Jefri sudah sampai di rumah sakit untuk mencocokkan DNA dirinya dan Leon. Ia melihat dari kaca ibu Anggun tertidur di sofa dan Leon bermain bersama suster Sarah. Niatnya untuk masuk ke dalam ia urungkan karena takut membuat Bu Anggun bertanya-tanya. Ia kembali melangkah meninggalkan ruang inap.
Pria berjas itu langsung beranjak ke ruang di mana dirinya akan melakukan tes DNA. Di sana seorang perempuan sudah menunggunya untuk melakukan tes itu.
“Saya sudah mendapatkan darah anak itu, tidak banyak, tapi setidaknya bisa untuk mencocokkan dengan Anda,” ujar wanita dengan baju putih itu.
“Baik, terima kasih.”
“Kebetulan tadi suster mengambil darah Leon untuk kembali menjalankan tes.”
Jefri hanya mengangguk dan langsung mengikuti arahan untuk tes kali itu. Ia meringis saat darahnya diambil. Walau sedikit juga ia masih trauma jika melihat darah di mana saja. Sebelum pulang, Jefri kembali melihat kamar Leon. Anak itu terlihat sedang di tenangkan suster dan ibu Anggun.
“Ada apa dengan Leon?” tanya Jefri sembari masuk ke ruangan.
“Eh, Pak Jefri. Leon terus memanggil papanya,” ujar Bu Anggun.
“Leon, sama Om, yuk,” tutur Jefri sembari mengambil alih Leon.
Leon langsung minta di gendong, Bu Anggun gegas menghampiri untuk memegangi infus cucunya. Mungkin ada ikatan batin antara mereka, Leon tak lagi memanggil Agra—ayah sambungnya.
“Om, teman Mama aku?” tanya anak laki-laki itu.
“Iya, om teman Mama kamu, kenapa memang?” Jefri bertanya balik.
Leon tersenyum, lalu memeluk Jefri. Ia sangat senang dengan kehadiran pria itu. Namun, kebersamaan mereka harus terhenti karena Aina sudah menelepon mengingatkan jika ada pertemuan dengan pemegang saham dari Bali.
“Om mau pulang?”
“Iya, om ada pekerjaan. Nanti kita main lagi, kamu nggak marah, kan?” Jefri mencuil hidung anak laki-laki itu.
“Tidak marah, asal Om datang lagi. Om nggak bohong, kan? Jangan kaya Papa aku, Mama bilang dia bekerja. Tapi, aku tunggu nggak datang-datang.” Leon kembali murung saat ia bercerita tentang Agra.
Jefri mencium kening Leon. Perpisahan itu sungguh mengharukan bagi yang melihatnya. Bu Anggun dan Sarah menjadi ikut terharu saat Jefri berjanji akan datang lagi.
Bu Anggun mengantar Jefri sampai di depan ruangan. Wanita itu mengucapkan terima kasih telah membuat cucunya senang. Setiap berbicara dengan Bu Anggun, Jefri merasa tidak enak karena perbuatannya.
Ia tak menduga jika Agnia masih perawan saat itu. Ia hanya berpikir jika wanita itu sudah terbiasa bersama laki-laki.
“Bu, saya datang ke sini, apa suami Agnia tidak marah?” Jefri mencoba mencari tahu.
“Oh, itu. Nggak, kok. Tenang, saja, ayah Leon pasti bisa mengerti.” Bu Anggun mencoba menutupi semuanya.
Bu Anggun tidak bisa sembarangan bicara tentang keretakan rumah tangga Agnia. Walau hanya untuk simpati saja.
“Saya kembali ke kantor dulu,” pamit Jefri.
“Iya, Pak Jefri. Terima kasih.”
Jefri lalu pamit dan pergi dari ruangan Leon. Namun, di kepalanya masih terus terngiang tentang permasalahan Agnia. Ia pun ingin tahu sosok ayah Leon.
***
Gertakan di meja makan membuat semua yang berada di sana terkejut bukan main. Semua menjadi hening saat Jordi—ayah Jefri berteriak.
“Bagaimana bisa ada peraturan seperti itu? Kejayaan perusahaan Gemilang Emas memang seharusnya jatuh ke tangan Jefri. Siapa yang mengganti peraturan itu?” Suara Jordi kembali memekik keheningan.
“Memang seharusnya seperti itu. Tapi, Jefri sampai detik ini pun tidak memilik anak, bahkan ia belum menikah. Mas. Jadi, sudah seharusnya perusahaan jatuh ke tangan Yoga karena dia akan memiliki keturunan laki-laki yang akan menurunkan kekayaan.” Remon—adik Jordi mencoba berbicara lembut.
“Tidak bisa. Mau jadi seperti apa perusahaan kita jika Yoga yang memimpinnya?” Jordi marah besar mendengar penuturan sang adik.
Remon tak gentar, dia akan memperjuangkan hak Yoga –anaknya. Peraturan keluarga mereka adalah harus ada keturunan laki-laki yang akan mereka wariskan perusahaan. Sementara, Jefri, kandidat tunggal belum menikah apalagi memiliki anak.
Pria berdasi merah itu begitu yakin jika kakaknya kali ini akan kalah. Berulang kali keluarga mereka mencari akal untuk menjatuhkan Jefri, tapi tak pernah terjadi.
“Papa tenang,” ujar Fira—Ibu Jefri.
“Bagaimana papa bisa tenang?” Jordi kembali bicara.
Farha tidak suka dengan kehadiran adik dari ayahnya yang hanya membuat gaduh di rumahnya. Jordi memerintahkan untuk menelepon Jefri untuk segera pulang. Setidaknya membahas masalah kecurangan Remon.
“Jefri akan datang, tapi nanti setelah pertemuan dengan pengusaha dari Bali,” ucap Farha.
Ketegangan begitu terasa saat Remon memaksa untuk menandatangani sebuah berkas untuk pengeluaran uang perusahaan. Jordi menolak dengan keras, Farha pun berada di garda depan untuk membela sang ayah.
“Lebih baik kamu pulang Remon, semua akan tetap seperti semula. Anakku Jefri yang akan memimpin perusahaan, bukan anakmu,” ujar Fira penuh percaya diri.
“Jangan sombong, Mba.”
Remon akhirnya pergi dengan terpaksa. Pria itu tak dapat apa-apa hati itu, semua yang ia rencanakan gagal total.
“Anak itu, awas kalau pulang. Sudah berulang kali Papa katakan, menikah dan berikan Papa cucu laki-laki. Tapi, tetap saja kekeh menunggu model nggak jelas itu.”
“Pa, lagi pula jika Jefri menikah pun, masih lama mempunyai anak. Apalagi kita nggak tahu jenis kelaminnya itu apa. Papa tenang dulu, ya. Farha buatkan teh hangat, ya,” ucap Farha.
“Ya.”
Farha langsung ke dapur untuk membuat teh hangat. Wanita itu terduduk sembari mengingat kalimat Jefri.
“Aku akan tetap menikah dengan Bianca.”
Farha menggeleng mengingat hal itu. Ia kembali mengirimkan pesan pada Jefri agar cepat kembali. Suasana akan semakin panas jika Jefri tetap ingin menikahi Bianca. Farha memijit pelipisnya, ia mulai merasa pusing dengan permasalahan di rumah mereka.
***
“Ni, nanti kita akan kedatangan aktor yang akan menjadi brand ambasador di perusahaan kita. Tolong handel ya,” pinta Aina.
“Iya, Mbak,” ujar Agnia.
“Dia aktor yang sedang naik daun. Tolong sebisa mungkin handel untuk menekan pengeluaran.”
“Baik.”
Agnia mempelajari beberapa berkas yang harus ia kerjakan. Ia membaca sebuah file kontrak dengan aktor yang akan menjadi bintang iklan di perusahaan tempat ia bekerja. Netranya tak berkedip saat melihat nama Gio—adik iparnya ada di kontrak itu.
Kesempatan besar untuk berbicara dengan pria itu. Ia ingin Gio mengatakan hal yang terjadi, mengatakan bahwa dirinya dan dia tak pernah terjadi sesuatu.
“Ni, aktornya sudah datang. Tolong, ya,” pinta Aina.
“Oke.”
Agnia beranjak lalu melangkah ke ruangan meeting di mana Gio sudah berada di sana. Agnia berdiri di depan ruangan dan bersiap masuk. Benar dugaan Agnia jika Gio akan kaget saat melihat dia ada di perusahaan itu.
“Mbak Agnia, sedang apa di sini?” tanya Gio panik.
“Kamu lihat bagaimana, adik iparku?” Seulas senyum terpancar dari bibir Agnia.
Gio terdiam. Ada perasaan bersalah yang ia rasakan hingga membuat pernikahan Agnia dan Agra di ujung tanduk. Itu bukan kemauannya.
“Tenang saja, aku profesional. Aku nggak akan membahas tentang berengseknya kamu.”
Agnia mengambil berkas. Memberikan pada Gio untuk di bacanya. Sebenarnya ia sudah tak sabar untuk bertanya pada adik iparnya. Masalah tudingan yang membawa namanya juga dirinya.
Gio membaca perlahan, tapi hatinya malah tidak tenang karena Agnia terus saja menatap Dirinya. Pria itu membanting berkas di meja, ia tak kuat jika harus merasa bersalah.
“Mbak cukup, ya.”
“Cukup apa?” tanya Agni.
“Aku risi dengan tatapan Mbak.”
“Loh, bukannya kamu yang bilang kalau kita ada sesuatu. Kamu juga yang buat Mas Agra percaya sama kamu, bukan? Kenapa harus risi?” Agnia terus mencecarnya.
Gio memiliki cita-cita menjadi artis, tapi keluarganya tidak ada yang mendukung. Namun, ia mulai berani tampil di TV dan itu pun atas dukungan Agnia yang membuat ia percaya diri. Akan tetapi, permintaan sang ibu membuatnya tak bisa berkutik. Ancaman akan menghancurkan karirnya membuat Gio melakukan hal jahat pada Agnia.
“Aku bisa saja melakukan hal yang membuat kamu menyesal. Meminta untuk membatalkan kontrak, salah satunya.” Agnia sedikit mengancam.
Agnia sudah tidak peduli dengan Agra. Namun, ia hanya ingin nama baiknya dibersihkan. Jika setelah itu, ia akan mundur dengan ikhlas. Harga dirinya sudah diinjak dengan tudingan yang begitu keji.
“Mbak mengancam aku?”
“Aku nggak mengancam, ini kontrak besar. Kamu yakin nggak mau mempertahankannya?” Lagi, dengan lembut Agnia berbicara.
Gio seperti anak yang sedang dimarahi ibunya. Ia hanya diam memandang kontrak di kertas itu. Ia kembali teringat permintaan sang ibu.
“Ibu akan merestui kamu menjadi artis, asal kamu mau membantu ibu,” ujar Bu Sukma.
“Bantu apa, Bu?” tanyanya.
Sang ibu berbisik di telinga Gio. Ia terkesiap mendengar permintaan Bu Sukma.
“Bu, aku nggak sehajat itu. Mbak Agnia selama ini baik padaku, dia pun yang mendukung karirku. Aku nggak bisa, Bu merusak semuanya.”
“Terserah, kalau kamu tidak menurut, ibu pastikan karir kamu akan hancur.”
“Ibu jahat!” teriak Gio.
Agnia menjentikkan jemarinya di depan wajah Gio. Ia kembali mengingatkan tentang karir yang akan menjulang jika ia mau berkata jujur.
“Aku hanya ingin namaku bersih. Setelah itu, akan menerima gugatannya. Aku sudah tak mau bersama kakakmu karena penggunaannya padaku dan juga anakku. Terserah kamu, apa mau berkata jujur atau tidak,” ujar Agni.
Gio bergeming. Apa yang harus ia lakukan untuk membuat semuanya menjadi seperti semula. Karirnya atau sebuah kebenaran? Ia yakin jika ia mengaku, ibunya akan melakukan apa pun untuk menghancurkan karirnya.
***