Bagian 4 – Rahasia Hati
❀✿•♥•✿❀
Pov’s Anita...
Aku terdiam lama di kamarku memandangi bingkai foto pernikahanku dengan Mas Raka. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda pada diri mas Raka, sejak aku kecelakaan dia menjadi lebih perhatian kepadaku, walaupun kadang aku tidak mempedulikan perhatiannya. Dia mengatakan dia mencintaiku, tapi aku sudah tidak merasakan cinta itu lagi. Dia bilang ingin bersamaku selalu, tapi aku sudah tidak ingin bersamanya. Hatiku sudah bukan lagi untuknya. Cinta yang pernah ku punya untuknya sirna begitu saja ketika dia sering menyakiti hatiku.
Benny, pria itu menghilang tanpa memberi kabar kepadaku, aku sangat merindukannya. Salahkah aku jika merindukan pria lain yang bukan suamiku? Mungkin memang salah jika aku merindukan Benny dengan statusku yang sudah menikah. Tetapi aku benar-benar merindukannya, hatiku terasa hampa tanpa kehadirannya. Dimana kamu sekarang, Ben?
Tiba-tiba suara pintu diketuk, aku menoleh kearah pintu. Ku lihat Mas Raka masuk ke dalam kamar kami dan berjalan menghampiriku dengan senyumannya.
"Kamu belum tidur?" tanyanya tersenyum, aku hanya mengangguk pelan, “sudah malam, lebih baik kita tidur." Ucapnya kembali sambil menghusap tanganku.
Aku memandanginya sehingga sepasang mata kami bertemu, tidak lama Mas Raka mendekatkan wajahnya kepadaku, "Tolong ceraikan aku mas..." kataku ketika bibir Mas Raka semakin dekat dengan bibirku.
Kemudian Mas Raka memalingkan wajahnya dariku, "sudah berapa kali aku bilang padamu Anita aku tidak ingin menceraikan kamu! aku tidak akan pernah menceraikan kamu!" serunya mendesis marah.
"Tapi mas, aku sekarang lumpuh. Kamu bisa menceraikankku dengan alasan aku lumpuh." Kataku menatapnya gusar.
"Anita, kamu tidak bisa paksa aku untuk menceraikanmu. Apapun kondisi kamu, aku terima kamu apa adanya, aku tidak ingin kehilangan kamu lagi Anita. Aku mohon jangan memintaku untuk menceraikan kamu kembali. Cukup satu kali aku kehilanganmu Anita…" Pintanya memohon dengan tubuh bergetar dan menggengam erat tanganku.
Aku hanya menatapnya sendu, untuk pertama kalinya aku melihat Mas Raka menangis di hadapanku. Mas Raka yang ku kenal saat ini dia sangat berbeda, dia bukan Mas Raka yang aku kenal dulu. Bukankah dia membenciku? Lalu kenapa sikapnya sekarang seperti ini kepadaku. Disaat semua perasaanku hilang untuknya, dia mencoba kembali memasuki hatiku.
"Anita aku mohon jangan minta aku kembali untuk menceraikan kamu, aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Aku mohon Anita..." pintanya kembali dengan wajah tertunduk, bibirnya terus mencium pucuk tanganku berkali-kali.
Tuhan aku tidak tahu apa yang harus ku katakan padanya, apa aku harus mempertahankan rumah tangga ini sedangkan hatiku sudah tidak mencintainya? Jika aku terus mempertahankanya, aku semakin membohongi dirinya jika saat ini aku mencintai Benny bukan dirinya.
Aku kembali memandangi Mas Raka yang sedang menatapku dengan mata memerah, aku tidak tega melihatnya seperti ini. Mas Raka terlihat rapuh, apa yang membuat hatinya berubah? Kenapa pria itu mencintaiku? Pertanyaan itu memutar di benakku.
“Ku mohon Anita, tetaplah bersamaku…” pintanya memohon.
Dengan hembusan napas berat, aku mengangguk setuju dengan permintaanya. Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Walaupun aku sudah tidak mencintainya, tapi dia adalah suamiku dan aku telah menyerahkan seluruh hidupku untuknya sejak dia menikahi aku.
Tidak lama senyum Mas Raka mengembang, "Terima kasih Anita..." ucapnya bahagia mencium pucuk tanganku lembut.
Aku hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun, lalu pikiranku melayang jauh memikirkan Benny.
❀✿•♥•✿❀
Di tempat lain...
Sejak sore tadi Khansa selalu memandangi foto keluarganya, senyumanya mengembang dalam tangisnya melihat gambar foto itu. Di gambar itu ada dirinya, kedua orangtuanya dan adiknya yang tersenyum lebar. Dia masih mengingat jelas foto ini di ambil ketika mereka berlibur ke Bali beberapa bulan yang lalu. Di gambar foto itu mereka terlihat bahagia seakan tidak ada masalah yang menghampiri mereka.
Gadis itu sangat merindukan keluarganya, terutama kepada Papa dan adiknya yang telah meninggalkanya untuk selamanya. Sejak kehilangan papa dan adiknya membuat hidupnya sangat kesepian.
"Pa, Aku sangat merindukan Papa..." ucapnya lirih sambil mencium foto itu. "Pa, Mama sudah menikah lagi dengan kakak Papa, Om Raka. Mama pergi dari rumah kita bersama Om Raka..." ucapnya terisak.
Khansa masih belum mengerti kenapa Raka, pria yang di anggap pamannya menikahi ibunya. Kenapa pamannya itu harus menikahi ibunya? Sedangkan ibunya saat ini melupakan sebagian ingatannya. Hatinya terasa sakit ketika melihat pamannya menikahi ibunya. Khansa tidak ingin kehilangan kasih sayang ibunya, jika pamannya merebut ibunya dari sisinya. Cukup baginya dia kehilangan papa dan adiknya. Tapi tidak dengan ibunya, hanya ibunya yang dia miliki saat ini.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka membuat Khansa menoleh dan menyeka airmatanya. Dilihatnya neneknya berjalan menghampirinya dengan wajah penuh kemarahan.
"Orangtuamu sudah kembali, pergi dari sini." usirnya membuat Khansa tidak mengerti. "Temui orangtuamu dan cepat pergi dari sini. Aku sudah muak melihatmu." Lanjutnya dengan penuh penekanan.
"Aku tidak mengerti maksud nenek...." Kata Khansa mengerutkan keningnya.
Neneknya langsung membuka lemari Khansa dan menurunkan sebuah koper besar dari atas lemari, lalu dia memasukan semua pakaian milik Khansa ke dalam koper itu. Khansa yang melihat itu berusaha mencegahnya. Namun, neneknya mendorong tubuh mungil Khansa dengan kasar.
"Kamu tahu, aku sangat begitu tersiksa melihatmu selama ini, bahkan aku ingin melenyapkanmu dari kehidupan anakku!" Ujarnya membuat Khansa menangis mendengarnya, "Kamu juga yang telah membuat cucu dan menantuku meninggal. Sekarang anakku lumpuh, itu semua gara-gara kamu!" hardiknya yang tidak peduli dengan tangisan Khansa.
"Nek aku minta maaf nek..." Ucap Khansa dengan suara parau sambil memohon.
"Apa maafmu bisa mengubah semua ini hah?!" tanya Neneknya, “gara-gara kamu aku kehilangan cucu ku yang sangat aku sayang!!” hardiknya penuh amarah, "sekarang kamu pergi dari sini! Taxi sudah menunggumu di depan dan akan mengantarkanmu kerumah orangtuamu!" serunya menarik koper besar sambil menarik tangan Khansa dengan kasar.
"Nek aku mohon Nek, jangan usir aku dari sini..." Pinta Khansa memohon sambil berusaha melepaskan cengkaraman tangan neneknya. Dia terus memohon kepada neneknya, tetapi neneknya tidak memperdulikannya. Neneknya terus menarik tangannya keluar dari rumahnya.
Sungguh Khansa sangat bingung, jika dia pergi dari rumah neneknya dia harus tinggal dimana lagi? sedangkan nenek dari papanya sudah mengusirnya dari rumah papanya sendiri, sejak papanya meninggal. Khansa yang sudah tidak punya arah tujuan tempat tinggal datang kerumah nenek dari ibunya, dia tidak ada pilihan lain.
"Masuk ke dalam cepat!" perintah neneknya ketika berada di depan mobil Taxi. Khansa hanya menangis dan masuk ke dalam mobil menuruti semua perintah neneknya. "Pak antar anak ini ke alamat yang saya berikan tadi." Ucapnya kepada supir taxi, supir taxi hanya mengangguk. Neneknya menatap Khansa dengan pandangan sinis, "Dengar jangan panggil aku nenek, karena aku bukan nenekmu!" desisnya sambil menutup pintu mobil kencang.
Khansa yang mendengar itu semua langsung menangis keras, kedua tanganya mengepal keras. Gadis itu sama sekali tidak mengerti apa yang membuat kedua neneknya sangat membencinya dari dia kecil. Bahkan kedua neneknya tidak segan memarahi dan memukulnya, padahal dia tidak mempunyai kesalahan apapun.
Kedua orangtuanya yang terus membelanya jika dia mendapatkan perlakuan kasar dari neneknya. Tapi tetap saja kedua neneknya membencinya, bukan hanya neneknya yang membencinya saudara yang lain pun membencinya. Tetapi terhadap Deva adiknya kedua neneknya sangat menyayanginya dengan penuh kasih sayang. Kadang ada rasa iri di hatinya ketika melihat Deva adiknya di sayang dan di cintai oleh semua orang, dia ingin juga merasakan semua itu. Pernah terlintas dibenak Khansa, bahwa dia bukan anak dari ibu dan papanya. Tapi disingkirkan pikiran itu ketika dia melihat wajahnya hampir mirip dengan papanya dan juga Deva.
Khansa menyeka airmatanya untuk kesekian kalinya dan menatapi jalan yang gelap. Di pikirannya banyak seribu pertanyaan, mengantarnya kemana supir taxi ini? Orangtua siapa yang dimaksud oleh neneknya? Sungguh dia sangat bingung sekarang.
Tidak lama kemudian, supir taxi memberhentikan mobilnya tepat di sebuah rumah, entah rumah siapa.
"Neng, sudah sampai..." ucap supir taxi membuat Khansa menoleh keluar jendela.
Dibukanya jendela mobil itu, matanya terus memandangi sebuah rumah yang besar dengan pandangan bingung. Khansa mengerutkan keningnya dan terus bertanya dalam hati rumah siapa ini?
"Ayo neng bapak bantu..." kata supir taxi itu membuka pintu mobilnya.
"Terima kasih pak, saya bisa sendiri..." cegah Khansa, lalu dia turun dari taxi sambil menurunkan koper besar miliknya.
Tidak lama mobil taxi itu pergi meninggalkan Khansa seorang diri. Khansa terdiam lama di depan rumah ini, apa supir taxi itu benar-benar mengantarkannya ke alamat yang diminta oleh neneknya? Khansa benar-benar bingung, rumah siapa ini sebenarnya?
Akhirnya Khansa memutuskan mencoba menekan bel gerbang rumah ini. Jam sudah menunjukan pukul delapan malam dan udara malam mulai terasa dingin. Khansa memeluk dirinya sendiri, dia sangat kedinginan. Tangisnya kembali terdengar, melihat kondisinya seperti sekarang membuat Khansa bersedih. Sejak kehilangan papa dan adiknya untuk selamanya dia merasa sendiri, belum lagi ibunya melupakannya. Situasi seperti ini membuat hati Khansa sangat bersedih, dia masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan pahit ini.
Jemari Khansa terus menekan bel pintu rumah itu, hampir lima menit tidak ada jawaban dari rumah itu. Khansa tertunduk sedih memandangi sepasang sepatu baletnya berwarna pink, dia baru menyadari bahwa dia belum membuka sepatu baletnya sejak sore tadi. Sepatu balet itu pemberian dari ibunya, Khansa sangat merindukan ibunya. Ingin sekali rasanya dia bertemu dengan ibunya dan memeluk ibunya. Tetapi ibunya kini bersama pamannya, pamannya telah mengambil ibunya dari sisinya.
"Khansa?" seru seseorang ketika pintu gerbang terbuka.
"Om Raka?" pekik Khansa terkejut saat melihat Raka dihadapannya. Dia tidak percaya rumah ini adalah rumah Raka.
"Kamu kok bisa disini?" tanya Raka tidak percaya, "Kamu kenapa?" tanyanya kembali ketika menyadari Khansa membawa koper besar dengan mata sembab.
"Aku di usir oleh nenek om..." jawab Khansa lirih dengan wajah tertunduk.
Hati Raka langsung mencelos ketika mendengar ucapan Khansa, dia tidak percaya ibu Anita mengusir anaknya. Tega sekali ibu Anita kepada anaknya. Raka mengetahui anaknya tinggal bersama ibu Anita ketika dia tidak sengaja mengikuti aktifitas Khansa siang tadi. Raka merasa lega ketika tahu anaknya tinggal bersama ibu Anita, sejujurnya dia ingin sekali mengajak Khansa tinggal bersamanya. Namun, diurungkan niatnya itu, dia tidak ingin Khansa mengetahui semua rahasia itu. Raka tidak ingin menyakiti hati anaknya.
"Ayo masuk Nak," kata Raka sambil menarik koper Khansa dan merangkul bahu Khansa, lalu dia mengajak Khansa masuk ke dalam rumahnya setelah menutup pintu gerbang rumahnya.
Sepasang mata almond milik Khansa memandangi rumah milik Raka, rumah milik pamannya ini sangat besar. Ketika Raka membuka pintu rumahnya, wangi bunga Lavender menusuk hidungnya. Wangi rumah ini mengingatkannya kepada ibunya, ibunya sangat menyukai bunga Lavender. Dia jadi semakin merindukan ibunya. Tidak lama napas Khansa berhembus kencang, dia masih bingung kenapa neneknya mengirimnya kerumah pamannya?
Raka terus merangkul bahu anaknya dengan senyum bahagia, kemudian dia membawa Khansa ke ruang makan. Lalu dia mempersilahkan Khansa duduk di meja makan.
Khansa hanya tersenyum ketika pandangannya bertemu dengan Raka, kemudian Raka berjalan menuju dapur. Sepertinya pamannya itu ingin membuatkan sesuatu untuknya.
"Kamu sudah makan?" tanya Raka sambil membuka lemari pendingin. Khansa hanya menggeleng pelan ketika Raka menatapnya sesaat, "Om buatkan spageti yah?" tanyanya, Khansa hanya mengangguk dengan senyuman kikuk.
Khansa memegangi perutnya, dia baru sadar dari kemarin siang dia belum makan apapun. Pantas saja perutnya terasa lapar sekarang.
"Mas siapa yang datang? Apa Benny yang datang?" tanya Anita tiba-tiba, dia baru saja keluar dari kamarnya dengan kursi rodanya.
Raka hanya menghembuskan napas mendengar Anita menyebut nama Benny. Sejak Anita pulang ke rumah, wanita itu selalu menanyakan Benny. Dan hati Raka sangat sakit mendengar Anita selalu memanggil nama Benny.
Khansa langsung berdiri ketika mendengar suara ibunya, senyumnya mengembang penuh kesedihan saat melihat ibunya. Lalu sepasang mata mereka bertemu, Khansa memandangi ibunya dengan penuh kerinduan. Sedangkan Anita menatap Khansa dengan kening berkerut heran.
"Kamu anak yang dirumah sakit itu kan?" tanya Anita kepada Khansa, Khansa mengangguk dan menghampiri Anita. Raka yang melihat itu langsung menghentikan aktifitasnya, "kenapa kamu bisa berada disini?" tanyanya ketika Khansa berada dihadapanya.
Sebelum menjawab Khansa menoleh kilas Raka, Raka memberikan kode pelan agar Khansa tidak mengatakan apapun kepada Anita. Khansa hanya mengangguk mengerti.
"Maaf Tante, aku kesini karena mama dan papaku pergi ke luar Negeri dan mereka meminta om Raka untuk menjagaku beberapa waktu ke depan." Ucap Khansa berbohong membuat Anita menoleh kearah Raka meminta jawaban darinya.
"Iya Anita, Anak ini bernama Khansa. Aku diminta menjaga dia karena orangtuanya sedang pergi tugas ke luar Negeri. Khansa ini sekolah di Jakarta dan dia tidak mau pindah sekolah. Tidak apa-apa kan?" tanya Raka.
Anita tersenyum, "Tidak apa-apa..." ucapnya membuat Khansa dan Raka bernapas lega. "Anggap saja kami seperti orang tuamu..." lanjut Anita menatap lembut Khansa.
Tiba-tiba Khansa langsung memeluk Anita membuat Anita terkejut dengan mata melebar. Khansa memeluk erat Anita, dia sangat merindukan Anita. "Terima kasih tante..." ucapnya lirih.
Anita kembali tersenyum dan membalas pelukan Khansa. Pelukan Anita terasa begitu hangat, Khansa memejamkan kedua matanya untuk menyembunyikan airmatanya yang akan menetes sebentar lagi. Sudah sangat lama dia tidak dipeluk oleh ibunya, dia sangat merindukan ibunya.
Raka yang melihat pemandangan menyesakan itu hanya terdiam tanpa bisa mengatakan apapun. Dia tidak tega melihat Khansa yang menderita karenanya. Ini semua karena kesalahannya, sehingga Khansa harus menerima semua penderitaan ini.
❀✿•♥•✿❀