Sesampainya di rumah, Agnia langsung menempelkan fever colling untuk Leon. Sebelumnya sang ibu mengatakan jika Leon sudah di beri obat.
Bu Anggun menyiapkan bubur untuk Leon. Sementara itu, Agnia masih duduk sembari menatap sang anak. Ia hampir saja tak kuasa saat melihat Jefri. Wajah keduanya sangat mirip, bagai pinang dibelah dua. Lamunannya membawa Agnia kembali mengingat kala itu.
Agnia terkesiap saat merasa tubuhnya berat karena pelukan seseorang di belakangnya. Ia kembali tercengang saat melihat tubuhnya hanya tertutup kain selimut putih. Sementara, pria di belakangnya hanya mengenakan celana boxer.
Jantungnya berpacu dengan cepat, ia gegas melepaskan tangan kekar Jefri yang melingkar di tubuhnya. Napasnya naik turun saat merasakan nyeri di bagian bawahnya.
Jefri membuka mata, ia melihat Agnia yang sudah berlinang air mata. Agnia meraba lantai, lalu memungut baju yang berserakan dan memakainya cepat. Jefri yang masih merasa pusing hanya bisa bergeming melihat Agnia yang semakin terisak.
Agnia perlahan mencoba bangkit, lidahnya kelu untuk berbicara. Ia bingung dengan apa yang sedang ia alami. Kepalanya pun masih terasa sakit.
“Ke—kenapa aku bisa ada di sini?” tanya Agnia pada Jefri.
“Kamu lupa, kamu yang agresif malam tadi. Kamu datang ke kamar ini dan kamu dan saya—“
“Cukup!”
Agnia kembali mengingat kejadian malam sebelum ia berada di kamar Jefri. Ia yang tak pernah meminum alkohol harus merasakan minuman itu karena paksaan beberapa teman satu sekolah. Namun, ia mengingat jika ia bersama kekasihnya.
“Saya yang menyelamatkan kamu dari pacar kamu yang kurang ajar. Dia bersama beberapa teman pria yang lain mau menggilir kamu.”
“Bohong! Bagas nggak seperti itu, kamu bilang mau menyelamatkan saya, tapi apa yang kamu perbuat pada saya, hah?” Agnia berteriak frustrasi.
“Kamu yang memaksa saya, kamu juga membuat adrenalin saya bangkit. Kamu yang mulai semua,” ucap Jefri sembari menyalakan rokok.
Kepulan asap menyembul di kamar itu. Agnia benar-benar hancur, ia tidak tahu harus bagaimana.
“Kamu—“
Jefri mulai memakai bajunya lengkap. Lalu ia mengeluarkan beberapa uang dan kartu nama.
“Ini ongkos untuk kamu pulang dan simpan kartu nama saya jika terjadi sesuatu sama kamu. Temui saya, saya akan bertanggungjawab.”
“Saya bukan wanita tidak baik!”
“Saya tahu, tapi semalam kamu sulit dikendalikan.”
Jefri menatap layar ponselnya, setelah itu gegas meninggalkan Agnia yang masih bergeming di tempatnya.
“Ni, ini bubur sudah siap, tolong kamu suapi Leon jika nanti dia bangun.”
Agnia terkesiap, seketika ia sadar dari lamunannya. Gegas ia mengambil mangkok yang berisi bubur itu dan menaruhnya di meja. Leon masih tertidur efek obat yang Bu Anggun berikan.
Agnia mencoba mengetik pesan untuk Agra, tapi ia kembali menghapusnya. Bagaimana pun, sebelum talak terjadi, Agra adalah salah satu orang yang begitu peduli pada Leon.
Agnia : Leon sakit, bisa kamu jenguk dia? Leon pasti senang jika Papanya datang
Pesan sudah terkirim dan terlihat Agra pun sudah membacanya. Namun, tidak ada balasan dari pria itu. Agnia kembali menyandarkan tubuh di sofa, hidupnya kali ini sangat berat.
***
Agra masih terus memandangi pesan masuk dari Agnia. Ia menahan agar tidak datang ke sana. Padahal ia sangat mencemaskan Leon yang sedang sakit. Agra sangat menyayangi anak laki-laki Agnia.
Setiap pulang kerja, Leon selalu menyambutnya dengan semringah. Papa, biasanya anak itu lantang berteriak lalu memeluknya. Begitu sempurna hidup mereka kala belum ada badan yang menghantam.
“Kamu sudah pulang?” tanya Bu Sukma.
“Iya,” jawab Agra tanpa menoleh.
“Kamu lihat apa, Ga?” Bu Sukma ingin tahu apa yang sedang di lakukan Agnia.
“Agnia mengirim pesan, Leon sakit.” Agra mengambil teko dan menuangkannya di gelas. Ia meneguk air putih itu lalu menaruhnya kembali.
Bu Sukma tidak suka mendengar nama Agnia dan Leon di sebut. Ia mengalihkan pembicaraan agar Agra tidak datang menemuinya.
“Ibu sudah bicara sama Gio. Memang Agnia yang memulai,” ujar Bu Sukma berbohong.
Kembali tangan Agra mengepal keras. Bu Sukma begitu terkesiap saat tembok itu terhantam kepalan tangan Agra. Darah segar mengalir di jemari pria itu hingga Bu Sukma merasa lemas.
Semakin emosi Agra kembali membanting pintu kamarnya. Sementara, Bu Sukma tersenyum puas dengan apa yang ia lakukan. Membuat Agra semakin membenci Agnia, jika hal itu terus terjadi maka apa yang diinginkannya akan terwujud.
Agra menatap ranjang di mana biasanya kala pulang kerja ia menatap Agnia yang sedang tertidur. Perusahaannya semakin meningkat hingga ia harus sering pulang malam. Namun, kali ini ia merasa hampa.
“Kenapa kamu tega sama aku, Ni. Selama ini aku selalu berusaha menjadi suami yang baik.” Agra bergumam sendiri.
Apa yang ia lihat sudah cukup bukti, apalagi foto yang menunjukkan jika memang benar Agnia dan Gio ada sesuatu. Ia pun sering melihat keduanya saling melempar senyum saat sarapan pagi. Atau saat Gio mengajak membeli jajan untuk Leon.
Bagaimana bisa ia lupa saat ia berjuang untuk Agnia. Namun, hatinya remuk mendengar kenyataan itu.
Agra merogoh kembali ponselnya. Sebuah pesan baru dari Agnia membuatnya sedikit panik.
Agnia : Mas, demam Leon semakin tinggi. Tolong turunkan egomu, datang dan temui dia. Dia terus mengigau memanggil namamu.
Ia langsung mematikan ponsel agar tidak membuat hatinya gundah. Ia melemparnya ke ranjang dan beralih masuk ke kamar mandi.
***
“Demam anak saya bagaimana, Dok?” tanya Agnia.
“Sepertinya harus cek lab lebih dahulu agar kita bisa mengetahui sebab demam Leon.” Dokter menjelaskan dengan pelan.
“Baik Dok.”
Agnia mengikuti prosedur Dokter, ia membawa Leon untuk cek laboratorium. Anak laki-laki itu tak henti menangis dan memanggil sang ayah. Agnia dan ibunya merasa kasihan. Berulang kali Agnia mencoba menghubungi Agra dan tak bisa tersambung.
“Leon sama nenek, ya?”
“Papa,” ujar Leon.
Agnia dan ibunya saling pandang. Mereka duduk sembari menunggu hasil laboratorium yang lumayan lama. Leon masih saja rewel, terpaksa Agnia harus menggendongnya.
“Papa, Ma. Papa,” ucap mulut kecil Leon.
“Iya, Papa nanti datang, kok.” Agnia terus membujuk Leon.
Namun, ia semakin menangis. Agnia bingung harus bagaimana membujuk anaknya yang begitu dekat dengan Agra.
“Hai, adik kecil, kenapa nangis?” tanya anak perempuan yang berusia sekitar sembilan tahun.
Agnia tersenyum, Leon pun diam menatap anak perempuan cantik itu. Kulit putih juga wajah yang begitu menggemaskan. Sekilas kulitnya hampir sama dengan Leon
“Kakak,” ucap Leon. Anak itu mulai diam karena melihat ada teman.
“Nama kamu siapa? Ke sini sama siapa?” tanya Agnia.
“Nama aku Chika. Aku ke sini sama Uncle, Tante cantik.” Chika tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang rapi.
“Chika, sudah uncle bilang jangan jauh-jauh.”
Agnia menatap pria berjas hitam di hadapannya. Suaranya sangat khas dan membuat ia sadar jika pria yang berdiri di hadapannya adalah Jefri.
Keduanya saling pandang, entah apa yang ada di dalam hati keduanya. Apalagi saat Agnia gugup karena tidak sengaja bertemu dengan Jefri saat Leon bersamanya.
“Papa.” Leon menarik-narik baju Jefri.
“I ... itu bukan Papa, Nak.” Agnia mencoba tenang, tapi ia masih terlihat gugup. Apalagi ia tak ingin Jefri melihat wajah Leon.
“Anak kamu?” tanya Jefri.
“Iya. Sepertinya aku harus pergi.” Agnia langsung memberi kode pada sang ibu, lalu ia mengambil tasnya.
Jefri tidak mengerti mengapa Agnia begitu takut dirinya ada di tempat itu. Sementara, Chika pun menyayangkan Leon pergi karena dia masih ingin bermain bersama anak itu. Chika menghampiri Farha, kakak Jefri yang baru saja dari toilet.
“Kalian kenapa di sini?” tanya Farha.
“Tadi aku liat adik lucu, Mom. Ganteng, mirip sama Uncle mukanya,” celoteh Chika.
“Oh, jangan-jangan anak kecil yang tadi bersebelahan lewat di samping mama, kali, ya. mama kira, ya, mama aja yang mikir kok mirip kamu kecil, Jef,” ujar sang Kakak.
Mendengar hal itu, Jefri gegas mengejar Agnia. Sementara, Farha dan Chika menatap heran melihat Jefri berlari tanpa pamit.
***