"ALIN !! ALIN !!" teriakan seseorang menghentikan aktifitas belajar Alin, belum sempat dia membuka pintu kamar, pintu itu sudah terbuka lebih dulu di susul masuk nya Aryana dengan wajah murka, entahlah ada apalagi setelah ini.
"Aku minta uang lagi 10juta" kata Aryana enteng, berbeda dengan Alin menurut gadis itu uang sepuluh juta terlalu banyak dan Alin tidak punya uang sebanyak itu. Alin memberanikan diri mendekati Aryana
"aku nggak punya uang sebanyak itu tan, memang nya untuk apa uang sepuluh juta ?"
"apa hak mu bertanya ! " bentak Aryana "mau ku apakan uang itu juga urusan ku, tugas kamu adalah mencarikan uang nya bukan banyak tanya !" imbuh Yana sengit
suara lantang Aryana membuat Alin memejamkan mata sejenak karena telinga nya berdengung
"maaf tan, tapi aku memang tidak punya uang sebanyak itu" jawab Alin memandang takut wajah Yana yang kini semakin murka
secepat kilat Yana mencengkram erat dagu Alin membuat gadis itu mengaduh kesakitan
"aakhh !" pekik Alin
"aku tidak mau tau, besok harus ada saya uang 10 juta. Kalau tidak kamu bisa lihat sendiri apa yang bisa aku perbuat kepada mama angkat tersayang mu itu" ancam Yana menatap tajam Alin yang kini sudah menangis
"sssshhh " desis nya pelan "jangan sakitin mama tan aku mohon" pinta Alin meringis
"maka nya siap kan uang itu besok !" Yana menghempaskan dagu Alin kasar
"besok tante kesini lagi dan tante harap kamu tidak mengecewakan tante" Yana memperingati lalu melenggang pergi begitu saja
meninggalkan Alin yang luruh ke lantai menangis tersedu-sedu. Dapat dari mana uang sebanyak itu ? gaji di cafe perbulan saja tidak sampai 2juta , belum lagi biaya obat Raisa yang lumayan mahal kadang Alin ingin mengadu kepada mama nya kalau dia lelah, tapi itu hanya akan membuat Raisa semakin bersalah.
"Kenapa harus kayak gini ,,hiks hiks" suara isakan Alin tertimbun karena dia membekap mulut nya tidak ingin Raisa sampai mendengar.
Dia takut Aryana akan benar-benar berbuat nekat kepada Raisa karena Alin tahu tantenya itu sudah kehilangan rasa kemanusiaan, bahkan sudah tidak layak disebut manusia lagi. Menyiksa nya tanpa belas kasih tanpa tahu apa yang membuat Yana sangat membenci nya selama ini, Alin begitu menyayangi Yana, rasa sayang Alin sama rata untuk Raisa maupun Yana tapi sepertinya Yana tidak pernah menyayangi Alin sama sekali.
Alin selama ini cukup pintar menyembunyikan luka di sekitar punggung dan tangannya akibat ulah Yana agar Raisa tidak khawatir padanya, dia tidak ingin membuat kondisi ibunya semakin memburuk, dia akan melakukan apa saja asal Raisa baik-baik saja dan tidak pernah telat untuk minum obat karena hanya Raisa yang Alin miliki di dunia ini.
"Aku harus cari kemana uang itu" gumam Alin menghapus kasar air mata nya.
******
Home Queena
20:00
Alin berjalan menuju apotek terdekat, obat Raisa tinggal malam ini saja dan dia harus membelinya malam ini juga untuk stok besok.
"Mba beli obat, ini resep nya" kata Alin mengulurkan selembar resep dari dokter kepada petugas apotek
"iya mba, tunggu sebentar ya"
Alin mengangguk, setelah mendapatkan obat dia memutuskan untuk mampir sebentar ke mini market, dia ingin membeli ice cream vanilla favorit nya.
Saat akan mengambil satu ice cream telapak tangan nya tertindih telapak tangan besar dan berotot sudah bisa di tebak jika itu telapak lelaki, Alin tersentak kemudian segera melepas tangan nya dari bawah tindihan tangan kekar itu lalu dia mendongak melihat siapa pemilik tangan itu.
Dafi, lelaki yang di tatap Alin hanya melirik sekilas dan melanjutkan mengambil ice cream vanilla yang sempat jadi rebutan tadi, Dafi pun berlalu ke kasir begitu saja tanpa mengatakan apapun. Alin menghela nafas ringan melihat tingkah Dafi yang seakan tidak mengenalnya. Mungkin Alin terlalu percaya diri dengan pertolongan Dafi waktu itu, dia sangat berharap bisa berteman baik dengan Dafi tapi ternyata salah, setelah kejadian itu Dafi tetaplah Dafi, si es yang tidak pernah bersuara tapi sekali bersuara kata-kata nya tidak ada yang lembut, tajam semua.
"Se kaku itu mulutnya" gumam Alin tak habis fikir.
Setelah membayar belanjaan nya, Alin memakan ice tersebut sambil berjalan pulang, angin yang lumayan kencang di tambah dingin nya ice cream tersebut tidak menjadi masalah jika dia akan masuk angin nantinya, dia hanya ingin menenangkan fikiran saja. Dan hanya jajanan dingin ini obat nya.
"Haii maniss" Alin terperanjat kaget ketika dua preman tiba-tiba menghadang jalan nya.
Alin reflek mundur beberapa langkah, wajah mereka seram di tambah bekas luka panjang di salah satu wajah mereka semakin membuat Alin ketakutan
"ka-kalian mau apa !" tanya Alin panik, kakinya terasa gemetar melihat seringaian menjijikkan dari wajah mereka berdua
"jangan gugup manis, mau abang temani pulang ?" goda salah satu dari mereka mencoba meraih dagu Alin tapi dengan sigap Alin menjauh agar tangan kotor mereka tidak menyentuh nya.
Ketakutan Alin semakin bertambah ketika dia sadar jika area sekitar sangat gelap dan sepi, bahkan orang lewat saja tidak ada, dia merutuki dirinya sendiri yang memilih jalan ini karena menurutnya lebih dekat dengan rumah dan berujung sial.
"Tolong !!!" teriak Alin sekencang kencang nya, dua preman itu sedikit panik kemudian salah satu dari mereka mencekal tangan kanan Alin, kresek obat di tangan kanan itu terlepas hingga berceceran ke aspal.
"Lepasinn aku, lepasin !!!" berontak Alin menarik-narik tangan nya sekuat tenaga, cekalan itu mengencang membuat Alin kesulitan melarikan diri.
"Hahahah, teriak saja sepuasmu sayang karena ini daerah kekuasaan kami" ucap preman yang tidak memegang Alin sembari mencolek dagu Alin
"kita bersenang senang dulu sayang sebentar saja" ucap preman yang berwajah codet
"enggakk, lepaskan aku !!!" tolak Alin menggeleng kuat "tolong ,, tolong !!"
"pegang dia dengan kuat !"
"tidak, lepaskan aku hikss,, lepaskan hikss ,,," Alin berusaha keras lepas dari cengkraman preman berwajah codet itu, tatapan mereka seperti ingin menelanjangi Alin saat itu juga.
ya tuhann selamatkan aku
doa Alin memejamkan mata ketika salah satu dari mereka mencondongkan badan hendak mencium Alin
BUGH !
BUGH !!
BUGH BUGH BUGH !!
sebelum bibir kotor itu menyentuh pipi Alin tubuh nya terpental jauh menghantak aspal akibat serangan seseorang, Alin membuka matanya dan dia syok melihat adegan baku hantam yang sedang terjadi
"sialan !" umpat preman berwajah codet yang memegang kedua tangan Alin, dia melepaskan Alin lalu membantu teman nya
Alin mundur sambil membekap mulutnya, dua orang tadi sudah tergeletak di aspal dengan wajah babak belur serta darah yang mengalir dari hidung dan mulut mereka, pandangan Alin beralih kepada lelaki yang sedang memungut kresek obat yang terjatuh tadi. Lelaki itu kemudian berjalan ke arah nya
"te-terimakasih" ucap Alin mengambil kresek obat yang lelaki itu ulurkan
"ada yang luka?" tanya lelaki itu dengan suara bariton nya, Alin menggeleng pelan.
"Rumah lo dimana ?" tanya lelaki itu lagi
"masih satu kompleks lagi dari sini" jawab Alin pelan
"yaudah gue anterin"
"nggak usah kak, aku udah banyak ngerepotin kakak" tolak Alin sungkan
"dari tadi juga udah ngerepotin, kalau lo pulang sendiri lagi trus di cegat lagi sama yang lain malah ngerepotin gue lagi" balas lelaki itu dingin kemudian dia berjalan lebih dulu melewati Alin.
Alin masih diam memperhatikan lelaki itu yang sudah berbalik menghadap Alin lagi
"masih mau disini ?" tanya nya dingin
Alin menggeleng cepat kemudian menyusul lelaki dingin itu, kaki kecil Alin berusaha menyamai langkah besar nya
"terimakasih ya kak Dafi" ucap Alin memecah keheningan, dia mendongak melihat Dafi dari samping
"hmmm" jawab Dafi bergumam tanpa menoleh
Alin menghela nafas ringan dan kembali menunduk, keheningan pun terjadi kembali sampai mereka sudah sampai di depan rumah Alin
"mau ma--" belum sempat Alin meneruskan ucapan nya Dafi sudah berbalik pergi begitu saja, lelaki itu memakai kupluk hoodienya dan memasukkan kedua tangan di saku celana berjalan menjauh hingga hilang di pertigaan.
bibir Alin mengerucut kesal
" hmmm sabar sabar" kata Alin pada dirinya sendiri, dia harus memaklumi jika sifat Dafi memang seperti itu. Alin pun segera masuk ke rumah nya.
*******
Gdr HighSchool
Tidur Alin semalam sangat tidak nyenyak dia berfikir keras bagaimana cara mendapatkan uang sepuluh juta untuk Aryana. Pagi tadi dia sudah berusaha meminjam uang kepada bos di cafe tempat dia bekerja namun tidak ada hasil. Jika siksaan saja yang akan dia terima nanti tidak menjadi masalah bagi Alin tapi yang Alin takut kan kalau Aryana sampai melukai Raisa, mama nya.
Renata terus menatap raut wajah resah teman nya itu, Alin terlihat banyak fikiran dan tidak seceria biasanya.
"Lo kenapa Lin, ada yang gangguin lo lagi ?" tanya Rena membuat Alin menoleh padanya
waktu Alin di bully dan dibawa kerumah sakit Renata tidak tahu, karena setelah dia sampai di kantin waktu itu dia mendapat telfon kalau kakeknya meninggal jadi Renata memutuskan untuk pulang dan tidak masuk sekolah selama beberapa hari, dia tidak tahu kondisi Alin karena disana Rena jarang memegang ponsel.
"nggak ada kok Ren" jawab Alin tersenyum paksa
"beneran ?" tanya Renata memastikan
Alin mengangguk pelan meyakinkan teman nya itu, tiba-tiba mereka berdua di buat bingung saat suasana kelas menjadi riuh terutama para siswi yang langsung berdiri dan berlari ke samping jendela kaca untuk melihat keluar, Alin dan Renata yang penasaran pun ikut berdiri.
Ternyata diluar kelas mereka ada ke empat cowok most wanted sekolah yang sedang berjalan menuju kelas mereka
"ngapain mereka kesini ?" tanya Renata penasaran bercampur senang
Alin mendengar ucapan Renata tapi dia memilih diam karena Alin juga tidak tahu harus menjawab apa, dia terus memperhatikan ke empat pria itu yang tinggal selangkah lagi memasuki kelas
"ya ampunn mereka kesini"
"mimpi apa aku semalem bisa lihat mereka sedeket ini"
"Dafi diem aja ganteng banget"
"Kak Gavin ganteng bangeet"
"semoga aja nyamperin aku, hahah"
"terbuat dari apasih mereka kok gak ada cacatnya sama sekali"
"e,eh kok malah ngedeketin cewek baru itu sih !!"
"iyaa sok kecentilan banget'
"pantes aja si Clara murka, lah emang tuh cewek ganjen banget ngedektin ke empat-empat nya"
"dasar maruk !!"
"iya maruk banget, kayak jalang !"
seperti itulah pekikkan serta gunjingan yang mereka tujukan kepada Alin dan Renata yang mana kedua nya sudah menunduk malu, mereka juga tidak tahu kenapa ke empat pria itu berjalan ke arah nya dan sekarang berdiri di sebrang meja Alin dan Renata, Alin enggan melihat mereka, dia takut kalau ada yang akan membullynya lagi mengingat hampir seluruh siswi menghinanya saat ke empat lelaki itu datang.
"KALIAN BISA DIEM GAK !!!" bentak Gavin murka, seketika kelas menjadi hening hanya aja lirikan sinis yang mereka berikan
"berisik banget !" desis Saga kesal
Gavin melihat Alin yang masih menunduk, dia juga melihat tubuh gadis itu sedikit tersentak mendengar bentakan nya tadi
"kok nunduk aja sih ?" tanya Gavin lembut, semua siswi yang mendengar itu menganga tak percaya.
Gavin anak pemilik sekolah yang terkenal cool, cuek dan tegas melembut seketika hanya karena kepada siswi baru ???
"Lin !" tegur Renata menyenggol lengan Alin pelan, Renata berharap Alin mau mendongak
Alin tetap menunduk, dia menggeleng pelan
"nggak suka gue kesini? padahal mau traktir ice cream" goda Gavin jahil membuat Alin mendongak menatap nya binar matanya, ice cream ? hanya dua kata ice Alin bisa sebahagia itu.
Gavin terkekeh melihat reaksi menggemaskan dari Alin, dia mengusak kecil pucuk kepala gadis kecil itu
"jangan di usap, nanti ada yang jambak lagi" sindir Saga menatap jengah para siswi di sekitar mereka
"gue patahin tangan nya !" balas Gavin sengit, dia melempar tatapan memperingati kepada siswi-siswi itu. Melihat ekspresi Gavin mereka pun menunduk takut, sepertinya mereka harus mengubur ke irian nya terhadap Alin saat ini.
"Dedek cantik ke kantin bareng yuk" ajak Putra menyembulkan kepala dari punggung Gavin dengan cengiran khas nya
"a-aku ?" tanya Alin polos menunjuk dirinya sendiri
"yaiyalah, kan cuman kamu yang cantik disini" goda Putra langsung dapat senggolan sikut dari Saga
"apa sih Ga !" protes Putra melotot kearah temannya itu
"sifat play lo itu jangan di cobain ke Alin, dia masih polos !" balas Saga memperingati
"iya, kalau sampek lo mainin Alin gue cabut kepala lo !" ancam Gavin dingin
"iya iya, nggak bakalan gue mainin, dia masih anak kecil juga !" protes Putra kesal
"siapa yang kecil !!" sembur Alin menatap sengit Putra, membuat ke empat lelaki itu menatap nya cengo.
Putra cengengesan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ternyata seram juga kalau si kecil itu melotot
"hei jangan melotot gitu nanti mata lo sakit" tegur Gavin pelan
"lah temen kakak ngatain aku !" balas Alin tidak terima
"heheh, maaf Lin, gue cuman bercanda" Putra menaik kan jari tengah dan telunjuk nya bersamaan.
bibir Alin memberengut kesal.
Dimana Renata ? dia sedang menatap kagum Dafi yang hanya diam saja di belakang ketiga teman nya, tapi lelaki itu malah terlihat semakin tampan.
"udah nggak usah dengerin si Putra, mending sekarang kita ke kantin" kata Gavin meraih tangan Alin "ayo !" ajak Gavin membawa gadis itu keluar
" kak !" Alin menghentikan langkahnya, dia ragu ikut bersama mereka karena Alin tidak mau mendapat masalah lagi dengan para fans geng itu.
Gavin mengerti raut wajah takut Alin, dia menghela nafas panjang kemudian menatap dingin semua siswi di dalam kelas Alin
"Gue peringatin sama kalian semua, kalau sampek gue denger ada yang ngebully atau nyakitin Alin, urusan kalian langsung sama gue !" kata Gavin lantang tak terbantahkan.
Alin sedikit mendongak menatap Gavin yang memang lebih tinggi darinya, senyum tipis muncul di wajah cantik gadis itu.
Ternyata masih ada yang peduli sama aku dan mau melindungiku.