Gisa menatap dua tumpukan tanah di hadapannya dengan tatapan sayu. Ia meletakkan satu buket bunga di setiap tumpukan tanah itu. Air matanya tak dapat dibendung sejak ia memasuki area pemakaman. Rasa sesak menghantui setiap langkahnya. "Ayah sama bunda yang tenang ya di alam sana." ujar Gisa menangisi kepergian orangtuanya. Gisa tak tahu harus berkata apa lagi. Lidahnya sangat kelu untuk mengeluarkan banyak kata. Rasanya sangat sakit mengingat orangtuanya telah tiada. Meninggalkan ia sendiri dalam keadaan sangat rapuh. "Maaf bun, maaf yah. Gisa nggak tahu mau bilang apalagi. Gisa ke sini juga mau pamit sama ayah, bunda. Gisa akan pergi untuk beberapa tahun. Gisa nggak bisa menjaga pemakaman kalian tetap bersih. Tapi Bunda sama Ayah tenang aja. Masih ada kakak kok yang selalu jaga bunda da

