Enam

1680 Kata
Jefri mencari-cari Agnia, tapi ia kehilangan jejaknya. Sementara, Farha dan Chika ikut mengejarnya dengan napas tersengal-sengal. Sang kakak memukul punggung adiknya karena kesal pergi tanpa pamit dan membuat panik. “Kenapa lari begitu?” tanya Farha kesal. “Tahu Uncle, kaya lagi liat Tante Bianca selingkuh, ya?” Chika asal bicara. “Hus, eh tapi mungkin aja, Ka,” timpal sang mama. Keduanya malah tertawa, sedangkan Jefri tidak mungkin mengatakan jika ia mengejar Agnia dan anaknya. Refleks ia mengejar karena Chika dan Farha mengatakan wajah anak itu mirip dengannya. Jefri mencuil hidung mancung Chika, keponakannya. Sering kali Chika membuat Jefri terkekeh karena usia anak itu masih terbilang kecil, tapi jika sudah berbicara maka tak akan pernah berhenti dengan gaya bicara orang dewasa. Seperti kali ini anak itu mengatakan Bianca, kekasihnya berselingkuh. “Kasihan Tante Bianca kamu fitnah, Ka,” ucap Jefri. “Chika serius, Uncle. Chika nggak suka sama pacar Uncle yang sok artis itu. Uang Papa aku juga lebih banyak dari dia, gayanya ih, jangan nikah sama dia Uncle,” ujar Chika. “Tuh, anak kecil aja tahu,” timpal Farha. Jefri merangkul keponakan menuju ruang tunggu. Farha memintanya mengantar menebus obat untuk ibunya. Karena permintaan sang kakak, ia tak bisa menolak. Sesibuk apa pun akan tetap ia lakukan. Chika memindahi sekeliling, ia pun mencari-cari anak laki-laki yang bersama Agnia. Namun, sama saja seperti Jefri, ia tak menemukannya. Jefri kembali memikirkan Agnia. Besok akan ia cari tahu tentang wanita itu. Juga anak laki-laki yang bersamanya. ** “Kenapa kita harus lari dari pria tadi?” Bu Anggun bertanya sembari mengatur napasnya. “Maaf, ya, Bu. Tadi, Bos aku, jadi malu aja,” jawab Agnia berbohong. Agnia tidak mungkin mengatakan jika pria itu adalah masa lalunya. Semua sudah ia tutup rapat dan tidak mau membahasnya. Bagaimana pun ia lelah dengan masa lalu itu. Ia hanya fokus menunggu Agra dan masa depan pernikahannya. Agnia mencoba menelepon Gio kembali, tapi tidak juga tersambung. Ia harus bicara dengan Gio dan mencari bukti jika ia tak bersalah. Namun, bagaimana bisa jika Gio saja susah di cari. Ia mencoba menghubungi, tapi Agra pun tak membalasnya. Satu jam sudah berlalu, hasil laboratorium sudah ada dan ia kembali menemui Dokter untuk menanyakan hasilnya. “Bagaimana, Dok anak saya?” tanya Agnia. “Anak ibu harus di rawat karena ada bakteri yang membuat panasnya tidak turun.” Agnia lemas mendengar apa yang dikatakan Dokter. Ia butuh Agra untuk menguatkannya. Demi kebaikan Leon, mereka pun bersedia untuk anak itu di rawat. Agnia gegas mengurus berkas untuk mendapatkan kamar. Ia kembali tidak fokus karena Agra suaminya harus tahu jika anaknya sedang di rawat. Bagaimana pun besok ia akan datang ke kantor Agra karena jika ke rumah akan ada ibu mertua yang menghalanginya. Semua bersumber dari Bu Sukma yang tak suka dengan Agnia. Berbagai cara ia lakukan untuk membuat pernikahan mereka hancur. “Agnia.” Agnia terkesiap mendengar namanya di panggil. Ia menoleh dengan ragu karena sepertinya ia hafal dengan suara itu. Tubuhnya kembali bergetar saat Jefri masih berada di rumah sakit itu. kembali penasaran Jefri membuatnya kembali ke rumah sakit setelah ia mengantar Farha dan Chika pulang. “Pa, Jefri,” ucap Agnia gugup. “Siapa yang sakit?” tanyanya pelan. “A, anak saya, Pak,” ucapnya lagi. Jefri mencoba untuk tidak gegabah dengan bertanya tentang anaknya Agnia. Ia memilih untuk tetap diam agar ia bisa membuat Agnia tidak kabur lagi. “Mana anak kamu?” “Ada di ruang tunggu, Pak. Saya sedang mengurus berkas untuk mendapatkan kamar,” jawab Agnia. “Ikut saya.” Jefri menarik lengan Agnia ke ruang administrasi. Dengan perintah Jefri semua administrasi Leon bisa langsung selesai dan mendapat kamar VIP. Jefri masih merasa bersalah dengan Agnia. Sebisa mungkin ia memberikan yang terbaik padanya walau anak yang ia kira anaknya adalah bukan anaknya. “Saya nggak bisa bayar kalau VIP,” tolak Agnia. “Potong gaji,” jawab Jefri asal. “Kapan lunasnya, Pak,” ucap Agnia. Jefri tidak menjawabnya. Pria itu akhirnya berhasil bertemu dengan Leon yang sedang bersama Ibu Anggun. Netranya tak berkedip melihat anak laki-laki itu dengan jelas. Wajah, kulit, hidung dan rambut sama persis dengan garis keturunan keluarganya. Namun, ia belum bisa tenang jika belum mengetahui dari tes DNA. Lagi, Jefri mencoba tenang dan tidak gegabah. Ia perlu bukti, setelah kejadian masa lalu ia pun berpikir apa Agnia hamil setelah berhubungan dengannya? Ia sempat bertanya pada orang rumah tentang seseorang yang mencarinya. Namun, mereka pun hanya menyebutkan wanita tanpa menyebutkan ciri-ciri fisik. “Wajahnya tampan, siapa namanya?” tanya Jefri. “Namanya Leon.” Lagi-lagi Agnia gugup menjawab pertanyaan Jefri. “Kenapa kamu selalu gugup saat menjawab pertanyaan aku? Apa ada yang kamu takutkan? Aku hanya menolong dan menggendong Leon anakmu, atau memang ada sesuatu yang membuat kamu takut?” Pertanyaan Jefri membuat Agnia terdiam dengan hati yang bercampur aduk rasanya. Tidak bisa memungkiri garis keturunan mereka memang sangat mirip apalagi anak perempuan yang tadi bersama Jefri. *** Agnia terbangun sejak tadi saat Leon terus mengigau memanggil sang ayah. Ia merasa tidak tega dengan Leon. Bagaimana pun, ia harus menemui Agra di kantornya. Menelepon pun tidak ada tanggapan. Biasanya ia mencoba menghubungi Gio, tapi sejak fitnah kejam yang dituduhkan padanya, ia mulai menutup diri dari adik iparnya. “Kamu mau ke kantor Gio?” tanya sang ibu. “Sepertinya, Bu. Aku masuk kantor dulu, pulangnya nanti aku ke kantor Mas Agra. Atau pas jam makan siang, kebetulan kantor kami tidak jauh. Aku titip Leon, ya, Bu,” ujar Agnia. “Iya, tenang saja. Biar Leon ibu yang jaga, lagi pula dia sudah membaik.” “Iya, Alhamdullilah.” “Ini juga karena bos kamu yang baru. Dia baik memberikan fasilitas VIP untuk Leon, kemungkinan obat pun pasti terjamin.” Agnia hanya tersenyum, entah benar atau tidak apa yang dikatakan Jefri jika ia harus mencicil biaya kamar dengan gajinya. Akan tetapi, jika itu yang terbaik, ia pun tidak masalah. Andai sang ibu tahu, pria yang ia puji sebagai pria baik adalah orang yang ia maki dahulu karena menghamili anaknya. Agnia sudah siap, gegas ia pamit untuk ke kantor. Sebelumnya, ia menciumi sang anak, berharap tidak akan lama di rumah sakit ini. Sebelum ke luar, Agnia mengangkat telepon masuk dari suster yang menjaga Leon. “Bu, Ibu di mana? Sarah kangen sama Leon?” Suara Sarah terdengar sangat cemas di seberang telepon. “Saya di rumah sakit, Leon lagi di rawat, Sar. Kalau kamu rindu, datang saja ke rumah sakit pelita. Nanti saya kirimkan nomor kamarnya,” ucap Agnia. “Iya, Bu. Saya tunggu.” Sarah menutup telepon Agnia. Agnia langsung mengetik nomor kamar inap Leon. Sepertinya memang ia butuh tenaga Sarah untuk membantu sang ibu bergantian shift karena dirinya akan sibuk hari ini. *** Pagi sekali Agra sudah berada di kantor pengacara keluarganya. Tekad yang bulat membuatnya tak sabar untuk mengajukan gugatan perceraian. Ia datang dengan penuh emosi setelah sang memperlihatkan foto pria yang menggendong Leon. ‘Selama ini dia telah membohongi aku.’ kalimat itu yang ada di hatinya saat ini. Ia pun berpikir salahnya apa hingga Agnia tega berkhianat padanya. “Agra, apa kamu yakin menggugat cerai istri kamu?” tanya Pak Abraham. “Yakin, Om. Kalau saya nggak yakin, mana ada saya di sini hari ini,” jawab Agra. “Saya tidak ingin kamu menyesal, sebuah perceraian itu tidak main-main. Semuanya harus di pikirkan baik-baik. Apa kamu sudah bicara dari hati ke hati dengan istri kamu?” Lagi Pak Abraham bertanya demi keyakinan Agra. Pria dengan kumis tebal itu adalah salah satu sahabat ayahnya. Ia pun sangat peduli dengan kondisi anak-anaknya. Terutama Agra yang sedang di timpa masalah rumah tangga. “Semua sudah jelas, dia berselingkuh dengan adik kandung saya. Belum lagi, dia yang ternyata kembali berhubungan dengan mantan kekasihnya.” “Hmm ... apa kamu sudah cek kebenarannya dengan bertanya langsung dengan Gio?” “Mereka mengakui. Gio mengakui jika Agnia merayunya.” “Hanya sepihak?” Agra hanya diam memperhatikan Pak Abraham yang sangat ia hormati. Namun, kali ini ia sudah bertekad untuk menceraikannya. Tidak peduli menunggu penjelasan karena semua bukti menjurus pada hal itu. Pak Abraham akhirnya menyetujui untuk mendaftarkan perceraian Agra dan Agnia. Ia menyayangkan hal tersebut karena Agra menjadi sukses dan lebih baik setelah menikah dengan Agnia. Setelah semua selesai ia kembali ke kantor karena Hana sudah menelepon untuk menandatangani beberapa berkas. Kembali ia menerima pesan masuk dari Agnia. [Mas, Leon manggil nama kami terus, tolong, Mas datang] Agra kembali menyimpan ponsel di kantong baju. Ia bingung harus berbuat apa, satu sisi ia marah dengan Agnia. Namun, ia sayang pada Leon. Ia terus melangkah meninggalkan ruang pribadi Pak Abraham. *** “Agnia sudah datang?” tanya Jefri. Aina menaruh berkas di meja Jefri terkesiap mendengar ucapan sang bos. Tidak biasanya dia bertanya tentang karyawan baru. “Sepertinya dia baru saja datang. Tidak telat, tapi mepet,” jawab Aina lagi. “Baik, kamu boleh kembali. Panggil dia ke ruang saya!” titah Jefri. Jefri terus memikirkan Leon. Bahkan ia merindukannya. Lamunannya terhenti saat beberapa orang suruhannya masuk ke ruangan. Ia meminta salah satu dari mereka menutup rapat ruang itu. “Bagaimana dengan perintah saya?” tanya Jefri. “Info yang saya dapat adalah Bu Agnia sudah menikah dengan pria yang bekerja di perusahaannya sendiri. Namanya Muhammad Agra dari PT Sumber Waras. Rumah tangga mereka sedang guncang, Pak.” “Ada lagi?” “Dia menikah pada usia 19 tahun karena hamil.” “Agnia menikah dalam keadaan hamil?” “Iya, kata orang.” Jefri mengetuk jemarinya di meja. Ia kembali membuka file yang tercatat beberapa klien. Netranya tertuju pada sebuah berkas yang bertuliskan PT Sumber Waras. Ia tertawa kecil, dunia memang kecil, ternyata tidak usah jauh-jauh, pria bernama Agra pun bekerja sama dengan perusahaan miliknya. “Cari tahu tentang anak yang bernama Leon, kalau bisa hubungi pihak rumah sakit. Saya dan anak itu akan melakukan tes DNA sebelum dia ke luar dari rumah sakit. Tolong kabari saya, secepatnya.” “Baik, Pak akan saya lakukan. Nanti saya info lagi,” tutur pria dengan jaket cokelat. Jefri menarik napas lega, ia akan datang siang hari ke rumah sakit saat melihat Agnia sibuk di kantor. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN