Keluarga

2093 Kata
Kabar Crystalin di bawa kerumah sakit dan dijaga oleh most wanted sekolah Gdr school membuat semua siswi iri kepadanya dan menambah daftar haters Alin, pasalnya geng most wanted itu baru pertama kali ini terlihat sangat akrab dengan seorang gadis, mereka ber empat mempunyai banyak teman bahkan sering menjadi sasaran para ayah dari gadis-gadis konglomerat untuk menjodohkan putri mereka dengan salah satu ke empat most wanted sekolah itu, namun di tolak mentah-mentah oleh mereka bertiga. Putra baru empat bulan jomblo sedangkan Saga masih pendekatan tapi belum ingin mengesahkan hubungannya, kalau Gavin dia masih setia dengan gaya sok cool dan percaya dirinya menolak para wanita yang hendak mendekat. Sedangkan Dafi, siapa yang mau dengan si es itu ?? Gavin sendiri sampai rela menjaga Alin karena dia sudah menyelidiki kehidupan Alin. Ternyata gadis itu hidup berdua dengan ibu nya saja, bekerja paruh waktu untuk biaya obat ibu yang sakit-sakitan serta memberi uang kepada wanita jahat yang Gavin ketahui tante Alin sendiri. Gavin hanya merasa kasihan kepada gadis itu, dia selama hidup tidak pernah menerima kesulitan apapun. Dari kecil hingga dewasa hidup nya jauh di atas bahagia dan berkecukupan, lahir di tengah keluarga kaya raya dan terpandang membuat keseharian Gavin selalu mewah. Saat ini Gavin hanya ingin membantu Alin, karena kisah pilu hidup gadis kecil itu berhasil mengetuk hati kecil Gavin untuk menjaga nya. Satu minggu semenjak kejadian pembullyan Alin, Clara dan kedua teman nya dikeluarkan dari sekolah. Pihak orang tua Clara sempat tidak terima dan akan menuntut Alin karena mereka menuduh Alin memberi kesaksian palsu saat di introgasi polisi padahal Alin hanya menceritakan apa yang dia alami tanpa di menambahi apapun. Gavin dengan sigap melindungi Alin serta membantu untuk melawan tuntutan balik orang tua Clara. Dan sekarang Alin sudah bisa menghirup udara lega karena tidak ada Clara yang akan membully nya lagi, tapi sebagai ganti nya dia harus menulikan telinga ketika gosip demi gosip menyeruak panas di sekolah, mengatai Alin yang tidak-hidak hingga menuduh gadis itu memakai guna-guna karena bisa mendekati most wanted sekolah mereka. ****** ADM Corp 08:30 Seorang lelaki berperawakan tinggi tegap, bermata tajam dengan wajah tampan serta garis rahang yang tegas namun tidak ada seutas senyum pun dari wajah dewanya itu. Dia berjalan dengan gagahnya menuju ruang kerja tanpa menjawab sapaan dari seluruh karyawan yang sedikit membungkuk hormat, tidak usah sakit hati karena bos mereka memang seperti itu. Setelah duduk nyaman di kursi mahal itu dia kemudian mengecek beberapa email yang masuk dan berkas berkas yang akan dia tanda tangani, menyeleksi dengan ketat perusahaan mana yang pantas bekerja sama dengan perusahaannya. Perusahaan ADM corp, perusahaan properti terbesar asia saat ini yang di pegang langsung oleh putra pertama keluarga Godard. Kedua alis tebal nya menyatu, kerutan di dahi lelaki itu pun perlahan terlihat ketika dia menemukan kejanggalan dari satu lembar kertas yang dibaca nya, dia segera menelfon sekretaris untuk menyuruh direktur keuangan datang setelah beberapa menit menunggu akhirnya seorang lelaki berusia sekitar 38tahun berdiri gugup sambil memikirkan kesalahan apa yang sudah ia perbuat, melihat wajah suram bos di depan nya itu sudah bisa di pastikan jika ada yang keliru. "Kau tau apa kesalahan mu !" bentak nya tegas "ma-maaf pak, saya rasa tidak ada yang keliru" jawab pegawai itu tergagap si bos itu melempar selembar kertas tepat mengenaik wajah pegawai tersebut "Lihat !!" bentaknya garang, si pegawai bernama Rudi itu langsung memungut kertas tadi dan melihatnya teliti "bisa bisa nya kau salah menulis angka. Kau tau, satu tambahan angka nol berdampak besar bagi perusahaan kita !" bentak si boss dengan sangat murka "Maafkan saya pak, saya akan merevisi ulang keuangan bulan lalu" balas Rudi menunduk takut, dia memang salah dan mengakui itu, satu nol tambahan saja dalam suatu perusahaan bisa berdampak besar entah itu kerugian atau keuntungan dengan cara curang. "Kemana otak mu itu, kenapa kamu bisa seceroboh ini !" Rudi hanya menunduk tidak berani menatap mata gelap boss yang sedang marah besar itu, bisa-bisa mata nya tertusuk. "Keluar !" usir si boss kasar kemudian dengan tergesa-gesa Rudi segera keluar membawa kertas yang akan dia revusi.  Jika saja Rudi bukan orang yang ikut dengannya dari dia merintis usaha sejak nol mungkin kini sudah dia lempar keluar gedung setelah pintu tertutup si boss menghembukan nafas berat sembari memutar kursinya menghadap jendela besar yang kini menyuguhkan pemandangan mata hari orange sore hari di tengah lamunan dia di kejutkan suara notifikasi pesan, dia mengambil benda pipih berlogo apel tersebut lalu membaca pesan dari,, From: Mami pulanglah lebih awal hari ini sayang, Dirga sedang berlibur dan kita akan makan bersama From :Me To :Mami iya mi, Adam pulang hari ini dia meletak kan ponsel nya kembali ke atas meja dan melanjutkan acara melamun dengan fikiran melayang ke sebuah kenangan pahit. Kenangan yang tidak akan pernah hilang dari otak nya sekalipun meski bertahun-tahun berlalu. I miss u. ******** Mansion Nicholson 18:00 Suasana meja makan keluarga Nicholson terasa lengkap dengan hadir nya putra kedua mereka, Dirga yang menyempatkan waktu luang di sela sibuk kuliah untuk pulang ke Indonesia dan makan bersama dengan keluarga besar nya. "Bagaimana keadaan Alin, Gav ?" tanya Rose di sela sela makan nya Gavin yang sedang mengunyah makanan segera menelannya cepat "dia sudah lebih baik mi, dan Gavin yakin nggak bakalan ada yang gangguin dia lagi" jawab Gavin dengan sumringah Dirga yang mendengarkan nama asing tersebut menatap mami dan adik nya penuh selidik "jangan bilang yang kalian bicarakan adalah pacar dari si gangsing ini" celetuk Dirga mengundang tatapan sengit dari Gavin, apa katanya tadi ? gangsing ? sialan. "memangnya kenapa, kamu merasa terhina karena adikmu ini lebih dulu punya pacar?" jawab Gavin menyombongkan diri "Cihh, masih tampanan juga aku kemana mana" balas Dirga tak mau kalah "memang wanita  buta mana yang mau dengan adikku yang dongok ini" lanjut Dirga tanpa menyaring ucapan nya Gavin mendengus sebal "se enak jidat saja kalau ngomong, tanyakan saja sama mami bagaimana si Alin itu. Dia tidak buta dodol" balas Gavin tidak terima dengan kata-kata Dirga, memang nya Gavin sejelek itu sampai hanya orang buta saja yang mau menerima nya sebagai kekasih. Oh tidak, keturunan Godard tidak ada minus sedikitpun, kecuali otak mereka, gesrek. Dirga menatap Rose, tatapan nya menuntut meminta penjelasan. Rose tersenyum geli mendapat kode permohonan dari Gavin agar membantu nya "dia sangat cantik, dan menggemaskan ,apalagi kalau sedang tersenyum dia--" "mirip mami, manis sekali" sela Gavin cepat Rose mengangguk setuju membenarkan ucapan Gavin, setelah itu perlahan wajahnya berubah menjadi sendu. Adam yang sedari tadi diam melihat jelas perubahan raut wajah Rose akhirnya angkat bicara "sudahlah lanjutkan saja makan kalian" perintah Adam tegas yang langsung di turuti kedua adiknya, sedangkan dia sendiri terus melirik Rose yang kini tersenyum masam. Nichol menggenggam erat tangan Rose di bawah meja, memberi usapan lembut di punggung tangan Rose, dia juga tau perubahan raut wajah istri tercinta nya itu. Rose menatap suaminya itu dari samping, dia tidak boleh terlarut lagi dalam masalalu apalagi di depan anak tertua mereka . ******* Makan malam sudah selesai, saat ini Gavin dan Dirga duduk berdua di taman belakang bermain gitar, ralat hanya Dirga yang  bermain gitar sedangkan adiknya itu asik bermain game online di sebelahnya Dirga melirik Gavin yang terlihat sangat asyik bermain game online. Kepulangan nya itu karena dia rindu bercengkrama dengan keluarga nya bukan untuk menjadi penonton orang bermain game seperti ini. Sudah dua jam mereka disini tapi tidak ada pembicaraan sama sekali, Dirga yang terlampau jengkel merebut ponsel Gavin kemudian melemparnya ke kolam ikan emas di samping tempat duduk mereka  *anggep aja malem hari* "ehh bangs-" Gavin melenan u*****n kesal karena mendapat pelototan dari Dirga "iiisshhh,,, kok dibuang sih handphone gue Dir" kesal Gavin meralat pembicaraanya namun tidak ada sebutan kakak untuk Dirga. Gavin beranjak mengambil ponsel nya yang kini sudah mati dan basah kuyup itu sambil terus menggerutu sebal. "Panggil aku kakak !" perintah Dirga dengan santainya "gue udah mau menang barusan. Ya tuhaaaan, mampus kan ponsel gue" rengek Gavin menatap prihatin nasib nya yang tidak bisa di hidup kan kembali. Dirga tersenyum menang, dia kembali memetik gitar seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Membiarkan Gavin mengomel seperti emak-emak kompleks. "untung lo kakak gue" gumam Gavin yang masih di dengar Dirga "kalau bukan ?" tanya Dirga "gue bunuh lo !" desis Gavin tajam, dia terus mencoba menghidupkan kembali handphone nya tapi tetap tidak bisa. Dirga hanya terkekeh pelan kemudian melanjutkan kembali aktifitas nya, Gavin yang sudah kehabisan stok sabar segera merampas gitar kesayangan Dirga kemudian dia jauh kan dari jangkauan sang empu "karena kak Dirga udah buang ponsel ku, sekarang giliran aku yang buang gitar ini" ancam Gavin menatap tajam Dirga, Dirga memutar bola mata nya jengah. "Kembalikan Gav" pinta Dirga menahan diri agar tidak membuang adiknya itu "gak mau, kakak harus ganti ponsel ku dengan yang baru dan harus keluaran terbaru setelah itu aku balikin gitar butut ini" tolak Gavin mencoba bernegoisasi "iya aku ganti, jangan kayak orang susah, sekarang mana gitar nya ?" Dirga mengulurkan tangannya Gavin tersenyum remeh, dia tidak akan mudah tertipu begitu saja oleh Dirga yang memang selalu jahil itu. Tanpa aba-aba Gavin berlari cepat membawa gitar kesayangan Dirga ke kamar dan mengunci pintu nya sebelum Dirga menyusul. "GANGSIIIINGGG !!!!" teriak Dirga menggelegar di sambut cekikikan kecil dari dalam kamar Gavin. Gavin yakin Dirga akan membelikan ponsel baru demi gitar butut pemberian almarhum kakek mereka ini, meskipun butut gitar kuno ini sangat antik sehingga Dirga sangat menyayanginya. ****** Adam duduk termenung di kursi single yang disediakan di area balkon kamarnya, dia memegang selembar foto mengelusnya sambil terys memandang sendu wajah di foto itu "kenapa kamu pergi?" tanya nya kepada selembar foto tersebut,  menganggap jika di dalam foto itu bisa mendengar. "Aku masih menunggu disini, cepat kembali" lirihnya parau, dia mencium lembaran foto itu dengan sayang seakan dia mencium wujud aslinya. Adam terperanjat ketika suara ketukan pintu terdengar, diasegera  mengantongi kembali foto itu setelah mendengar suara mami nya dari luar "sayang udah tidur ?" tanya Rose , Adam merubah raut wajah sendu menjadi santai, menyembunyikan semua rasa sedih dibalik wajah santai tersebut. Kemudian Adam beranjak membuka pintu yang langsung di sambut senyum manis wanita paling dia sayang "mami kira kamu sudah tidur" kata Rose menatap sumringah anak sulungnya itu "aku nggak bisa, mau temenin Adam?" ajak Adam dengan lembut Rose mengangguk, dia masuk ke kamar Adam yang di d******i warna abu-abu tua dan putih. Kamar itu terkesan maskulin dan simple karena hanya ada beberapa benda seperti kursi hitam tempat dia bekerja santai, televisi, ac, satu lukisan dari pelukis ternama dan terakhir bingkai foto keluarga. Di sudut ruangan ada dua pintu menuju kamar mandi dan walk in closet, tempat semua pakaian mahal Adam.  "Kenapa pintu balkon dibuka sayang, nanti kamu masuk angin" tegur Rose lalu menutup pintu tersebut, Adam hanya tersenyum simpul melihat mami nya sangat perhatian dalam hal sekecil apapun. setelah menutup pintu balkon Rose duduk bersama Adam di bibir ranjang. "Ada yang lagi di fikirkan ?" tanya Rose lembut melihat raut wajah lesu Adam "hanya kelelahan saja mi" jawab Adam menggeleng kecil "bagaimana pekerjaan kamu ? masalah dengan Adista corp udah selesai ?" "mami tau sendiri jawabannya, aku tidak pernah gagal menyelesaikan masalah" jawab Adam dengan sedikit angkuh, Rose mencibir kesombongan putra nya itu. "Iya mami tau, anak mami yang satu ini pasti bisa mengurus semua masalah" Adam tersenyum tipis kemudian dia menaruh kepalanya di pangkuan Rose "temenin Adam sampai  tidur ya mi, Adam capek" pinta Adam mulai memejamkan mata, pangkuan serta elusan lembut Rose selalu menjadi obat tidur terbaik baginya. "Iya sayang" jawab Rose lembut sambil mengelus pelan rambut Adam ketiga anak Rose semuanya manja jika sudah berada di samping Rose, tapi untuk yang tertua ini sudah jarang karena semakin sibuk bekerja. Mungkin diluar sana ketiga anaknya sangat di segani apalagi Adam yang terkenal kejam, tegas, dan selalu mendominasi dalam berbisnis tapi bagi Rose sifat Adam di luar sana hanya wacana, karena Adam selalu lembut padanya. Untuk anak kedua nya yaitu Dirga, dia lebih terkenal hamble tapi tidak terlalu suka berbaur dengan lingkungan baru yang menurutnya tidak cocok, bahkan dia bisa lebih garang dari kakak tertuanya jika sudah kesal dan marah. sedangkan Gavin terkenal sok cool dan tebar pesona dengan senyuman manisnya itu, tapi ketika wanita sudah mendekat dia dengan tegas menolaknya, entahlah apa yang merasuki anak bungsu Rose yang sok ganteng itu hmmmmm tapi memang ganteng sih. "Rose !!" suara Nichol menggema kencang,Adam yang hendak terlelap pun gagal karena terkejut suara jelek dady nya sendiri, dia kembali duduk dan mendengus kesal "Ohh jadi disini kamu" kata Nichol cengengesan setelah masuk tanpa izin ke kamar Adam, dia berjalan mendekat ke arah Rose Rose terdengar menghela nafas panjang "aku hanya rindu dengan putraku, kenapa ?" tanya Rose jengah "sayang, setidaknya kamu pamit dulu biar aku tidak khawatir"  jawab Nichol mencium kening Rose Adam menggeram tertahan melihat adegan mesra di depannya, Nichol yang melihat ekspresi anak tertuanya malah semakin menjadi bermesraan dengan Rose "sebaik nya dady sama mami keluar saja, aku mengantuk" usir Adam kesal kemudian berbaring memunggungi kedua orang tuanya Rose memukul d**a Nichol dengan keras karena sudah mengganggu waktu bersama Adam dan mood anaknya itu, tapi bukan nya meminta maaf Nichol malah terkekeh senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN