sempat dia berbalik mata nya sekilas menangkap wajah orang yang di keroyok itu, Alin perlahan mendekat untuk memastikan apa yang dia lihat tadi. Dan benar saja mata Alin membelalak terkejut saat wajah babak belur itu terlihat jelas, wajah yang memang dia kenali, Dafi.
Gadis itu panik, dia melihat kesekeliling mencari benda atau apapun untuk membantu Dafi. Disana Dafi sudah kalah, tubuh lelaki itu terlentang pasrah menerima hantaman kepalan tangan dari dua orang tidak di kenal.
Mata Alin berhenti di balok kayu besar persis tidak jauh dari posisinya kini, Alin mengambil balok kayu itu kemudian dia berjalan perlahan mendekat ke dua lelaki yang berdiri membelakanginya. Kedua tangan Alin gemetar menggenggam balok tersebut, sambil membaca doa Alin mulai mengayunkan balok itu tepat ke belakang kepala salah satu dari mereka hingga ambruk pingsan saat itu juga.
BUGH !!
satu orang langsung tersungkur sontak membuat teman satunya lagi menghentikan aktifitas memukul Dafi yang sudah tidak berdaya, orang itu menatap tajam Alin membuat tubuh kecil Alin gemetar
"gue nggak pernah pilih pilih lawan dan lo udah ikut campur !!" bentak orang itu murka perlahan mendekati Alin, Alin reflek mundur kemudian mencoba menghantamkan balok kayu yang dia pegang tapi orang itu sangat gesit menangkisnya hingga terlepas dari tangan Alin, seringaian puas tercetak di wajah orang itu melihat Alin kini semakin ketakutan dan pucat pasih.
Dia semakin dekat, kedua tangan orang itu terkepal kuat seakan siap menghajar Alin. Ketika satu tangan orang itu terangkat Alin reflek menyilangkan kedua tangan nya di depan wajah, dia sudah meringis membayangkan betapa sakit nya nanti jika pukulan itu mendarat di wajah nya.
Dengan sisa tenaga yang minim Dafi berusaha bangun tertatih, batuk serak keluar dari bibir Dafi bersamaan dengan sesak nya d**a yang dia rasa kini. Dafi melihat lelaki itu mendekati Alin dan melayangkan pukulan kepadanya namun sebelum itu terjadi sekuat tenaga Dafi berlari membabi buta lelaki itu hingga terkapar di aspal dengan luka parah di wajahnya. Satu detik setelah musuh Dafi tumbang, Dafi pun ikut ambruk pingsan tak jauh dari musuhnya tadi.
"Kak !!" teriak Alin histeris, dia menghampiri Dafi kemudian menaruh kepala itu di pangkuan nya.
"kak bangun kak"
"tolong !!!" teriak Alin
"kak,, bangun" Alin menepuk pipi Dafi pelan, tapi Dafi tetap tidak sadarkan diri. Wajah lelaki itu sudah tidak berbentuk, luka sobek dimana-mana, mata lebam dan darah di kedua sudut bibir nya.
Alin semakin panik, dia mencari ponsel Dafi dan menemukan benda itu berada dalam saku kemeja yang Dafi pakai. Beruntung nya ponsel itu tidak memakai sandi apapun membebaskan Alin masuk dan mencari kontak yang bisa di hubungi, nama Gavin muncul ketika beberapa kali Alin meng scroll layar nya
"halo !" ucap Alin cepat
"halo, ini siapa ? ini hp nya Dafi kan?" tanya Gavin kebingungan di sebrang sana
"kak, aku Alin, kak Dafi babak belur dan aku nggak tau harus gimana. Disini sepi aku udah teriak nggak ada orang, kak Dafi pingsan kak,," cerita Alin terdengar sangat panik
Gavin tentu kaget mendengar info itu
"oke, oke lo tenang Lin, sekarang sharelok biar gue kesana" suruh Gavin
"iya kak"
sembari menunggu kedatangan Gavin, Alin memperhatikan Dafi yang sudah babak belur di pangkuannya, ada desiran aneh di hati Alin saat melihat wajah tenang Dafi ketika mata tajam itu tertutup. Walau hampir seluruh wajah nya babak belur dia tetap terlihat tampan, alis tebal, bibir merah, bulu mata lentik ,rahang tegas di tambah hidung mancung. Lelaki ini benar-benar sempurna hanya sikap nya saja yang menakutkan, tanpa sadar senyuman hangat terbit di wajah Alin.
*********
Hospital
23.03
Dafi sedang di periksa di ruang ICU, Gavin dan Alin tampak cemas menunggu. Sedangkan Saga dan Putra sudah dalam perjalanan menyusul kerumah sakit setelah Gavin memberi mereka kabar
"bagaimana ini bisa terjadi ?" tanya Gavin melihat kearah Alin disampingnya
Alin pun menoleh kemudian berkata
"aku nggak tau awalnya gimana, aku tadi lagi cari kerja trus aku lihat kak Dafi udah di keroyok tru--"
"bentar bentar" sela Gavin membuat Alin mengernyit bingung "lo cari kerja ?? terus yang di Cafe ?" lanjut Gavin menatap wajah Alin yang kini terlihat panik
"a-aku butuh uang lebih kak buat obat ibu" balas Alin berbohong
"mkasud lo, lo mau kerja di dua tempat ?"
Alin mengangguk pelan, terdengar helaan nafas panjang dari Gavin
"biar gue yang beliin obat buat ibu lo" ucap Gavin selanjutnya membuat Alin mendongak kaget menatap Gavin
"enggak" tolak Alin pelan "aku udah banyak nyusahin kakak dan semua temen kakak, buat kali ini biar aku usaha sendiri buat hidup aku"
"Lin, lo itu cewek. Lo juga masih harus sekolah, kalau lo sakit karena kecapek an gimana ? kalau nilai lo turun gimana ? lo nggak mau kan beasiswa lo dicabut ?" kata Gavin mencoba memberi pengertian, padahal dia sendiri tidak ingin sampai beasiswa Alin dicabut.
"tapi kak,,," Alin ragu melanjutkan ucapan nya, dia juga tidak ingin bekerja dua tempat tapi kondisi yang memaksa Alin harus melakukan itu.
Gavin mengerutkan keningnya menunggu kelanjutan ucapan Alin
"tapi apa ? kenapa ??" tanya Gavin mendesak Alin, dia yakin ada yang di sembunyikan gadis ini.
"tante lo minta uang lagi?" pertanyaan Gavin berhasil membuat Alin membulatkan matanya, bagaimana bisa tebakan Gavin benar.
"eummm,," Alin gugup, lidahnya terasa keluh. Dia tidak ingin siapapun tau masalah ini lagi, cukup sekali Gavin membantunya dan sampai sekarang dia belum bisa mengembalikan uang itu.
"I-iya kak, dan aku mohon untuk kali ini kakak nggak usah bantuin aku" akhirnya Alin bisa menjawab setelah beberapa detik terdiam
"tapi ke-"
Ceklek !
ucapan Gavin terpotong ketika suara pintu terbuka dari ruang ICU, Gavin dan Alin mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu itu
"keluarga pasien" ucap dokter lelaki paruh baya
Gavin dan Alin langsung berdiri berhadapan dengan dokter tersebut
"kita temen nya dok, ayahnya masih perjalanan kesini kalau ada apa-apa dokter bisa bicara sama saya" kata Gavin sopan
dokter itu mengangguk kecil
"pasien sudah membaik tapi organ dalamnya masih ada yang belum pulih, jadi dia masih harus dirawat beberapa hari disini"
"nggak ada luka serius kan dok?" tanya Alin cemas
"ada, organ dalam bagian perutnya terkena pukulan cukup kuat sehingga dia muntah darah seperti kemaren, tapi itu akan pulih jika menjalani perawatan yang intensif disini beberapa hari" ucap dokter itu memperjelas keadaan Dafi
"terimakasih dok" ucap Gavin tersenyum kecil
"iya sama-sama" balas dokter itu kemudian berpamit
sepeninggal dokter itu Gavin dan Alin saling lirik satu sama lain, lirikan Gavin seperti mengatakan jika dia masih ingin menyuarakan pendapat nya tentang keputusan Alin yang ingin bekerja lagi sedangkan lirikan Alin memberi isyarat agar Gavin tidak melanjutkan obrolan tadi.
"kamu ke dalem ya, biar aq urus administrasi dulu" ucap Gavin
Alin mengangguk setuju, dia pun membuka pintu dengan perlahan setelah kepergian Gavin, disana di ranjang rumah sakit dia melihat Dafi terbaring lemah dengan selang infus di tangannya, walau bagaimanapun juga lelaki dingin itu sudah membantu Alin dua kali jadi untuk kali ini Alin akan balas budi walau sekedar merawat Dafi.
Alin berjalan mendekat menarik satu kursi dan duduk di samping ranjang Dafi, wajah tenang Dafi lagi lagi membuat desiran aneh di hati Alin
Ceklek
pandangan Alin beralih ke arah pintu yang mana sudah ada Saga dan Putra yang baru saja datang
"kak" sapa Alin tersenyum kecil, dibalas senyuman lebar oleh mereka berdua
"gimana keadaan nih bocah ?" tanya Saga mendekat ke arah ranjang Dafi
"kata dokter kak Dafi masih harus dirawat beberapa hari karena organ dalam nya ada yang luka parah"
"lagian dia berantem sama siapa sih " dengus Putra sedikit nyeri melihat wajah babak belur Dafi
"kita urus itu nanti Put" sela Saga yang langsung di angguk i oleh Putra.
*******
"Lin"
suara lirih itu masuk ketelinga Alin yang kini sedikit terlelap bertumpukan kedua tangan nya di sisi ranjang Dafi. Alin membuka mata yang baru saja tertutup beberapa menit, senyum bahagia langsung terlihat di wajah gadis itu ketika melihat Dafi menatap nya
"kakak udah bangu, mau minum?" Dafi mengangguk lemas, Alin mengambilkan segelas air yang sudah tersedia di nakas dan membantu Dafi meminumnya perlahan
"aku panggilin dokter ya" saat Alin hendak berdiri Dafi menahannya dengan memegang pergelangan tangan Alin, Alin menegang saat itu juga. Dia melirik pergelangan nya yang kini hangat berada dalam genggaman Dafi
"duduk" perintah Dafi masih sangat lemah, Alin menurut dan kembali duduk
"kakak butuh apa ?" tanya Alin pelan
Dafi menggeleng pelan, dia tidak butuh apa-apa karena badan nya terasa sakit semua saat ini. Beberapa menit hening mereka berdua di kejut kan dengan suara pintu terbuka lalu masuk lah Putra, Saga dan Gavin yang tadi pamit membeli makanan
"lo udah sadar Daf " pekik Putra heboh, dia berjalan mendekati ranjang Dafi "apa yang lo rasain ?" tanya Putra lagi
"gak ada" jawab Dafi singkat
"gue panggilin dokter dulu" setelah mengucapkan itu Saga langsung keluar
Alin dibuat bingung karena Dafi tidak melarang Saga seperti Dafi melarangnya tadi
"kenapa bisa kayak gini?" tanya Gavin sambil menaruh kantong plastik di nakas, kantong berisi makanan yang mereka beli.
"berantem lah" jawab Dafi cuek, dia kesal dengan pertanyaan temannya itu, apa Gavin fikir muka babak belur begini dari berenang.
"Maksud gue kenapa sampek berantem !" sungut Gavin kesal dengan jawaban teman es nya itu
"uhuk uhuk !!" tiba tiba Dafi terbatuk membuat Gavin, Putra dan Alin panik
"kak udah dong jangan banyak bicara dulu" ujar Alin menepuk pelan d**a Dafi
"suruh mereka diem" titah Dafi melirik kedua temannya dengan sinis
sedangkan yang dilirik sudah ingin memakan Dafi hidup-hidup, untung saja masih sakit kalau udah sembuh pasti langsung terkena serangan dari Gavin dan Putra.
"Udah babak belur masih nantangin orang" gerutu Gavin kesal, dia memilih duduk di sofa nyaman saja dari pada darah tinggi menghadapi teman nya itu.
"Kak Gavin sama kak Putra makan aja ya, nggak usah nanya-nanya dulu, kasihan kak Dafi masih belum sembuh" ucap Alin menatap Gavin dan Putra dengan wajah menggemaskannya
Putra tersenyum lebar membalas wajah lucu gadis itu
"kalau yang minta kayak gini mana bisa nolak" jawab Putra merasa gemas dengan mimik wajah Alin yang memohon
"terimakasih kak" balas Alin dengan senyuman manisnya.
Putra dan Gavin menahan diri untuk tidak memasukkan Alin ke saku mereka sekarang.
Dokter yang di panggil Saga sudah datang di ekori Saga dan dua suster, mereka memeriksa keadaan terkini Dafi, setelah memastikan jika Dafi sedikit membaik mereka keluar dengan pesan agar Dafi makan makanan yang lembut dulu sampai organ dalam nya sembuh total
seperti saran dokter, sekarang Alin sedang memegang mangkok bubur ayam buatan dari fasilitas rumah sakit dan ketiga teman Dafi menunggu moment dimana seorang Dafi harus makan makanan yang paling tidak dia sukai itu.
"Ayyo buka mulut kakak" perintah Alin sambil memegang satu sendok bubur yang siap masuk ke mulut Dafi
"gue nggak suka bubur !" tolak Dafi mentah mentah, melirik buburnya saja dia enggan apalagi memakannya, menurut Dafi bubur itu seperti makanan bayi, lembek dan menjijik kan.
"Tapi kakak harus makan dan makanan kakak cuman ini yang di bolehin" kekeh Alin membujuk Dafi
"mending gue gak makan" balas Dafi dingin mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar
"idih, kayak bocah" cibir Gavin jengah
"bocah-bocah gitu sahabat kita" celetuk Saga terkekeh kecil
Alin mengehela nafas panjang lalu menoleh kebelakang, dimana ketiga teman Dafi sedang duduk di sofa panjang memperhatikan nya. Gavin memberi isyarat untuk terus membujuk Dafi agar makan karena sedari dia masuk rumah sakit dia belum makan apapun.
Dengan segala keberanian dan rencana matang Alin memutuskan untuk pindah posisi ke sebrang ranjang Dafi agar bisa berhadapan dengan Dafi yang terus saja mengalihkan pandangan nya sejak tadi
Dafi hanya menatap dingin Alin yang sudah berdiri di hadapannya
"sekarang makan kak" ucap Alin menyodorkan sendok berisi bubur itu
"gue bilan--mpphh" Alin langsung memasukkan sesendok bubur itu saat Dafi membuka mulutnya, Dafi ingin marah saat bubur itu pertama kali masuk ke mulut nya tapi dia malah mengunyahnya perlahan karena ternyata rasanya tidak seburuk yang dia bayangkan.
"Enak kan" ujar Alin tersenyum geli dengan ekspresi Dafi yang barusaja menelan makanan yang menurutnya buruk itu, Dafi langsung melengos merasa malu.
Ketiga teman Dafi terkekeh melihat kejadian itu, mereka mengapresiasikan usaha Alin yang mampu membuat Dafi memakan sampai habis makanan yang paling lelaki itu benci sejak dulu.