Sepuluh

1488 Kata
Jefri memarkirkan mobil setelah sampai di apartemen Bianca. Pria berjas hitam itu dengan mudah masuk ke dalam karena ia yang memberikan apartemen itu untuk sang kekasih. Jefri mengabarkan Bianca jika ia sudah tiba. Bianca menghampirinya Jefri, kebetulan juga ia baru saja datang. Tangannya satu menjinjing makanan dan tangan satunya lagi membawa belanjaan. “Belanja lagi?” tanya Jefri. Netranya tidak berpaling dari kedua belanjaan yang ada di tangan Bianca. “Iya, dong, Sayang. Kamu tahu, kan aku model. Jadi, harus banyak stok baju baru,” ungkap Bianca. Bianca termaksud orang yang begitu boros, banyak barang yang selalu ia beli dan jatuhnya jarang di pakai Jefri tak bertanya lagi, ia langsung masuk ke dalam. Ia menghempaskan tubuh di sofa, sedangkan Bianca mengambilkan minum untuknya. “Bi, aku mau bicara,” ucap Jefri. “Aku juga mau bicara sama kamu, Sayang. Kabar baik, pokoknya.” Jefri memainkan ponsel, ia melihat status Agnia. Foto Leon sedang tersenyum dengan capture ‘Aku sudah sehat.’ Jefri tersenyum melihat duplikat wajahnya, secara ikatan batin ia merasakan begitu dekat dengan anak laki-laki itu. “Jef, aku mau ke Amerika,” ucap Bianca dengan semringah. “Untuk apa kamu ke sana?” Jefri bertanya heran. Bianca tertawa tipis. Ia memeluk Jefri begitu erat untuk mengungkapkan kebahagiaannya. “Kamu tahu impianku menjadi model internasional. Dan, kali ini aku mendapatkan kesempatan menjadi brand ambasador salah satu produk yang cukup bonafid,” jelas Bianca. Jefri menarik napas, netranya terpejam sementara. “Papa meminta kita cepat menikah.” Bianca tercengang mendengar ucapan Jefri. Baru saja ia mengatakan mimpinya, tapi Jefri datang membawa kabar tentang pernikahan. Wanita berambut panjang itu melepas pelukannya. Ia mengubah posisi duduknya. “Yang, bukannya aku bilang akan ke Amerika? Kamu mendukung karier aku bukan?” Bianca kembali menegaskan. “Iya, aku mendukungmu. Setelah kamu selesai kontrak kita akan menikah.” “Tentu, Sayang. Setelah 3 tahun kontrak selesai, kita akan menikah. Aku janji,” ujar Bianca dengan senyum. Wajah Jefri berubah memerah. Ia tak menduga selama itu kontrak Bianca menjadi model. Ia pikir hanya untuk beberapa bulan saja, tapi ternyata cukup lama dan itu akan membuat murka kedua orang tuanya. “Bi, nggak selama itu. Aku nggak setuju jika terlalu lama. Aku mau secepatnya menikah karena kedua orang tuaku ingin segera memiliki cucu,” tutur Bianca. “Punya anak? Aku masih banyak punya kontrak pekerjaan yang mengharuskan aku tampil cantik. Apalagi tubuhku harus langsing, paling tidak kita menikah dan tunda saja dulu memiliki anaknya.” Bianca kembali membuat Jefri meradang. Jefri tidak mungkin menunggu selama itu. Apalagi Bianca tidak mau memiliki anak untuk beberapa waktu. Dan itu tidak mungkin terjadi jika dirinya dituntut untuk memiliki anak lebih cepat. “Bi, aku sudah bilang kalau kamu menikah denganku tidak akan kehabisan uang. Apa yang kamu butuh kan akan kupenuhi,” ucap Jefri. “Kamu tahu, kan itu mimpiku. Kamu tega menghancurkan semua?” “Kamu yang lebih tega menghancurkan impianku bersamamu. Apa kebersamaan kita tidak berarti bagimu selama ini?” Bianca terdiam. Ia tahu Jefri sedang memberikan pilihan untuk dirinya. Mimpinya atau kehidupan bersamanya. Beberapa saat mereka terdiam dalam hening. Keduanya seperti berpikir dengan ego masing-masing. Jefri yang tak tahan dengan penantian menginginkan percepat pernikahan. Namun, Bianca ingin mewujudkan mimpinya. “Jadi, kamu pilih aku atau kariermu?” Lagi, Jefri bertanya pada Bianca. Bianca mengusap wajah, ia memastikan untuk memilih mimpinya walau berat. Namun, ia pun bingung bagaimana dengan Jefri. Keduanya sama-sama egois kali ini. “Bi, aku butuh kepastian. Maukah kamu menikah denganku?” Bianca berulang kali berpikir. Benar kata Jefri jika menikah dengannya hidup akan terjamin. Akan tetapi, mimpinya akan sirna. Ia akan memiliki tubuh gempal setelah melahirkan dan tak bisa mewujudkan mimpinya. “Bi, jawab,” ucap Jefri. Bianca menghela napas sebelum ia menjawab. Ia ragu, ia takut, tapi harus menjawab. “Maafkan aku, Jef. Aku harus mengejar mimpiku. Kamu tahu, kan itu?” “Baik, aku paham. Aku paham, kebersamaan kita selama ini tidak ada artinya dari pada mimpi kamu!” Suara Jefri mulai meninggi. Ia begitu emosi dengan jawaban Bianca. Mimpinya bersama wanita itu harus kandas begitu saja. “Bi, jawab aku sekali lagi, menikah denganku.” “Maaf, aku tidak bisa.” Jefri tidak tahu harus bagaimana membujuknya. Ketika ia di tolak, pria itu seperti merasakan malu yang begitu dalam. Ia memperjuangkan wanita itu di depan keluarganya, tapi apa yang diberikan oleh Bianca. Kekecewaan dan sebuah luka. “Baik, aku pamit.” “Jef.” Bianca kembali memanggil Jefri yang sudah di ambang pintu. Namun, pria itu terlanjur patah hati. Bianca terus memanggil hingga punggung pria itu menghilang dari hadapannya. Ia tidak menyangka jika kabar baik itu akan membuat luka dan perpisahan bagi mereka. Tubuh Bianca luruh ke lantai dengan tangis kencang. *** Agnia sengaja datang ke rumah Agra untuk mengambil beberapa barang miliknya. Ia sudah menduga jika akan dihadang oleh Bu Sukma. Ibu mertuanya menatap sinis Agnia yang meminta izin untuk masuk dan mengambil beberapa barang dan pakaian. Bu Sukma memanggil Bi Rumini untuk mengambil beberapa barang Agnia tanpa memperbolehkan dia masuk. Agnia sudah terbiasa dengan perlakuan ibu mertuanya. Deru mobil terdengar memasuki halaman. Agnia hafal jika itu adalah mobil Agra yang datang. Netranya menatap tajam pria dan wanita yang turun dari mobil bersamaan. Agra terkesiap melihat kedatangan Agnia yang tiba-tiba. Pria itu menghampirinya sembari melihat sekeliling. Sama halnya dengan Hana—wanita yang datang bersamaan dengan Agra. Dia tidak suka melihat Agnia datang ke rumah pria yang ia suka. “Masih punya muka dia datang ke sini, Tante?” tanya Hana. “Ya, dia mana ada malunya, sih. Bi, buruan bawa yang dia minta,” perintah Bu Sukma. “Untuk apa aku malu datang ke rumah suamiku. Mas Agra masih suamiku, bukan? Perceraian kami belum ketuk palu. Harusnya kamu, Hana yang tidak punya malu karena mendekati suami orang, bukan begitu?” Agnia menahan perih di hati. Ia mencoba kuat untuk tidak lemah di hadapan mereka. Teringat apa yang dikatakan Gio. Untuk apa mempertahankan seseorang yang tidak pernah percaya dengan istrinya. “Agnia, aku dan Hana tidak ada hubungan apa pun. Tidak seperti kamu dan Gio,” ucap Agra. “Sekarang belum ada apa-apa, lihat saja nanti. Setelah talak pun kamu akan menikah dengan dia atas paksaan Mama kamu,” tuding Agnia. “Jaga Bu kamu!” Agra berteriak kencang. “Biarkan saja, Gra. Mama setuju saja kalau kamu menikah dengan Hana dan terlepas dari wanita seperti dia.” Bu Sukma menunjuk ke arah Agnia. Seulas senyum terpancar dari bibir Agnia. Dia tidak butuh berlama-lama di rumah calon mantan suaminya. Ia segera membawa beberapa barang dan koper lalu pergi dengan sedikit kelegaan. *** Sepulangnya Agnia, Hana dan Bu Sukma berbincang di ruang tamu sambil menunggu makan malam tersaji. Bu Sukma dengan senang hati menerima kedatangan sekretaris sang anak. Sejak lama memang Bu Sukma memang setuju dengan Hana, tapi Agra lebih memilih Agnia dari pada pilihannya. “Kamu nggak usah cemas, Hana. Agra pasti mau menikah sama kamu, dia nggak pernah menolak kemauan tante, buktinya dia percaya saja saat tante mengatakan jika dia berselingkuh dengan Gio.” Bu Sukma tersenyum saat ia kembali mengingat begitu bodohnya sang anak. “Nggak sia-sia, kan usaha kita. Duh, jadi mau beli in Tante tas keluaran terbaru.” “Wah, kapan? Bagaimana jika besok?” Bu Sukma begitu antusias mendengar perkataan Hana. Apalagi kalau soal belanja, ia begitu senang. Agra menuruni anak tangga untuk makan malam. Hana dan Bu Sukma menghentikan pembicaraan mereka saat melihat Agra muncul. Untung saja pembicaraan tentang Agnia sudah berakhir. “Kalian membahas apa?” tanya Agra. “Biasa pembicaraan wanita. Kamu nggak mengertilah,” ujar Bu Sukma. Agra langsung menuju ruang makan, di meja sudah tersaji makanan kesukaan dirinya. Ia bergeming, teringat kala masih ada Agnia di rumah itu. Di mejanya pasti sudah tersedia satu piring nasi beserta lauk pauk juga minuman kesukaannya. Namun, semua itu sudah lagi tidak bisa ia rasakan. Agra pun merasa kehilangan, akan tetapi ia terlalu percaya dengan ibunya. “Ga, nggak di makan?” tanya Bu Sukma. “Oh, iya, Bu.” Ia mulai menyendokkan makanan, lagi-lagi ia tak berselera makan. “Ga, hem, sepertinya kalau kamu menikah dengan Hana, ibu setuju,” tutur Bu Sukma. Agra menaruh sendok di piring. Tatapannya tajam menatap ke arah sang ibu juga Hana. Perceraian belum ketuk palu, tapi mereka malah memberikan ide gila. Agra marah, wajahnya memerah kala Hana tersenyum padanya. “Sebenarnya yang bermasalah aku atau Agnia? Kenapa jadi aku harus menikah dengan Hana? Apa Ibu nggak pikir, sidang pertama saja baru lusa berlangsung. Kenapa sudah memikirkan pernikahan keduaku?” “Eh, itu biar kamu ada yang mengurus. Ya, kalau belum mau, ya nggak apa-apa, ya kan Hana,” tambah Bu Sukma. Wajah Hana semakin nggak enak. Ia berharap Agra menyetujui, tapi malah sebaliknya. “Setelah perceraian, aku belum mau memikirkan pernikahan. Usahaku butuh banyak perhatian. Tolong Ibu jangan macam-macam.” Agra sudah menegaskan jika dia tidak mau menikah dulu. Kedua wanita di depannya menjadi kikuk. Namun, bukan Bu Sukma jika tidak memiliki banyak ide jahat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN