Farha kembali menenangkan sang ayah yang murka saat Jefri datang. Pria tua dengan wajah berkerut itu tak segan melempar sang anak dengan gelas plastik yang ada di meja. Sementara, sang ibu pun ikut memisahkan mereka.
“Pa, Jefri bukan anak kecil lagi,” ucap Jefri.
“Bukan anak kecil tapi nggak nikah-nikah. Sudah Papa bilang, menikah dan beri aku cucu. Jangan berharap pada artis gadungan itu,” ujar Jordi.
“Pa, dia punya nama. Bianca namanya.” Jefri membela Bianca.
Jordi tahu sang anak hanya tinggal menunggu Bianca mengatakan iya. Namun, sampai detik yang ditentukan ia belum juga menikah. Jefri tidak mengerti sampai sang ayah marah besar seperti itu.
“Kamu tahu, jika kamu tidak memiliki keturunan laki-laki, harta dan kekayaan perusahaan akan jatuh ke tangan Yoga. Apa itu yang kamu mau?” Jordi menaikkan suaranya.
Jefri seperti anak kecil yang sedang diomeli ayahnya setelah pulang sekolah. Pak Jordi takut jika perusahaan yang dibangun oleh dirinya dan sang ayah terdahulu jatuh ke tangan Remon yang tak ada campur tangan. Kerajaan Gemilang begitu hebat saat ditangan kakak Jefri juga ayahnya.
“Kamu mau Papa coret dari daftar kartu keluarga?”
“Tenang saja, aku akan penuhi permintaan Papa. Untuk saat ini, tenangkan diri kalian, aku pun tidak akan membiarkan mereka merebut perusahaan dengan mudah.” Penuturan Jefri membuat Farha tenang, tapi kedua orang tuanya belum begitu tenang.
Jefri melangkah ke kamarnya, diikuti oleh Farha menyusulnya. Bak Chika yang ingin tahu, Farha kembali bicara pada Jefri.
“Jeff, dengar kakak. Jangan berjanji pada mereka, kamu pikir memiliki anak seperti mengadon donat?”
Ucapan Farha membuat Jefri tertawa. Kali ini pria dengan paras tampan itu merasa terhibur dengan ucapan sang kakak.
“Kak, kakak pikir aku anak kecil. Nggak usahlah mengajari aku cara mengadon. Adonanku sudah top cer.”
Farha gemas dengan ucapan Jefri. Berbicara dengan adik laki-lakinya itu membuat ia darah tinggi. Ia bingung mengapa orang humoris seperti Jefri bisa menjadi bos dingin dan galak di kantornya.
“Ka, aku sudah bilang jangan cemas. Apa yang kalian minta akan aku kabulkan,” ujar Jefri sembari membanting tubuh di ranjang.
“Terserah kamu, Jeff.”
Farha pergi meninggalkan kamar Jefri. Sejak dulu sang adik memang tak pernah bermain-main dengan ucapannya. Namun, kali ini Farha merasa curiga. Mengapa Jefri percaya diri sekali?
Tidak mungkin dia memiliki anak laki-laki secepat itu? Walau dia menikah dengan Bianca pun, belum bisa secepat yang di minta orang.
“Leon, Bagaimana jika anak itu benar-benar anak kandungku? Apa yang harus aku lakukan? Menikahi Agnia atau—“ Jefri tidak melanjutkan ucapannya karena dia sangat sulit membayangkannya.
Jefri mengacak-acak rambutnya. “Bagaimana dengan Bianca?”
Mengingat Bianca, Jefri kembali merasa wanita itu tidak adil pada dirinya. Ia berhenti bermain perempuan demi Bianca. Tetapi, dirinya harus dipaksa mengerti tentang impiannya.
Sebuah panggilan telepon membuat Jefri bergegas ke ruang kerja. Dua anak buahnya yang tadi datang memberitahu tentang Agnia.
“Masuk saja,” ucap Jefri.
“Bos, ada info tentang Agnia. Status pernikahan wanita itu diujung tanduk. Agnia di talak suaminya karena tuduhan perselingkuhan Agnia dengan adik iparnya.”
Jefri mengernyit dahi mendengar kata perselingkuhan. Rasanya tidak percaya jika Agnia bisa melakukannya. Bagaimana orang selembut dia bisa mencari pria lain.
“Ada lagi tidak infonya?” tanya Jefri
“Tidak ada, Pak.”
Jefri memerintahkan orang suruhannya pergi dan dia kembali mengambil jas untuk kembali pergi ke kantor.
“Mau ke mana, Jef?” tanya Farha.
“Balik ke kantor.”
Tanpa menunggu lama Jefri pun beranjak kembali.
****
Gio menatap Agnia dengan bimbang. Kali ini dihadapkan dengan situasi sulit. Antara kebaikan dan keburukan. Namun, di lain sisi pun ia butuh job pekerjaan dari kantor Agnia untuk menunjang karirnya agar lebih maju.
Agnia masih menunggu dengan cemas. Ia hanya berharap gertakannya pada Gio berhasil, ia juga tidak bisa mengambil keputusan membatalkan kontrak Gio. Ia hanya bermain-main agar pria berusia 25 tahun itu mengakui kesalahannya.
“Baik, Mbak. Aku akan mengaku.”
Agnia bersiap dengan ponselnya untuk merekam, tentunya tanpa sepengetahuan Gio. Pria dengan rambut klimis itu memulia bercerita dari A sampai Z. Agnia mencengkeram ujung baju saat mendengar semuanya. Rasa kesal itu menjalar ke seluruh tubuh.
Ternyata ibu mertuanya selain licik, dia juga jahat. Rela melakukan hal keji demi menyingkirkannya. Agnia tidak bisa menerima semua itu, rasa sakitnya kian memuncak saat mendengar Bu Sukma tak mau jika harta kekayaan jatuh ke tangan Leon.
“Begitu Mbak ceritanya. Aku juga nggak mau buat seperti itu, tapi mau bagaimana lagi?” Gio pasrah dengan keadaan yang membuat ia tak bisa memilih.
“Terima kasih, Gio. Lalu, Agra saat bertemu kamu bagaimana?” tanya Agnia.
“Dia mengamuk, aku habis di buatnya. Butuh beberapa hari menyembuhkan luka lebamnya. Mbak tahu sendiri, wajah aku menunjang pekerjaanku.”
“Ya, sudah. Tanda tangan saja, sejak dulu aku selalu mendukung kamu dalam berkarier, semoga perusahaan ini bisa membuat kamu semakin terkenal,” ucap Agnia.
Gio menuruti semua ucapan Agnia. Memang sejak dahulu mereka dekat sebagai kakak dan adik. Hal itulah yang membuat Bu Sukma mencari kesempatan untuk membuat skenario memisahkan dirinya dan Agra.
“Kalau Mbak mau, aku bisa bicara dengan Mas Agra,” ucap Gio lagi.
“Nggak usah, aku sudah siap menjanda. Lagi pula, aku sudah kecewa dengannya.”
Setelah selesai, Agnia kembali ke ruangannya. Namun, di koridor kantor ia bertemu Jefri yang baru saja datang dari rumah. Agnia menunduk saat Jefri melewatinya.
“Agnia, ke ruangan saya sekarang.” Jefri memerintahkan Agnia.
“Baik, Pak.”
Agnia mengikuti Jefri sampai ke ruangan. Bos dingin itu menatap intens wanita yang pernah membuat dirinya bersalah sepanjang waktu.
“Duduk, aku mau bicara tentang malam itu dengan jelas.”
Wajah Agnia memerah, ia kembali menalar ucapan Jefri.
“Aku hanya memastikan jika kamu tidak menjebak aku karena kekayaan,” ucap Jefri.
“Maksud Pak Jefri saya menjebak Pak Jefri selama ini?” Agnia menekan pembicaraannya.
“Entah.”
“Semua pria memang sama kurang ajar! Jadi, Selama ini Anda berpikir saya sengaja? Dengar, ya, Tuan Jefri yang terhormat, sapa yang saya alami itu sama sekali bukan kemauan saya dan di luar kendali.” Bibir Agnia bergetar saat berbicara. Suaranya lantang demi membela harga dirinya.
Agnia kembali mengingat saat hari kelulusan tiba. Dia bersama teman satu kelas mengadakan sebuah acara di sebuah hotel milik salah satu teman mereka. Malam itu semua begitu meriah, minuman keras di mana-mana. Agnia bersama sang kekasih pun turut hadir. Namun, ia tak tahu mengapa kepalanya terasa pusing dan tiba-tiba saat terbangun sudah berada di kamar bersama Jefri.
“Hay, kamu baik-baik saja?” tanya Jefri membuat lamunan Agnia tersadar.
Agnia tidak baik-baik saja ketika ia menjadi tertuduh kesengajaan tidur dengan Jefri.
“Pak, saya juga tidak mau hal itu. Anda tidak tahu, kan bagaimana traumanya saya saat itu apalagi masa terberat saat ayah saya meninggal dan ibu saya hampir membunuh saya karena—“
“Karena apa?”
Agnia menggantung ucapannya. Hampir saja ia mengatakan tentang kehamilan yang begitu sulit.
“Sekiranya jika bukan pekerjaan kantor, saya tidak mau membahasnya. Permisi.”
Agnia beranjak dari tempat duduk hendak ke luar ruangan. Namun, Jefri mencegah dengan menarik lengan Agnia dan membuatnya tersudut di dinding ruangan.
Jarak mereka begitu dekat hingga embusan napas Jefri terasa di wajah Agnia.
“Kenapa kamu tidak bilang masa sulit itu? Kenapa kamu tidak mencari saya?” tanya Jefri pelan.
Agnia hanya bisa menunduk karena takut dengan jarak mereka yang begitu dekat.
“Kenapa Agni!” teriak Jefri.
“Saya mencari Anda, tapi Anda tidak ada di sana! Orang rumah Anda mengatakan jika Jefri ke luar negeri menuntut ilmu!” Agnia pun tak kalah berteriak di hadapan Jefri.
Jefri menarik napas dalam, ia menatap bibir Agnia yang begitu menggoda. Kembali dirinya seperti terhipnotis dengan apa yang ada di tubuh wanita di hadapannya.
Agnia mendorong tubuh Jefri saat pria itu mencium bibirnya dengan paksa. Sambil menahan tangis, Agnia mengusap bibir yang telah di sentuh Jefri.
“Ma—maaf,” ucap Jefri.
Agnia tak bisa berkata-kata, ia gegas meninggalkan ruangan Jefri dengan penuh kebencian. Sepertinya hari itu juga ia ingin mengajukan pengunduran diri. Namun, ia kembali berpikir bagaimana dia menghidupi Leon jika ia tidak bekerja. Gaji di Jefri begitu besar dan cukup untuk menghidupi ibu dan anaknya.
Sementara, Jefri merutuk dirinya karena tidak bisa mengontrol diri saat berdekatan dengan Agnia. Entah, naluri prianya begitu bergejolak sejak ia terus menatap Agnia dengan intens.
Pria itu duduk dengan memijit pelipisnya. Ia menyesal kembali membuat Agnia marah, semua itu di luar kendalinya.
“Apa aku sudah gila? Bagaimana dengan Bianca jika aku melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan.” Jefri terus bergumam sendiri.
Ponselnya berdering, ia mengangkat panggilan dari Bianca.
“Sayang, kita bertemu, ya. Ada yang mau aku bicarakan. Penting,” ucap Bianca dari seberang telepon.
“Oke. Jam 5 sore aku ke apartemen, apa kamu ada di sana?” Jefri kembali berbicara.
“Iya, aku akan pulang ke apartemen. Aku tunggu, Sayang.”
Jefri menutup saluran teleponnya. Ia kembali membuka laptop dan mengecek beberapa email masuk sebelum ia pergi menemui Bianca. Seperti itu yang selalu di lakukan Jefri, melakukan tugasnya lebih dahulu, baru ia pergi menyelesaikan urusan pribadinya.
Jefri kembali terdiam memikirkan Leon. Jika benar anak laki-laki itu anaknya, perusahaan akan terselamatkan. Namun, bagaimana dia menjelaskan jika ia memiliki anak laki-laki yang sama sekali ia tidak tahu kapan anak itu lahir dan ada di dunia.
***