Like dulu sebelum baca!! awas aja kalo gak komen, mata lo bisulan ?
"Waaaw Juan" ucap remaja laki-laki dengan rambut ber-Cat merah.
"Gak nyangka bisa ketemu lo disini. kalo gue tau lo suka di warnet sini, tiap hari gue samperin lo." Lanjutnya.
Juan tidak menjawab. Dia hanya diam tanpa memainkan keyboard atau mous-nya. Tatapannya juga kosong, namun aku tahu, telinga Juan pasti dapat mendengarnya.
"Mana temen-temen lo yang b**o itu?" Tanya teman yang satunya lagi, yang memakai anting kecil ditelinganya. Dia kira Boyband hingga pakai anting segala. Dalam hati aku agak menghina, memangnya sekolahan tidak melarang anak berandalan seperti mereka.
Juan mengepalkan tangannya tanpa menjawab. Dia masih dengan tatapan kearah layar monitor.
"Waw ada cewek nih," ujarnya sambil melihatku yang melihat kearah mereka. "Lo punya pacar? Hahaha selera lo buruk banget, cewek jelek gini lo pacarin?" Hinanya padaku.
Asem banget perkataan tiga remaja begajulan itu. Iya memang aku akui, kalo aku memang jelek. Tapi tolong dong itu mulut bohong dikit mah gapapa, Jujur tapi bikin sakit hati.
Namun ketika aku yang hanya diam saat dihina, justru berbeda dengan Juan. Laki-laki itu langsung memberi bogem mentah pada laki-laki yang aku kira ketuanya. Hingga remaja itu tersengkur kelantai, membuat semua penghuni warnet terbangun untuk melihat keributan yang ada diruangan yang sama dengan mereka.
"Lo boleh hina gue! Tapi ngga sama Guru besar gue" ucap Juan sambil menarik kerah baju laki-laki yang kini tersungkur ke lantai.
Guru besar? Siapa maksud Juan? Aku maksudnya?
Kedua temannya menjauh, takut berkelahi dengan Juan. Namun dari postur tubuh dan gerakan yang Juan layangkan. Nampaknya Juan memang jago berkelahi.
Aku sampai menutup mulut ketika ucapan laki-laki yang tersungkur itu terdengar. "Pembunuh kayak elo tuh gak pantes belajar, apalagi punya orang yang lo anggep sebagai Guru."
Sebenarnya apa yang dilakukan Juan, hingga laki-laki itu menuduh Juan sebagai pembunuh. Aku benar-benar tidak mengerti.
"Gue tekanin sekali lagi sama lo, gue sama temen-temen gue gak pernah niat membunuh anak SMA Bineka" ujar Juan.
"Tapi tetep aja, pada kenyataannya temen gue meninggal gara-gara anak SMA Pancasila" jawab anak remaja yang tersungkur itu, dengan tatapan sengitnya pada Juan.
Keadaan makin tidak kondusif, banyak dari pengunjung warnet yang memotret perkelahian mereka. Penjaga warnetpun mencoba memisahkan Juana dan anak remaja itu. Tapi tak kunjung bisa selesai, namun aku memberanikan diri untuk memisahkan mereka berdua.
"Juan udah Juan!!" Teriaku sambil menarik baju Juan dibagian punggungnya.
setelah sekuat tenaga aku menarik Juan, akhirnya Juan melepaskan cengkraman tangannya di kerah anak remaja itu. Juan tampak menahan seluruh emosinya, terdengar deru napas Juan yang begitu memburu.
"Dari pada lo dengerin ocehan dia, lebih baik kita pergi dari sini" ucapku pada Juan.
Juan menurut. dia meninggalkan ketiga berandalan itu. Beberapa orang di dalam Warnet juga masih memperhatikan Aku dan Juan yang hendak pergi dari dalam Warnet.
Kami langsung naik ke motor, setelah sampai diparkiran motor. Juan memberikan helemnya padaku, kami akhirnya memutuskan untuk pulang saja.
Juan masih diam disepanjang perjalanan, aku tahu dia masih teringat perkataan anak remaja tadi. Mungkin inikah sebabnya Juan menjadi menutup dirinya dari semua orang, terutama orang tuanya. Aku yakin Orang tua Juan sudah tau masalah ini, aku yakin sekali ini alasan Pak Pram begitu membenci kelakuan Juan. Tapi menurutku, Juan masih remaja. Dia butuh suport dari orang terdekatnya untuk melanjtkan hidup, bukannya malah dijauhi.
Jujur saja, aku begitu iba pada Juan. Tapi aku juga penasaran dengan cerita hidup Juan, aku ingin membuat anak itu kembali akur dengan orang tuanya. Aku ingin merubah Juan, aku ingin Juan.... Astaga! Kenapa aku jadi berpikiran yang aneh-aneh sih.
Beberapa kali aku menepuk wajahku agar segera tersadar. Aku hanyalah seorang pembantu, tidak lebih! Apapun masalah majikanmu, itu masalah mereka. Aku tidak boleh mencampurinya.
???
Kami berdua akhirnya sampai dirumah kediaman Juan. Juan masih saja tidak berbicara apapun padaku, wajah dia juga lebam dibeberapa titik. Tangannya juga memerah bekas menonjok anak remaja tadi.
Dia masuk diikuti aku dibelakangnya. Di ruang tengah sudah ada Ibu Monica yang sedang membantu Marsya belajar, sementara Pak Pram sedang membaca koran. Juan melewati mereka tanpa menoleh sedikitpun, dia langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya. Kedua orang tua mereka memandang kepergian Juan, tanpa menanyakan keadaan anaknya.
Tadinya aku mau mengobati luka Juan, namun Bu Monica keburu memanggilku.
"Sari, saya tahu dari Fitri katanya kamu menemani Juan belanja?" Tanya bu Monica.
"Iya nyonya" jawabku, yang langsung mendekati bu Monica.
"Karena kamu lembur minggu ini, sekalian aja ya bantu Marsya mengerjakan PR, saya mau mandi. Udah sore."
"Iya nyonya."
Akupun mendekati Marsya yang sedang menulis sesuatu di buku catatannya. Setelah itu bu Monica meninggalkan kami, tinggalah aku, Marsya, dan Pak Pram di ruang tengah. Beberapa kali aku menerangkan sesuatu yang Marsya tidak mengerti untuk PR nya.
"Juan berkelahi lagi?" Tanya Pak Pram tiba-tiba.
Aku menoleh. " iya tuan" jawabku.
"Anak itu bisanya hanya tawuran dan berkelahi saja. Harusnya dulu saya tidak membawa Juan dari Amerika" celetuk Pak Pram.
Aku hanya diam, tidak membalas ucapan pak Pram. Marsya juga hanya diam dan menghitung sambil mengerjakan PR-nya. Kami bertiga hanya hening, tanpa ada lagi yang berbicara.
???
Malam sudah tiba, pekerjaan di dapur sudah semuanya beres. Aku dan Fitri sudah masuk kedalam kamar, dia sedang sibuk memainkan ponselnya di ranjang sambil rebahan. Namun pikiranku justru mengkhawatirkan Juan. Bagaimana keadaan Juan sekarang, dan apakah luka di wajah Juan sudah di obati? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berseliweran diotaku.
"Fit?" Panggilku.
"Kenapa Sar?"
"Aku mau nelpon keluarga di depan, kamu gapapa di kamar sendiri?" Bohongku padanya.
"Ya gapapa lah Sar, yaudah kalo mau nelpon keluarga. Mumpung nyonya sama tuan sudah pada tidur, aku saranin kamu ke atap lantai 3 aja biar mereka gak denger kamu" saran Fitri padaku.
Aku tersenyum padanya. "Makasih Fit sarannya."
Akupun keluar dari kamar pembantu. Menuju ke lantai dua, tempat kamar Juan berada. Setelah sampai disana, akupun mengetuk kamarnya.
"Juan ini Sari" ucapku.
Tak berapa lama kemudian Juan membukakan pintu kamarnya. Ternyata dia belum tidur, sudah aku duga.
"Belum tidur?" Tanyaku setelah masuk kedalam kamarnya.
"Mau ngapain lo kesini? PR gue kan udah beres kemarin lo kerjain"
"Kata siapa gue kesini mau nanyain PR, gue kesini mau ngobatin luka lo yang tadi" ucapku sambil duduk ditepi ranjangnya. Kotak obat yang tadi aku bawa juga, sekarang telah aku buka.
Juan duduk disebelahku, dia masih diam. Aku tahu pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Namun tanganku tetap mengoleskan betadine ke wajah yang ada lukanya. Menggunakan kapas.
"Sssttt sakit Sar"
"Sorry, bentar lagi beres ko"
Akupun terus mengolesi lukanya sampai beres, lalu lanjut ke tangan dia. Namun disela-sela aku mengolesi betadine di area tangan, Juan tiba-tiba berbicara.
"Gue gak bermaksud membunuh anak Bineka" ujarnya dengan tatapan mata kosong.
"Gue tahu" jawabku.
"Kejadiannya satu tahun yang lalu, saat anak Bineka tiba-tiba nyerang anak SMA Pancasila. Dan saat itu banyak dari anak Pancasila yang ikut tawuran termasuk gue, kebetulan diantara anak yang lain, gue paling pintar berkelahi, anak-anak nunjuk gue buat jadi ketua mereka, otomatis gue yang ngelawan ketua anak-anak Bineka. Namun ketika kita tawuran, ketua dari Anak Bineka meninggal gara-gara jatuh membentur batu, dan Gue yang ngedorong dia sampe kayak gitu. Mereka nyalahin gue atas insiden ini, Dan semua anak SMA pancasila yang terlibat tawuran dipanggil sama Polisi. 40 orang masuk penjara, kita semua dipenjara selama seminggu. Gue dan yang lain di bebaskan karena masih dibawah umur, akibat dari tawuran itu, setiap kali anak Bineka liat gue, pasti mereka nyerang. Terutama ketiga anak yang tadi siang, mereka propokator dari insiden tawuran tahun lalu. Mereka dikeluarkan dari sekolah gara-gara itu, makanya mereka dendam banget sama gue." Ucap Juan panjang lebar.
Selesai mengobati Juan, akupun menaruh kotak obat di nakas tempat tidurnya. Lalu kembali Fokus pada cerita Juan.
"Lo gak salah Juan, lo Cuma mau membela diri lo sendiri. Kalo lo gak kayak gitu, bisa-bisa lo yang meninggal" lirihku.
Entah kenapa tanganku tiba-tiba terangkat untuk menepuk-nepuk pundak Juan. Seolah aku ingin menghibur Juan agar tetap sabar.
"Gue siap jadi orang yang mau denger keluh kesah lo ko" ucapku tulus, sambil mengelus pundaknya.
"Mulai sekarang, apapun masalah lo. Lo gak boleh pendem sendirian, lo harus cerita sama gue! Anggap aja gue kakak lo yang akan selalu ada buat lo" lanjutku.
Juan menoleh padaku dengan tatapan sayunya.
"Makasih Sar, tapi apa lo akan selalu ada buat gue?"
Aku sedikit berpikir, pertanyaan itu membuat aku ragu dengan kata-kataku tadi. Aku tidak akan selamanya ada di rumah ini, akan ada kalanya aku pindah kerja suatu saat nanti. Namun, aku benar-benar tulus dengan ucapanku sekarang.
"Pokoknya lo jangan mikir perpisahan, yang penting saat ini, gue ada buat lo Juan"
Namun tiba-tiba Juan memeluku. Aku sedikit kaget dengan mata melotot. Awalnya aku ingin melepaskan pelukannya, namun aku urungkan ketika Juan semakin mengeratkan pelukannya dengan suara tangisan yang aku dengar. Juan benar-benar menangis sekarang. Rasanya ingin sekali aku menyembuhkan luka yang Juan derita, aku tahu Juan masih menyimpan begitu banyak cerita. Hingga aku tanpa sadar membalas pelukannya.
Bersambung
Woy jangan lupa komen ya!
Sejauh ini menurut kalian Karakter Juan gimana sih? udah agak kebayang kan Juan anaknya kek apa?